
“Aku mau tidur disini… aku janji gak akan menyentuh kamu… tapi ijinkan aku tidur disini… aku benar-benar merasa sepi dan kosong disana… aku bingung” suara Reza seperti laki-laki yang kebingungan harus berbuat apa.
Hasna duduk dan menatap Reza yang tengah berbaring dan menunduk di bantalnya, keinginannya untuk mengusir laki-laki itu seketika sirna. Tidak menyenangkan untuk bertarung bersama. lawan yang terlihat lemah dan tidak memiliki energi kehidupan… itu seperti menyiksa.
“Kenapa melow seperti itu … kehilangan foto-foto Mbak Mitha” Hasna duduk disisi kasur yang menempel di dinding. Rasa ngantuknya jadi hilang melihat Reza masuk ke kamarnya dan terlihat seperti anak ayam kehilangan induk.
Reza hanya diam, dalam pikirannya berkecamuk banyak hal. Sejak tadi pagi emosinya sudah naik melihat Arkhan, sore hari dia diliputi penuh penyesalan karena marah pada Hasna hingga kemudian mengejar-ngejar Hujan agar bisa menjemput istrinya. Setiba di rumah ia mendapati kamarnya sudah terbuka dan foto-foto Mitha semuanya sudah tidak ada. Saat ia membuka lemari baju Mitha semua bajunya sudah tidak ada, terasa sangat menyesakkan.. Mengapa Mama begitu berani mengambil barang-barangnya tanpa ijin.
Mama Bertha hanya meninggalkan 1 foto saat Reza, Mitha dan Hujan yang masih 1 tahun sedang berpose di depan Big Ben saat musim gugur, menjelang kepulangannya ke Indonesia. Foto itu diletakan di atas kasur. Mengesalkan, mereka bahkan tidak memberinya kesempatan untuk berpisah dengan semua kenangan yang ia miliki dengan almarhum istrinya.
Ada perasaan ingin menangis tapi seperti tertahan di dadanya, tidak pernah bisa keluar hanya diam di dalam. Ia berusaha untuk memukul-mukul dadanya tadi tidak juga keluar, hanya terasa sesak. Air matanya mengalir melihat foto yang tersisa di kasur, Reza tidur meringkuk memeluk foto itu, mengapa ia merasa ditinggalkan oleh semua orang hari ini.
Hasna PoV
Mas Reza tampak diam termangu, dia tidak seperti laki-laki yang tadi mengeluarkan amarah dengan memaki-maki di dalam mobil, yang menatapnya penuh dengan api, yang tampak di depannya hanyalah laki-laki yang terlihat seperti kertas yang terkena air. Masih berbentuk tapi tidak bisa memiliki tenaga untuk berdiri, mencoba tetap berwujud agar saat air sudah mengering ia bisa kembali memiliki fisik lagi.
“Mama mengambil semua foto Mbak Mitha?” tanyaku, tadi aku tidak berani masuk ke dalam kamar, tidak mau lebih tepatnya karena merasa tidak memiliki kepentingan dan aku sudah tidak peduli lagi.
Mas Reza mengangguk
“Hanya foto? Pakaian Mbak Mitha dibawa juga?” tanyaku lagi. Reza melihat ke arahku dengan tatapan heran,
“Kamu tahu aku masih menyimpan baju-baju Mitha?” ia terlihat kaget.
“Tahu… aku juga tahu kalau parfume yang Mas Reza belikan kepadaku adalah parfume kesukaanya Mbak Mitha… itu sebabnya aku buang” aku menunjuk tempat sampah, saat aku melempar parfume pemberian Reza.
“Maaf aku waktu itu bingung waktu ingin membelikan parfume, karena terbiasa membeli parfume itu aku langsung memilih itu saja… Maaf aku tidak berpikir panjang” Mas Reza kembali menunduk, perasaannya kembali merasa bersalah.
“Besok ke rumah Mama minta saja beberapa foto dan pakaian Mbak Mitha biar Mas Reza tidak merasa kesepian” aku kembali membaringkan tubuh dan membelakangi Mas Reza, malas rasanya membicarakan hal ini, tapi melihat Mas Reza yang seperti terpukul terlalu menyedihkan untuk ku lihat dibandingkan dengan memikirkan dia masih menyimpan barang-barang itu.
“Apakah kamu mencintai saya Hasna?” tiba-tiba Mas Reza menanyakan satu hal yang sudah pasti tidak mungkin bisa aku jawab, Lama aku diam tidak menjawab pertanyaan Mas Reza.
“Hee.. aneh sekali pertanyaannya, menanyakan perasaaan saya disaat Mas Reza masih terperangkap oleh perasaan cinta di masa lalu” tertawaku terdengar sumbang sambil masih membelakangi Mas Reza.
“Saya tidak pernah bermaksud untuk menyakiti kamu… saya berusaha untuk melupakan semua perasaan yang pernah saya rasakan dengan Mitha” suara Mas Reza terdengar tersekat.
“Tapi terlalu banyak cerita yang saya lalui dengan dia……ada banyak rencana yang belum saya selesaikan….. ada banyak janji yang belum saya penuhi pada dia… ada banyak penyesalan yang belum saya dapatkan maafnya dari dia…. Ahhh….mithaaa” tiba-tiba terdengar suara Mas Reza menangis tersedu seperti mengeluarkan semua rasa sesak yang menekannya hingga di dadanya.
Aku kaget… kenapa dia tiba-tiba menangis begitu hebat, rasanya tadi apa yang aku ucapkan biasa-biasa saja.
“Saya merasa bersalah… seharusnya dulu tidak pergi ke Surabaya… seharusnya menemani dia saat ia ingin ditemani periksa ke dokter...aaah…..” suaranya tersekat dengan tangisan yang terus berusaha ia tutupi di atas bantal.
‘Saya hanya bilang nanti saya temani… saya tidak tahu sakitnya akan membahayakan dia.. Waktu..waktu dia telepon dan menangis ...saya hanya tanya kekenapa tapi tidak bisa bicara panjang lagiii… saya saya malah tinggalkan dia untuk rapaaat…. Aku pikir itu cumaa cumaa ganggungan hormon perempuaaan hamiiill….itu..itu saat terakhir saya sayaaa bicara dengan dia…. Dengan dia dan dia menangiiis…. Mithaaaa” Mas Reza masih terus menangis dan menutupi suara tangisannya di bantal. Badannya tampak gemetar menahan perasaan sedih, tangannya mengepal dan memukul mukul bantal.
Rupanya pengambilan foto dan pakaian Mbak Mitha dari kamar, membuka luka yang ada di dalam hati Mas Reza. Selama ini ia menutupi luka itu dengan membuat suasana kamar yang terlihat sama saat Mbak Mitha masih ada. Dilepasnya foto-foto di dinding dan baju di lemari seperti membuat penutup luka terlepas dan luka kembali menganga.
Akhirnya aku mendekat, kuusap pundaknya.
“Jangan menangis berlebihan, kasian Mbak Mitha… bayangkan perasaan dia melihat Mas Reza menangis seperti ini”
“Walaupun aku gak kenal sama Mbak Mitha aku tau kalau dia ngerti kesibukan Mas Reza, dia pasti sangat mengenal Mas Reza sehingga tahu kalau kesibukan Mas Reza adalah untuk kebahagiaan keluarga”
__ADS_1
“Pasti ada waktunya sibuk ada waktu senggang, hanya saja memang kesibukan lebih banyak memakan waktu sehingga sebelum tiba waktu senggang Mbak Mitha keburu gak ada… itu yang membuat Mas Reza merasa berhutang”
“Gak pernah ada yang siap dengan kematian, kita kan gak pernah tahu kapan datangnya… Mama Isna juga merasa sedih harus memakamkan anak yang dilahirnya, Hujan harus melihat ibunya meninggal di depannya… semua orang pasti punya penyesalan” aku usap air mata yang ada di wajahnya.
Kubaringkan diriku disebelahnya, mukanya terlihat rapuh dan lelah. Tidak tampak energi kehidupan yang biasanya terpancar dari matanya. Hidungnya merah dan beringus, lucu sekali tampak seperti Maura kalau menangis ditinggalkan. Kuhapus air mata dan ingus di hidungnya dengan lengan piyamaku.
“Jorok kamu..” katanya dengan tatapan kesal. Perasaan yang mustinya kesal aku deh.. Ingusnya dia kenapa dia yang merasa jijik.
“Jangan nangis jadi keliatan jelek” kataku, dia malah kelihatan kesal karena disebut jelek.
“Kamu tidak pernah mengalami perasaan seperti aku, ditinggalkan dengan perasaan bersalah” ucapnya lagi, rupanya masih ada yang ingin ia ungkapkan.
“Setiap aku melihat Maura dan Hujan, aku selalu merasa bersalah karena mereka besar tanpa memiliki ibu” airmatanya terus mengalir saat dia tidur terlentang.
“Memiliki kamu bersama mereka membuat aku merasa lebih tenang”
“Tapi kenapa aku tetap merasa menjadi orang yang paling bersalah, aku sudah mencoba datang meminta maaf setiap minggu pada Mitha, tapi kenapa Mitha seperti tidak memaafkan aku” Mas Reza kembali terisak. Dihadapanku adalah laki-laki yang sedang berusaha menjelaskan kesalahannya kepada seseorang. Rupanya selama ini ia tidak pernah bisa mengungkapkannya.
“Bahkan...bahkan di dalam mimpi pun aku tidak pernah bisa bertemu dengannya.. Malah kamu yang tidak dia kenali bermimpi dengannya… apa aku harus matii supaya bisa minta maaf pada dia” Mas Reza semakin terisak terbawa oleh perasaan bersalah yang menghimpitnya.
“Hussss…. Istigfar… kok berpikirnya sampai sejauh itu... “ aku jadi meneteskan airmata melihat begitu rapuhnya dia. Rupanya ketegaran dan sikap keras yang ditampakkan di luar olehnya hanya kamuflase kerapuhan dari kebingungan dia.
“Memangnya kalau Mas Reza mati, Mbak Mitha akan memaafkan?” kataku, dia langsung menatapku dengan pandangan tidak mengerti.
“Ia pasti akan menyalahkan Mas Reza kalau memilih mati hanya untuk bertemu dengan Mbak Mitha, bagi Mbak Mitha beban terbesar di dunia yang ia pikirkan hanya anak-anak..makanya dia datang pada mimpiku” ucapku sambil memegang kedua pipinya, mengarahkan pandangannya kepadaku agar dia mengerti apa yang aku ucapkan.
“Mbak Mitha akan sangat berterima kasih kalau Mas Reza bisa mendidik dan membesarkan anak-anak yang ia lahirkan sampai besar, karena Allah hanya memberinya waktu yang sebentar di dunia”
“Dia hanya memikirkan anak-anak, siapa yang memikirkan aku” ucapnya sambil menunduk sedih.
Kucium dengan lembut bibir yang masih basah oleh air mata dan ingus. Terasa asin. Kuangkat mukaku dan kutatap matanya.
“Sekarang harus berpikir ke depan, jangan terbelenggu oleh rasa bersalah yang hanya merusak diri kita sendiri” aku tersenyum melihat mata kelamnya yang terlihat lebih tenang dan dalam.
“Aku ada disini untuk bisa membantu Mas Reza dan anak-anak bisa terus melangkah kedepan”
Kuberikan kecupan ringan lagi untuk meringankan perasaan gundahnya, tapi Mas Reza malah menarik dan memelukku dengan erat. Bibirnya menekan dalam dan penuh perasaan, apa ini kenapa ciumannya jadi penuh nafsu, aku sampai sulit untuk bernafas. Akhirnya kudorong tubuhnya … sulit.. Aku tidak pernah bertarung dalam jarak dekat seperti ini. Aduuh ini ciumannya kok bikin aku jadi lemes.
“Hmmppp...Mpass...lemppasss” aku berusaha melepaskan diri, kugulingkan badanku, ini seperti pertarungan gulat… akhirnya bibirnya lepas.
“Massss…. Gimana siihhh… dikasih paha malah minta dada” aku berusaha bernafas dengan tersenggal-senggal. Dia masih menatap dengan tajam, dadanya tampak turun naik. Aku menahan badannya dengan tangan supaya tidak mendekat.
“Aku belum sampai main ke dada” jawabnya tenang.
“Tadi nangis-nangis boongan yah ..supaya akunya lengah” aku jadi menatapnya kesal.
“Engga memang sedih, sekarang perasaan terasa lebih enak lega, ternyata memang harus dikeluarkan… selama ini aku gak bisa bercerita sama siapa-siapa” ucapnya sambil merapihkan rambutnya yang berantakan gara-gara bergulat tadi.
“Terutama setelah dapat ciuman tadi, terasa melayang perasaan. Sudah lama tidak merasakan seperti itu” manusia kucluk itu malah tersenyum dan kemudian meraba bibirku dan mendekat. Aku langsung menjauh.
“Bibir kamu gak bengkak lagi kan?” ucapnya sambil terus mengusap bibir bagian atasku.
“Engga.. Lagi gak mens jadi gak gampang alergi” kutepis tangannya. Menyebalkan cepat sekali perubahan emosinya, dari nangis kaya anak kecil jadi langsung normal cuma gara-gara diberi ciuman.
__ADS_1
“Aku lapar, dari tadi siang belum makan…. Tadi di mobil aku cuma kebagian harumnya aja ayam… kalian makan gak inget sama aku” Mas Reza langsung turun dari tempat tidur dan melangkah keluar. Aku cuma menatap dengan cemberut.
“Ayo temani… aku gak mau makan sendirian” dia berbalik menatapku yang diam tak bergerak di kasur, masih kaget soalnya tiba-tiba diajak gulat, berat juga badannya dia.
“Iya bentar…” akhirnya aku temani dia turun ke ruang makan, untung masih ada 4 potong ayam yang tadi dibeli untuk Maura. Kusimpan dalam piring dan dibawa ke sofa, dia terlihat tenang tidak seperti habis menangis seperti hujan badai.
Mas Reza langsung mengambil ayam dan menikmati potongan demi potongan dengan lahap, terlihat sangat lapar. Wajar tadi nangisnya lama dan keras, terakhir aku melihat laki-laki menangis seperti itu waktu Emran ditinggalkan Ayah dan Kak Angga pergi memancing, karena Emran tidur jadi ditinggalkan. Rupanya Emran sangat ingin memancing bersama Ayah, ia sudah menyiapkan cacing yang ia kumpulkan dari halaman.
Emran mengamuk sambil menangis keras, padahal waktu itu dia kelas 2 SMP kekesalannya sampai dia melemparkan cacing-cacing yang ia kumpulkan dalam kaleng sehingga cacing bertebaran di tengah rumah. Mama sampai menjerit ketakutan melihat banyak cacing bergerak di tengah rumah dan Emran yang menangis keras. Akhirnya aku kumpulkan semua cacing yang bingung mencari tanah, Emran aku ajak ke kolam ikan yang dimiliki Mang Endut tukang ikan mas dipasar. Disana akhirnya Emran bisa memuaskan hasrat memancingnya, dan dari hasil pancingannya dia mendapatkan banyak ikan… yah namanya juga kolam ikan jualan dijamin ikannya lapar-lapar. Saat ayah pulang dengan Kak Angga mereka harus kecewa karena ikan tangkapannya sudah tidak dilirik Mama karena ikan tangkapan hasil mancing Emran sudah digoreng.
“Apa senyam senyum” tanya Mas Reza, rupanya aku tidak sadar melihat kearahnya sambil mengingat Emran.
“Gak apa-apa… ternyata kalau sudah hujan badai… muncul pelangi… lapar yaah” godaku melihat empat potong ayam langsung licin tandas.
“Hmmm… minta minum jeruk hangat” pintanya, ternyata sadar juga takut perutnya penuh lemak dengan ayam goreng. Kubuatkan jeruk yang selalu tersedia di lemari pendingin, rupanya memang itu minuman kesukaannya. Pantesan badannya tetap bagus walaupun sudah berumur.
“Aku mau tidur..ngantuk.. Besok pagi mau jemput Maura” ucapku sambil beranjak ke tangga.
“Tunggu aku habiskan jeruk dulu” dia langsung menghabiskan air jeruknya dalam beberapa tegukan. What…. Tunggu dia mau ikut lagi ke kamar? Bahaya bisa-bisa ngajak gulat lagi.
“Mau tidur di kamar aku? Aku gak mau nanti Mas Reza macam-macam lagi kaya tadi” aku langsung menghalangi usahanya untuk naik ke tangga.
“Aku gak mau tidur sendiri, kamar bawah terasa kosong dan sepi” dia langsung mendorongku kepinggir dan mendahuluiku masuk ke kamar. Arghhhh…. Ini musti dikasih batasan. Dengan cepat ku susul dia mendahului masuk ke dalam kamar.
“Aku gak mau jadi pelampiasan hanya gara-gara Mas Reza merasa kesepian setelah semua foto dan pakaian Mbak Mita dibawa pergi oleh Mama” ucapku dengan keras di dalam kamar. Dia menutup pintu dan menatapku. Melangkah maju dan menarikku dalam pelukannya. Ku dorong badannya menjauh, tapi dia tidak mau melepaskan tangannya di pundakku
“Aku gak mau menjadi perempuan yang dipilih karena tidak ada pilihan”
“Aku mau pikiran dan perasaan Mas Reza yang sepenuhnya untukku bukan hanya setengah, seperempat, sepertiga dari Mbak Mitha” ucapku… air mata sudah mulai menggenang di mataku.
“Aku gak mau sedih lagi kaya kemarin” aku mendorong tubuhnya menjauh dan naik ke atas tempat tidur. Kuambil guling dan kuberikan jarak antara kami, aku langsung tidur membelakanginya.
Kurasakan tangannya merangkul pundakku. Memelukku dari belakang terhalang oleh guling membuatnya hanya bisa merengkuh sebagian dari tubuhku.
“Berikan aku waktu untuk lebih mengenalmu Hasna” pelukannya terasa hangat,
“Aku tidak akan memaksamu sampai aku sendiri yakin akan perasaanku”
“Hari ini aku baru merasakan kedamaian selama lebih dari 3 tahun menekan perasaaanku”
“Aku akan membuatku yakin untuk bisa menerimaku dengan semua perasaan cinta yang aku rasakan kepadamu”
“Sekarang kita tidur… jangan khawatir aku tidak akan mengganggumu sampai kita berdua benar-benar siap dan yakin dengan perasaan kita”
Pelukannya mengerat dan membuat merasa tenang… ternyata betul apa yang dikatakan Fiersa Bestari… segala sesuatu yang pelik bisa diringankan dengan peluk…
Yuk mari kita sambil dengarkan lagu nya Aa Fiersa: Kadang kala tak mengapa / Untuk tak baik baik saja / Kita hanyalah manusia / Wajar jika tak sempurna/ Saat kau merasa gundah / Lihat hatimu percayalah / Segala sesuatu yang pelik / Bisa diringankan dengan peluk
*****************************
Pelajaran hari ini Mak Emak Deterjen: Jangan mudah menghujat seseorang dari satu sisi saja, harus memahami sikap seseorang dari berbagai sudut pandang. Bayangkan kalau kita ada dalam posisi dia... nyesek deh... hehehehe demikian tausiah dari Mama ShanTi... ada sedikit gulatan supaya sesudah banjir air mata... ada deg degannya dikit hehehehhe.... Semoga terhibur dan tetap bahagia yaaa.... Pandemi belum berlalu tetap tingkatkan imunitas jangan marah-marah terus sama Mas Reza... kalau punya pelik... sini saya peluk virtual ... Love you all
__ADS_1
******************************