Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Shine Bright Like a Diamond


__ADS_3

Hasna diam, nafas mulai terasa terputus-putus. Semakin dirasa kok malah semakin kesal. Dicobanya untuk mengendalikan perasaan, menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Dilihatnya kakinya yang hanya mengenakan sandal jepit walaupun bukan swawow tapi tetap saja sandal jepit, celana tiga perempat dan kaos.


Pikirannya tadi hanya akan sekedar menyapa atau bicara singkat di mobil tidak terpikir akan pergi jauh dari kost an.


“Pak...Saya mau pulang” ucapnya singkat


“Saya mau makan lapar, tadi gak sempat makan siang”


“Bapak makan aja sendiri, saya gak akan turun” jawabnya kesal.


“Kamu tuh kenapa sih kaya anak kecil banget kolokan, bukannya kamu biasanya jadi perempuan yang cool” ucap Reza tenang.


“Bapak berpikir tidak kalau kita berdua turun, Bapak pakai baju kemeja rapi, sepatu pantofel, saya pakai sandal jepit, celana kutung, rambut dikuncir.. Orang akan berpikir ini si Om mungut perempuan dari mana?”


“Kenapa sih selalu begitu, memaksakan pemikiran sendiri, gak pernah mendengar pikiran orang lain” Hasna mulai mengeluarkan air mata.


“Saya kan malu Pak, paling tidak berpakaianlah yang pantas karna itu mencerminkan siapa kita ..heuuuuuheuuu” dan airmata yang ditahan-tahannya meluncur dengan isakan kaya anak kecil.


“Eh… kok malah nangis… Ehh” Reza jadi bingung, niatnya untuk makan malam jadi bubar jalan. Dilihatnya ada apotik yang kosong parkiran kemudian dia berhenti.


“Heuuuuheuuuuu” Hasna masih menangis, kesal bukan main karena merasa selalu dipaksa.


“Ya sudah kalau gak mau makan saya gak akan makan, gak usah beli cincin… sudah berenti nangisnya kaya Maura aja nangis gara-gara hal kecil”


“Ini bukan hal kecil, memaksa orang lain tanpa menanyakan kesediaannya, mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan pendapat. Ini kan pernikahan bukan urusan kantor. Saya itu calon istri bukan sekretaris” Hasna cepat, “heuuuuheuuuuu”


“Ehhh kok makin keras… ya udah saya minta maaf, ini hal besar yang gak saya tahu … sudah berhenti nangisnya” Reza bingung tukang parkir di apotik memperhatikan mobilnya, untung saja kacanya tidak tembus pandang.


Hasna menangkupkan kepalanya di pangkuan sambil terisak. Reza menarik nafas tadi dia tidak berpikir panjang karena merasa lapar. Diusapnya kepala Hasna.


“Maaf saya tidak berpikir panjang, sudah jangan menangis lagi” Dipegangnya pundak Hasna dan ditariknya untuk duduk, terlihat hidungnya sampai meler dan mukanya penuh dengan air mata.


Reza tersenyum, muka Hasna tampak menyedihkan, tanpa berpikir panjang direngkuhnya pundak perempuan itu dan ditarik ke dalam pelukannya.


“Maaf saya tidak bermaksud meremehkan keinginan dan pemikiran kamu, saya cuma berpikir efisiensi waktu” Hasna kaget saat Reza memeluk dirinya, dia berusaha melepaskan diri.


“Sudah diam, kamu tidak akan saya apa-apakah kok… maaf yaa jangan menangis lagi” Hampir 3 menit mereka diam, Hasna agak mengkerut ia kaget saat Reza tiba-tiba memeluknya, sampai akhirnya dia lupa keinginannya untuk menangis.


“Nah gitu dong, pantesan cocok sama Maura ternyata nangisnya juga sama….hahahhaha” Reza melepaskan pelukan dan mengusap-usap kepala Hasna.


“Gak usah pegang-pegang” ucap Hasna sambil cemberut.


Disusutnya ingus dan airmata dengan lengan jaketnya.


“Ughhh kamu jorok begitu, pakai sapu tangan atau tissue dong” Reza langsung meraih tissue di belakang jok mobilnya.


“Heheheh diliat-liat memang betul juga, seperti dapat mungut dari perempatan jalan...hahahahahah mukanya jelek gitu lagi….hahahahha” Reza mentertawakan Hasna yang sibuk menyusuti mukanya dan langsung memandang Reza kembali dengan tatapan kesal dan sudah tampak ingin menangis lagi.


“Ehhhh jangan marah, saya belikan bedak yah.. Perlu apalagi supaya keliatan cantik lagi? Lipstik.. Eyeliner permanent marker itu yah sama lotion yahhh lotion sebentar saya turun dulu beli di apotik depan”


“Kamu mau turun?” tanyanya yang langsung diurungkan melihat pelototan mata Hasna, dengan muka seperti itu mana mungkin Hasna turun.


Reza bergegas turun dan mobil, lumayan ada alasan parkir untuk membeli makeup instan di apotik jadi tidak akan dicurigai.


Ditanyakannya kepada sales penjual apotik kalau dia membutuhkan bedak, lipstik, lotion muka dan eyeliner. Saat ditanyakan jenis bedak apa Reza bingung, ada yang tabur dan ada yang padat bedanya apa? Akhirnya dijawab dua-duanya saja, ditanyakan warna apa kembali Reza bingung akhirnya dijawab natural. Ditanyakan warna lipstik apa, dijawabnya yang tidak mencolok warnanya dan tapi segar. Saat disodorkan 3 pilihan warna lipstik Reza kembali bingung tampak hampir sama semua, akhirnya dipilih warna lipstik yang paling muda. Pantas saja pikirnya kalau perempuan selalu lama berbelanja make up ternyata banyak pilihannya.


Begitu masuk ke mobil dilihatnya Hasna sudah tenang dan sedang menulis sesuatu di Hp nya.


“Ini minum dulu, saya belikan tissue basah untuk membasuh bekas ingus kamu di pipi” ucapnya. Hasna langsung mendelik tapi diambilnya semua barang hasil belanja Reza.


“Makasih…” ucapnya singkat. Dilihatnya ternyata banyak sekali yang dibeli Reza.


“Ini apa kok banyak sekali Pak?” Kemarahan Hasna teralihkan oleh kebingungannya dengan banyaknya makeup yang dibeli Reza.


“Itu bedak dua macam yang tabur dan yang padat, kemudian lotion moisturised, krim malam dan anti uv, kemudian lipstik dan pinsil mata dan pinsil untuk alis” ucap Reza

__ADS_1


“Untuk apa membeli lotion anti UV ini kan malam-malam jadi gak ada matahari, trus ini krim malam kan dipakainya kalau sebelum tidur” Hasna menghela nafas, menyesal tadi ia gak ikut turun, tapi kebayang malunya dengan muka sembab.


Diusapnya mukanya dengan tissue basah dan dibiarkan menutupi wajahnya selama beberapa saat.


“Maafkan saya yah… saya sudah lama tidak memiliki hubungan dengan perempuan, jadi sudah lupa bagaimana berkomunikasi”


“Perempuan yang paling sering saya ajak ngobrol yah Arcy soal pekerjaan jadinya lebih ke perintah dan koordinasi, saya lupa kalau berbicara dengan kamu beda lagi” Reza tersenyum tipis sambil bersender ke jok mobil.


“Bapak mau makan dimana? Jangan yang kemarin lagi, bosen makan Sup Iga terus, tadi siang saya sudah makan Sup Iga, hidup harus ada variasi” ucap Hasna sambil masih ditutupi mukanya oleh tissue.


“Kamu mau menemani saya?” Reza tersenyum gembira.


“Ya iyalah, kan Bapak belum makan dari siang, nanti sakit lagi” dilapnya muka oleh tissue sambil dikipas-kipas agar kering.


“Ok… lets go” Reza langsung menghidupkan mobil dan melajukan kendaraan ke restoran terdekat di daerah itu.


Ternyata makeup pilihan Reza top banget warnanya langsung membuat muka Hasna cerah dan segar. Jagoan juga dia memilih warna lipstik, ternyata warna orange cocok juga dimuka aku pikir Hasna.


Reza menghentikan mobil di daerah Senayan. Ternyata di sebelah restaurant ada toko kecil butik sepatu, Hasna langsung terpikir ide.


“Pak saya boleh minta uang untuk beli sepatu supaya bisa menemani Bapak beli cincin sekarang, saya gak bawa dompet soalnya, kalau saya beli sepatu, paling tidak akan terlalu kentara kucelnya”


“Bapak.. Bapak… katanya mau mengganti panggilan kalau berdua” Reza langsung protes.


“Hmmm baru dimintain beli sekali aja langsung protes banyak maunya…” Hasna menarik nafas dan kemudian dengan suara pelan mencoba mengubah panggilan


“Baby… aku minta kartunya… mau beli sepatu” Hasna menirukan gaya perempuan penggoda di sinetron, sambil meliukan tubuhnya mendekati Reza


“Uhuuuuk “ Reza langsung kaget, tidak disangkanya Hasna akan melakukan itu.


“Apa-apaan sih kamu gak pantes tauk” ucapnya sambil mendorong kepala Hasna mundur agar tidak terlalu dekat dengannya”


“Hahahahha kan kalau di sinetron seperti itu Pak...saya dari dulu pengen nyobain bergaya seperti itu sama laki-laki….hahahaha baru kecapaian sekarang” Hasna langsung tertawa-tawa.


“Awas kamu kalau iseng seperti itu sama orang lain” Reza memberikan dompetnya kepada Hasna.


“Setuju Pak, efektif dan efisien… itu saya banget. Gak akan lama kok Pak beli sepatunya, saya dipesankan saja menunya sama Bapak” ucapnya sambil berjalan ke arah butik sepatu samping restauran.


“Pak pin nya berapa?” teriak Hasna


“Tanggal kelahiran dari belakang” ucap Reza


“Aku tau dari mana tanggal kelahiran dia?.... Owh iya ada di KTP wqwqwqwq… cerdas juga itu orang” Hasna langsung bersemangat masuk ke dalam toko, semua kegundahannya sudah hilang dengan tangisan. PMS memang butuh pelampiasan, menangis dan belanja.


Dengan cepat dipilihnya 1 pasang sepatu yang ada heels dan tampak casual, cocok dengan celana ¾ nya. da 1 syal yang cocok dengan kausnya, jadi bisa terlihat lebih elegan. Langsung ia ke kasir untuk membayar, saat membuka dompet Reza, ia tercekat.


Di dalam dompet itu ada foto kecil pernikahan  Pak Reza dan Bu Mitha, mereka berdua tampak masih muda. Dibandingkan dulu Pak Reza terlihat lebih matang sekarang, dulu memang tampan tapi tidak sekeren sekarang, kalau Bu Mitha jelas terlihat cantik dan lembut, senyumnya sangat menawan dan anggun. Pantas saja Pak Reza sangat mencintainya pikir Hasna.


Lamunan Hasna terpotong oleh panggilan kasir untuk membayar, ada beberapa kartu di dompet ini, diambilnya kartu yang paling sering dipakai oleh orang-orang untuk bertransaksi. Syukurlah ternyata no pinnya benar.


Hasna langsung memakai sepatu itu, sandal jepitnya dimasukan ke dalam kotak sepatu. Disampirkannya syal kecil ke lehernya, lumayan terlihat lebih elegan, nanti tinggal ditambah bedak dan lipstik lagi dan tampil percaya diri saja.


Saat masuk ke restauran dilihatnya Pak Reza sedang duduk dan makan. Pesan apa dia, dan ternyata menu yang tak jauh berbeda dengan Sop Iga… Soto Daging… Hmmm keneh-keneh bae.


“Sudah beli sepatunya? Ada yanga bagus?” tanyany dengan mulut penuh nasi.


“Ini? Bagaimana?” Hasna memperlihatkan sepatu heels nya sambil mengangkat 1 kakinya bergaya seperti model.


Reza mengacungkan jempolnya dan kembali makan. Lumayanlah ngasih respon pikir Hasna daripada kaya kemarin siang, ngeliat juga kagak.


“Masih sempat gitu Pak beli cincin? Sekarang sudah jam 8.15” sampai kesana pasti sekitar jam 9 an”


“Mall tutup jam 10, kamu makannya aja yang cepat” ucapnya sambil melihat ke HP.


“Ya Pak.. kalau gak sempat juga gak apa-apa” ucap Hasna

__ADS_1


“Saya gak ada waktu lagi, besok ada banyak agenda rapat saya pulang pasti malam”


“Kemarin kamu bilang, saya musti lebih banyak terlibat, sekarang saya lagi berusaha melibatkan diri” ucapnya tanpa mengalihkan pandangan dari HP.


Orang ini benar-benar tidak punya kebutuhan dasar untuk berkomunikasi dan bersosialisasi, kalau dalam teori kebutuhan Maslow ia berada dalam puncak kebutuhan yaitu aktualisasi diri. Kebutuhan fisiologis tidak pernah menjadi masalah karena lahir dari keluarga kaya, kebutuhan rasa aman, kembali pada kondisi keluarga yang berada menjadikan ia hidup dalam dunia yang sejahtera. Kebutuhan penghargaan sudah pula ia dapatkan sebagai pimpinan tertinggi di level management perusahaan.


Kebutuhan kasih sayang mungkin dulu ia pernah dapatkan dari Mitha sehingga tidak membutuhkannya sekarang. Hasna mengingat foto yang di dompet Reza, ia yakin walaupun menikah dengannya foto itu akan selalu ada disana.


Mereka sampai di toko perhiasan jam 9 kurang 10, ternyata memang masih buka dan ternyata Reza sudah membuat janji disana. Mereka langsung diajak masuk ke ruangan kecil yang ada sofa dan meja kecil di depannya. Langsung disuguhi teh dan makanan kecil. Hmm ini ternyata layanan VIP di toko ini.


Pemilik toko langsung memperlihatkan beberapa koleksi cincin dan perhiasan yang biasa dipakai untuk pernikahan. Hasna bingung semuanya tampak indah dan berkilau.


“Tidak memakai perhiasan dari bahan Emas yah Ci karena laki-laki tidak boleh memakai bahan dari emas” ucap Hasna.


Mereka langsung menarik pasangan cincin dari emas. Hasna kemudian langsung tertarik pada cincin yang tampak cantik mungil dengan berlian kecil yang berkilau”


“Kalau yang itu bagaimana?” ucap Hasna sambil menunjuk cincin yang cantik itu.


“Kalau yang ini bukan cincin pernikahan mbak tapi cincin pertunangan” ucap Cici penjualnya.


“Owh.. ok”


“Bapak aja yang pilih deh, aku ikutan” Hasna akhirnya menyerah.


“Yang ini bagaimana?” katanya sambil menunjuk pasangan cincin yang berkilau besar


“Gak suka, terlalu besar, aku kaya nyonya pemilik toko beras” ucap Hasna, Cici yang jualan langsung tertawa. Reza langsung mendelik mendengar cincin pilihannya disebut cincin pemilik toko beras.


“Yang ini aja Pak… eh Mas.. yang laki-lakinya simple tanpa berlian hanya ada garis aksen, yang perempuannya pun simple berliannya kecil-kecil berputar mengintari dengan akses gelombang”


“Kamu sukanya yang model sederhana semua”


“Cincin pernikahan tidak usah banyak variasi nanti pernikahannya banyak variasinya… tapi eh ini kok ada gelombang yang variasinya”


“Sudah ah jangan percaya sama yang seperti itu, kita ambil yang ini saja Ci dan yang ini juga” ucapnya sambil menunjuk cincin pertunangan yang disukai Hasna.


“Eh itu kenapa dibeli juga Pak?” tanya Hasna. Reza mengambil cincin pertunangan itu dan memasangkannya di Hasna agak longgar sedikit.


“Kemarin aku lupa membeli cincin pertunangan karena terburu-buru, sekarang aku belikan kamu cincin pertunangan, masih ada waktu satu bulan untuk memakainya”


“Ini dikecilkan sedikit ukurannya” ucap Reza sambil menyerahkan cincin pertunangan itu kepada Cici.


Hasna bengong tidak menyangka Reza akan membelikannya cincin itu.


“Ukuran untuk cincin Mas Reza saya ukur dulu” ucap Cici sambil memberikan serangkaian ukuran cincin.


Reza memandang jarinya yang terpasang cincin pernikahannya dengan Mitha, ia tidak pernah melepaskan cincin itu. Dilepaskannya dan diserahkannya kepada Cici penjual.


“Ukuran cincin ini disamakan saja” ucapnya.


Hasna diam melihat kegalauan Reza sebetulnya dia merasa sedih melihat muka Reza tapi bingung harus bicara apa.


“Terima kasih ya Pak sudah membelikan cincin yang cantik” Hasna tersenyum


“Kalau dibelikan cincin aja kamu senyum, tadi waktu diajak keluar pakai acara nangis-nangis segala”


“Semua perempuan itu materialistik Baby…. Semuanya tidak terkecuali aku” ucap Hasna sambil berbisik mesra di telinga Reza.


“Jangan suka bicara seperti itu…. Kamu bisa menyesal nanti akibatnya” Reza menoyor kepala Hasna sambil berdiri menggosok-gosok telinganya. Hasna tertawa-tawa mengetahui titik lemah Reza…. Hatinya bahagia dan berbunga-bunga dibelikan cincin yang indah dan berkilau seperti dalam iklan-iklan di majalah.


Hasna… Hasna kamu tuh dasar suka cari masalah buat sendiri.


*********************************


Ada pepatah yang mengatakan "The way you look is the way you are" Cara kita berpakaian akan menunjukkan siapa diri kita. Tidak usah yang harganya mahal tapi dengan kita berpakaian rapi dan bersih akan membuat orang lain merasa dihargai. Semangadh yaaa untuk tetap memberikan yang terbaik... Stay safe and keep productive yaaa.. Saranghae....

__ADS_1


**********************************


__ADS_2