
Seminggu berlalu dari peristiwa badai private party semuanya berlangsung dengan tenang. Maura semakin mudah untuk dilatih mandiri, tidak lagi sulit untuk bangun tidur, Hujan semakin fokus untuk persiapan ujian sedangkan Reza disibukan oleh urusan kantor dan seringkali pulang malam. Sebetulnya untuk Hasna kalau Reza pulang malam jadi lebih mempermudah urusan di rumah, karena berkurang permintaan yang harus ia urus apalagi ia sedang mengikuti ujian akhir semester.
Hari ini adalah ujian terakhir, ia tadi berangkat dengan Maura sehingga bisa sampai ke kampus pagi-pagi. Bekal sarapan ia makan begitu sampai di kampus, Hasna tidak ingin kena resiko terlambat masuk saat ujian akhir semester. Apalagi dosen pengampunya adalah dosen perempuan yang paling senior dan selalu datang tepat waktu. Omelan Reza soal sarapan ia ikuti dengan memakan selembar roti gandum dan minum susu, sambil memperlihatkan bekal makanan yang dibawa akhirnya Reza mengizinkannya berangkat lebih pagi.
“Hadooohh… aku lelahhhh” Ammera langsung telungkup di meja kelas. Ujian akhirnya memang top markotop, diperbolehkan untuk membuka buku dan internet tapi isinya bukan jawaban konsep tapi analisa kasus. Setiap soal kasus beranak pertanyaannya dan yang paling top adalah ditulis di kertas. Rasanya seperti sudah ribuan tahun tidak pernah menulis tangan sebanyak tadi. Tangan pegal seperti habis kerja rodi, tadi Hasna menghabiskan 3 lembar kertas folio bergaris berarti ia menulis 6 lembar dengan tulisan tangan.
“Naaa… pijitan tangan aku pegal” Ammera mengacungkan tangannya ke Hasna sambil dilambai-lambaikan. “Makanya kamu tuh musti dibiasakan kerja rumah jadi jari tangannya sudah lentur” Hasna memijat-mijat tangan temannya. “Hadoooh.. Itu si Prof gimana mau bacanya… emang bisa kebaca tulisan tangan jaman now” Ammera merasa tulisan tangannya acak-acakan.
“Hahahahah tulisan kamu masih lumayan tadi aku lihat tulisan si Mark kaya sandi rumput” Hasna cekikikan saat tadi melirik ke sebelah Mark tampak seperti asyik menggambar bukannya menulis. “Diaa...dia kayanya cocok jadi dokter kalau tulisannya kaya gitu” Ammera tersenyum saat membayangkan Prof Dini melihat tulisan Mark, “Kalau Mark jadi dokter aku yakin apoteker bakalan salah ngasih obat.. Hahahahaha” Hasna tertawa lepas.
“Waaah aku lapar begini padahal tadi udah makan” Hasna mengusap-usap perutnya yang terasa kosong. “Cacingnya kehabisan bahan makanan gegara tadi langsung dipake energinya, gak sempat mengendap di usus” ledek Ammera. “Aku jadi pengen makan Bakmi, pangsitnya yang banyak” Hasna langsung ngiler membayangkan bakmi pedas dan pangsit yang menumpuk di piring.
“Loe hamil yaah?..mukanya kaya yang ngidam gitu” Ammera berkerut melihat ekspresi Hasna. Hasna tertegun, “Masa sih Meera gw hamil… kok gw gak muntah-muntah atau mual kaya perempuan hamil?” ia kemudian menghitung waktu sejak ia mengalami flek dulu memang sudah sebulan lebih.
“Tau gak yang disebut hamil kebo?” Hasna langsung menggelengkan kepalanya. “Hamil kebo itu perempuan yang hamil gak merasakan morning sickness atau apapun.. Semua makan masuk ke perutnya...kagak pake muntah atau mual-mual segala...liat orang makan bawaannya laper aja” Hasna langsung mengganguk-anggukan kepalanya, ia ingat saat dulu Mama hamil Emran segala dimakan, sampai Ayah khawatir karena Mama dulu suka sekali makan dengan bakso, makanya Emran suka disebut anak micin.
“Iya sih aku rasanya udah kelewat siklus bulanan, tapi aku kalau cape emang suka jadi gak teratur gitu datang bulannya, kadang kelewat dua bulan begitu datang beuuh udah kaya butuh transfusi darah nyampe lemes” Hasan langsung jadi khawatir. “Duuuh kalau aku hamil gimana yah Meera? Aku kemarin makan obat sakit kepala gegara pusing waktu alergi” Hasna langsung panik.
“Tenang..tenang mbak… satu belum tentu kamu hamil kedua kalau cuma minum paracetamol sih gak akan ngefek apa-apa kalau cuma sekali duakali apalagi yang dosis obat warung warung gitu” Ammera menenangkan Hasna yang terlihat cemas. “Kamu udah pernah test pack?” yang langsung disambut dengan gelengan kepala Hasna. “Yah di dites dulu aja siapa tahu beneran hamil biar tenang pikiran” Ammera bergaya seperti orang yang sudah pengalaman.
“Loe emang pernah pakai test pack?” Hasna menatap polos yang langsung disambut dengan tatapan membunuh oleh Ammera “Kamu kurang ajar yaaah ngomong…”jeplak..jeplak… Ammera langsung memukuli Hasna dengan tas makeup yang sedang dipegangnya “Aduuuh...aduuh nyeri njir… kamu galak gitu aku kan cuma nanya… main hajar aja...gimana kalau gw hamil” Hasna mengusap-usap pangkal lengannya yang dipukuli Ammera.
“Habis kamu kurang ajar banget nanyanya… pake nanya aku pernah pake test pack segala.. Emangnya aku pezinah apa..gak liat aku pake hijab” Ammera langsung melotot. Hasna langsung tersenyum mengejek “Ehhh neng.. Banyak yang diluaran sana pake hijab tapi akhlaknya nyingsat..” langsung Hasna dikeplak lagi tapi kali ini kepalanya.
“Pala loe nyang nyingsat… perempuan muslim itu seharusnya memakai hijab..tutup aurat” Hasna langsung menggosok-gosok kepala sambil nyengir malu “Iyaaaa heheheh aku juga mau … bajunya belum lengkap” Ammera langsung akan memukul lagi tapi ditangkap oleh Hasna “Kamuuu ihh kasar banget jadi perempuan… mukanya aja kaya bidadari tapi kelakukan kaya bajak laut” Ammera langsung tertawa. “Hasna baju jangan dijadikan alasan.. Istri Nabi itu pakaiannya sangat sederhana bahkan terkadang kain yang dibalutkan dan harganya tidak mahal, saat rusak malah menambalnya.
“Jangan menunggu hidayah tapi hidayah itu di cari Hasna” Ammera langsung memberikan tausiah, Hasna mengangguk-angguk itulah manfaatnya kalau berteman dengan teman yang sholehah jadi suka kebawa soleh. “Ada hadist shahih yang menjelaskan tentang pakaian yang kita kenakan “Barangsiapa meninggalkan suatu pakaian dengan niat tawadhu’ karena Allah, sementara ia sanggup mengenakannya, maka Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di hadapan seluruh makhluk, lantas ia diperintahkan untuk memilih perhiasan iman mana saja yang ingin ia pakai.” Hasna menghela nafas, ia memang sudah berniat untuk menutupi aurat hanya saja terkadang keimanannya naik dan turun. “Jadi sebaik-baiknya pakaian yang kita kenakan adalah keimanan dan ketakwaan kita Naa” sambungnya
“Iya aku juga pengen pake hijab… suka kaya nunggu momen yang pas gitu loh, kalau tiba-tiba pakai hijab ntar orang nanya ehhhh kenapa sekarang pakai hijab… biar ada alesan hehehehe” Ammera langsung melengos “mau nunggu kiamat dulu baru pake hijab? Telat dooong” sekarang Hasna yang berbalik membalas memukul “jangan gitu dong kalau jadi teman.. doakan .. kemudian dukung dengan membantu membeli baju yang pas” Hasna langsung berdiri.
“Anterin aku nyari baju muslim yang modern.. Maklum istri GM biarpun pake hijab musti stylist.. Sekalian kita jajan bakmi..” Hasna hari ini memiliki waktu luang karena Maura dijemput oleh Pak Agus dan diminta untuk menengok Iyang nya. Sudah lama Maura tidak bertemu dengan Mama Isna sehingga tadi langsung disetujui dan akan dijemput sore oleh Hasna. Saat mereka akan meninggalkan ruangan kelas, terdengar bunyi pesan masuk ke hp keduanya. Ada dua ekspresi yang berbeda Ammera yang mengerutkan dahi dan Hasna yang langsung sumringah.
“Ini siapa yang mendaftarkan aku ikut studi banding ke Jepang..aku kan udah bilang gak akan ikut.. Gila man 23 juta bukan uang sedikit” Ammera langsung duduk dengan kesal. Siapa yang tidak ingin ikut studi banding, hampir semua teman-temannya pada pergi hanya dua orang yang tidak ikut karena tidak mendapatkan ijin cuti dari kantor karena mereka kuliah sambil kerja. Tapi yang tidak bekerja semuanya ikut karena biayanya dianggap tidak terlalu mahal apalagi mereka akan mengunjungi empat kota di Jepang, biaya ditekan seirit mungkin dengan cara backpackeran.
__ADS_1
“Heheheheh aku yang daftarin” Hasna langsung cengengesan malu. “Emang kamu mau bayarin aku.. Jangan gitu donk Na.. aku juga kan pengen tapi aku sadar gak mungkin minta uang sebanyak itu sama Babe gw dalam waktu sebulan.. Emang Babe gw punya pom bensin kaya si Ferdi” Ammera menjatuhkan tasnya di meja. “Hehehehe emang gw yang bayarin...heheheh laki gw ding yang bayarin..” Hasna tersenyum malu, Ammera langsung melotot.
“Whaaat serius luuuh… set dah… laki loe tajir amat… eitss bentar-bentar gw gak akan dijadikan istri kedua kan?” Ammera langsung melotot dan menjauh. “Anjrrriiit boga babaturan kurang ajar pisan...sangeunah na wae… teu hayang,..teu hayaaang pisan urang mah dimadu” Hasna langsung memukulkan buku catatannya pada Ammera dengan sekuat tenaga.
“Habisnya itu laki loe kok mau-maunya bayarin gw 23 juta buat ke Jepang, pasti ada perjanjiannya… apa dulu? Aku gak mau kalau sampai menggadaikan diri” Ammera langsung memasang tanda X di dadanya. Hasna langsung tertawa “Meeraa kurang ajar kamu.. Kamu sampai suudzon gitu sama aku.. Kamu cuma diminta jagain aku, jadi muhrim nya aku, dia gak mau aku bepergian tanpa ditemani muhrim” Ammera langsung melongo.
“Ya Allah sampai sesayang itu suami loe, masa iya dia curiga sama kadal kaya si Ferdi, kumbang terbang kaya si Mark.. gak level kaleee” Hasna hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Bukan sama mereka, tapi sama koordinator kegiatan studi banding ini Kang Arkhan… dia kakak kelas gw waktu dulu kuliah di Bandung. Ternyata anaknya temannya Bapaknya suami gw, dua-duanya punya sifat yang sama keras kepala, sok iye, ngomong gak disaring makanya gak cocok” Hasna hanya menarik nafas.
“Cakep emang?” Ammera langsung penasaran, Hasna mengerutkan kepala mencoba menilai Arkhan “Hmmm lumayan lah body ok tinggi tegap, tampilan rapi, pinter juga, bapaknya juga punya perusahaan ternyata walaupun tidak sebesar Papa Ardy, anak tunggal makanya nyebelin heheheh ngomongnya suka nembak kasar gitu kalau gak suka.. Gak difilter..mirip lah sama suami gw...ehhh bisa kayanya gw kenalin dia sama kamu Ra... dia juga masih single loh” Hasna langsung nyengir.
“Emoooh gw gak suka laki model yang kaya gitu… ihhh sorry bukan berarti punya segalanya trus berhak ngomong seenaknya. Laki-laki itu bicara musti baik, ngayomin sama perempuan, membimbing walaupun perempuannya keras kepala dia musti sabar tetap senyum penuh pengertian bikin kita yang liat ahhhh terasa damai” Ammera membayangkan sambil menerawang tipe laki-laki idamannya. Hasna langsung melotot.
“Haaaahhh… aku ada kenalan tipe laki-laki seperti itu… asisten suami aku Mas Aswin… ya Allah Meeraaa...senyumannya bikin meleleh.. Mukanya bersih putih, badannya tegap gak setinggi suami gw tapi lumayan lah lebih tinggi dari aku… trus dia ramah gak pernah ngomong yang nyelekit selalu terlihat ingin membantu… gw dulunya naksir sama dia trus dibilangin kalau dia udah punya anak sama temen sekantor ...ehhh gw malah jadi kawin sama bos nya...nasib emang” Hasna langsung tersenyum getir.
“Bodo loe emang… Suami loe tajir melintir kaya gitu, tampang oke, anaknya lucu...gak bersyukur emang loe” Ammera langsung menoyor kepala Hasna yang langsung tersenyum malu “Hehehehhe iya gw bersyukur sekarang dia baik banget, suka bantuin ngerjain tugas malahan. Pas gw tidur dia diem-diem ngetik bantuin ngerjain kasus dan analisa papernya.. Gw cuma nambahin kesimpulan aja… pinter banget dia” Hasna senyam senyum membayangkan saat membuka laptop di pagi hari untuk melanjutkan tugas ternyata sudah dikerjakan oleh Reza.
“Aseeeemmm pantesan loe dipuji sama dosen analisa kasusnya bagus..dikerjain sama suami loe.. Argghhhh tau gini gw jadi despert pengen punya pacar… ya udah kenalin sama asisten suami loe tadi” Ammera akhirnya berdiri dan menarik Hasna keluar dari kelas, “tapi katanya tadi orangnya putih yaaa? Ahhh gw gak suka laki-laki yang putih… kaya hambar.. Musti agak gelap-gelap dikit biar eksotis….cukup gw aja yang putihnya” obrolan unfaedah itu masih terus berlangsung sampai mereka masuk ke mobil. “Gampaang Meera kalau mau gelap mah...tinggal sering-sering aja dijemur dijamin menggelap…” Hasna langsung cekikikan membayangkan Aswin yang akan dijemur Ammera seperti ikan asin di pantai.
Mereka tiba di Mall yang terdekat dengan kampus, menghabiskan waktu hampir satu jam lebih untuk mencari pakaian, hingga akhirnya lelah lebih tepatnya Hasna yang merasa lelah dan menuntut untuk makan bakmie yang diidamkannya sejak tadi. Untung saja diwaktu jam makan siang, tidak terlalu banyak yang makan tapi mereka harus rela makan di area luar bukan di dalam restaurant.
“Nana…. Sudah terima pemberitahuan dari Kaprodi tadi” Hasna langsung mendongak dan tersenyum. “Ehhhh kang… ada angin dari mana tetiba ketemu disini?” Hasna langsung kaget melihat Arkhan yang tiba-tiba ada di depannya. Ammera yang melihat kehadiran Arkhan yang terlihat akrab langsung mengambil sikap menjauh. “Meera ini loh kenalin kaka kelas kita yang akan memandu kita nanti studi banding ke Jepang..dia baru pulang kemarin dari sana ngambil Summer Class yah kang?” Hasna langsung mengenalkan pada Ammera yang hanya tersenyum kaku.
Arkhan tampak tidak terlalu menghiraukan Ammera, ia langsung duduk di bangku sebelah Hasna karena bangku di sebelah Ammera disimpan tas. “Udah makan kang? Kita sudah mau habi, ini lagi ngemil-ngemil cantik dulu” Hasna langsung nyengir, “Ngemil cantik tapi dua piring sih bukan ngemil cantik tapi ngemil gembul” sahut Ammera terlihat sebal melihat gaya Arkhan yang langsung duduk tanpa ijin dulu. “Naa.. gw mau ke toilet dulu.. Setelah dari toilet kita langsung pulang yah” Ammera langsung memperingatkan. Hasna langsung mengangguk setuju sekarang sudah hampir jam dua siang mereka belum sholat duhur.
“Tadi kaprodi meminta kita mengumpulkan paspor untuk pengajuan visa, trus kita diminta membayar biaya itenary nya setengahnya dulu untuk membayar tiket pesawat katanya” Hasna langsung melaporkan pesan yang tadi diterimanya. “Iya aku mau ngurusin surat pengantar dari universitasnya biar gampang turun visanya. Kita nanti disana disuruh presentasi tentang kajian rencana tesis biar keliatan kegiatan akademiknya gak cuma jalan-jalan” Arkhan tanpa dipersilahkan asyik ikut menikmati pangsit yang dipesan Hasna.
“Jadi tugas kamu mengkoordinir teman-teman sekelas kamu buat nyiapin bahan paparan, setiap orang gak usah banyak-banyak slide nya cukup 3 slide aja. Slide pertama tentang alasan kenapa ngambil kajian itu, slide kedua tentang penelitian yang pernah dilakukan atau yang related dengan kajian itu trus slide ke 3 isinya tentang metodelogi yang akan dipakai..cukup itu” Arkhan terus menjelaskan sambil asyik memakan pangsit. Hasna hanya bisa melongo melihat kecepatan Arkhan memakan pangsit. Langsung ludes 3 potong pangsit dalam satu tarikan nafas.
Saat melihat Arkhan makan Hasna mendengar hp nya berbunyi ternyata pesan dari Reza.
“Lagi dimana kamu?” Hasna langsung pucat ia tadi lupa tidak minta ijin akan main ke mall dulu pada Reza.
“Hehehe ke mall dulu, maaf lupa gak minta ijin dulu” Hasna langsung menjawab
__ADS_1
“Sama siapa kesana?” runtutan introgasi langsung keluar
“Sama Ammera beli baju trus makan bakmi.. Sekarang mau pulang kok”
“Sama siapa lagi?” Hasna langsung pucat kalau disebutkan ada Arkhan dijamin suaminya akan ngamuk.
“Gak sama siapa-siapa ke Mall cuma sama Ammera aja” daripada panjang lebar mendingan jangan disebutkan saja toh memang dia tidak janjian sama Arkhan.
“PULANG SEKARANG” ya Allah capslok udah keluar lagi, Hasna langsung menarik nafas.
“Kenapa kamu kaya yang terciduk aja? Siapa suami kamu? Posesif banget sih punya laki” Arkhan mendengus. Hasna melirik Arkhan dengan sebal.
“Bagus lagi posesif itu tandanya cinta.. Akang tuh kenapa sih kaya yang sebel aja sama Mas Reza, dia tuh umurnya lebih tua dari akang loh… hormat atuh sama senior teh….ehhhhh eta air minum juga diembat” Hasna melotot melihat air minumnya dihabiskan Arkhan. Dari dulu orang ini memang selalu seenaknya, datang ke himpunan suka makan dan minum gak ijin dan permisi alasannya yang menyimpan makanan di tempat umum adalah milik umum.
“Waktu aku kecil dulu datang ke rumah dia, sikapnya menyebalkan. Gak nanya gak ngajak main cuma ngeliatin sambil mukanya kaya kesel gitu. Untung aja ada adiknya baik dan cantik lagi aku cuma main sama adiknya… kirain kalau udah tua jadi lebih menyenangkan ternyata malah lebih menyebalkan” ucap Arkhan sambil mengelap bibirnya dengan tissue di meja.
“Dahh ah kenyang… aku mau balik lagi ke toko buku, lagi nganterin anak Tante … makasih pangsitnya” dan manusia sontoloyo itu ngeloyor pergi meninggalkan Hasna yang hanya bisa melongo melihat jatah pangsitnya yang licin tandas. Terdengar lagi suara pesan di hape nya
“MASIH BELUM PULANG JUGA” Hasna langsung pucat... argghhhh… kok tau sihhhh… ya allah spy dimana-mana… Ammera kamu kemana…. Ke toilet kok lama-lama amaaatt….
Yang mustinya mules itu aku bukan kamu…. Meeraaaaaa
######
translate:
Anjrrriiit boga babaturan kurang ajar pisan...sangeunah na wae… teu hayang,..teu hayaaang pisan urang mah dimadu”
Anjrriiit punya teman kurang ajar banget… seenaknya aja… gak mau..gak mau banget aku sampai dimadu”
***************
Buibu ... mohon bersiap utk episode rollercoaster... namanya juga hidup ada asem manis asin nya... sabar yaaah jgn suka emosi... saya aja yg nulisnya udah emosi... jangan nambah2 emosi... saya suka hoream nulis jadinya... senyumin aja biar manis hahhahaha... pandemi akan berlalu kita lalui semuanya dengan kesabaran... love u all
__ADS_1
****************