Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
El Muchaco De Los Ojos Tristes


__ADS_3

Hasna POV


Kegiatan TOT Tahap 2 yang dirancang selama hampir 3 minggu kebelakang berjalan dengan baik, pelaksanaan selama 3 hari berturut-turut di 3 tempat yang berbeda lumayan menguras tenaga dan pikiran.


Untungnya pelaksanaan TOT hari terakhir bisa diselesaikan tepat jam 3 sore, karena peserta di Pabrik Bekasi lebih sedikit daripada di Tangerang. Ini berarti aku bisa pulang lebih cepat, rasanya beban ini terangkat sudah.


Satu hal yang belum aku selesaikan adalah pakaian untuk hari pertunangan, bukannya tidak mengutamakan tapi memang tidak ada waktu sama sekali. Selama 2 hari kemarin selalu sampai ke kost an jam 8 malam dan sudah tidak mungkin mencari pakaian di jam tersebut.


Di Jakarta memang banyak terdapat Mall, permasalahannya pertama waktu untuk mencari sangat sempit, kedua aku bukan orang yang familiar dengan Mall di Jakarta, mencari pakaian di Bandung pun sangat jarang paling hanya mencari baju kuliah bisa didapatkan di outlet. Sekarang masalahnya mencari pakaian untuk pertunangan berbeda dengan pakaian sehari-hari, kalau mencari di Bandung pun pasti tempatnya spesifik.


Akhirnya aku cuma bisa pasrah, mepet-mepetnya palingan nanti memakai kebaya waktu wisudaan dulu, gak jadi masalah toh mereka tidak akan tahu kalau baju itu pernah dipakai saat wisuda.


Setelah sholat ashar aku langsung ke parkiran mencari supir kantor yang tadi pagi mengantarkan ke pabrik di Bekasi, tapi mobil Avanza yang tadi pagi mengantarkan tidak terlihat, apakah belum datang atau pergi dulu yah supirnya.


“Bu Hasna” terdengar panggilan dari arah belakang. Ternyata Pak Agus yang datang menghampiri.


“Pak Agus kok kesini tadi pagi saya sudah diantar sama Pak Haris yang membawa mobil kantor kok, biasanya sudah ada tapi sekarang kemana yah mobilnya?”


“Owhhh… iya Bu, tadi Bapak menyuruh saya menjemput ibu soalnya mau langsung ke tempat fitting baju untuk acara hari Sabtu katanya, jadi tadi saya suruh Haris untuk pulang duluan ke kantor” Pa Agus bergegas berjalan ke arah mobil Alphard yang terparkir di balik mobil pabrik.


“Hmm selalu saja mengambil keputusan tanpa menginformasikan terlebih dahulu, tapi syukurlah memang sudah bingung juga mencari baju dimana” pikirku


“Pak Arya apakah tidak akan pulang bersama-sama Bu?” tanya Pak Agus


“Mas Arya tadi bawa motor karena akan langsung bertemu dengan teman-temannya yang tinggal di Bekasi” ucapku


“Pak Agus kenapa memanggil saya Ibu sekarang? Rasanya jadi tua banget” tanyaku, dari tadi terasa janggal ternyata  baru sadar dipanggil ibu terus.


“Kan sebentar lagi Bu Hasna akan menikah dengan Pak Reza, jadi saya juga harus memanggil ibu sama Bu Hasna, Pak Reza juga suka marah kalau saya panggil Tuan bu...hehehehe” ucapnya


“Gak bisa panggil Hasna saja atau Neng deh, kalau di Bandung sama perempuan yang lebih muda suka dipanggil Eneng” jawabku


“Hehehe tidak biasa bu, rasanya tidak sopan, saya khawatir nanti dianggap tidak sopan, saya tahu Bu Hasna orangnya tidak kaku, tapi Nyonya Besar dan Tuan sangat disiplin dan taat pada kesantunan dan kesopanan… mohon maaf yah Bu Hasna saya akan memanggil dengan panggilan Ibu walaupun masih muda” ucap Pak Agus dengan tersenyum.


“Iya gak apa-apa kalau memang itu jadi aturan dan kalau tidak seperti itu akan menyulitkan Pak Agus, saya ikutan saja” jawabku lemah.


“Saya mau tidur yah Pak, ini mata rasanya kok mengantuk sekali, maaf gak nemenin Pak Agus ngobrol”kataku


“Wah saya malah senang kalau Bu Hasna bisa istirahat, artinya saya bermanfaat menjemput ibu ke Bekasi, silahkan Bu istirahat dulu, soalnya kita akan langsung ke Butik, Pak Reza nanti akan menunggu di sana”


Dan tanpa menunggu lebih lama dalam hitungan kurang dari lima menit mataku langsung memejam sempurna. Mumpung dijemput dengan orang yang kita kenal, yah sudah kita manfaatkan saja, beda urusannya kalau dengan supir kantor, karena kita tidak kenal, khawatir sangat tidur mangap bisa tersebar aib di seluruh kantor pikirku.


Ternyata perjalanan Bekasi Jakarta saat pulang kantor cukup memakan waktu yang lama kalau jam pulang kantor. Padahal seharusnya perjalanan dari Jakarta ke Bekasi yang biasanya macet tapi ini malah sebaliknya.


Aku terbangun saat mobil sudah memasuki Jakarta, jam sudah menunjukkan jam 6.05 artinya memakan waktu  2 jam. Karena tadi berangkat jam 4, tumben apa karena hujan yah, sampai tidak sadar hujan di perjalanan saking lelapnya.


“Butiknya jauh Pak dari kantor?” tanyaku


“Lumayan Bu… kalau gak hujan sih biasanya sekitar 30 menit kalau macet biasanya 45 menitan lah tapi karena sekarang hujan jadi bisa 1 jam”


“Owh ok.. Saya niatkan saja untuk di Jamak sholat magribnya” ucapku.


Perut sudah terasa lapar, tadi makan siang hanya dimakan sedikit karena peserta memilih untuk memadatkan materi agar bisa selesai lebih cepat, jadinya tadi hanya memakan lauknya saja supaya bisa mengganjal perut. Dan sekarang efeknya terasa sangat lapar, hadeuuh mudah-mudahan jangan sampai berbunyi, malu.


Jam 7 kurang 5 Pak Agus tampak memasuki rumah yang gerbangnya besar dan di dinding depannya ada huruf dengan lambang S dan V yang besar dan tampak antik. Hmm ini rupanya tempat belanja eksklusif.


“Pak Reza sudah sampai Bu, itu mobilnya sudah ada” ucap Pak Agus


“Owh syukurlah, saya soalnya tidak terbayang musti memilih model yang seperti apa” ucapku


Cepat-cepat ku ambil pouch tempat make up, masuk ke tempat eksklusif dengan muka bersinar minyak dan lipstik yang sudah pudar sangat tidak dianjurkan. Kalau urusannya untuk diri sendiri, aku sebetulnya tidak terlalu memperdulikan tapi ini masalahnya berurusan dengan orang lain, terbayang pikiran pemilik Butik kalau melihat perempuan yang akan menjadi menantu keluarga Pak Reza mukanya berminyak dan lusuh hihihihi… bisa-bisa disangka baby sitternya Maura.


Saat masuk ke dalam Butik udara dingin dan harum langsung menyambutku, hmmm benar-benar jauh dengan tempat belanja biasa. Tadi di depan hanya ada 2 mobil selain dari mobil Pak Reza dan ternyata di dalam hanya ada 2 orang perempuan yang sedang melihat-lihat pakaian dengan berbisik-bisik sambil melihat ke arah sofa di tengah.


Dan ternyata pusat perhatian mereka adalah Manusia Salju yang tengah bermain hape dan pad tanpa memperhatikan lingkungannya. Coba kalau aku duduk di seberangnya apakah dia akan menyadarinya.


Ku ambil posisi diseberangnya, dan sambil bermain hape aku memperhatikan dia, sekarang dia hanya memakai kemeja tanpa dasi dan jas. Rupanya dia melepaskan semua jas dan dasi saat selesai dari kantor, kemeja birunya digulung sampai ke bawah siku. Mukanya tampak serius melihat pada pad dan tidak memperhatikan ke arah lain.


Sesekali dahinya tampak berkerut dan bibirnya kemudian bergerak cemberut. Dan langsung mencoret-coret pada pad nya dengan penuh tekanan seperti mengerahkan pikiran jiwa dan raganya pada tulisannya. Sekarang menghembuskan nafas panjang, hmmm sedang banyak masalah sepertinya.

__ADS_1


Dia bergerak mengambil cangkir dan meminum tehnya, kemudian melihat ke jam tangan, kemudian melihat ke arah pintu dan kembali melihat ke arah pad. Ya ampun apakah dia menganggap aku yang segede gajah ini hanya aksesoris kursi. Sudah hampir 10 menit duduk di seberangnya dan dia tidak melihat sedikitpun ke arahku. Benar-benar laki-laki dengan kacamata kuda.


Akhirnya kuputuskan untuk mengirimkan pesan. Menunggu 2 menit baru kemudian dia melihat ke arah hpnya.


“Banyak masalah Pak, tampaknya beban hidupnya berat banget” tulisku


“Maksudnya apa? Ini saya sudah menunggu lebih dari 30 menit kok masih belum sampai” balasnya


“Saya sudah menunggu lebih dari 10 menit di depan Bapak tapi gak ditanya-tanya” tulisku


Dia langsung mengangkat mukanya dan tatapan kesal langsung terlihat.


“Kamu dari tadi sudah duduk disitu, ngapain diam saja, kenapa tidak langsung bilang kalau sudah sampai. Aneh banget saya sudah menunggu lebih dari 30 menit dari tadi, bukan untuk main-main” ucapnya keras


“Piss Pak...saya hanya ingin tahu bagaimana scanning Bapak pada lingkungan, Bapak tidak sadar yah dari tadi ada 2 perempuan yang memperhatikan Bapak terus, tapi Bapaknya tidak melihat pada mereka, pantesan Bapak tidak punya pasangan selama bertahun-tahun” ucapku


“Kamu selalu saja berbicara asal tanpa dipikir terlebih dahulu” ucapnya sambil berdiri meninggalkanku


“Ehh jangan marah dong Pak… Bapak itu gampang marah banget sih” ucapku sambil mengikutinya.


“Mba Astri… Ini Hasna nya sudah datang, bisa diperlihatkan koleksinya”


“Waaah ini toh calonnya Pak Reza, masih muda yah cantik dan natural sekali orangnya” ucap perempuan yang dipanggil Astri oleh Pak Reza


Natural adalah kata lain dari tampilan sederhana apa adanya, tidak glamour dan  aku hanya bisa tersenyum tipis “Da aku mah apa atuh Mbak Astri cuma pegawai biasa yang ketiban pulang jadi istri GM” pikirku sambil memberikan senyuman termanis yang bisa kubuat.


“Apakah acaranya memiliki tema tertentu?” tanya Mbak Astri


“Maksudnya mungkin dibuat dalam setting outdoor atau indoor, dresscode yang hadirnya warna khusus seperti putih atau hijau?”


“Owh tidak ada, hanya acara pertemuan biasa antara 2 keluarga di rumah saja, tidak ada dresscode yang khusus” jawabku


“Dresscodenya pakaian yang ada di lemari masing-masing saja” sambungku sambil tertawa dan tampaknya Mbak Astri yang stylist dan awet muda ini tidak mengerti joke segar seperti Cak Lontong Kari ini.


“Maksudnya” tanyanya dengan tatapan penuh pengertian.


“Tidak ada maksud apa-apa… bisa saya lihat Mbak koleksi yang ada saja” sambungku cepat daripada harus panjang lebar menjelaskan humor garing.


“Terserah” jawabnya sambil terus melihat ke HP.


Aku menarik nafas, baginya acara pertunangan besok adalah jalan untuk mendapatkan ibu bagi anak-anaknya, tidak ada ambisi dan keinginan spesial karena aku bukan perempuan yang spesial untuknya.


“Kalau sekiranya ada pakaian yang bisa setema antara laki-laki dan perempuan kami akan memilih itu”


“Hmmm biasanya kalau pakaian yang satu set sarimbit laki-laki dan perempuan itu dipesan seminggu minimal seminggu sebelumnya, tapi kami ada beberapa koleksi yang 1 set, kita lihat saja apakah ada yang cocok” ucap Mbak Astri sambil melangkah ke ruangan lain.


Butik ini menempati rumah yang setiap ruangannya ternyata memiliki tema-tema khusus. Sambil jalan kulihat ada ruangan yang khusus menggelar gaun malam.. Tampak elegan dan cantik.


Di ruangan yang disiapkan untuk pakaian pasangan kulihat beberapa model pakaian yang terdiri dari beberapa model. Kebanyakan kemeja batik dan perempuannya dengan motif brokat atau modifikasi kebaya tradisional dan modern.


“Mbak Hasna ini badannya ideal yah, ukurannya sepertinya M jadi saya kira bisa muat pada beberapa pakaian yang sudah jadi ini, tinggal pilih saja model yang paling disukai” ucapnya.


“Asisten saya akan menemani disini, begitu nanti sudah dipilih model yang akan dipakai, saya akan langsung membantu, saya tinggal dulu, supaya Mbak Hasna bisa leluasa untuk memilihnya” ucapnya sambil tersenyum manis penuh dengan diplomatis.


Aku langsung memalingkan kepala mencari Pak Reza dan yang bersangkutan tampak duduk di sofa dengan masih sibuk dengan pad nya.


“Jangan mengharapkan dia akan menemani dan terlibat banyak, mari kita selesaikan acara hari ini supaya bisa pulang dan mandi” ucapku dalam hati. Mukanya sudah cukup banyak beban jangan ditambah dengan beban perempuan yang merengek ingin ditemani memilih pakaian.


Aku memilih 2 pasang pakaian dengan warna krem dan hijau toska dan ternyata ukurannya pas denganku, tinggal memilih apakah Pak Reza suka dengan padanan baju batiknya.


“Pak pakaiannya sudah dipilih apakah Bapak akan melihat baju batik yang akan dipakai Bapak nanti warnanya sesuai cocok tidak?”


“Hmmm saya ikutan saja, terserah kamu, ukuran saya Mbak Astri sudah hapal” jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari padnya.


“Ok.. saya memilih warna hijau toska” ucapku


“Hmm..” hanya itu jawabannya.


“Bisa melihat ke arah saya barang 2 detik” ucapku

__ADS_1


1...2...3...4 baru kemudian dia mengalihkan pandangannya dan melihat ke arahku. Mukanya tampak tercenung dan diam.


“Ja...jangan memilih warna itu” ucapnya


“Kenapa.. Kata bapak terserah saya” jawabku berkeras


“Terserah warna yang lain tapi jangan warna itu... “ jawabnya lagi sambil memalingkan mukanya.


“Baiklah saya ambil yang warna krem saja Mbak Astri lebih match dengan warna batiknya juga” ucapku sambil memandang pada Mbak Astri yang hanya diam melihat kami.


“Saya siapkan pakaiannya dulu supaya pas dengan badan Mbak Hasna, besok siang sudah bisa diambil yah” ucapnya sambil menyerahkan nota pada Pak Reza, kami pun bergegas keluar. Jam sudah menunjukkan 8.30 saat kami berdua keluar dari butik, tapi ternyata mobil yang dibawa Pak Agus sudah tidak ada.


“Pak Agus kemana Pak?” tanyaku


“Sudah saya suruh pulang duluan, kamu pulang dengan saya” ucapnya sambil membuka pintu pengemudi.


“Jangan mengharapkan dia membuka pintu buat kamu Hasna… itu cuma ada di drama korea” pikirku sambil membuka pintu dan duduk disebelahnya.


Kruiiiikkkkk… dan perut lapar ini berbunyi.


“Hmmmmm… abaikan pak “ ucapku, malas untuk membuat alasan panjang lebar. Dan sepertinya dia juga tidak memperdulikan.


Di perjalanan kami berdua hanya diam dan tidak berusaha untuk memulai percakapan, aku sudah lelah dengan aktivitas siang tadi dan disambung dengan harus mencari baju untuk acara tunangan besok. Semenjak melihat kebaya yang warna hijau tadi dia tampak gelisah dan terus menarik nafas panjang.


Mobil berhenti di restaurant yang dulu kami pernah makan, dia benar-benar orang yang setia pada suatu hal, tidak akan banyak kejutan dengan kebiasaannya. Kami keluar tanpa ada percakapan untuk menawarkan dan memilih tempat makan.


Duduk di area Non Smoking karena banyak orang sedang makan malam juga, dan ternyata kembali memilih menu yang sama. Dan kembali terdiam sambil terus memandang Hp tanpa berusaha untuk memulai suatu percakapan.


Akhirnya aku harus menuntaskan rasa penasaranku, ini adalah momen terakhir kami sebelum lusa bertunangan.


“Mengapa bapak tidak suka warna hijau tadi” tanyaku


“Saya tidak suka saja” jawabnya tanpa memandangku


“Harus ada alasan yang jelas dan saya tahu kalau Bapak tidak suka bukan tanpa alasan?” desakku


“Dari tadi saya lihat Bapak terlihat gelisah dan beberapa kali menarik nafas panjang seperti banyak beban dalam perasaan… kenapa? Kenapa dengan warna hijau itu?


Dia masih diam dan memilih melihat Hp saja. Akhirnya aku berdiri dan berkata


“Kalau seperti ini saya lebih baik tidak makan, Bapak makan saja dengan HP bapak” ucapku sambil mengambil tas


“Tas Laptop saya disimpan di mobil bapak saja, besok pagi saya bawa di kantor”


“Selamat malam” ucapku sambil beranjak dari kursi


“Hasna… “ ucapnya tapi aku masih berjalan


“Warna itu… warna itu kesukaan Mitha” ucapnya tersendat. Aku langsung berhenti dan berbalik menghadapnya.


Aku melihatnya menunduk dan diam tidak berani menatapku.


“Masih sulitkah untuk membicarakan tentang Bu Mitha dengan saya” tanyaku sambil mendekat dan memandangnya


Dia mengangkat mukanya dan melihat kepadaku, dan aku tertegun belum pernah kami berpandangan sedekat ini.


Tatapan matanya tidak memancarkan sedikitpun cahaya saat memandangku, yang tampak hanya kesedihan saat melihatku.


Kesedihan yang sangat dalam dan menyentakkan pikiranku dan membuatku merasa iba.


Lelaki itu yang berdiri dengan tatapan sedih, tampak hidup dalam dunianya sendiri tanpa adanya cinta di hatinya.


El Muchaco De Los Ojos Tristes


Mampukah aku membawa kebahagian dalam hatinya dan menghilangkan kesedihan di matanya?


***************************


Ada satu lagu yang pas dengan cerita ini el muchaco de los ojos tristes.. artinya lelaki dengan mata yang sedih. Mau tau lirik lagunya.. bisa search di mba yutub. tapi kalau perlu ditranslate tinggal request aja di komen..hehehe. Kalau denger lagu ini nyelekitnya kebayang deh... udah ah jangan sedih nanti gak bisa kasih vote lagi... keburu penuh dengan air mata....hahahahah dtunggu komen dan likenya juga yaaa... Babhay yayang-yayangku

__ADS_1


***************************


__ADS_2