
Author POV
Mereka check out jam 1 setelah akhirnya Reza memutuskan tidur setelah sarapan. Dia merasa lelah, rencana untuk bekerja menyelesaikan pekerjaan yang dikirimkan Arcy akhirnya dikirimkan kepada Aswin. Rupanya bangun dini hari membuat Reza merasa perlu tambahan istirahat sebelum berangkat pulang ke Jakarta.
Hasna dan Maura memutuskan berenang di kolam renang hotel. Hasna tidak membawa baju renang awalnya untung Emran bisa menyusulkan baju renang ke hotel. Mereka berdua benar-benar menikmati masa liburan di hotel dengan nyaman. Sampai akhirnya jam 11 saat matahari sudah mulai terasa sengatannya Hasna memutuskan untuk segera kembali ke kamar.
Ternyata Reza masih tidur, setelah memandikan Maura dan memberinya susu, Hasna membaringkan Maura, anak koala ini perlu tidur dulu sebelum nanti jam 12 checkout. Tidak butuh lama Maura untuk tertidur, lelah bermain seharian membuatnya knock out tak lama setelah menyentuh bantal.
Setelah Maura tertidur Hasna segera membereskan semua barang-barang yang ada di kamar hotel. Ternyata banyak juga barang yang harus dibawa, perlengkapan seserahan masih belum dibuka dalam kotaknya. Jam 12 kurang Reza bangun dan keluar dari kamar, mukanya terliat segar.
“Hmmm sudah kamu bereskan rupanya semuanya?” Reza menatap kumpulan barang yang harus dibawa dekat pintu masuk kamar.
“Iya ternyata banyak juga barang yang harus dimasukan ke mobil” Hasna berkerut melihat tumpukan koper dan barang.
“Nanti aku panggil petugas hotel supaya membawa troli”
“Muat dimobilnya?” Hasna bingung melihat banyaknya barang
“Ya sebagian di bagasi sebagian lagi bangku belakang, cuma kamu harus duduk berdua dengan Maura di depan karena aku pakai yang Mercy.. Maura mana?” Reza bingung karena tidak melihat Maura di ruang tengah kamar hotel.
“Tidur di kamar, tadi setelah berenang cape kayanya. Minum susu langsung tepar” Hasna tertawa
“Tadi berenang? Pantesan muka kamu terbakar begitu” ucap Reza sambil memijit telepon di kamar untuk menghubungi room service.
“Arghhh… keliatan terbakar? Ya ampun tadi aku lupa gak pakai sunblock” Hasna langsung bercermin ke toilet dan melhat ternyata memang mukanya terlihat lebih gelap.
Proses check out berjalan dengan cepat, Hasna menggendong Maura yang masih mengantuk. Sebelum keluar dari Bandung, Hasna memenuhi janji untuk mampir dulu ke rumah untuk pamit. Ternyata hanya ada Mama dan Ayah saja, tidak lama di rumah Hasna mereka langsung berangkat pulang ke Jakarta. Sepanjang perjalanan Hasna berdoa memohon ketenangan hati dalam menjalani episode baru dalam kehidupannya, menjadi seorang ibu dari dua anak perempuan dan istri dari seorang lelaki yang baru dikenalnya selama dua bulan.
Hasna POV
Jam 4 kami sampai di rumah Mas Reza, perasaanku semakin tidak tenang. Ternyata ini tidak semudah yang dibayangkan. Tidak seantusias pindah ke rumah kost an, kenapa muncul perasaan seperti pindah numpang ke rumah orang yah. Aku tidak mengerti, ini tidak seperti saat pindah ke kost an yang di Jakarta, perasaan insecure nya lebih tinggi padahal aku tinggal dengan banyak orang daripada saat di kost an hanya sendiri.
Begitu sampai kami langsung disambut, Hujan datang menyapa melihat aku turun bersama Maura.
“Jam berapa tadi dari Bandung?”
“Jam 1 Ka, tadi kaka sekolah?” tanyaku
“Ya.. aku baru datang tadi les dulu, aku tinggal dulu yah, ngantuk capek” ucapnya sambil berbalik kembali ke rumah
“Ehh… welcome Tante… di rumah kami” tiba-tiba ia berbalik dan kemudian masuk ke dalam rumah. Aku cuma tersenyum, melihatnya mau datang menyambut sudah luar biasa dengan pertimbangan usia remaja seperti Hujan biasanya tidak peduli dengan lingkungan.
“Masuk” Mas Reza mendahului masuk ke dalam rumah, ia membawa kopernya, aku sudah menurunkan dan memegang koper kecil yang kubawa dari rumah. Maura sudah menghilang dari tadi, ia sudah berada di wilayah kekuasaannya.
“Bunaaaa… sini tepetan aku mau liatin kamal aku cama kaka ujan” tiba-tiba anak koala itu nongol tidak sabar menunggu aku masuk ke dalam.
Begitu masuk ke ruang tamu foto Bu Mitha dan Pa Reza yang semula terpampang di ruang tamu sudah tidak ada. Mungkin mereka tidak ingin membuatku merasa tidak nyaman, karena saat ini aku yang menjadi istri Reza.
Maura menarikku masuk dan mengajakku ke lantai 2, perlahan kuikuti keinginan anak ini.
“Nanti Buna tidulnya sama Mola khan.. Kata Kaka kalau Mola bobonya sama Buna kaka bisa pindah kamal sendilian”
“Kaka bilang kalau Mola suka belisik” anak koala ini menuntutku masuk ke kamar di lantai 2.
Ternyata kamarnya luas hampir 3 kali luasnya dari kamarku di Bandung karena memang ada 2 tempat tidur disana. Tampak Hujan sedang tiduran di kasur sambil memegang handphonenya.
“Kakak mau tidur yah, jadi ke ganggu, Tante cuma sebentar kok Maura mau liatin kamar katanya” ucapku sambil tersenyum saat anak petir itu melirik kehadiranku di kamar.
“Kamar Maura dan Kaka Hujan bagus sekali, nanti Buna temani yah Maura kalau mau tidur”
“Sekarang kita mainnya diluar saja, kasian kakaknya mau tidur tadi pagi-pagi berangkat subuh dari Bandung” ajakku pada Maura, anak koala ini langsung menurut dan mengikutiku keluar dari kamar.
Dipintu kamar aku ada Mas Reza yang membawa koperku.
“Kamu bisa tidur di kamar ini, bersebelahan dengan kamar anak-anak jadi lebih mudah nanti kalau ada apa-apa” Reza membuka kamar kedua yang disebelah kamar Maura dan Hujan. Kamarnya cukup luas, lebih luas malah dibandingkan dengan kamarku yang di Bandung.
Aku membuka jendela kamar, ada balkon yang menghadap ke arah jalan, terasa lebih nyaman. Kamar ini posisinya di sudut rumah yang ada di lantai dua sehingga lebih leluasa untuk bisa melihat area disekitar rumah hingga gerbang pagar depan. Ada kamar mandi kecil di kamar, lengkap dengan shower. Tiba-tiba perasaanku terasa lebih tenang, kamarnya seperti menerima kehadiranku disini.
“Selama ini kamarnya ditempati siapa Mas?” tanyaku saat melihat Reza yang sedang mengecek kondisi lemari dan kamar mandi.
“Mama Isna kalau beliau menginap menemani anak-anak kalau aku pergi”
“Nanti kalau Mama Isna datang dan menginap beliau tidur dimana?” aku merasa tidak enak mengambil alih tempat yang sudah biasa beliau tempati. Mama Isna orangnya sangat baik dan lembut, rasanya tidak adil karena kedatanganku tempat yang biasa dipakainya jadi hilang.
“Dibawah masih ada kamar tamu, itu bisa dipakai, jangan khawatir” jawab Reza pendek.
__ADS_1
“Kalau ada yang kamu perlukan nanti kita bisa beli.. Palingan meja belajar kalau nanti kamu mulai kuliah, atau rak buku.. Apalagi yah?” Mas Reza tampak memandang sekitaran kamar berpikir kelengkapan kamar. Tampaknya ia ingin aku merasa nyaman disini.
“Gak usah nambah-nambah dulu, gampang lah nanti aku bisa beli online kalau perlu. Lagian kan kemarin sudah dikasih modal usaha sama Mas Reza” jawabku sambil mencoba tempat tidur. Hmm kasur yang empuk, “eh poster GD Oppa boleh gak yah dipasang disini?” pikirku
“Aku boleh pasang foto atau gambar kan?” sambil menaksir pada bagian mana bisa memasang poster GD Oppa yang terbaru.
“Foto gambar apa? Lukisan?” tanyanya. Aku langsung tersenyum dan sebelum sempat menjawab dia sudah langsung menyambar.
“Kalau lukisan boleh tapi kalau poster bintang K-Pop tidak” Mas Reza menjawab sambil mendengus mukanya terlihat tidak bersahabat. Hmmm ternyata anggota hater.
“Kenapa apa bedanya, kan sebetulnya apresiasi dari objek seni itu bisa berbentuk apa saja” jawabku, GD Oppa itu seorang seniman yang hebat. Dia sudah belajar menyanyi dan rap sejak masih kecil hingga mencetak kesuksesannya sekarang bersama Big Bang. Dia seorang pekerja keras dan banyak mendapatkan perhargaan.
“Kita mengapresiasi seni kan pada produk yang dihasilkan bukan kepada orangnya” jawab Mas Reza cepat
“Contoh lukisan, yang dipajang oleh orang-orang adalah lukisan dari pelukis Pablo Picaso tidak pernah memajang foto Pablo Picaso nya”
“Kalau kamu ingin mengapresiasi hasil seni dari musik yang dihasilkan oleh G Dragon yang harus kamu apresiasi musiknya bukan fotonya”
“Kalau kamu memasang foto G Dragon artinya kamu menyukai figur dia sebagai laki-laki bukan karya dia sebagai pekerja seni” …
“Benar juga apa yang disampaikan Kang Mas.. memang pinter dia” pikirku, dan aku cuma bisa tersenyum getir
“Jadi kalau mau memasang foto, pasang foto aku saja yang besar, supaya ingat dan paham kalau aku suami kamu jangan sampai ditendang lagi dari kasur” uyug..uyug yang sakit hati kena tendangan si midun sampai keingetan terus.
“Gak usah pasang apa-apa dehhh… jangan khawatir gak dipasang foto juga sudah ingat kalau aku sudah nikah.. Terutama kalau diingatkan setiap hari kaya gini… bakalan ingat teroooz” jawabku pendek. Dipasang foto Mas Reza di kamar ini kaya diawasi sama supervisor pabrik.. Menyeramkan.
Tumpukan barang seserahan sudah masuk ke dalam kamar, hmm sudah mulai menumpuk seperti ini. Palingan nanti musti beli lemari tambahan untuk menyimpan barang, apalagi kalau ditambah dengan baju yang ada di kost an tampaknya tidak akan mencukupi hanya menggunakan lemari yang ada ini.
Setelah merapikan barang-barang Hasna kemudian turun ke bawah. Ada Maura yang sedang asyik menonton TV Channel anak-anak. Sebentar lagi magrib, tak tampak kehadiran Mas Reza, mungkin sedang istirahat.
“Maura lagi apa?”
“Nonton Pololo” ucapnya tanpa mengalihkan pandangan dari televisi. Hmm jangan coba-coba untuk diikuti ucapan pololonya bisa-bisa keluar Reza Ardiansyah versi anak koala melotot dan mendengus.
“Buna mau nyiapin makan makan dulu yah sama Mbak di dapur” ucapku khawatir nanti dia mencari-cari.
“Iyah” jawabnya tanpa mengalihkan pandangan. Hmm ternyata fokusnya Mas Reza sama laptop dengan fokusnya anak koala dengan pololo sama. Buah memang kalau jatuh ngelidining gak akan jauh dari pohon kecuali memang kalau jatuh dimakan kelelawar.
Aku ke dapur mencari Mbak Jumi, dulu pernah bertemu waktu ada Mama Berta dan ternyata memang Mbak Jumi sedang asyik menyiapkan makan malam.
“Mbak lagi sibuk yah? Ada yang bisa saya bantu?” ucapku sambil melihat ke dalam kulkas. Gede amat lemari pendinginnya sampai setinggi badan aku.
“Kemarin kenapa gak ikut ke Bandung mbak, supaya bisa ketemu sama anggota keluarga Bandung disana” ucapku sambil mengusap-usap punggungnya.
“Ehhh… gak apa-apa, nanti ga ada yang jaga rumah disini. Maaf mbak cuma bisa mendoakan saja dari jauh, supaya pernikahannya Nona Hasna sama Tuan Reza langgeng gak seperti sama Bu Mith…” mba Juma kemudian berhenti berbicara seperti tercekat suaranya, tampaknya ia jadi teringat sama Mbak Mitha.
“Maaf non saya jadi ngomong ngelantur kemana-mana” ucapnya sambil memukul mukul mulutnya.
“Gak apa-apa Mbak… saya sudah tahu kok.. Jangan sungkan-sungkan cerita soal Bu Mitha sama saya, saya nikah juga karena disuruh sama Bu Mitha lewat mimpi...hehe” ucapku sambil tersenyum berusaha memecah kekakuan.
“Ahhh Non itu gimana toh kalau bicara suka bikin Mbak Jum bingung” mukanya langsung terlihat bengong mendengar ucapanku
“Nanti aku cerita yah mbak kalau kita lagi santai.. Eh aku mau tanya-tanya dulu bentar sebelum magrib nih”
“Kalau kebiasaan makan Mas Reza sama anak-anak apa? Trus mereka suka makanan cemilan apa?”
“Trus apa yang mereka gak suka” aku langsung mengambil notes yang dari tadi dibawa-bawa.
“Pak Reza kalau pagi sarapannya cuma minum kopi dan roti bakar gandum saja, beliau suka ngasih topingnya sendiri”
“Non Hujan dan Non Maura sarapannya sukanya sereal tapi kalau mbak bikin nasi goreng suka dimakan juga”
“Non Hujan suka membawa bekal nasi goreng atau apapun yang ada di meja untuk dimakan disekolah, biarpun badannya kecil tapi Non Hujan itu makannya besar loh Non”
“Mbak jangan panggil aku Non atuh.. Panggil Hasna saja”
“Ehh iya sudah jadi istrinya Tuan Reza mustinya dipanggil Nyonya tapi keliatan masih muda sekali Non Hasna ini” Mba Jum nepok jidatnya.
“Hahahaha ya udah atuh panggil aku Neng Hasna aja… panggilan di Sunda untuk perempuan yang lebih muda.. Jangan panggil Nyonya atau Ibu.. kesannya tua banget” aku mentertawakan Mbak Juma yang keliatan bingung.
“Ndak apa-apa kalau Mbak Jum panggilnya Neng Hasna? Takut dimarahi Tuan” ucapnya pelan
“Gak… nanti kalau berani marahin Mbak Jum gara-gara itu nanti saya marahi balik Tuannya.. Jangan khawatir...lanjutkan” potongku sambil tersenyum, si mbak ini kaya sama keluarga feodal saja.
“Non Hujan ndak suka sama makanan yang bersantan, kalau Tuan tidak terlalu suka sama sayuran mentah semuanya harus dimasak”
__ADS_1
“Ow iya Non Hujan juga tidak suka sama jeroan, kulit ayam dan semua yang kenyel-kenyel seperti kulit sapi atau lidah sapi.. Katanya geli… padahal yo itu makanan enak semua kata si mbak” mukanya menerawang sambil mupeng
“Non Maura semua makanan bisa dimakan tapi paling suka sama ayam goreng tepung, kalau makan ikan harus disuapi karena takut durinya, jadi palingan ikan kalau ada Nyonya Besar atau Nyonya Isna suka dimasakin Ikan Salmon atau Tuna yang dibakar.. Mbak gak bisa makan ikan mahal takut salah masak”
“Kadang mbak suka kesel, sudah susah-susah masak ehh Non Hujan malah pesan makanan online jadinya makanan mubazir, kalau tinggal di kampung sih bisa dibagi-bagi sama tetangga sebelah rumah, lah piye disini rumahnya gedong-gedong kabeh gak terima masakan sisa orang” Mbak Jum tampak ngutruk-ngutruk.
“Sama mbak gak dibilangin soal di rumah ada masakan?” tanyaku
“Ya masak si mbak musti ngelarang wong makannya sudah dianterin depan rumah, yo kasian gojeknya” masih manyun-manyun gak jelas.
“Heheheh iya mbak.. Mungkin pengen ganti suasana makanan aja” ucapku berusaha menengahi.
“Mudah-mudahan kalau Neng Hasna disini Non Hujan mau makan masakan yang dibuat biar ga mubazir, sakit hati mbak tuh membuangnya .. inget sama keluarga di kampung” ucapnya dengan sedih. Hmmm… musti dipikirkan bagaimana caranya supaya bisa menengahi kondisi seperti ini.
“Iya mudah-mudahan saja, makanya sekarang saya tanya-tanya supaya bisa belajar sama Mbak Jum apa saja kesukaan dan yang gak disukai sama keluarga disini”
“Neng Hasna itu baik yah mau tanya-tanya sama Mbak ke dapur. Perempuan lain mungkin malah nyuruh-nyuruh saja bikin ini itu kalau jadi Nyonya baru disini. Mbak bersyukur Neng Hasna jadi istrinya Tuan Reza semoga langgeng sama bahagia disini yah Neng”
“Yang sabar jadi istrinya Tuan, meskipun keliatannya galak dan jarang bicara, tapi sebetulnya Tuan Reza itu orangnya baik dan perhatian”
“Anak-anak Mbak Jum semuanya disekolahkan sama Tuan, alhamdulillah sekarang sudah selesai SMA nya malahan yang bungsu tahun ini mau kuliah gak seperti kakak-kakaknya cuma mau sampai SMA saja”
“Waaah Mbak Jum anaknya udah pada gede? Kiraian masih pada SMP lah paling besar” nah inilah saat yang tepat untuk membuat emak-emak model Mbak Jum geer dan klepek-klepek penting buat modal masa depan di rumah ini.
“Wes punya cucu mosok disebut punya anak SMP .. Neng Hasna ngomongne sing aneh, isin aku” Mbak Jum tampak tersipu-sipu… Cieee udah mulai klepek-klepek nih.
“Ehhh itu indikator kalau Mbak Jum itu orang bahagia, jadi awet muda, atau mungkin karena rajin sholat yah mukanya bercahaya”... hajar terus dikasih pujian.. Biar makin kelepek-kelepek.
“Aiishh Neng Hasna iki bikin Mbak Jum malu, kalau sholat itu ya wajib… ngaku Islam tapi kalau gak sholat itu nanti masuk Neraka … takut sama Gusti Allah”
“Ehhh mbak orang yang sholat itu sering berwudhu makanya bersih, malahan ada orang yang suka ditanya kok mukanya bersih pake perawatan apa?.. Mereka suka jawab ahhhh engga pake apa-apa cuma suka wudhu ajaaa” aku langsung memperagakan tipe-tipe cewek sholehah yang rajin berwudhu.
Mbak Jum malah cekikikan mendengar ceritaku. Ehhh ini gak percaya kayanya.
“Hihihihi Neng Hasna iki lucu tenan, mosok sering wudhu jadi mukanya bersih” Mbak jum ternyata butuh ceramah Mamah Hasna kalau beginih.
“Eh ini seriusan Mbak.. saat seseorang wudhu itu dia membersihkan jiwa dan fisiknya”
“Ada hadist yang meriwayatkan seseorang ketika berwudhu, saat ia membasuh mukanya, maka keluarlah dari mukanya seluruh dosa yang dikeluarkan oleh matanya, saat ia membasuh tangannya, maka keluarlah seluruh dosa yang dilakukan oleh tangannya, dan saat dia membasuh kakinya, maka keluarlah seluruh dosa yang ia dapatkan saat ia melangkahkan kakinya… bayangin kita berwudhu minimal sehari 5 kali, kalau wudhunya dilakukan dengan benar dosa kita berkurang banyak itu” ucapku dengan gaya narator ulung, meniru gaya Mamah Curhat dong.
Mbak Jum tampak mulai terbawa suasana, mukanya mulai keliatan serius manggut-manggut.
“Waah Mbak Jum baru tau iki, padahal kalau wudhu suka cepet-cepet gak dipikir mau melunturkan dosa yang dilakukan”
“Makanya mbak kalau lagi berwudhu itu simulasikan lagi melunturkan dosa...HEMPASKAN SEMUA DOSA Mbak” ucapku sambil bergaya mengeyahkan dosa. Mbak Jum cekikan melihat gayaku.
“Trus kalau hubungannya dengan muka bersih apa” Nona petir tiba-tiba datang nyambung ke dapur.
‘Ehhh kakak udah bangun, kirain trus dilanjut mau bobonya” kaget melihat anak petir datang ke dapur.
“Gak jadi tidur aku hilang ngantuknya. Hubungannya sama muka jadi keliatan bersih apa?” keukeuh minta jawaban ternyata dia dari tadi udah nguping aja. Mbak Jum langsung ambil posisi menjauh takut kesamber petir tapi mukanya celingukan menunggu jawaban dariku.
“Hubungannya sama muka seseorang jadi terlihat bersih kalau sering berwudhu adalah wudhu itu kan seperti cuci muka, membersihkan bakteri dan kuman yang ada di muka, dan dihidung dan dimulut. Di muka karena terkena air menjadi segar dan disentuh sehingga jalan pembuluh darah dimukanya makanya kalau berwudhu muka jangan digusruk-gusruk tapi satu arah dengan tertib dan tenang, trus saat membersihkan hidung airnya dihirup sedikit...jangan banyak-banyak yah Mbak Jum ntar kselek… gunanya supaya kita tidak terkena stroke juga dan membersihkan rongga hidung.. Ada tuh penelitiannya”
“Waah Neng Hasna itu pinter yo.. Segala tau” Mbak Jum mesem-mesem
“Baca aja Mbak… cuma diinget-inget utamanya yang menghempaskan dosa itu loh… kalau sambil wudhu aku suka simulasi menghempaskan dosa hehehehe” jawabku
“Naaah ini juga Nona Hujan cantik beginih dijamin karena sering berwudhu karena mukanya bersih dari jerawat” hehehhe mari kita bikin klepek-klepek anak petir.
“Apaan sih Tante… aku gak jerawatan karena memang aku jarang mikirin anak laki-laki kaya temen-temen” jawabnya dengan muka mengejek karena dugaanku salah.
“Apa gak sebaliknya Ka” tanyaku sambil tersenyum dan mulai menjauh darinya di pintu dapur
“Maksudnya” tanyanya tajam.
“Anak cowo takut deketin kakak takut kesamber petirrrr...hahahahha” jawabku sambil berlari keluar...wqwqwq mana ada anak laki-laki mau deket-deket sama anak galak kaya ginih.
“Tanteeee… maksudnya apaaa…?”
“Aku mau sholat magrib duluuuuuu” ngacir menjauh dari anak petir segala masuk ke kamar
KABUUUUUURRRR…. HUJAN BADAI SEBENTAR LAGI MENYAMBAR… SELAMATKAN DIRI ANDA
***************************
__ADS_1
Hai... maafkan ga up setiap hari sekarang, banyak pekerjaan dan musti istirahat supaya bisa menulis yang baik dan benar. Terima kasih atas dukungan dan doanya.. Tetap dukung Hasna yaaa di rumah barunya... Love u all
***************************