
“Mas bangun” Hasna mencoba membangun Reza, sekarang sudah jam 5 pagi, tadi malam mereka baru tidur jam 12 malam, sehingga bangun kesiangan. Digoyang-goyangkannya tubuh Reza tapi tetap tidak bergeming.
“Mas perut aku sakiiiit” ucap Hasna, Reza langsung terbangun.
“Sakit...sakit yang mana?” ia langsung membalik dan memegang perut Hasna. “Perasaan tadi malam hati-hati” Hasna langsung tertawa, melihat ekspresi Reza yang panik.
“Sakiiiit perut...pengen Pup...gkgkgkgkgk… bangun ah” Hasna menarik tangan Reza tapi malah dia yang kembali tertidur ditarik Reza. “Ihhhh gimana udah jam 5 belum mandi besar” Hasna berusaha melepaskan diri dari pelukan Reza.
“Kamu awas… jangan dibiasakan ngagetin seperti itu, nanti sakit beneran” Hasna mengangguk, tadi dia beralasan seperti itu supaya Reza terbangun.
“Ayo atuh mandi dulu” Hasna akhirnya beranjak turun. “Mandi bareng maksudnya?” Reza langsung tersenyum. “Otakmu itu Mas … “ Hasna buru-buru masuk dan menutup kamar mandi. Bisa2 kelewat waktu dan masuk waktu terbit matahari.
Saat tiba di rumah ternyata anak-anak masih tidur, dari awal Reza sudah protes saat Hasna memaksa untuk langsung pulang subuh, alasannya kalau wiken pasti anak-anak bangunnya siang. Tapi Hasna bersikukuh harus pulang karena ingin menepati janji dengan anak-anak. Ehhh ternyata benar saja keduanya masih tidur dengan nyenyak, akhirnya karena masih mengantuk Hasna memilih untuk tidur di kamarnya yang dulu.
Baru juga beberapa saat ia memejamkan mata, terasa ada orang naik ke tempat tidur pasti Bapak Koala soalnya terasa berat gerakannya.
“Lanjutin ahh nemenin dek Samsul dan dek Udin” Hasna yang sudah agak mengantuk lagi tak urung ingin tertawa mendengarnya. Nama Udin dan Samsul memang aneh kalau didengar. Tapi ternyata Reza menerimanya dengan baik, entah karena lebih memudahkan untuk menyebut nama atau karena dia ingin mencari simpati dari Hasna. Musti diganti nih namanya yang agak-agak normal untuk ukuran sekarang.
“Ra….” suara Reza malah membuat Hasna semakin mengantuk, padahal semalam ia tidur lima jam tapi masih terasa mengantuk. “Hmmmm…” dipeluk dari belakang membuat Hasna semakin terlena untuk kembali ke langit ketujuh. “Kamu gak apa-apa kan kalau kita tinggal di apartemen dulu sampai baby nya lahir” pertanyaan yang membuat Hasna berpikir dan menarik kesadarannya kembali ke daratan.
“Maksudnya gimana Mas?” berusaha untuk tidak oleng di daratan Hasna merenggangkan tubuhnya. “Uaaaaahhhhh….. Krek...krek” Hasna menggerakan badan ke kiri dan ke kanan. Reza langsung melotot. “Kamuuu tuh itu bayi di dalam perut gimana kalau ikut melintir” Hasna langsung tertawa. “Memangnya bayi udah segede gimana, kan di dalam rahim terlindungi sama ketuban” ternyata sudah memiliki dua orang anak tidak membuat Reza lebih paham kondisi ibu hamil. Reza terus memandang perut Hasna dengan penuh kekhawatiran.
“Udah gak usah khawatir, aku gak membahayakan bayiku sendiri” rasa ngantuknya jadi hilang gara-gara suami siaga terlalu khawatir. “Enak aja bayi kamu… itu juga bayi aku” yang merasa tanam saham langsung nyolot. “Bole bole… satu buat Mas Reza satu milik saya” jawab Hasna sambil kembali rebahan. “Apaaan kamu kalau bicara suka seenaknya… dua-duanya milik kita berdua..jangan suka dibiasakan asal kalau bicara”
“Mulai nih..mulai nge gas lagi kalau ngomong..” Hasna langsung melotot. Reza langsung sadar melihat pelototan Hasna. “Hehehehe maafkan ya Buna nya anak-anakku… aku gak mau dipisahkan dari kalian” Reza memeluk Hasna erat. Ternyata mudah untuk membujuk perempuan, langsung minta maaf kalau berbuat salah.
“Tadi Mas Reza bilang apa soal tinggal di apartemen?” Hasna membalik melihat suaminya, dan ia baru sadar kalau Reza sudah mencukur habis kumis dan rambut halus di dagu “ehhh ditinggal bentar udah cukuran...meni klimis bgini kaya pantat bayi” giliran Reza yang sekarang melotot disamakan dengan pantat bayi. “Kamu tuh perumpamaannya suka aneh-aneh. Itu... soal tempat tinggal ke depan, sampai baby lahir kita tinggal di apartemen dulu” Ucapnya pendek, Hasna langsung mengerutkan dahi.
“Kenapa sampai lama begitu di apartemennya?” pikiran Hasna palingan hanya sampai kondisi emosinya stabil. Setelah ia baca memang perempuan hamil cenderung mudah emosional padahal seingat Hasna ia dulu termasuk orang yang easy going. Reza menatap istrinya dalam,
__ADS_1
“Aku menyadari banyak hal kemarin, seharusnya aku berpikir dari sisi kamu sebagai perempuan single yang baru menikah. Kalau kamu menikah dengan laki-laki yang sama-sama single tentu akan berbeda perjalanan pernikahan yang kamu jalani. Mungkin kamu akan menempati rumah sewa kemudian memiliki anak dan berkembang bersama. Tapi karena kamu menikah dengan laki-laki yang sudah pernah berkeluarga, kamu langsung mengurus anak sambung bukan hanya satu tapi dua. Kemudian kamu tinggal di rumah yang dulu ditempati dengan istri pertama”
“Aku jadi malu.. Kenapa aku tidak pernah memahami posisi kamu, hanya melihat dari sisi aku saja. Merasa sudah menafkahi, memberikan rumah, memberikan kenyamanan..selesai sudah kewajiban. Seharusnya aku berpikir, kalau aku dalam posisi kamu bagaimana rasanya… bodoh...bodoh..” Reza mengusap mukanya dengan kasar. Hasna diam termenung ia tidak menyangka kalau suaminya akan memikirkan perasaannya begitu dalam.
“Mungkin kalau aku tidak bicara sekasar kemarin membandingkan kamu dengan Mitha, kamu akan terus memendam kekecewaan dan ketidakpuasan dalam hati kamu. Tapi rupanya hati malaikat kamu hancur juga sama setan yang terus menghancurkan aku sendiri. Sudah seharusnya memang kamu meninggalkan aku kemarin. Kalau tidak mungkin aku tidak akan pernah berpikir” ucap Reza dengan tatapan sendunya.
Hasna tersenyum sedih, “aku sempat menyesal dulu menyanggupi menikah dengan Mas Reza” ucapnya pelan. “Hehe aku menyesal kenapa suka impulsif dalam bertindak, cuma ngikutin emosi saja.. Sayang lihat Maura.. Kasian melihat anak sendirian tidak ada ibunya...Senang melihat sikap Kakak Hujan yang cool.. Tidak berpikir kalau aku menikah akan berhubungan dengan ayahnya juga melibatkan hati… ternyata patah hati itu sakit banget” Hasna tersenyum sinis mentertawakan dirinya. Reza hanya menunduk.
“Aku sampai mengirim pesan pada semua teman-teman yang pernah aku tolak karena aku gak suka. Aku minta maaf sama mereka. Eh… malah ada yang nanya gini Mas… Sekarang mau gak kalau aku ajak jadian….sableng dia gak tahu apa kalau aku udah nikah” Hasna tertawa kecut.
“Sama Arkhan kamu minta maaf juga?” tanya Reza cepat. Hasna melirik sambil cemberut. “Enggak lah… ntar dia mah banyak nanya-nanya. Kemarin aja udah curiga waktu aku pulang sama Merra.. Dia mah orangnya suka gak percayaan, pasti bakalan nanya ini itu kenapa ngomong gitu..kamu gak apa-apa” Hasna tampak cemberut sambil menyembunyikan mukanya di dada Reza.
“Kamu gak cerita apapun sama dia?” tanya Reza sambil menatap Hasna. Hasna menggelengkan kepalanya. Reza menarik nafas ia merasa bersyukur Hasna bisa menjaga aibnya. Diciumnya kepala istrinya lama dan dalam. “Maafin aku yaaah… aku minta maaf” Hasna menganggukan kepalanya pelan. Ia sudah merasakan rasa penyesalan Reza.
“Aku mau ngasih tau sama kamu sekarang” ucap Reza perlahan, Hasna menengadah menatap mata suaminya. “Arkhan sekarang jadi asisten aku gantiin Aswin. Aswin naik posisinya jadi Sekretaris Direksi menggantikan Arcy yang dipindahkan ke kantor cabang di Taiwan” Hasna langsung melotot.
“Kang Arkhan jadi asisten Mas Rezaa?... emangnya dia mau?” Reza langsung mendelik kesal. “Kenapa gak mau… bukannya suatu kehormatan bisa jadi asisten aku” Hasna langsung tertawa. “Ahahahaha seriusan? Kok bisa?” Hasna langsung duduk, berita Arkhan menjadi asisten Reza menjadi berita luar biasa bagi dirinya. “Dia kan selama ini gak pernah ada interest ke perusahaan bapaknya… dia pernah cerita kalau bisa lanjut ke S3 soalnya mau jadi dosen” Reza kembali melirik kesal.
“Iya aku sadar ...kenapa sama kamu aku suka gak jalan otak warasnya.. Bawaannya emosi terus.. Pusing aku juga. Cinta banget kayanya aku sama kamu” ucap Reza sambil menciumi Hasna dengan gemas.
“Udaaah ahh...sebel ngedengernya… kaya anak bucin” Hasna menahan muka Reza, yang ditahan gak terima langsung ndusel-dusel.
“Papiiii kenapah kamal Buna jadi banak balang-balang” anak koala sudah menjegal di pintu kamar. Hasna langsung mendorong Reza ke samping, mereka sampai tidak sadar Maura membuka pintu. Reza langsung melompat turun dari tempat tidur, ia belum sempat menjelaskan lebih banyak soal adik barunya kepada Maura, kemarin hanya bercerita tentang bayi di perut Hasna yang dibawa oleh burung bangau.
“Maura ingat tidak ini tempat tidurnya Maura?” Reza langsung membawa Maura naik ke atas tempat tidurnya yang lama dan disimpan rapi di gudang. Saat Reza membeli perlengkapan bayi, ia ingat kalau tempat tidur Maura masih bagus jadi hanya membeli perlengkapan yang lainnya.
“Haaaah ketil beginih… Mola tidul disinih?” Maura tampak berusaha meniduri ranjang bayi. “Iya kalau udah bobo sama Papi dipindahin ke sini..sekarang udah gak muat, Mauranya udah besar kaya gajah” Reza menggoda Maura yang tampak masih senang dengan penemuan ranjangnya. “Mola mau bobo sini lagi ahhh…” dia langsung mengambil posisi tidur meringkuk, Reza langsung mengkerut bingung musti berkomentar apa, kalau ranjang bayi itu untuk adiknya.
“Bolehhh… nanti kita bisa tidur sebelah-sebelahan” jawab Hasna sambil mengintip Maura dari sela-sela ranjang. “ Hihihihi Bunanya teliatan sepotong-potong” Maura tampak bahagia kembali ke ranjang lamanya. “Kamu tuh gimana bukannya dikasih tau kalau itu buat adiknya” Reza berbisik pada Hasna. Hasna menggelengkan kepala, laki-laki memang mahluk yang tidak peka.
__ADS_1
“Adiknya masih lama lima bulan lagi baru ada di dunia, kakaknya yang musti dijaga perasaan supaya gak merasa tersaingi. Santai saja gak musti buru-buru, kemarin sudah mau menerima ide punya adik.. Itu sudah cukup jangan bikin anak kecil kecewa … cukup bapaknya aja yang cemburuan … anaknya mah jangan” sindir Hasna sambil tertawa, Reza langsung cemberut.
“Mas jadi gimana soal Kang Arkhan? Mas Reza mau terima Kang Arkhan jadi asisten? Kok bisa sih?” begitu Maura bosan bermain di ranjang dan keluar kamar, Hasna langsung memberondong pertanyaan yang dari tadi sudah ada di kepalanya. Reza menarik nafas, ingat berpikir secara logis jangan emosional. Wajar Hasna banyak bertanya tentang Arkhan diakan adik kelasnya yang cukup dekat hingga kini.
“Om Felix butuh mentor buat Arkhan soalnya dia yang jadi pewaris perusahaan sebagai anak satu-satunya” Hasna langsung melotot “Woaaahh ternyata Kang Arkhan juga punya perusahaan? Debaaak.. Aku kok gak tahu yahhh, dia kenapa gak cerita” Reza langsung menatap sinis. “Jadi kalau tahu dia punya perusahaan, kamu bakalan naksir sama dia? Perusahaan dia lebih kecil dari perusahaan keluargaku… gak sampai setengahnya. Produksinya masih skala kecil” Reza langsung menyombongkan besaran aset perusahaan yang dimilikinya.
Hasna langsung manyun “sombonggg… jangan sombong sama kepemilikan dunia gak jamin di akhirat masuk surga” Reza langsung melengos. “Kamu tuh selalu belain dia… awas nanti, mulai sekarang kamu gak boleh main lagi ke kantor” ancamnya. Hasna langsung membuang muka “Gak akan datang ke kantor Mas Reza …. Mau ada acara apapun juga gak sudi datang kesana… Mau punya staf cantik seksi kaya gimana juga terserah… Mau ngunci bareng sama OB juga terserah….” ucap Hasna sambil pergi meninggalkan Reza ke kamar mandi. Reza langsung melotot sadar sudah salah omong lagi.
“Raaaa…. Salaaah ngomong lagi aku Raaa….” Reza menyusul Hasna ke kamar mandi, belum sempat masuk kepalanya sudah terbentur pada pintu kamar mandi. “Arghhh…. “ Reza mengusap-usap dahinya. “Raaa… maaf tadi kan aku cuma bilang jangan main ke kantor supaya kamu gak cape… kamu gak apa-apa kok kalau mau ngobrol sama Arkhan asal aku ada disitu bareng-bareng sama kamu” Reza berusaha untuk membujuk Hasna. Tidak terdengar apa-apa di kamar mandi.
“Raa… ayo dong jangan marah gitu… aku jadi gak enak perasaan gini… plis jangan marah lagi, aku kan belum terbiasa … musti latihan biar agak mati rasa gak gampang cemburuan gini” Reza menarik nafas panjang. “Raaa…. Ayo dong keluar.. Masa udah sepuluh menit masih di dalem aja” Reza khawatir kalau Hasna terlalu lama di kamar mandi.
“Aku lagi pup… ngapain juga nungguin di situ… kurang kerjaan banget” jawab Hasna pendek. Reza langsung menarik nafas lega. Baru kali ini dia merasa sangat bahagia mendengar orang sedang buang air.
“Papiiii…. Ada Babab sama Granny” Maura berlari masuk kamar, “Buna manaaa?” ia celingukan mencari Hasna. “Di kamar mandi” tunjuk Reza, ia akhirnya menyerah dan merebahkan diri di tempat tidur. “Bunaaa…. Glanny mau pegang dede bayi di pelut Buna… Buna disuluh cepat tulun” Reza langsung bangkit dari tempat tidur. Rupanya kabar bayi yang dibawa burung sudah sampai pada Raja dan Ratu.
“Siapa yang ngasih tau Mama dan Papa?” begitu keluar kamar mandi Hasna langsung menatap Reza dengan tajam. “Anak-anak bukan aku.. Kamu tahu kan anak kamu yang kesatu itu paling protektif” Reza melengos tapi ia langsung ingat kalau tadi Hasna marah padanya. “Hehehehe udah ga marah lagi yaaah… maaf ya sayang.. Kamu boleh kok ke kantor ngobrol sama Arkhan tapi musti ada aku yahh” Hasna mendelik “gak ah males…” Reza menghela nafas, “Sudah yaaa jangan marah lagi ada Mama dan Papa.. nanti mereka marahin aku lagi” Hasna mengangguk.
Begitu turun di ruang tengah tampak Papa Ardy sedang memangku Maura yang asyik memperlihatkan mainan yang baru dibelikan. “Hasnaaaa… kenapa gak cerita sama Mama kalau kamu udah hamil? Berapa bulan? Artinya kita sudah lama tidak bertemu, mama terlalu lama barengan sama Isyana. Kenapa kamu gak ngasih tahu lewat telepon kalau kamu hamil jadi Mama bisa pulang lebih cepat” berondongan pertanyaan membuat Hasna bengong.
“Maaa… nanya nya satu-satu dong kasian Hasna jadi bingung. Mama dikasih tahu siapa kalau Hasna hamil?” Mama Bertha langsung menunjuk Hujan yang tampak langsung menutup dirinya dengan bantal dan mengeluarkan lambang peace dari balik bantal “Peace… Be with Us” Hasna langsung ingin tertawa melihatnya.
“Mama langsung menyeret Papa supaya nganterin Mama kesini” Reza bisa membayangkan Papa yang dibangunkan dan didorong-dorong supaya segera mandi karena Mama orangnya tidak sabaran. “Kamu kenapa gak cerita apa-apa kemarin waktu di kantor? Papa kan bisa nyombong sama Felix mau punya cucu kembar… hahaha dia bakalan kalah set .. Cucu Papa langsung nambah dua jadi total lima. Dia satu aja belum hahahhahahaha” Reza langsung menggeleng-gelengkan kepalanya. Jumlah cucu rupanya menjadi kebanggaan tersendiri untuk pria seumuran Papa.
“Hasna kalau kamu hamil, akan sulit nanti kuliah. Bagaimana akan dilanjutkan?” tanya Papa cepat. Hasna diam, ia sendiri bingung menghadapi masa depan kuliahnya. Walaupun tinggal satu semester lagi tapi pasti saat akhir semester adalah masa-masa ia akan melahirkan, rasanya percuma melanjutkan kuliah juga. “Tidak tahu Papa… rasanya sulit juga bagi aku” Hasna tampak menunjuk tidak bersemangat.
“Makanya hari ini kita rencana mau pindah ke apartemen. Supaya memudahkan Hasna dalam mobilitas ke kampus. Aku sudah menyewa apartemen di Pakubowo, lebih dekat ke kampus dan sekolah anak-anak juga” jawab Reza cepat, Hasna langsung menoleh, perasaan Reza menyewa apartemen supaya ia bisa menikmati suasana rumah tanpa adanya tekanan perasaan lagi.
“Good idea… kamu kalau ngambil keputusan selalu cepat dan tepat. Itu baru anak Papa” Papa Ardy mengacungkan jempolnya pada Reza, bisa dilihat kalau Reza merasa bangga dengan menaikan alisnya pada Hasna yang langsung melengos mendengar alasan ngeles dari suaminya. Yah syukurlah paling tidak mertuanya tidak tahu kalau ia dan Reza kemarin bermasalah. Padahal Papa Ardy tahu banyak tentang permasalahan rumah tangganya.
__ADS_1
“Papa mau kasih hadiah buat Hasna, karena bisa langsung ngasih cucu dua sama Papa, buat Hasna, Papa kasih tanah di Bintaro supaya Reza bisa bikinin rumah baru buat kamu. Anak kamu nanti empat jadi pasti butuh kamar yang banyak dan halaman yang luas. Kata Hujan anak kamu laki-laki pasti sukanya nanti main bola… jadi halamannya musti luas. Tanah itu nanti dibangun atas nama kamu… itu hadiah dari Papa buat menantu perempuan Papa” Hasna langsung melotot…
Waadidawww….. Sesuatu banget, yang 1 M aja belum habis, ini udah dapat aset tanah… Bikin kontrakan aja kaleee