
Arkhan PoV
Takdir memang aneh, manusia yang tidak aku sukai sekarang harus menjadi orang yang aku hormati hanya karena dia lebih berpengalaman dalam bisnis dibandingkan aku. Papa tidak mau menerima alasanku untuk tidak menerima tawaran dari Om Ardy.
“Kamu harus belajar langsung dari ahlinya supaya kamu bisa handle perusahaan Papa” begitu alasan Papa saat memintaku untuk magang di perusahaan Om Ardy.
“Aku tinggal satu semester lagi Pa, semester depan aku tinggal menulis tugas akhir” Papa seperti tidak pernah kuliah saja.
“Justru karena kamu tinggal menulis tugas akhir kamu bisa mulai magang di perusahaan, bahan penelitian kamu ambil di sana. Tawaran ini tidak boleh disia-siakan, Om Ardy butuh orang untuk menjadi asisten Reza anaknya”
“Whaat? Aku gak mau kerja dengan orang yang menyebalkan itu. Gayanya seperti orang yang paling pintar saja, meremehkan orang lain” aku tidak akan pernah melupakan ekspresinya.
“Wajar kalau dia bersikap seperti itu di mata dia kamu masih anak muda yang belum berpengalaman. Dia sudah bekerja hampir sepuluh tahun disana tapi perusahaan Ardy berkembang sangat pesat dengan kepemimpinan dia” Papa tampaknya sangat mengagumi orang itu.
Kenapa semua orang begitu terpukau pada orang itu, secara tampilan memang dia meyakinkan, tinggi badannya hampir sama denganku, tampangnya boleh lah di atas rata-rata tapi semua orang tahu bahwa fisik bukan segalanya, sikap yang baik menjadi faktor penentu sehingga seseorang disukai oleh orang lain dan menurutku sikapnya jauh dari baik. Meremehkan orang lain seperti tidak peduli pada orang lain, merasa dirinya sebagai central of universe. Dan bodohnya Hasna pun jatuh pada perangkap itu.
Sampai sekarang aku tidak akan melupakan sikap arogannya pada Hasna saat di pesta, betapa dia tidak memperdulikan kondisi Hasna yang kedinginan. Sampai sekarang aku masih tidak mengerti kenapa Hasna tertarik pada laki-laki itu, kenapa dia dulu tidak menyukai aku apakah karena aku tidak memiliki perusahaan seperti dia, apakah memang semua perempuan lebih menyukai laki-laki yang mapan dan berkemampuan seperti dia.
Aku memang tidak akan pernah mengganggu perempuan yang sudah menikah. Bagiku takdir dengan Hasna sudah berakhir saat aku melihat dia di pelaminan dengan laki-laki itu. Aku hanya ingin tahu laki-laki yang bisa menarik Hasna ke dalam pernikahan, laki-laki yang sudah memiliki anak dua tapi memiliki perusahaan besar, apakah memang itu yang menarik dia sehingga mau menikah dengannya.
Dan sekarang laki-laki itu duduk di depanku tanpa sedikitpun melihat ke arahku. Cihhhh benar-benar menyebalkan, kalau saja aku tidak menghormati Papa dan kasihan pada Mama yang terlihat sedih saat aku berargumen malas rasanya datang hari ini.
“Om kira kamu sudah saling mengenal satu sama lain. Jadi begini Arkhan, sekarang Reza membutuhkan asisten baru, dan kemarin kebetulan Papamu mencari orang yang bisa membimbing kamu untuk mengenal bisnis, Om dengar setelah selesai kuliah kamu langsung lanjut ke S2 yah, sama seperti Reza dulu”
“Papa kamu merencanakan akan melakukan ekspansi perusahaan pada produk apparels, tapi seperti kamu tahu orang tua itu banyak maunya tapi tenaga kurang...hahahahahha” Om Ardy seperti senang sekali dan Papa hanya terlihat tersenyum pasrah saja.
“Untuk itu kamu harus sudah punya ilmu bisnis yang mumpuni supaya bisa masuk pada bisnis apparels karena banyak pemain lama yang sudah punya pasar dan link dengan investor. Abang kamu ini sudah punya banyak pengalaman di bidang itu. Kamu mesti belajar banyak sama dia” Om Ardy menunjuk laki-laki itu yang duduk sebelahnya tidak memperdulikan orang lain hanya asyik dengan dirinya sendiri sambil bermain hp.
“Reza.. Om minta bantuan untuk membimbing Arkhan” baru dia menoleh pada Papa dan tersenyum tipis, tapi masih tidak menghiraukan aku.
“Om sadar kesalahan Om adalah tidak melibatkan Arkhan semenjak awal di perusahaan, saat kuliah dia tidak ingin mengambil jurusan Bisnis pun tidak Om permasalahkan, tapi semakin kesini Om merasa semakin punya banyak keterbatasan dan sudah waktunya Arkhan belajar mengelola perusahaan. Perusahaan Om memang tidak besar seperti Papamu, tapi paling tidak akan bisa mulai berkembang seperti dulu Papamu memulai bisnis” aku kesal pada Papa yang seperti tidak percaya diri, bagiku besar kecilnya perusahaan tidak menjadikan seseorang itu tidak berharga. Dia tampak memperhatikan Papa dengan perhatian mungkin karena ucapan Papa yang tampak lemah dan tidak berdaya.
“Arkhan anak satu-satunya dari Om jadi kalau sifatnya keras mungkin karena dia anak tunggal. Jadi mohon bersabar saja kalau dia suka keras kepala dan susah untuk diatur, terlalu dimanja sama Tante kamu. Segala dituruti” aku langsung memandang Papa dengan kesal, malah memojokkan aku di depan orang itu. Dia malah tersenyum sinis mendengar ucapan Papa.
__ADS_1
“Arkhan tidak usah terlalu formal dengan Reza, kamu bisa panggil dia Abang, anggap saja dia kakak kamu sendiri. Jadi begitu ya Za… anggap Arkhan sebagai adik kamu yang kamu didik untuk menjadi penerus” dia hanya melirik sebentar ke arahku dan menaikan alis matanya, ekspresi macam apa itu.
“Ayo kamu minta bimbingannya dari Abang kamu” Papa menepuk pundakku. Demi apa, kalau tidak ingat Mama tadi malam menangis meminta aku mengikuti keinginan Papa, aku tidak akan pernah datang ke tempat ini.
“Mohon bimbingannya Bang… selama 3 bulan kedepan” ucapku sambil menyorongkan tangan untuk bersalaman. Dia menatap mataku untuk beberapa saat sebelum kemudian menyambut uluran tanganku dan menjawab.
“Tidak sabar untuk bisa segera bekerja sama” tapi ternyata tidak hanya itu saja ucapannya.
“Karena saya yang diberikan kepercayaan untuk membimbing Arkhan maka saya akan melakukannya dengan pola sendiri. Om Felix dan Papa jangan terlalu banyak ikut campur… Kalau bisa bertahan selama satu minggu, percobaan saya lanjutkan satu bulan. Kalau bisa bertahan selama satu bulan boleh dilanjutkan hingga tiga bulan… tapi saya sangsi kalau kamu bisa bertahan selama satu minggu” dia tersenyum meremehkan. Manusia berengseekk itu meremehkan aku… kita lihat siapa yang akan paling bertahan disini.
“Ok… dengan senang hati saya terima tantangannya” aku langsung mengeratkan genggaman tanganku.
Reza PoV
Aku meninggalkan ruangan lebih dahulu, Papa memang selalu seenaknya saja, tidak pernah mendiskusikan dulu denganku. Aku tidak mungkin menceritakan kalau dulu Arkhan dan Hasna pernah dekat dan dia pernah menyukai Hasna, pasti Papa akan menertawakan aku. “Masa kamu keder sama anak bau kencur” pasti itu ucapannya.
Saat ini aku harus menyelesaikan dulu permasalahan di rumah sehingga bisa bekerja dengan tenang. Tidak mungkin setiap malam mengantarkan Hasna ke apartemen, aku tidak bisa meninggalkan dia disana sendiri, tapi meninggalkan anak-anak setiap malam juga tidak mungkin. Harus dibuat solusi segera, Hasna sekarang sudah tidak bisa dibujuk dan aku tidak mau meminta dia untuk mengalah dia berhak mendapatkan kebahagian.
“Aswin keruanganku sekarang” kulihat Aswin sedang menyerahkan beberapa dokumen kepada Prita.
“Win…” aku antara ingin ketawa melihat mukanya yang lempeng dan tanpa dosa memandangku dengan penuh kesiapsiagaan menunggu perintah.
“Saya kasih tahu kamu sekarang supaya tidak pingsan di depan umum” dia langsung menatapku dengan penuh kecurigaan.
“Arcy sudah diputuskan untuk memegang posisi sebagai Liaison Officer kita di Asia Tengah, dia akan ditempatkan di Taiwan” aku bisa melihat ekspresinya yang terlihat senang.
“Waaah saya senang Pak… betul-betul seperti duri dalam daging, saya beberapa kali mendapatkan informasi kalau Bu Arcy sering membuat aturan sendiri diluar dari kesepakatan rapat yang kita buat, itu sebabnya kita sering terlambat dalam pemenuhan schedule produksi” dia langsung duduk di depan meja dengan muka bahagia.
“Tapi nanti siapa yang akan menggantikan posisi Bu Arcy Pak… posisi itu sangat penting, kalau orangnya tidak bisa bekerja sama dengan kita akan repot Pak” dia tampak berkerut, aku hanya tersenyum melihat ekspresinya. Dia benar-benar sudah sangat merasa memiliki dengan kantor ini.
“Ya itu sebabnya KAMU yang bakalan jadi Sekretaris Direksi” jawabku santai, beberapa detik dia tampak tidak menyadari arti ucapanku, baru di detik ketiga dia tiba-tiba melotot dan menatapku dengan gerakan tubuh mundur ke belakang/
“APA?” dia langsung berdiri. Aku langsung menertawakan sikapnya, sudah kuduga dia bakalan kaget.
__ADS_1
“Iya kamu yang bakalan jadi Sekretaris Direksi biarpun badan kamu gak seksi dan gak bisa pakai rok mini tapi kamu cukup handal untuk bisa duduk di posisi itu” aku jadi ingin tertawa sendiri membayangkan Aswin sebagai perempuan, kebiasaan Hasna yang terlalu banyak berimajinasi jadi menular kepadaku.
“Tiiii tidak mungkin Pak, saya disini tidak memiliki kekuatan apapun, saya bisa menjadi asisten Pak Reza pun hanya karena ibu saya teman baik Pak Komisaris” dia pasti tidak akan percaya.
“Orang akan menilai dari kemampuan profesional bukan karena koneksinya. Arcy memang anak direksi tapi dia juga punya kompetensi kerja yang bagus makanya bertahan lama. Hanya saja sikapnya yang tidak baik membuat dia didepak” Aku tidak menyalahkan kalau Aswin merasa tidak percaya diri. Posisi ini memang lumayan tinggi dan dia belum lama bekerja di perusahaan. Pasti akan banyak orang dalam yang akan merasa berhak untuk menggantikan Arcy.
“Dan yang terpenting saya membutuhkan orang yang bisa bekerja sama, Direksi sekarang tidak memperdulikan siapa yang bekerja, bagi mereka kalau sekiranya tidak memberikan keuntungan dan hanya menghambat kinerja perusahaan. Mereka tidak segan-segan untuk mendepaknya. Itu sebabnya Arcy di depak, karena dianggap tidak bisa bekerja dengan aku. Buat mereka saya lebih berharga untuk di pertahankan daripada perempuan itu” Aswin tampak mengangguk-angguk setuju.
“Tampaknya sebentar lagi perusahaan ini bisa berkembang lebih baik lagi Pak kalau Direksinya sudah tidak menggunakan manajemen konvensional lagi” memang sulit memegang perusahaan keluarga, terlalu banyak campur tangan dari pihak pemegang saham menjadikan manajemen perusahaan sulit mengambil keputusan dengan cepat.
“Siapa nanti yang akan membantu Bapak sebagai asisten?” dia langsung terlihat bingung, rupanya dia sudah tahu kesulitan yang akan aku hadapi tanpa bantuan asisten handal seperti dirinya. Aku hanya bisa menarik nafas.
“Papa sudah menyiapkan satu orang asisten, anak dari teman Papa.. pikir-pikir semua yang menjadi asistenku adalah anak dari teman Papa. Dipikir Papa aku ini Kakak Asuh apa… harus selalu mendidik anak orang”
“Siapa Pak?” Aswin tampak penasaran
“Arkhan” jawabku pendek. Dan seketika muka Aswin seperti joker tersenyum lebar.
“Apa lagi yang kamu tertawakan ...memangnya kamu tahu Arkhan siapa?” aku langsung ngegas karena kesal.
“Gak Pak… saya tidak tahu siapa dia… saya kurang gaul pak” aku tahu kalau dia tahu sesuatu tapi berpura-pura. Ya sudahlah biar saja jadi urusanku.
“Nanti kamu mulai transfer kerjaan sama dia, minggu depan saya akan mulai menyuruh dia masuk dan belajar sama kamu, saya gak akan mengajari hal-hal yang administratif sama dia, satu minggu sama kamu, setelah itu minggu berikutnya dia harus sudah tahu bagaimana pola kerja saya” Aswin pasti bisa mengajari anak itu dengan cepat pikirku.
“Win sebagai tugas terakhir, tolong carikan apartemen yang sudah full furnished dan bisa ditempati besok paling lambat” Aswin langsung menatap bingung.
“Bapak mau pindah?” aku hanya menaikkan alis, aku kira Aswin sudah bisa mengerti.
“Apartemen yang letaknya di dekat kampus Bu Hasna ya Pak” aku langsung teringat apartemen yang ditempati Hasna sekarang, sebetulnya masih bagus hanya saja kurang mewah dan bangunannya sudah agak lama. Tidak representatif kalau ditempati oleh keluarga, dan pasti Mama akan protes.
“Yah agak sedikit jauh tidak jadi masalah, ambil yang ditengah-tengah saja, dekat dengan kantor sekolah anak-anak dan kampus Hasna” lagipula Hasna tidak akan bepergian sendiri sekarang dia harus menggunakan supir untuk pergi ke kampus. Artinya aku harus menyiapkan satu orang lagi supir untuk menemaninya kuliah.
“Baik, bisa dicarikan Pak, banyak apartemen sudah siap disewakan sekarang. Memang kebutuhan untuk tinggal di daerah perkotaan lebih tinggi. Untuk kamarnya bagaimana?” Aswin memang sangat detail kalau dalam menyiapkan suatu hal.
__ADS_1
“Minimal ada dua kamar, dan ukuran kamarnya harus yang cukup luas kalau hanya ada dua, lebih bagus kalau ada tiga kamar, yang lainnya saya tidak jadi masalah, standar apartemen sudah sama seperti hotel”
Ok mari kita mulai episode baru di tempat yang baru, kedepan apakah memang Hasna tidak ingin menempati rumah itu lagi kita lihat saja nanti