Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Ijinkan Aku Menatapnya Sekarang


__ADS_3

Muka Reza tampak mengeras, ia terlihat menahan amarah, dilihatnya layar handphone itu dengan tatapan penuh kekesalan. Pesan-pesan itu dikirimkan sebelum kematian Mitha dan saat Mitha masuk rumah sakit karena preeclampsia. Nafasnya nampak naik turun, tangannya mengepal. Ia kemudian melihat pesan yang dikirimkan Mitha padanya, seketika itu ia merasa dadanya seperti ingin meledak. Semua jawaban yang diberikan olehnya seakan-akan tidak memperdulikan istrinya dulu.


Reza menggembrak meja.


“Braaakk” Aswin langsung kaget, ia tidak mengerti kenapa Reza marah hingga memukul meja dengan keras. “Ada apa Pak…” Reza seperti tidak memperdulikan pertanyaan Aswin dia langsung beranjak keluar dari ruangannya menuju ruangan Arcy. Langkahnya tergesa dan penuh dengan tekanan tangannya mengepal seakan ingin menekan perasaannya.


Ia melewati meja Prita yang tampak kaget melihat Reza yang terlihat penuh amarah.


“Maaf Pak….sedang ada tamu Maaaf..”


“Braaaak” pintu ruangan kerja Arcy langsung terbuka terlihat dua orang laki-laki sedang berbicara di depan mejanya dengan Arcy yang tampak mendiskusikan suatu bahan. Reza seperti tidak memperdulikan kehadiran dua laki-laki itu ia langsung mendekat ke arah Arcy. Tangannya langsung mencengkram leher Arcy yang tampak tidak siap dengan sikap Reza yang langsung mencekiknya.


“Kamuuu perempuaaan berengseek… kamu membuat Mitha sakit sampai dia meninggal...gara-gara foto bodoh yang kamu kirimkan pada diaaaa….. Kamu tidak akan pernah saya maafkaaaan….saya akan buat kamuuu membayarrrr semuaaanyaa… Dengarrrr Arcyyyyy kamu akaaaaan membayar semuaaanyaaa..” Reza terus mencekik Arcy sehingga ia hampir kehabisan nafas.


Semua orang yang disana berusaha melerai dan menarik Reza, Aswin yang mengikuti Reza masuk ke ruangan Arcy pada awalnya terkesima melihat sikap Reza yang sangat drastis sehingga mencekik Arcy tanpa ampun. Ia baru tersadar saat melihat Arcy yang tampak panik menahan tahan Reza hingga kakinya berusaha menendang-nendang Reza tapi jarak Reza yang terlalu dekat membuat perempuan itu sulit melepaskan diri.


Aswin memandang dua staf laki-laki yang tampak terkesima melihat Reza yang tengah mencekik Arcy.


“Heeeh… bantu..kalian malah bengong” mereka langsung membantu Aswin menarik Reza sedangkan yang satu lagi membantu Arcy dengan menahan tangan Reza, hingga akhirnya terlepas. Arcy langsung terjatuh dan terbatuk-batuk, dia tersungkur di lantai mukanya terlihat pucat. Prita yang tadi hanya menonton langsung membantu Arcy dan kemudian memberikan air.


“Reza gilaaa kamu… aku bilangin sama Daddy kamu berusaha membunuh aku” Arcy berteriak sambil memegang lehernya. Reza yang dari tadi sudah berhasil ditahan kembali maju sambil berteriak berusaha menjangkau Arcy.


“Sebelumnya kamu sudah saya bunuh lebih dulu… perempuan berengseeek cuma beraninya mengganggu perempuan… awas kamu...aku laporkan kelakuan kamu” Reza berusaha menjangkau Arcy namun Aswin mengumpulkan seluruh tenaganya untuk menahan Reza.


“Pak...pak kita selesaikan baik-baik...Pak… saya mohon Pak jangan sampai nanti menjadi masalah ke depan” Aswin menarik Reza, ditepuk-tepuknya pundak Reza agar mengalihkan perhatiannya. Reza kembali tersadar, dilihatnya seluruh karyawan di lantai sembilan berkumpul dan memandang ke dalam ruangan Arcy.


Reza merapihkan pakaiannya ia mendengus. Kemudian ia masih sempat mengeluarkan ancaman.


“Dengar kamu Arcy… kamu tinggal tunggu saja, sebentar lagi saya akan keluarkan kamu dari kantor ini… saya tidak sudi ada dalam satu atap dengan kamu” Reza langsung melangkah keluar diikuti Aswin yang melangkah dengan tergesa. Semua orang langsung mundur dan pura-pura tidak melihat ke arah Reza, mereka tahu kalau Reza sedang emosional semua orang akan kena semprotan walaupun tidak dikenal olehnya.


Di dalam ruangan Reza meraih handphone Mitha, disimpannya di dalam tasnya dan ia langsung masuk ke dalam toilet. Ia merasa jijik sudah menyentuh tubuh Arcy merasa sudah sangat muak dengan perempuan itu. Saat memasuki ruangan ia melihat Aswin yang tampak siaga dengan kondisi Reza saat ini.


“Boleh saya tahu ada masalah apa Pak?” Aswin langsung bertanya, ia tidak mengerti kenapa Reza langsung melampiaskan amarahnya kepada Arcy dengan tidak memperdulikan lagi lingkungan di kantor. Sama sekali bukan Reza ia selalu berusaha menjaga image nya, kalaupun ia marah palingan di dalam ruangan rapat dan tidak pernah sampai mempergunakan kekerasan fisik.


Reza terdiam, kejadian ini terjadi sebelum Aswin masuk menjadi asistennya. “Dia mengirimkan foto kepada istri saya alm, membuat kesan seakan-akan saya sedang berselingkuh dengannya. Tampaknya serangan eclampsia Mitha karena melihat foto itu...bodohnya saya tidak tahu sama sekali”

__ADS_1


“Dia juga pernah mengirimkan foto-foto pada Hasna, tapi Hasna tidak terpengaruh, dia malah bisa melawan tapi saat foto itu sampai pada Mitha yang sedang hamil bayangkan perasaannya” Reza langsung menunduk dan mengusap mukanya, perasaan amarah berganti dengan penyesalan yang menyesakan dadanya.


“Bu Mitha sudah tenang Pak sekarang, memang sudah takdirnya mungkin harus seperti ini” Aswin berusaha memberikan kalimat yang menghibur Reza. Tapi hari ini sudah terlalu banyak kejutan yang dialami Reza, ia langsung berdiri.


“Aku gak akan kerja hari ini Win.. surat-surat yang urgent aku bawa saja ke rumah nanti Pak Agus yang mengantarkan kesini” Reza beranjak keluar dari ruangannya, suasana di lantai sembilan kembali sepi. Ruangan sekretaris direksi pun tampak sepi, tidak tampak Prita disana yang biasa menunggu tamu datang, tapi Reza tidak peduli, kalau perlu ia ingin menendang Arcy langsung hari ini.


Reza memutuskan pulang ke rumah Mama Isna, sebelumnya ia berziarah ke makam Mitha, sudah lebih dari sebulan ia tidak menjenguk Mitha. Setelah terlebih dahulu membeli bunga kesukaan Mitha ia tampak duduk termenung seorang diri di makam.


“Mith… maafkan aku..mungkin kamu sudah tahu sekarang kalau aku tidak pernah mengkhianati kamu… kebodohan aku cuma tidak menjaga kamu dengan baik sehingga kamu sakit sendiri”


“Maafkan aku yaa Mith… aku terlalu berambisi sampai melupakan kamu.. Kamu harus berjuang sendiri”


“Aku sekarang dihukum sama kebodohan aku… aku yang sekarang sendiri…” Reza tersenyum sinis mentertawakan dirinya. “Aku...aku sekarang tidak punya keberanian untuk mengejar dia Mith…”


“Kenapa kamu memilih Hasna buat menggantikan kamu? Kamu menghukum aku yaa Mith… sama dia aku gak bisa melawan semua omongannya… selalu saja ada jawaban kalau aku menyuruhnya sesuatu… selalu saja melawan dan menyuruh aku berpikir dengan logika”


“Kamu menghukum aku yaa Mith… anak-anak lebih suka sama dia daripada sama aku… Maura bahkan tidak memperdulikan aku sekarang …. Hidupnya hanya dengan Buna dan Buna… ia tidak mau berbagi Hasna dengan siapapun”


“Sekarang dia juga pergi Mith… dia memilih pergi daripada harus beradu mulut lagi sama aku… padahal aku suka bertengkar sama dia… dia memang mengesalkan” Reza tersenyum sedih.


“Kamu bisa jagain dia gak Mith… dia lagi hamil sekarang”


“Aku kenal dia cuma 3 bulan kan Mith… wajar kalau aku cinta sama kamu… kita sudah bersama-sama sejak SMA”


“Kamu gak akan marah kan kalau sekarang aku cinta sama dia Mith?… aku janji gak akan pernah ngelupain kamu… aku mau ngeliat dia sekarang Mith… dia bilang aku gak pernah ngeliat dia” Reza menghela nafas, air mata penyesalan masih menetes. Terbayang olehnya perasaan sedih Hasna karena ia selalu menyebutkan Mitha sebagai pembanding dalam pertengkaran kemarin.


“Dia terlalu menghormati kamu, dia memilih keluar dari rumah daripada harus bersaing dengan bayangan kamu… kenapa kamu memilih perempuan baik untuk aku Mithaaaaa” Reza kembali menangis tergugu.


“Maafkan aku… aku berjanji akan menyingkirkan perempuan itu...kamu tahu kan kalau aku gak pernah mengkhianati kamu” Reza mengusap air mata dari matanya, tekadnya sudah kuat untuk mengeluarkan Arcy dari perusahaan.


 “Bantu aku untuk bisa mendapatkan Rara kembali… ingatkan aku untuk tidak lagi membuat kebodohan yang sama ya Mith” Reza menghela nafas, saat ia bingung untuk mencari teman bicara ternyata berbicara dengan Mitha membuatnya tenang.


Hembusan angin terasa sejuk menerpa Reza, di makam Mitha memang ditanam pohon kecil yang menaungi makamnya, sehingga teriknya matahari tidak langsung menerpa orang yang duduk saat berziarah disana. Reza yang menanam pohon itu, Mitha sangat menyukai pohon yang berbunga cerah itu, kalau di bagian makam lain kebanyakan adalah bunga kamboja tapi di makan Mitha pohonnya adalah Tabebuya berwarna pink sangat cocok dengan karakter Mitha yang lembut.


“Aku pulang yaa Mith… terima kasih sudah mendengarkan aku. Aku janji tidak akan melupakan kamu… tapi aku akan mencoba melihat Rara sekarang, dia sudah hamil Mith… Maura mau punya adik sekarang mudah-mudahan Maura tidak terlalu manja kalau punya adik… dia pasti bisa menjadi kakak yang baik seperti Hujan” Reza mengusap dengan penuh rasa sayang pada batu nisan Mitha diciumnya dengan penuh kelembutan.

__ADS_1


Hatinya lebih tenang sekarang, ternyata amarah bisa diluruhkan dengan bertemu dengan orang yang tepat, walaupun orangnya sudah tidak ada di dunia, tapi jiwanya selalu bersama Reza di sudut hatinya yang selalu ia simpan untuk istrinya Mitha.


Reza sampai ke rumah Mama Isna jam dua siang, Maura pasti sudah pulang, ia memutuskan untuk membawa kedua anaknya pulang ke rumah. Mama Isna sudah semakin menua, kondisi fisiknya semakin mudah lelah, saat ini ia ditemani oleh dua orang keponakannya yang tinggal di Jakarta untuk kuliah. Dengan begitu ia tidak sendirian lagi, setiap bulan Reza tetap menyantuni ibu mertuanya itu, memastikan kalau Mama Isna tidak pernah mengalami kekurangan dan kesehatannya selalu terjaga.


“Rezaaaa…..” Mama Isna terdengar gembira saat melihat Reza masuk ke dalam rumah, ia sudah terbiasa keluar masuk seperti keluarga sendiri. Baginya rumah Mitha tetap menjadi rumah kedua baginya setelah rumah keluarganya.


“Assalamualaikum Mama sehat?” Reza memeluk ibu mertuanya dengan erat.


“Waalaikum salam...Mamah alhamdulillah sehat, kamu kemana saja sibuk yaa? Kata Hasna kamu kemarin ke Surabaya waktu Hasna akan berangkat ke Jepang” Mama Isna terlihat santai dalam membicarakannya, Reza menduga kalau Hasna tidak membicarakan soal pertengkaran mereka kepada Mama Isna.


“Ya Ma… Hasna ingin melihat universitas di negara maju katanya. Hanya ini kesempatan dia satu-satunya dia bilang, karena tidak mungkin dia kuliah keluar negeri” Reza menjelaskan alasan dia akhirnya memberikan ijin Hasna untuk pergi ke Jepang.


“Iya dia juga bilang begitu saat minta tolong Mama untuk menjaga Maura saat ia pergi, Mama mau bantu dia karena Mama ingat sama Mitha…. Mama dulu tidak mendukung Mitha saat berniat kembali kuliah sampai dia akhirnya drop out” Mama Isna terlihat sedih, rasa penyesalannya karena Mitha yang selalu merasa tidak percaya diri karena tidak berhasil menyelesaikan studinya.


Reza maju ke depan dan bersimpuh di depan Mama Isna yang tengah duduk di sofa.


“Mama maafkan Reza … dulu karena ambisi dan keinginan untuk maju hingga membuat Mitha harus berhenti kuliah karena mengurus anak-anak sendiri. Saya sama sekali tidak memberikan dukungan pada Mitha untuk menyelesaikan kuliah saat kembali ke Indonesia” Reza memegang tangan Mama Isna yang hanya tersenyum lemah.


“Tidak apa-apa, Mama sudah tidak menyimpan lagi penyesalan. Memang sudah takdir Mitha harus mati muda, tidak bisa melihat anak-anaknya tumbuh besar. Sudah takdir Mama ditinggalkan lebih dulu oleh anak. Keinginan Mama hanya cucu Mama anaknya Mitha bisa tumbuh dengan bahagia dan sehat sudah terpenuhi”


“Kamu sudah memilih perempuan yang baik untuk menjadi ibu sambung anak-anak. Hasna perempuan pintar… dia senang untuk belajar dan mengajari anak-anak. Mama mendukung dia untuk kuliah karena mendidik satu perempuan itu sama dengan mendidik satu keluarga”


“Maura sekarang sudah pintar mengaji, bernyanyi, membacanya juga sudah lancar. Tadi malam dia membacakan cerita untuk Mama supaya cepat tidur katanya. Maura bilang muka Iyang seperti kurang tidur banyak kerut-kerutnya….hahahaha anak itu sangat menghibur Mama”


“Sayang Mama sudah tua sekarang gampang merasa lelah, menjemput anak-anak saja sekarang terasa lelahnya padahal hanya keluar sebentar” Mama Isna mengusap tangan Reza, diraihnya kepala Reza dan dipeluknya menantunya dengan penuh rasa sayang.


“Mama berterima kasih Mitha bisa menikah dengan kamu, dia menemukan laki-laki yang dia cintai semenjak SMA sampai dia pergi meninggalkan kita. Jaga istrimu sekarang dengan baik, jangan mengulangi kesalahan yang sama seperti dulu dengan Mitha. Perjuangan dalam rumah tangga itu harus dilakukan bersama jangan pernah meninggalkan pasangan kita di belakang, dia harus ada di samping kita berbagi kesulitan berbagi kebahagiaan” ucapan Mama Isna semakin menguatkan Reza, rupanya pancaran kesenduan di muka Reza terbaca oleh Mama Isna.


“Sana lihat Maura di kamar, dari tadi dia hanya melihat youtube saja menonton video istrimu sedang bercerita. Istrimu benar-benar pintar, sebelum dia pergi dia sudah membuat banyak video cerita untuk Maura, malah sampai membuat video animasi segala” Mama Isna mendorong Reza untuk melihat Maura yang tidur di kamar bawah.


Reza membuka pintu dan melihat Maura tampak sedang berbaring di kasur, tangannya masih memegang handphone tapi anak itu sudah tertidur. Rupanya sejak pulang sekolah ia baru tidur siang sekarang. Reza tersenyum semenjak hari Minggu ia berangkat ke Surabaya tidak bertemu dengan Maura rasanya anak ini sudah bertambah besar saja. Badannya sehat dan terlihat tidur dengan lelap, genangan pulau yang selalu ia buat kalau tidur sudah mulai tampak di bantal.


Reza meraih handphone yang dipegang Maura ia langsung terhenyak, tampak di depannya Hasna yang sedang berbicara dalam video di youtube. Rupanya istrinya membuat channel youtube dan mengunggah video dirinya sedang bercerita. Pantas saja dalam surat ia sudah menjelaskan kalau sudah membuat video cerita untuk Maura, rupanya ini caranya untuk menghibur Maura supaya tidak merasa kehilangan dirinya.


Reza melihat video yang dibuat Hasna, ada banyak video yang sudah diunggah di youtube, diantara video itu terdapat beberapa video animasi menggunakan karakter binatang yang sedang bercerita dengan binatang lainnya. Reza mengklik salah satu video yang Hasna buat. Tittle yang ditulisnya adalah “Pungguk Merindukan Bulan Tok” Reza langsung mengerutkan keningnya.. Judul macam apa ini bukankah judul yang seharusnya adalah Pungguk Merindukan Bulan kenapa ada Tok nya.

__ADS_1


Bulantok Bulantok Bulan Sagede Batok …..


Kalau bulan bisa ngomong dia pasti protes disamakan dengan batok kepala ehh kelapa...


__ADS_2