Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Anak Ketiga


__ADS_3

Reza PoV


Ini adalah hari kedua aku mencari Hasna di apartemen yang kemarin ditunjukkan oleh Aswin, awalnya aku tidak memilih apartemen ini karena terlihat sudah tua, apartemen lama tapi masih layak dan terlihat bagus karena terawat dengan baik. Memang sedikit lebih jauh dari kampus kalau dibandingkan dengan apartemen yang kami amati kemarin, tapi mau bagaimana lagi karena Hujan yakin kalau di apartemen ini,  bisa menjadi tempat Hasna memilih untuk menyembunyikan diri.


Hujan membeli makanan, aku kagum dia terlihat bersemangat sekali hari ini, sehingga aku jadi tidak tega melarangnya untuk ikut. Setelah mengantar Maura aku baru menjemputnya ke rumah, Maura tidak boleh tahu apa yang akan kami lakukan hari ini, terlalu melelahkan dan khawatir malah akan jadi menggagalkan rencana yang sudah dibuat karena dia mudah capek. Tadi aku sedang mengirimkan email saat Hujan memintaku menutup laptop padahal tinggal diedit sedikit untuk bisa dikirim langsung ke investor Tiongkok yang menanyakan perkiraan kapasitas produksi tahun depan. Aku yakin bisa mengawasi orang yang hilir mudik saat membalas email.


Saat aku melanjutkan menulis email  tiba-tiba terdengar suara gaduh dan anak kecil yang menangis. Rupanya ada anak kecil yang sedang belajar memakai sepatu roda dan menabrak perempuan yang berjalan. Seharusnya orang tua tidak membiarkan anaknya belajar memakai sepatu roda di tempat umum pikirku, bisa membahayakan orang lain. Aku tidak terlalu memperhatikan perempuan itu dan kembali melihat ke laptop sampai terdengar orang tua anak itu yang bertanya.


“Maaf yaa Mbak anak saya masih belajar… gak apa-apa kan?”


“Gak apa-apa.. Adek nya gak apa-apa kan? Kalau belajar sepatu roda jangan lupa pakai helm dan safety protector” samar kudengar suara perempuan itu, aku langsung melirik perempuan itu, Dia…. Dia… senyum lebarnya masih sama. Tadi aku tidak mengenalnya dari belakang, tapi saat mengangkat anak kecil itu sambil mengusap-usap rambutnya aku bisa melihat wajahnya. HASNA!


“HASNA!” Aku langsung berdiri, ia langsung melihatku dengan kaget, dan berlari keluar. “Hasnaaaaa” aku langsung berlari mengejarnya meninggalkan laptop di sofa, aku tidak boleh kehilangan dia sekarang. Ya ampun dia sedang hamil kenapa malah lari seperti itu.. “Hasnaaa jangan lari” dia berlari ke arah parkiran mau kemana dia.


“Bunaaaa” terdengar teriakan Hujan, tapi dia masih berjalan dengan cepat diantara mobil-mobil yang terparkir. “Bunaaaa….” aku mendengar teriakan Hujan, jaraknya lebih dekat dengan Hasna daripada aku. Rupanya tadi dia membeli makanan di area apartemen.


“Bunaaa… aku gak mau jadi elangggg...aku mau jadi anak ayaam ajaaa….” aku langsung terhenyak.


“Bunaaaa hwaaaaa…. Aku mau jadi anak ayam ajaaaa” aku melihat Hujan berjongkok sambil menangis di parkiran, dia jadi seperti anak kecil dengan membawa kantong plastik di kedua tangannya. Dia sudah tidak memperdulikan orang lain yang memperhatikannya, sudah sebesar itu masih menangis keras.


“Aku mau jadi anak ayaam ajaaaa...hwaaaaa” aku terhenyak mendengar tangisan Hujan, tangisan yang sama seperti saat dia merasa tidak diperhatikan oleh Hasna dulu. Dia berhenti...Hasna… dia berhenti dan berbalik melihat Hujan. Diam dan melihatnya dengan tatapan yang putus asa. Apa yang sudah aku perbuat sampai membuat dua perempuan dalam kehidupanku menjadi menderita seperti ini.


“Aku gak mau jadi elaaang Bunaa… aku mau jadi anak ayam ajaaa… Buna gak usah jadi elaaang… gak apa-apa jadi ayaam ajaa hwaaaaa” Hujan masih berjongkok dan terus menangis sambil memegang kantong plastik di tangannya. Sesekali mengusap air mata dan ingus dihidungnya dengan lengan bajunya. Hasna terlihat mendekatinya sambil menangis, aku hanya bisa terdiam dan berdiri memandang mereka.


“Maafin Bunaaa…. Maafin Bunaa….” dia langsung memeluk Hujan sambil berjongkok. “Kaka jangan menangis begini… Buna paling gak suka kalau Kakak menangis begini nanti Mami Mitha sedih” bukannya berhenti menangis malah tambah keras


“Makanya Buna pulaaang…. Ade nangis terus kalau malam-malam… aku mau ujian minggu depan...aku gak bisa belajar. Papi gak mau makan cuma minum kopi ajaa..nanti kalau Papi sakit terus mati, aku sama ade gimanaaaaa” anak itu malah mikirin aku mati lagi…


“Iyaaa Buna mau pulang, Buna cuma masih perlu beresin dulu kerjaan, Buna kan janji dalam email” dia masih saja bisa cari alasan.


“Ngerjain kerjaannya jangan disini di rumah aja…” kulihat Hujan menatap Hasna dengan penuh harapan, Hasna cuma tersenyum dan mengangguk.


“Kakak dari kapan disini?” dia menarik Hujan berdiri, diusap mukanya dan dirapihkan rambutnya.


“Aku dari tadi pagi udah nungguin di lobby hampir dua jam, kemarin aku nyariin Buna di apartemen lain seharian disana. Papi gak percaya waktu aku bilang gak mungkin kalau Buna tinggal disana… bener aja Buna tinggal disini” anak itu malah mengadukan kalau kita dari kemarin mencarinya.


“Kakak beli apa ini? Mau makan kue yaa, kita keatas yuk, jangan nangis disini malu diliatin orang-orang” Hasna menarik Hujan berjalan dengannya, melewati aku seperti orang asing. Tidak melirik atau melihat sama sekali. Aku tidak peduli, aku ikuti mereka seperti kambing dicocok hidungnya. Ternyata ia tinggal di lantai 3, selama di lift sama sekali tidak pernah menatap ke arahku. Hanya mengusap-usap rambut Hujan yang terus menatapku dengan tatapan canggung.


“Buna sama siapa disini?” Hujan terlihat penasaran khawatir kalau ada orang lain rupanya.


“Sendiri, kamarnya kecil tapi Buna suka, bisa kerja dan menyelesaikan pekerjaan sebelum nanti pulang. Minggu depan Buna mau pulang ke rumah” perempuan yang aneh, sama-sama tinggal di Jakarta tapi seperti tinggal di lain kota. Hujan tidak berkomentar banyak, dia hanya mengikuti Hasna melangkah.


“Ini kamar Buna” dia masuk ke dalam unit kedua terletak di ujung  lantai ini. Bahaya posisinya rawan kamar paling ujung itu, orang jarang melihat, kamera CCTV pun tidak bisa melihat dengan jelas. Hujan menahan pintu sampai aku masuk, anak ini memang bisa diandalkan.

__ADS_1


“Aku beli cheese cake kesukaan Buna.. cafe yang di bawah lengkap banget, tadi aku beli red velvet trus ada matcha cake juga… ehhh ya ampun tadi aku malah jatuhin, pasti jadi jelek deh” dia langsung membuka kotak kue di meja dekat TV. Rupanya dia menyewa apartemen dengan type studio cukup luas dengan satu tempat tidur ukuran 180x200, pantry kecil lengkap dengan lemari pendingin. Lemari pakaian ukuran besar, ada meja rias di sudut dekat jendela, sofa dengan dua seat di sebelahnya, serta kamar mandi lengkap dengan shower seperti kamar hotel.


“Papi ini croissant nya, Papi harus makan tadi pagi cuma minum kopi aja” Hujan menyodorkan bungkusan kertas padaku, kulihat ada dua croissant, hanya kupegang dan tetap memandangnya. Dia terlihat lebih berisi, pipinya tidak tirus lagi seperti dulu dan matanya tidak ada garis-garis kurang tidur, syukurlah dia tampak lebih sehat, dengan memakai kerudung dia terlihat berbeda.


“Kakak mau susu? Buna belum belanja cuma punya susu dan sereal” aku langsung berkerut bagaimana mungkin ibu hamil hanya memiliki susu dan sereal saja.


“Aku beli cake.. Buna cobain ini cheesecake kesukaan Buna, aku pengen cobain matcha cake yang ini...hihihi kirain bakalan hancur creamnya” Hujan langsung membuka kotak kuenya dan menyimpannya di piring yang disediakan Hasna. Mereka seperti tidak memperdulikan keberadaanku.


“Waaah Buna malahan belum coba ada cheesecake, kebetulan tadi Buna lapar banget pengen ngemil” dia tampak bahagia melihat kue yang tersaji di depannya, sejak tadi baru sekarang aku melihat dia tersenyum.


“Buna mau cobain kopi latte ini” Hujan menawarkan kopinya pada Hasna, aku langsung akan bereaksi tapi untunglah dia menggelengkan kepala. “Gak.. buna minum susu saja” ahhhh untunglah dia paham kalau perempuan hamil sebaiknya tidak minum kopi. Jangan sampai kejadian Mitha terjadi juga padanya, kopi bisa memicu darah tinggi bagi orang yang tidak biasa meminumnya.


“Tadi kakak ngapain aja di bawah?” mereka asyik makan kue seperti dua sahabat yang baru saja bertemu. “Aku tadi belajarrr… Papiiii buku pelajaran akuu di lobby? Laptop Papiiii jugaa” Hujan langsung menatapku dengan kaget, aku cuma tersenyum lemah. Aku sudah tidak peduli lagi.


“Bunaaaa aku turun dulu ngambil tas ada buku catatan aku buat ujian, laptop Papi juga ditinggal di lobby” dia langsung loncat dan berlari keluar. Hasna langsung berdiri dan menatap Hujan yang berlari keluar kamar meninggalkan kami berdua.


Begitu pintu tertutup ..klik.. Suasana canggung langsung terasa. Hasna tampak tidak peduli dia meneruskan memakan cake yang tadi dibawa Hujan dan meminum susu, kemudian membereskan piring dan gelas bekas makannya ke pantry dan mencucinya dalam diam.


“Raa…” aku mencoba memulai percakapan, aku tidak bisa diam terus seperti ini.


“Ra.. aku mohon, maafkan aku” dia masih diam tidak bergeming seakan-akan tidak mendengar ucapanku.


“Ra aku mohon, aku menyesal telah membuat kamu seperti ini...aku mohon maaf” aku mencoba mendekat padanya dan duduk diatas tempat tidur jarak yang paling dekat padanya. Dia mengenakan pakaian dari bahan kaos, bisa kulihat kalau perutnya sudah mulai membuncit tidak lagi lurus seperti dulu. Hujan tidak memperhatikannya pasti ia menyangka karena Hasna memakai kerudung maka pakaiannya menjadi longgar.


“Jangan mendekat…. Jangan mendekat atau aku menjerit..” dia langsung menyadari kalau aku mendekatinya.


“Ra aku cuma mau meluk kamu, meluk anak kita…..” aku sudah tidak tahan lagi ingin memeluknya.


“Aku bilang berikan aku waktu… kenapa mencari aku” dia masih membelakangi tidak mau melihat ke arahku sama sekali.


“Raaa...aku gak bisa hidup tanpa kamu… aku minta maaf aku berjanji tidak akan lagi mengulangi kesalahan yang sama… Rara please maafkan aku… aku sama anak-anak gak bisa hidup tanpa kamu…” aku mendekatinya tapi berusaha menahan diri untuk tidak menyentuhnya. Tiba-tiba ia berbalik


“TAPI AKU BISA…. AKU BISA HIDUP TANPA MAS REZA” aku terhenyak melihat sorot matanya yang penuh kebencian padaku, tatapannya membuat seluruh tubuhku terasa dingin.


“Rara…. Aku..aku mencintai kamu… aku mohon percaya sama kata-kataku” dia tersenyum sinis sambil terus mengeluarkan air matanya.


“Haaha itu hanya ucapan penyelamatan diri saja, supaya aku bisa dibodohi lagi seperti dulu, seperti Mas bilang aku cuma piala bergilir kan… sekarang pialanya sudah rusak tidak bisa dipakai lagi” kata-kata itu seperti menusuk ke dalam ulu hati kenapa terasa sakit oleh perkataan sendiri.


“Aku akan pulang untuk anak-anak, membesarkan mereka membuat mereka bahagia, tapi jangan harap Mas Reza ada dalam pandangan aku, aku sudah berpikir satu-satunya cara supaya bisa bertahan cuma menganggap Mas Reza tidak ada” tatapannya tajam dan tangannya menunjuk ke arah ku. Kenapa aku merasa kalau perempuan yang ada dihadapanku seperti ada dua bayangan perempuan… Mithaa apakah kemarahan dan kebencianmu padaku, kamu ungkapkan juga sekarang bersama Hasna.


“Yaa… tidak apa-apa..aku terima, kamu boleh melakukan apapun padaku. Aku terima semua hukuman ini.. Seumur hidupku aku akan menebusnya” aku mendekat dan berusaha memeluknya. Rasa ingin memeluk ini terlalu kuat, dia langsung menjerit.


“Lepaaaas…. Aku bilang lepassss… aku gak mau disentuh sama kamu” dia memukul mukul aku, tenaganya kuat tapi aku bertahan aku hanya ingin memeluknya.

__ADS_1


“Lepaaaasin…..aarghhh…. Ahhhh…. Sakiiiiit….sakiiiit” tiba-tiba jeritannya melemah dan tangannya menjadi lemas dan memegang perutna. Aku langsung kaget, aku tidak berpikir kalau itu akan berpengaruh padanya aku cuma ingin memeluknya.


“Arrghhhh…… sakiiiit…. Mas perut aku sakitttt hwaaaaa” dia terjatuh lemas ke lantai, aku langsung menyangga badannya. Panikkkk…. Apa yang sudah aku lakukan…


“Hasnaaa…. Apanya yang sakit...kenapa perutnya…” aku langsung memegang perutnya. Dia masih menangis sambil memegang perutnya.


Tiba-tiba pintu terbuka dan Hujan masuk dengan membawa dua tas di tangannya.


“Bunaaa… kenapa Buna?” dia langsung panik melihat Hasna yang terduduk di lantai dengan muka yang meringis sambil menangis.


“Buna kenapa?” dia langsung seperti bingung dan melihat Hasna yang menangis sambil memegang perut, refleks ikut memegang perut Hasna dan langsung menjerit.


“Papiiiiii Bunaaa hamiiilll…..hwaaaaa” dia langsung menjerit dan menangis, aku tidak pernah melihat Hujan sehisteris itu.


“Papiiiiii Bunaaaa jangan matiiiiiii……. Hwaaaaaaa…… Buna jangaaaan matiiiiii” Aku bingung harus bagaimana…


“Bunaaa jangan matiiii…. Papii! dulu Mami mati waktu hamil ade….. Sekarang Buna juga hamillll hwaaaaaa” rupanya Hujan mengalami trauma karena kematian Mitha, aku cuma bisa menatapnya dengan sedih, dia terus memegang tangan Hasna dan melihat perutnya dengan tatapan ketakutan.


“Bunaaaa jangan mati….” dia terus berteriak-teriak jangan mati jangan mati. Bagaimana ini apa yang harus kulakukan.


“Kakak...kakak…. Lihat Bunaaa...kakak lihat Buna….” tiba-tiba Hasna memegang dan menarik tangan Hujan. “Kakak...Buna gak apa-apa...perut Buna cuma sakit… sekarang usap perut Buna supaya sakitnya hilang” Hasna menarik tangan Hujan supaya memegang perutnya. Aku hanya bisa menatap keduanya dengan linangan air mata, kedua tanganku menahan pundak dan kepala Hasna di lantai.


“Pegang adiknya supaya dia tenang…. Jangan nangis seperti itu… kenapa Buna yang sakit malah kamu yang menjerit” dia masih berusaha menarik tangan Hujan dan meletakkannya kembali di perutnya.


“Buna ...Buna gak apa-apa?” dia tampak ketakutan, Hasna mengangguk dan tersenyum lemah.


“Diusap adiknya, bilangan gak apa-apa ada Kakak Hujan disini sama ade...ade jangan bikin sakit Buna” Hasna tampak menuntun Hujan sambil mengusap-usap tangannya, Hujan terlihat ragu memegang perut Hasna


“Ade… jangan bikin sakit Buna… gak apa-apa udah ada Kakak sekarang, ade jangan bikin sakit Buna...kasian Buna” dia terus mengusap-usap perut Hasna dengan pelan. Hasna kembali tersenyum.


“Sakitnya udah membaik, sekarang bantu Buna berbaring di tempat tidur” ia berusaha bangun dari duduknya, mau aku pegang dan dipapah, syukurlah aku takut dia tidak mau disentuh sama sekali. Perlahan ku baringkan di tempat tidur merapihkan bantal dan menyelimuti kakinya.


“Ma..masih sakit?” aku khawatir, tadi mungkin dia sangat kesal saat aku peluk sampai menekan perutnya. Hasna hanya mengangguk lemah.


“Kita ke rumah sakit yaa sekarang? Harus diperiksa takut ada apa-apa” aku pegang tangannya terasa dingin.


“Mau tiduran dulu” dia menatap Hujan dan tersenyum, muka Hujan masih terlihat cemas. “Kakak sini tidur dekat Buna… adik kayanya senang diusapin sama Kakak” Hujan langsung naik dan duduk di sebelahnya menatap perut Hasna yang terlihat menonjol sedikit kalau sedang berbaring.


“Buna sejak kapan ada bayi? Kenapa gak cerita sama aku” dia mengusap perut Hasna dengan pelan. Yang diusap tampak merasa tenang dan menutup matanya, “Bunaa… jangan merem aku takut kalau Buna merem…” aku hanya bisa menggelengkan kepala anak ini benar-benar trauma.


Hasna membuka mata dan tersenyum “diusapin Kakak, Buna jadi ngantuk hehehehe sudah jangan nangis… nanti adiknya kaget” dia langsung mengusap air mata di wajahnya dan menatapku.


“Papi pegang perut Bunda… ngejendul ...aku ingat dulu pegang perut Mami waktu hamil ade.. Dulu ade suka gerak-gerak.. Sekarang kenapa adiknya gak gerak-gerak” Hujan menarik tanganku untuk memegang perut Hasna. Aku ragu, khawatir Hasna tidak suka, tapi dia tampak diam saja. Akhirnya ku beranikan diri memegang perutnya untuk pertama kalinya, anak ketigaku akhirnya aku bisa menyentuhnya…

__ADS_1


__ADS_2