Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Kaya di Dunia Mati Masuk Surga


__ADS_3

Semalaman Hasna hampir dikatakan tidak bisa tidur, setelah melihat Reza kondisinya sudah stabil,  jam 2 malam ia akhirnya naik ke kamarnya untuk tidur perasaannya sama sekali tidak tenang. Reza bukan anak kemarin sore, dia sudah cukup pengalaman hidup tidak akan semudah itu diperdaya oleh orang lain. Beda kalau pada anak seusia  Emran yang bisa diajak minum alkohol tanpa menyadari. Tapi pasti rasanya berbeda kan, tidak akan mungkin sama seperti minuman bersoda.


Menjelang subuh Hasna baru bisa tidur, sehingga sangat sulit baginya untuk bangun saat Maura membangunkannya.


“Bunaaa… Bunaaaa…. Astagfirullahaziem… Buna bangun solat subuh. Kata Bu Guru jangan sanpai Malaikat subuh kebulu pulang...Bunaa” Maura memukul-mukul pipi Hasna sampai terasa pedas.


“Aarhhh… iya..iya sebentar Buna membuka mata dulu… ini matanya nempel ga bisa dibuka” Hasna mengusap-usap matanya hingga terasa nyawanya mulai berkumpul. Dilihatnya jam sudah menunjukkan 5.35 pagi. “Astagfirullahziem Buna baru tidur jam 3 lebih tadi sayang, makanya kesiangan bangun”


“Papi mana? Kok gak ada?” Maura menanyakan keberadaan Papinya. Hasna langsung melotot teringat kondisi suaminya, jangan sampai anak-anak tahu dan mencium Papi nya sekarang pasti akan tercium bau yang menyebalkan itu. “Ehh Papi tadi malam pulangnya larut hampir tengah malam, jadi tidur di bawah soalnya udah cape. Jangan diganggu ya Papi masih tidur kasian”


“Maura sudah sholat yah? Buna mau sholat dulu yaa mumpung mataharinya belum terbit” Hasna langsung bergegas ke kamar mandi. Maura kemudian turun dan menuju dapur rupanya anak ini benar-benar mandiri, ia langsung meminta dibuatkan susu pada Mbak Jumi. Begitu susu selesai dibuat dia kembali ke kamar Hasna dan melihat Hasna sholat dan mengaji. Saat Hasna selesai mengaji rupanya Maura sudah tidur lagi, Hasna jadi tersenyum sendiri masih mengantuk rupanya anak koala ini. Akhirnya ia memutuskan untuk melihat suaminya di kamar bawah.


Posisi tidur Reza berubah, rupanya semalaman ia tidur dengan gelisah, selimut sudah terjatuh di lantai ada juga bantal dan guling yang terjatuh. Kepala Reza sudah berubah ada di tengah tempat tidur dengan satu kaki keluar dari tempat tidur. Hasna menarik nafas, artinya dalam bathin nya suaminya merasakan suatu ketidaknyamanan.


Dibetulkannya posisi tidur Reza, baunya masih menempel di badan Reza, Hasna sampai merasa ingin muntah menciumnya. Merasa ada yang menarik dan membetulkan tidurnya membuat Reza membuka matanya lama terdiam seperti berpikir dan menatapnya, “Raa...kepalaku...kepalaku pusing” gumamnya hampir tidak terdengar. Hasna melihat suaminya, kalau mau ikut emosi rasanya ingin membekap Reza dengan bantal saking kesalnya tapi ia tahu kalau banyak hal yang musti diluruskan sekarang.


“Ya.. tidurnya dibetulkan dulu, kepalanya pakai bantal” jawab Hasna pendek, dipegangnya dahi Reza agak hangat. “Aku bikinin minum dulu” Hasna keluar dari kamar sambil membawa pakaian Reza yang kotor karena muntahan dan soju. Kalau boleh ingin rasanya dibuang ke tempat sampah saja, hitung-hitung buang sial. Tapi kalau membuang ke tempat sampah seharusnya dicuci dulu supaya bisa dimanfaatkan oleh orang lain karena memang masih bagus dan barang bagus… ya sudah dicuci saja jangan terbawa emosi.


Hasna kemudian googling mencari informasi apa yang terjadi pada orang yang terbangun dari mabuk dan bagaimana mengatasinya. Hasna menghela nafas ia tidak menyangka akan mengalami hal seperti ini. Ia kemudian melihat informasi 7 fase yang dialami orang yang mengalami mabuk alkohol. Ternyata mereka memang akan mengalami fase rileks saat minum 1 gelas sehingga mendorong untuk kembali menambah minuman kemudian laki-laki akan mulai mabuk setelah 3 gelas kalau perempuan bisa 1-2 gelas mereka akan merasa senang dan bahagia, bisa bertindak diluar batas dan bisa hilang rasa malu walaupun masih sadar


Hasna terus membaca hatinya semakin merasa kesal. Kemudian dibacanya apabila mereka terus minum hingga akhirnya menghabiskan 5 gelas akan mengalami mabuk berat  yang mengakibatkan kehilangan keseimbangan dalam berjalan dan berakhir pingsan dan muntah-muntah. Hasna menggeleng-gelengkan kepalanya artinya tadi malam Mas Reza minimal sudah minum 5 gelas minuman beralkohol. Matanya sudah berair membayangkan apa yang dilakukan oleh Reza semalam. Diusapnya air mata yang mulai merembes di mata, jangan sampai dilihat oleh Mbak Jumi dan anak-anak.

__ADS_1


Dibuatnya air madu dan lemon hangat, katanya mereka akan cenderung merasa haus, selain itu sebaiknya dibuatkan minuman jus sayur. Tapi tidak mungkin menyuruh minum jus sayur di pagi hari. Lebih baik membuat air lemon hangat saja dengan campuran madu dan kunyit supaya tidak terlalu getir. Kemudian Hasna meminta Mbak Jumi untuk membuat sup ayam supaya bisa dimakan hangat-hangat. Saat ia ke kamar Mas Reza masih dalam posisi sama dengan memegang kepalanya. Hasna menyimpan gelas di meja samping dengan agak keras langsung membuat Reza membuka mata. “Kenapa sih nyimpennya keras-keras banget aku pusing Ra telinga jadi sensitif”


“Telinga sensitif tapi otak nya gak sensitif” mulut yang dari tadi ditahan untuk tidak berbicara akhirnya kebablasan juga.


“Maksud kamu apa sih! Sudah kalau gak suka bicara sama aku jangan ngomong” Reza langsung berbicara dengan keras sambil memegang kepalanya.


Hasna berdiri dan memandang diam “Memang tidak ingin bicara kalau bisa gak usah melihat sekalian” ucapnya sambil membalikkan badan dan keluar dari kamar dengan menutup pintu dengan keras.


“Astagfirullah Hasnaaa… bisa gak sih menahan diri gak emosi” di dalam hati kecil Hasna terus saja ada malaikat yang mengingatkan “dia masih ingat buat pulang, kondisi fisiknya lagi gak bagus kalau bukan kamu yang merawat siapa? Tugasnya istri adalah mengingatkan saat suami salah bukan malah meninggalkan” Hasna bersender di pintu kamar sambil terus berpikir. Kasian sih dalam pikirannya, tapi rasa kesalnya terlalu menyesakkan di dalam dada.


“Kalau sekarang Mas Reza tidak ada yang merawat bagaimana nanti anak-anak akan bertemu hari ini, apa alasannya coba… kamu harus bisa menekan egomu Hasna… ini bukan soal benar atau salah tapi soal keikhlasan dalam menjalankan kewajiban…. Ikhlas ... ikhlas ... ikhlas ... terima semua kelebihan dan kekurangan. Aku juga banyak kekurangan ikhlas” Akhirnya Hasna berbalik dan membuka pintu.


Reza yang melihat Hasna masuk hanya melirik, ia masih memegang kepalanya, dahinya tampak berkerut dan matanya sedikit terpejam tidak cemerlang seperti biasanya. Dicobanya air lemon madu yang di meja terasa  sudah hangat kuku, pas untuk diminum. “Kalau kamu masuk ke kamar cuma buat ngasih aku ceramah aku gak mau dengar, sudah cukup pusing kepala aku” Reza masih mengusap-usap kepalanya tanpa memandang Hasna.


“Katanya yang sudah mabuk berat harus banyak minum sekarang habiskan". Reza langsung meminum air lemon, kunyit dan madu yang dibuat Hasna rasanya hangat dan menyegarkan “Habiskan..” ucap Hasna saat Reza berhenti minum dan memberikan gelas yang masih terisi setengah “Sudah kenyang..” jawabnya malas.


"Mau nurut gak… minum!” Hasna langsung melotot, dengan malas Reza meminum air lemon dengan sesekali memandang Hasna. ‘Galak banget sih..” ucapnya sambil memberikan gelas kosong. “Sekarang tidurkan lagi…setengah jam lagi aku bangunkan untuk makan sup setelah itu baru minum obat” Hasna mengembalikan posisi Reza untuk tidur, diselimutinya lagi dan pergi ke dapur.


Ternyata sup sudah masak, kalau soal masak memasak dan beres membereskan rumah Mbak Jumi memiliki jiwa yang totalitas apalagi saat mendengar kalau Reza sakit. Tidak mungkin dia memberitahu kalau suaminya pulang mabuk, akan terlalu banyak penjelasan yang harus dia buat. Sambil menunggu sop agak dingin Hasna naik ke atas, ternyata Maura masih tidur begitupula dengan Hujan ..ok aman masih ada waktu sampai memandikan Reza nanti.


Saat kekamar dilihatnya suami sudah kembali tertidur, tapi sekarang tampak lebih tenang. Dipersiapkannya pakaian untuk ganti dan handuk, kalau kondisinya seperti ini alamat harus dimandikan supaya cepat, diambilnya kursi pelastik yang ada di taman dibersihkan dan terlihat layak pakai. Disimpannya di kamar mandi, Reza sama sekali tidak terganggu oleh kesibukannya hilir mudik benar-benar merasa nyaman rupanya setelah minum air lemon madu kunyit.

__ADS_1


“Mas bangun… “ Hasna mengusap-usap muka Reza hmmmft kalau mau ikut kata hati sih pengennya dikaplok sedikit biar jera… tapi jari tangannya memang sudah memiliki otak sendiri, dicubitnya sedikit pipi Reza sehingga ia langsung terbangun “Awww…. Sakit Raa… kamu tuh kenapa sih jahat banget” Reza mengusap-usap pipinya,


Hasna memandangnya dengan tatapan bermusuhan. “Masih untung gak dibekep sama bantal juga” ucapnya “Duduk lagi sekarang makan sup… Bisa makan sendiri kan” Hasna menyodorkan sup ayam ke depan Reza yang hanya menatap malas


“Aku gak pengen makan mau tidur aja..” ucapnya sambil kembali menyelonjorkan kakinya dan menarik selimut. “Ok… kalau nanti Maura masuk dan mencium bau Mas Reza kaya kambing seperti ini tanggung sendiri. Kalau nanti Hujan masuk dan melihat kondisi Mas Reza acak-acakan seperti ini dan kemudian menanyakan kenapa Papi seperti itu.. Aku tinggal bilang kalau tadi malam Papi kamu mabuk-mabukan sampai muntah-muntah” Hasna mengambil mangkup sup dan beranjak pergi.


“Sini mangkuknya…” Reza langsung merubah posisi duduk… “Hahahah rupanya memang titik lemahnya di anak-anak” pikir Hasna. “Suapin aja ..tangan aku masih lemes gemeteran pegang sendoknya” Reza mengembalikan mangkuk sop pada Hasna. “Makan aja masih mau disuapin pake banyak gaya mau mabuk-mabukan” gerutu Hasna. “Aku bukan mabuk-mabukan tapi menjamu tamuuu” jawab Reza cepat.


“Menjamu tamu tapi bukan berarti harus ikut budaya mereka Mas… Mas Reza tahu gak kalau orang minum alkohol itu maka Allah gak akan menerima solatnya selama 40 hari… 40 hari loh Mas” Reza hanya mendengus sambil mengunyah sup ayam, ternyata setelah masuk ke mulut sup terasa enak dan mengangatkan perutnya. Pusing dikepalanya mulai terasa berkurang. “Kamu tidak mengenal budaya orang Korea kalau dituangkan minuman kita harus minum sebagai tanda bukti kebersamaan” jawab Reza pendek.


“Lah Mas Reza kan orang Indonesia bukan orang Korea.. Kenapa kita harus menghormati budaya mereka disaat budaya kita dan agama kita tidak memperbolehkan minuman beralkohol.. Kok mereka menuangkan alkohol sih, apa mereka gak tanya dulu sama Mas Reza boleh minum gak?” Hasna mulai kesal, rasanya jawaban Reza terlalu mengada-ada. “Yang nuanginnya Arcy… dia nuangin buat tamu korea sama aku” Ehhhh…. Hasna langsung berubah posisi duduk… Si Biang Kerok ini sudah perlu diluruskan keberadaannya.


“Udah kamu jangan ceramah soal si Arcy lagi aku udah bilang sama dia buat gak nuangin minuman terus, tapi dia terus aja nuangin ke gelas..aku pikir karna gelasnya kecil ga akan ngefek banyak". Reza terus memberikan alasan. “Mas.. kamu tuh umur bukan seumuran si Emran 19 tahun.. Udah 35 tahun sebentar lagi mau 40 tahun, masa mau disetir sama perempuan macam dia.. Sampai seberapa penting sih perempuan itu diperusahaan kamu?” Hasna menggeleng-gelengkan kepala. Reza hanya diam dia juga sudah tahu kalau dirinya salah.


“Kerjasama dengan perusahaan Korea itu sampai seberapa hebat dampaknya sama perusahaan sampai harus menggadaikan agama demi keuntungan dunia? Masih mending kalau Mas Reza 40 hari kedepan masih di kasih hidup sama Allah, kalau pas hari ke 25 is dead mau gimana, solat tobat juga gak akan diterima solatnya Mas” Hasna menarik nafas.


“Memangnya kalau gak bisa menjalin kerjasama dengan perusahaan Korea bakalan jatuh miskin? Mau pilih mana kaya tapi masuk neraka atau miskin tapi masuk surga?” tanya Hasna dengan kesal. “Mau kaya tapi masuk Surga” jawab Reza cepat sambil tersenyum. “Jangan senyum dulu… belum bisa senyum kamu Mas… masih banyak dosanya” bentak Hasna kesal. Reza langsung bungkam. Kalau Mamah Hasna sudah berbicara semuanya akan kalah dan bilang iya saja.


“Ayo sekarang mandi supaya gak bau… pengen muntah aku deketnya juga. Sebelum anak-anak bangun harus dibersihkan dulu badannya” Hasna membuka selimut dan menyiapkan sandal untuk Reza. “Tapi aku masih pusing Ra… nanti jatuh lagi di kamar mandi” ucapnya lemas.


“Aku mandiin di shower katanya bagus biar badannya segar, nanti Mas Rezanya duduk, aku udah simpan bangku” Reza langsung bangkit perlahan, diulurkan tangannya ingin dipegang Hasna yang disambut dengan pelototan dan gerutuan “Kolokan tapi banyak lagak pake minum alkohol”.. Reza langsung mendelik “Udah dong dari tadi ngomong terus aku udah nyesel...kenapa sih diulang-ulang” ucapnya “Diulang-ulang biar inget ...kaya anak SD” jawab Hasna mumpung di atas angin jangan dikasih kendor.

__ADS_1


Cukup lama Hasna memandikan Reza, itu karena Reza banyak protes soal sabun, sampo dan air, terlalu panas lah, jangan menggosok terlalu keras lah sampai mengeluh karena samponya masuk ke mata. Duh rasanya ingin sekali menggosok sampai hilang semua dosa-dosanya. Kegiatan gosok menggosok akhirnya terhenti saat terdengar gedoran di kamar mandi.


“Bunaaaaa ladi apaaa… kenapa mandinya beldua sama Papi” hadeuuuuuh banyak protes sih jadi aja keburu bangun anak koalanya.


__ADS_2