
Hari ini Reza menikmati libur dari pekerjaan kantor, ternyata ada hikmahnya ia jadi punya waktu untuk memikirkan rencana kedepan untuk keluarganya. Jam 12 siang ia berangkat menjemput Maura. Semua urusan dengan Arcy diserahkan kepada Papa Ardy, ia sudah tidak mau berurusan lagi dengan perempuan itu.
Setelah menjemput Maura ia memutuskan makan siang bersama di luar, sudah lama tidak makan bersama anak-anak, seringkali Hasna yang mengajak anak-anak main karena Reza di hari Sabtu sering melakukan meeting dengan investor sedangkan Hari Minggu dihabiskan untuk istirahat.
Saat ia berbelok ke Resto Siap Saji ternyata Maura sudah tertidur di bangku penumpang, tampak lelap karena kelelahan sehabis sekolah. Akhirnya Reza memutuskan langsung menunggu ke sekolah Hujan, nanti makan bersama-sama saja. Ia mengirimkan pesan pada anaknya kalau hari ini dijemput oleh Reza dan Maura. Hanya satu kata balasan dari Hujan “Tumben”... Reza hanya menggelengkan kepala, bukannya bersyukur malah meledek pikirnya.
Setibanya di sekolah Hujan jam menunjukkan 13.30, masih tigapuluh menit lagi akhirnya Reza memutuskan menunggu di mobil ia kemudian merebahkan dirinya di kursi, ternyata menjadi doing nothing society sesekali menyenangka juga.
“Papi sudah sampai?” Reza langsung membalas “Sudah… menunggu di parkiran. Maura tidur”
“Ok aku kesana” Reza mengerutkan dahinya bukankan masih lama jam keluar sekolah, tidak sampai lima menit terdengar ketukan di jendela. Hujan dengan pakaian lengkap seragam sekolah dan kerudungnya tersenyum lebar.
“Kamu kok sudah keluar kan masih tigapuluh menit lagi?” Reza terlihat bingung, Hujan langsung mengambil posisi duduk di belakang pengemudi karena Maura tidur di bangku depan.
“Hahahaha aku bilang dijemput Papi karena ada keluarga yang sakit… Papi kan sakit… sakit hati ditinggal Buna” Reza mendengus anak itu selalu saja seenaknya dalam bicara.
“Mau makan dimana? Kita makan diluar mumpung Papi bisa off” Hujan tampak asyik dengan hp nya “Hmmmm terserah Papi….eh ada makanan kekinian di daerah Bintaro aku pengen nyoba.. Gak apa-apa kan jauh dikit” Reza hanya menghela nafas, sesekali menuruti keinginan putrinya tidak jadi masalah mumpung Maura masih tidur dan arus kendaraan masih lancar.
“Kamu tuh kalau di sekolah pakai kerudung tapi kalau main keluar kenapa kerudungnya dilepas?” Reza memperhatikan Hujan yang sudah mencopot baju sekolah dan berganti dengan kaos yang sudah dipakainya dalam seragam.
“Belum dapat hidayah Pi… Buna gak pakai kerudung sama Papi gak diprotes” Hujan langsung menjawab.
“Siapa bilang, Buna mu sekarang sudah pakai kerudung selama di Jepang” Reza menjawab dengan penuh percaya diri merasa paling tahu kondisi Hasna.
“Hmm... Papi tau dari mana, Buna ga bisa dihubungi hp nya mati padahal aku udah bilang supaya pakai roaming internasional tapi Buna gak nurut ...aneh” Hujan terlihat cemberut.
“Aku jadinya kirim-kirim pesan pakai email” Reza langsung tersentak. “Kamu bisa berkomunikasi sama Bunamu.. Papi minta emailnya” Hujan langsung mengerenyit “Buna bilang jangan kasih sama siapa-siapa emailnya” Reza langsung melengos kesal dari spion.
“Ya sudah kamu gak akan tahu gimana tampilan Buna sekarang” Ia merasa memiliki nilai tawar dengan instagram yang ada di hp Hasna.
“Emang Papi bisa lihat?” Hujan langsung mendekat ke kursi penumpang, ia sungguh ingin melihat video Hasna. “Bisa dong … mau?” Reza tersenyum menggoda Hujan langsung terpancing.
“Mana coba aku liat?” ia langsung mengulurkan tangan hendak mengambil hp Reza, “Eitsss… kasih dulu email Buna.. baru Papi kasih liat” sekarang ia tidak mau kalah sama anak SMP, sudah waktunya ia memperlihatkan kemampuan negosiasinya.
“Papi bohong, ngomong gitu supaya aku ngasih email Buna aja, sebetulnya Papi gak punya video Buna selama disana” Hujan langsung menarik diri, ia tidak mau kalah set.
“Yahh gak apa-apa palingan nanti Papi cari aja di kantor kalau gitu… nothing to lose” Reza tersenyum santai. Hujan tampak berpikir kemudian dia langsung mengetikan sesuatu di hapenya.
__ADS_1
“Sudah aku forward email dari Buna ke Papi ...sekarang aku mau liat dulu videonya Buna” Reza langsung tersenyum penuh kemenangan. Ia mengacungkan hp nya, selama waktu senggang ia rajin mendownload semua status story Ferdi yang berisikan Hasna dan memindahkannya ke hp nya.
“Bunaa pakai kerudung!” Hujan berteriak sehingga Maura bangun.
“Bunaaa… mau ke Bunaaaa” Maura yang terbangun karena kaget langsung menangis dan memandang kekiri dan kekanan.
“Kamu tuuuh ihh suka berisik jadi adek kamu bangunnya kaget” Reza langsung kesal, Hujan langsung mendekati adiknya.
“De lihat itu ada Buna lagi ada di bandara mau pergi” Hujan memperlihatkan video Hasna yang di Bandara saat akan keberangkatan.
“Molaaa mau ikut ke Bunaaa” Maura semakin kencang menangis. Hujan langsung membuka seatbelt Maura, Reza masih menyetir mereka baru masuk ke Bintaro.
“Sini duduk sama Kakak kita lihat videonya Buna… sekarang Buna pakai kerudung, ade masih bisa kenal gak kalau liat Buna pakai kerudung” ternyata Hujan sudah mulai bisa menghibur adiknya. Maura yang masih mengantuk menyender pada Hujan dan memperhatikan video Hasna yang lain.
“Ini Bunaa… Mola tau” Maura langsung menunjuk Hasna ternyata walaupun di rekam bersama Ammera dari kejauhan Maura bisa mengenalinya. “Pinterr banget sih Ade bisa langsung ngebedain Buna” Reza tersenyum anak-anaknya bisa saling mendukung dan menyayangi satu sama lain. Ia bersyukur Hasna telah membantu mendidik mereka dengan baik, tekadnya semakin besar untuk bisa mengirimkan pesan kepada istrinya.
Sore itu Reza menghabiskan waktunya bersama dengan anak-anak, sesekali ia mengecek hp untuk membalas pesan dari Aswin sekaitan dengan pekerjaan. Untung saja urusan dengan investor Jepang sudah diselesaikan tinggal ditindaklanjuti dalam kesepakatan yang dirancang untuk disetujui oleh pihak direksi dari kedua belah pihak. Setelah itu mereka tinggal menandatangani perjanjian secara resmi.
Malamnya sebelum tidur, sebagaimana janjinya pada Maura ia membolehkan untuk menonton video di youtube. Setelah menghabiskan waktu setengah hari bersama sehingga malam ini sebelum tidur Reza menemani Maura untuk menonton video dongeng Hasna yang terbaru. Ternyata cerita yang Hasna dongengkan adalah tentang Elang dan Anak Ayam yang dulu pernah ia ceritakan. Bedanya video yang dibuat Hasna menggunakan animasi sehingga menarik untuk ditonton.
“Aku sudah tahu ceritanya, Buna cerita di malam sebelum pergi” ucapnya pendek. Reza mengerutkan kening.
“Cerita tentang apa?” tanya Reza “Papi dengerin aja ceritanya” jawabnya sambil duduk di sebelah Reza.
Reza memutar video itu, Maura langsung menonton video sambil bersender ke badan Reza, sebetulnya ia sudah mengantuk tapi begitu mendengar boleh menonton video ia langsung bersemangat. Susunya sudah ia habiskan dan pipis ke toilet sebelum tidur. Hikmah dari ditinggalkan Hasna adalah Hujan meminta Maura untuk sadar selalu pipis sendiri jangan menunggu disuruh.
Diakhiri cerita tentang Elang dan Anak Ayam, Hasna memberika ulasannya.
“Jadi Maura dan Kaka Hujan jangan takut untuk terus belajar yaaa, karena kita tidak tahu apakah kita ini ayam atau elang. Maura harus rajin belajar baca Iqro yah supaya nanti semakin lancar membaca Quran nya… siapa tahu nanti kalau rajin mengaji dan menghapalkan surat-surat Maura bisa jadi penghapal Quran jadi bisa membawa Papi Mami Mitha dan Buna juga yaa nanti di surga. Kakak Hujan nanti bisa jadi arsitek yang hebat yang bisa membuatkan Buna rumah sendiri… Rumah Buna gak usah besar supaya Buna bisa ngeliat kalian terus setiap hari… Kalau rumahnya terlalu besar nanti jarang ketemu. Kalian harus jadi Elang-elang yang hebat yaaa” Hasna mengakhiri videonya. Reza menatap Maura yang sudah tertidur di pelukannya.
Hujan tampak duduk termenung di kasur bersama Reza, tatapannya terlihat sedih.
“Waktu cerita sama aku beda cerita akhirnya…” matanya tampak berkaca-kaca. Reza menatap Hujan yang terlihat sedih.
“Buna bilang bersama Papi sayap Buna sering patah, badan Buna jadi kecil kalau bersama Papi… Papi itu Elang yang hebat bisa menguasai bukit dan pepohonan … bersama Papi, Buna merasa seperti menjadi ayam… kecil dan tidak bisa terbang. Itu sebabnya Buna pergi ke Jepang.. Buna mau bisa terbang lagi … Buna pengen badannya tidak kecil lagi supaya bisa jadi Elang yang hebat dan kuat yang bisa membantu aku sama Maura menjadi Elang yang hebat juga” Hujan berdiri dan kemudian terdiam
“Kalau aku pikir-pikir sekarang aku gak mau jadi Elang.. Aku mau jadi ayam aja … gak apa-apa tidak menjadi elang… aku bahagia menjadi ayam asal sama Buna” ucapnya sambil menyusut air mata di pipinya, rupanya dibalik ketegaran yang ditunjukkan oleh Hujan, ia merasa kesepian dan sedih ditinggal Hasna.
__ADS_1
Reza menghela nafas, dilihatnya Hujan yang kemudian membaringkan tubuhnya di tempat tidur, sesekali terdengar suara anaknya menyusut ingus tanda ia masih menangis. Reza tidak bisa menghiburnya ia tahu kalau Hujan sudah banyak mengerti bahwa mereka berdua sedang mengalami masalah. Ia tidak memiliki keberanian untuk menjanjikan kalau dia akan segera membawa Bunanya kembali pulang karena ia sendiri belum yakin akan kemampuan dirinya.
Diciumnya kening kedua anaknya dan menyelimuti mereka berdua. Sekarang ia harus berusaha lebih keras lagi untuk bisa mendapatkan istrinya kembali. Reza menuju ruang kerjanya, ia akan mencoba mengirimkan email kepada Hasna.
Reza memandang layar komputernya dengan tatapan kosong, ia bingung harus memulai dari mana, terlalu banyak yang ingin ia ungkapkan tapi ia merasa malu. Ia tidak pernah mengutarakan perasaan pribadinya kepada lawan jenis, bahkan kepada Mitha yang sudah menjadi mendampinginya bertahun-tahun. Malam ini ingin rasanya Reza menjadi seorang penyair yang pandai merangkai kata dalam mengungkapkan perasaan.
Hasna istriku…
Sebetulnya aku malu menuliskan kata istriku karena aku merasa tidak menjadi suami yang baik. Aku bingung harus menulis dari mana dan kamu tahu sendiri kalau aku tidak pandai dalam merangkai kata. Ini adalah surat pertama yang aku buat seumur hidupku untuk seorang perempuan. Ternyata benar kata orang akan selalu ada kata untuk pertama kalinya padahal umurku sudah hampir 40 tahun.
Maafkan aku… aku tahu kalaupun beribu kali kata ini aku ucapkan, mungkin tidak akan pernah bisa menghapus semua kesalahan yang aku buat kemarin. Aku tahu mungkin aku tidak berhak untuk mendapatkan kata maaf tapi aku hanya ingin meminta maaf atas semua luka yang sudah aku perbuat selama ini. Aku merasa malu. Terus terang aku merasa malu atas sikapku selama ini. Jadi tolong.. aku mohon maafkan aku… kalau perlu sepanjang hidup ini aku harus memohon maaf, supaya kamu bisa kembali lagi, aku akan lakukan itu… Maafkan aku sayang ..maafkan aku.
Aku selalu merasa tidak nyaman melihat kamu dekat dengan laki-laki lain, tidak tahu kenapa. Mungkin sebetulnya aku tidak percaya diri, dengan kemudaan yang kamu miliki, keceriaan dan betapa mudahnya kamu akrab dengan orang lain aku merasa tidak memiliki kendali padamu Rara. Kamu memang berbeda dengan Mitha seperti kamu bilang… kamu bukan Mitha itu sebabnya aku tidak tahu bagaimana harus bersikap padamu. Satu-satunya cara yang aku tahu hanya menahanmu untuk tetap di belakangku tapi kamu selalu saja menemukan cara untuk maju ke depan. Aku tidak tahu kalau itu membuat sayapmu patah dan membuatmu merasa kecil...maafkan aku.
Aku tidak pernah ada hubungan apapun dengan Arcy, aku kira kamu tahu itu. Di hari kita bertengkar Arcy menempelkan lipstik nya ke bibir dan bajuku aku baru sadari belakangan tapi aku tidak bisa menjelaskan itu karena kamu selalu menjauh dariku. Aku menemukan hp Mitha di laci meja belajarmu awalnya aku tidak mengerti kenapa kamu tidak pernah memberitahuku soal ini, tapi kemudian aku mengerti setelah membaca pesanmu pada Aurel, kalau kamu mencari tahu apakah foto itu benar atau rekayasa dan seperti biasa kamu selalu pintar dalam berpikir dengan logika. Kenapa kamu harus memecahkan semua masalah sendiri. Aku yang berbuat salah kenapa kamu malah menutupinya...aku merasa sangat malu
Aku tahu kamu perlu waktu untuk menata perasaan dan menenangkan diri setelah semua kekacauan yang telah aku buat dalam hidup kamu. Tapi aku mohon kembali lah lagi nanti padaku dan anak-anak. Kami tidak bisa lagi menjalani hidup tanpa kehadiran kamu disini. Tadi Hujan bilang kalau dia memilih menjadi anak ayam daripada menjadi elang..hahaha hatiku jadi teriris mendengar kata-katanya. Aku yang menjadi Papinya selama bertahun-tahun tidak menjadi pilihan hidupnya tapi kamu yang baru masuk bersamanya kurang dari satu tahun sudah menjadi pilihan. Dia bilang kalau dia lebih suka menjadi ayam bersama kamu daripada menjadi elang bersama aku.
Berikan aku kesempatan untuk menjadi suami yang baik buat kamu, kita memang ditakdirkan untuk bersama. Kamu salah kalau kamu bilang aku tidak pernah melihatmu selama ini, aku cuma tidak yakin bisa melihat kamu dengan kesalahan yang pernah aku perbuat di masa lalu. Itu sebabnya aku selalu berlindung dengan kenangan masa lalu. Aku takut kamu melihat semua kekurangan dan kebodohan yang aku miliki, tapi sekarang aku tidak peduli lagi. Walaupun kamu sekarang tidak ingin melihat aku karena semua kebodohan dan kekurangan aku, biarkan aku sekarang yang akan terus melihat kamu dan tidak akan melepaskan kamu.
Kamu boleh tidak memperdulikan aku… tapi aku akan tetap akan melihat kamu,
Kamu boleh menganggapku tidak ada ...tapi aku akan tetap ada untuk kamu,
Kamu boleh mendorong aku untuk pergi… tapi aku akan tetap datang untuk kamu,
Aku akan terus menunggu sampai nanti kamu akan kembali melihatku seperti dulu
Aku yakin aku akan bisa menjadi Papi yang baik untuk anak-anak kita nanti… untuk bayi yang ada dalam kandungmu, untuk Maura, untuk Hujan. Aku akan selalu bersama kalian
Dari laki-laki bodoh yang selalu menunggu kamu disini
Reza
****************
Tissu mana tissu.... hiks..
__ADS_1