
Sepanjang perjalanan pulang energi semua orang sudah terkuras. Hasna yang kaget karena sudah dibelikan mobil diberi guncangan sedikit langsung mengantuk, ditambah anak koala yang nemplok di dadanya semenjak pulang dari appl* store. Memang sudah terlewat waktu tidur siangnya sehingga tadi agak rewel. Hujan yang duduk sendirian di belakang asyik mengulik hape barunya.
“Suka sama handphonenya” tanya Reza yang memandang dari spion” Reza tersenyum melihat anaknya yang tampak fokus berselancar dengan gadget barunya.
“Suka dong, aku udah lama pengen handphone ini” jawabnya pendek.
‘Apa bedanya dengan android biasa?” bagi Reza semua handphone sama saja, hanya perbedaan merk dan harga. Dia tentu saja akan memilih merk yang paling terkenal dan keluaran terbaru karena membawa image perusahaan.
“Kualitas kamera, aplikasi yang bisa dipakai dan kecepatan dalam pengolahan datanya” Hujan menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari hape nya.
“Kualitas kameranya memangnya sebagus apa?” tanya Reza.
“Hmm… sebentar aku tunjukin” Hujan mencari objek yang terdekat, tiba-tiba dia tersenyum
“Hehehe mumpung tidur dua-duanya” ia langsung bergerak maju kedepan. Dilihatnya Hasna yang tidur dengan mangap dan Maura yang sedang tidur mangap dan membuat pulau.
“Hihihihi… objek yang bagus” Hujan langsung memotret ibu dan anak itu dalam beberapa pose. Langsung ia kirimkan ke Papinya.
“Itu udah aku kirim ke Papi” dia terlihat tertawa-tawa sendiri melihat hasil fotonya. Reza membuka pesan dan melihat foto yang dikirimkan Hujan saat mobil berhenti karena lampu lalu lintas. Dia langsung tersenyum, ekspresi ibu dan anak itu sangat lucu, benar-benar tidak ada ekspresi kepura-puraan keduanya tampak saling mengisi dan membutuhkan.
Reza mencoba mengambil foto dengan menggunakan hp nya, ternyata memang terdapat perbedaan warna dan kejernihan dalam foto yang diambil. Saking fokusnya dalam memperhatikan foto ia sampai tidak sadar kalau lampu sudah hijau dan mobil di belakang mengklakson dengan tidak sabar.
Sesampai di rumah suasana terasa berbeda, Reza tidak lagi menutup dan mengunci pintu kamarnya, beberapa kali Hasna melihat pintu kamar terbuka dan Maura keluar masuk di kamar itu, tapi Hasna tidak ingin bertindak jauh dengan masuk ke kamar itu walaupun ia tahu kalau foto dan barang-barang Mitha sudah tidak ada disana.
Masih ada dinding yang memberikan jarak antara ia dan Reza, entah apa yang menjadi masalah, namun baginya Reza seperti sungai yang tidak bisa ia selami kedalamannya. Ada banyak hal yang tidak bisa ia mengerti dan ketahui tapi ia tidak bisa masuk ke dalamnya. Untuk itu Hasna memilih untuk tidak masuk terlalu dalam, sikap Reza yang cenderung emosional dan terkadang terlihat membuat jarak membuatnya lebih nyaman untuk berada di zona aman.
Sore itu setelah istirahat dan mandi menjelang magrib Hasna dan anak-anak duduk di ruang keluarga dan menonton TV kesukaan Maura, Hujan masih sibuk mengutak atik handphone barunya.
“Coba kita selfi ka.. Katanya kualitas kameranya bagus” Hasna mengajak Hujan menunjukkan kualitas gambar handphone yang dibelinya.
Beberapa jepretan dilakukan mereka berdua, sampai kemudian Hasna mengecek gambar-gambar yang baru diambil dan ternyata ia menemukan foto saat ia dan Maura tidur di mobil.
“Kakaaaa…. Kamu iseng banget sih, Buna lagi tidur mangap gini malah diambil… aduuh kamu kaya Aurel ajaaa” Hasna langsung menjerit melihat foto-foto aibnya ada di galeri foto.
“Heeeheheheh jangan dihapus itu properti aku… ini punya nilai jual kalau nanti Buna ngeselin aku sebar foto ini” Hujan langsung mengambil handphone nya dari tangan Hasna. Kalau soal mempertahankan diri dari keaiban Hasna paling jago.. Ia langsung menikung badan Hujan supaya tidak bergerak dan mulai menjelajah foto untuk menghapus dari galeri.
“Papiiiiiiiii…. Paaappiiiiii…. Buna melakukan kekerasan” Hujan langsung berteriak-teriak saat badannya ada di bawah kendali Hasna yang asyik menghapus semua foto.
“Panggil sana Papinya…. Dia juga bakalan kalah sama Buna kalau ditikung ginih..”
“Karena kamu sudah melakukan upaya penghancuran nama baik… Buna hukum kamu digelitikin selama 5 menit” Hasna langsung menggelitiki Hujan yang menjerit karena tidak kuat.
“Jangan Buna…. Ampun aku janji gak akan foto-foto lagi… janjiiiiiii...hahhahahahaha….janjiiiii ...ahahhahahaha” Hujan langsung menyerah kalah. Reza yang baru keluar dari kamar mendengar teriakan Hujan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah keduanya. Saat Hasna melepaskan tikungannya, Hujan langsung mengambil handphonenya dan berlari ke arah Reza.
“Weeee... foto-fotonya aku udah kirim ke Papi… hahahahahha” Hujan langsung bersembunyi di belakang Reza sambil menjulurkan lidah. Hasna langsung melotot ternyata ada persekongkolan saat ia tidur.
“Mas mana hapenya aku mau hapus.. Kalau nyimpen foto tuh yang bagus, bukan foto aib” Hasna langsung mendekat dan menadahkan tangannya meminta hp Reza.
“Gak ada foto-foto aib, aku gak bawa hp...gak tau tadi dimana nyimpennya” Reza berjalan santai ke sofa. Untung tadi dia tidak membawa hape, ditinggalkan di kamar, dan Hasna tidak mungkin mau masuk ke kamarnya. Hasna hanya bisa melotot kesal, ternyata ayah dan anak itu suka kompak kalau sudah menyebalkan. Kekesalan Hasna terpotong saat Mbak Jumi datang dengan membawa sepiring besar gorengan bakwan.
“Uwooow bala-bala” teriak Hasna, kekesalannya langsung sirna melihat makanan kesukaannya.
“Bala-bala oppo… iki bakwan” Mbak Jumi tersenyum melihat Hasna yang langsung menyambar makanan di meja sofa.
“Ehhhh… Mbak ini mana cengeknya…. Cabe rawit mana?” Hasna langsung mencari-cari cabe rawit yang selalu menjadi penyerta saat ia makan bakwan.
“Laaah anak-anak nda suka makan pedes, Tuan juga nda sukaa jadi gak dibawain” Mbak Jumi langsung berkerut tidak biasanya menyediakan cabe rawit di rumah ini, palingan mereka suka dicocok ke saus sambal.
“Waaah ini mah belum tau ceritanya yaaa… bahayaaaa” Hasna langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Celita apa Buna…” Maura langsung memalingkan mukanya dari TV saat mendengar Hasna menyebut soal cerita
__ADS_1
“Buna gak bisa cerita kalau gak ada cabe rawitnya … Buna takut nanti kenapa-napa” Hasna menunjukkan muka yang sangat serius. Reza hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan Hasna, Maura langsung bersikap serius menanggapi ucapan Hasna.
“Mbak... mola mau ambil cabe walit buat Buna” ia langsung menarik-narik tangan Mbak Juma supaya mengantarnya ke dapur.
“Buna boong.. Mana ada cerita soal makanan” Hujan dengan kalemnya mulai memakan Bakwan yang ada di meja bersama Reza.
“Terserah… ini kan cerita yang ada di Sunda… kalau makan bala-bala itu musti pakai cengek kalau gak nanti ada yang datengin” ucap Hasna serius.
“Jangan suka cerita yang mistis-mistis sama anak-anak mereka nanti gak bisa tidur” Reza langsung memotong.
“Ini bukan cerita mistis tapi cerita rakyat” bisa ae Hasna berkilah, yang penting hari ini dia ingin membalas kekesalannya soal foto pada bapak dan anak itu.
“Ini Buna cabe walitnya” Hasna langsung tersenyum Maura masih tertukar dalam berbicara.
“Terima kasih yaaah cabe raaawwiitnya… apa Maura.. Raawiit kalau di sunda disebutnya cengek” ucap Hasna
“Waalit ehh laawit….. Ngengek” jawabnya cepet… aduh anak gemoy ini, bikin pengen di uwel-uwel…
“Makasih sayang… Buna sekarang bisa makan bala-balanya dengan tenang”
“Kenapa orang Sunda nyebutnya bala-bala?”Hujan melihat Hasna yang makan bakwan dan cabe rawit dengan nikmat.
“Bala itu arti berantakan nah gorengan bakwan itu kan bentuk sayurnya acak-acakan gak rapi nyampur banyak ada wortel, kol, buncis bercampur jadi satu pakai terigu kemudian digoreng”
“Karena berantakan jadi disebut gorengan Bala-bala… atau sayuran berantakan….hehehe” Hasna menikmati gorengan yang sudah lama tidak dimakannya.
“Celitanya gimana Buna..” Maura merengek meminta cerita sore. Ok baiklah akhirnya Hasna menelan bakwan yang terakhir
“Jadi begini cerita ini terjadi di suatu kampung… ada laki-laki yang bernama Pak Oon”
“Bukan celita binatang Buna” tanya Maura
“Nama yang aneh Oon” Hujan langsung cekikikan mendengar nama tokoh cerita.
“Khas nama orang Sunda jaman dulu itu namanya suka diulang Ka.. Kalau depannya Oon nanti nama belakangnya ada pengulangannya seperti Oon Suroon” terang Hasna
“Bukan Oon Bloon” Hujan langsung tertawa, Reza yang mendengar candaan anaknya tampak berusaha menahan tawa.
“Kamu kualat loh ngetawain nama orang” ucap Hasna berusaha serius.
“Kalau pengen ketawa ketawa aja Mas ...mumpung gak di denda” sambung Hasna yang melihat muka Reza gemay-gemay bikin pengen jembel. Mba Jumi nampak seperti sibuk membereskan meja, berusaha mendekat supaya bisa mendengar cerita Hasna.
“Kesini aja Mbak.. gak usah malu-malu kalau pengen dengerin cerita, biar gak penasaran” Hasna ingin tertawa melihat keluarga ini seperti malu-malu kalau ingin mendengarkan cerita. Mbak Jum langsung tersenyum malu, dan duduk di meja makan melihat keluarga majikannya.
“Saya sambil beresin meja saja Neng… kedengeran kok ceritanya” ucapnya sambil tersenyum.
“Ok Buna terusin yah… jadi Pak Oon itu kerjaanya bertani kalau pagi hari dan kalau punya waktu lenggang dia suka sekali memacing ikan”
“Kaya Mola suka manting ikan di kolam Babab” Anak koala selalu ingin masuk kamera.
“Iya… sama kaya Maura senang memancing, nah cuman kalau Pak Oon sukanya memancing di sungai atau di danau”
“Sudah hampir seminggu Pa Oon memancing ikan disungai tapi tidak mendapatkan ikan seekorpun.. Sampai akhirnya dia kesal” Hasna memperhatikan kalau semua orang memperhatikan, kecuali Reza yang matanya memperhatikan TV tapi entah dengan telinganya.
“Akhirnya Pak Oon kesal, kemudian dia bilang sama istrinya.. “Ibuna… bapak mau mancing ke danau yang ada di pinggir desa… kayanya kalau di danau itu masih banyak ikannya” Pak Oon berbicara pada istrinya yang ada di dapur”
“Ehhh bapak… kata si Ibu.. “Itu kan danau terlarang banyak penunggunya… jangan kesana ah..takut bisi nanti gak pulang lagi” Si ibu melarang suaminya pergi. Karena danau itu terkenal seram dan banyak hantunya” Hasna melihat muka Maura sudah mulai tegang dan mendekat dan memegang dengkulnya.
“Mola kalo dengel celita hantu suka tatut” ucapnya sambil memegang tangan Hasna.
“Hahahahah ya udah yah jangan diterusin” kata Hasna melihat Maura.
__ADS_1
“Ah ade gimana sih… gak apa-apa nanti kan kamu tidur sama Buna sama kakak ga usah takut, ini cerita boongan kok” Hujan rupanya mulai penasaran. Akhirnya Maura mengangguk-angguk, Reza tampak tidak berkomentar padahal biasanya ia suka melarang Hasna membuat cerita yang menyeramkan.
“Buna terusin yah.. Walaupun istrinya melarang untuk pergi memancing tapi Pak Oon bersikeras ingin pergi, ia sudah kesal karena sudah seminggu lebih tidak mendapatkan Ikan untuk dimakan bersama keluarganya. Kemudian ia meminta istrinya untuk menyiapkan bekal untuk nanti siang.. Sepulang ia dari sawah ia akan ke Danau Terlarang dari siang sehingga bisa mendapatkan ikan lebih banyak”
“Siang harinya setelah Pak Oon pulang dari sawah, ia membawa banyak cacing untuk menjadi umpan saat ia memancing, kemudian dia membawa bekal makanan dan minuman yang banyak supaya bisa memancing lebih lama”
“Pak Oon pun berangkat ke danau terlarang, ia sangat bersemangat karena orang-orang jarang pergi kesana jadi dia berpikir kalau ikan-ikan disana tentu banyak dan besar-besar”
“Begitu sampai disana, Pa Oon langsung memasang pancingannya.. Sambil makan siang dia menunggu pancingannya mendapatkan ikan…. 1 jam berlalu tapi tak ada satupun ikan yang terpancing… akhirnya Pak Oon pindah tempat.. Dia kemudian melemparkan lagi pancingan ...wussssshhhh…. Tampak mata pancingnya bergerak-gerak tapi tidak ada ikan yang menariknya...saat ditarik ternyata cacing yang dikaitkan di mata pancing sudah tidak ada”
“Pa Oon kemudian melemparkan lagi mata pancing… wusssshhhh… langsung terlempar jauh… dan terlihat mata pancingnya bergerak-gerak yang langsung ia tarik karena menyangka mendapatkan ikan … tapi ternyata bukan juga…. Tapi cacing nya sudah tidak ada juga… Pak Oon mulai kesal. Kemudian ia terus berpindah pindah tempat supaya bisa mendapatkan ikan tapi ternyata ikan di danau ini sangat pintar, tak satupun yang didapatkan” Hasna melihat semua orang sudah mulai tertarik dan fokus pada ceritanya Reza mengecilkan suara tv, Maura matanya melotot melihatnya begitu juga dengan Hujan, yang lucu adalah Mbak Jum kursinya sudah berpindah posisi mendekati sofa dan menatapnya dengan penuh keingintahuan. Hasna berusaha tetap serius
Hari sudah mulai gelap, Pak Oon pun takut kalau dia kemalaman bisa-bisa dia tersesat, karena danau ini letaknya agak jauh dari kampungnya. Tapi dia masih penasaran, dilihatnya bekal umpan pancingnya sudah habis, tidak ada cacing yang tersisa yang ada hanyalah bala-bala yang dibuatkan oleh istrinya sebagai bekal makan siangnya tadi.
“Ahhhh coba saja tanggung, mungkin ikan di sini senangnya makan goreng bala-bala pikir Pak Oon. Kemudian di mengaitkan bala-bala ke dalam mata pancingnya…. Wussshhhhhhh...dia lemparkan tapi tidak terlalu jauh karena bala-bala lebih berat daripada cacing… dia melihat mata pancingnya langsung masuk dan terasa ada yang menarik pancinganya… langsung ia tarik tapi naas ternyata tidak ada ikan… bala-balapun sudah tidak ada… Pak Oon sangat heran”
“Kemudian dia mengaitkan bala-bala terakhir yang dia miliki dan dilemparkannya lagi...wussshhhh kali ini agak jauh… tapi kejadiannya sama seperti ada yang menarik tapi tidak ada ikannya…. Akhirnya Pak Oon menyerah hari sudah mulai gelap, dia segera membereskan alat pancingnya dan pulang… hari yang benar-benar sial sudah pergi jauh tapi masih saja tidak menemukan ikan”
“Sesampainya di rumah ia membersihkan diri dan pergi solat, ia tidak bercerita banyak pada istrinya soal umpan cacing dan bala-bala yang seperti habis dimakan tapi tidak ada ikannya. Dia hanya bilang kalau danau disana tidak ada ikannya sehingga tidak pulang membawa ikan.”
“Karena lelah Pak Oon langsung tidur setelah sholat Isya.. ia harus banyak istirahat supaya besok bisa kembali ke sawah… tapi apa yang terjadi…” Hasna menghentikan bicaranya dan melihat kepada orang-orang yang sedang mendengarkan ceritanya. Tidak ada seorangpun yang tidak melihatnya termasuk Reza tidak sadar langsung menatapnya.
“Saat tengah malam saat semuanya tertidur lelap… terdengar ketukan di pintu…. Dok...dok..dok… istri Pak Oon kaget… ini jam 1 malam siapa yang bertamu malam-malam.. Ia membangunkan suaminya… Dok...dok..dok….. Terdengar lagi suara ketukan di pintu… Si ibu langsung membangunkan Pak Oon… “Bapak..bapak bangun ..itu siapa yang mengetuk pintu malam-malam ibuuuuu takuttt….. Dok...dok...dok…. Terdengar ketukan pintu”
“Pak Oon terbangun… dia bingung mendengar ketukan di pintu, istrinya mengkerut di tempat tidur ia tidak berani bangu… “Ibu temani bapak kedepan.. Bapak gak berani sendiri” kata Pak Oon….”Ah gak mau… bapa aja sendiri”....dok...dok...dok… terdengar lagi ketukan pintu”
“Buna Mola tatuuut” Maura langsung duduk di pangkuan Hasna. dan langsung dipeluk olehnya
“Akhirnya si ibu menemani Pa Oon ke depan untuk membuka pintu…. Pak Oon kemudian berteriak… “sahaaaa eta… siapa ituuu” Hasna langsung menterjemahkan
“Aaabbbdiiiii…. Sayaaaaa….. Terdengar suara yang berat dan dalam… suaranya seperti bukan suara manusia… Pak Oon dan istrinya langsung berpegangan tangan mereka sangat ketakutan… Ceuk ibu juga jangan ke Danau terlarang…. Jadi aja giniiih .. istri pak Oon menyalahkan suaminya yang pergi ke danau terlarang”
“Bukaaaa pantooo… buka pintuuuu…. Dok...dok...dok… mahluk yang di depan pintu terus mengetuk pintu… akhirnya Pak Oon sambil membaca doa kemudian perlahan-lahan membuka pintu… kreeeeeeetttt” Hasna melihat Hujan mendekat ke arah Reza dan duduk menempel di Papinya… Hasna ingin tersenyum usaha balas dendamnya berhasil.
“Manneehhhh sahhhhaa… kkkammu ssiiappaaaa…. Pak Ooon dengan gemetaran bertanya pada mahluk hitam tinggi besar yang berdiri di depan pintu rumahnya” Hasna melihat Hujan sudah berpegangan pada Reza yang tampak pura-pura acuh melihat ke TV, Mbak Jumi sudah merapat ke sofa dan menatap Hasna dengan tatapan yang sulit dijelaskan tapi lebih enak untuk ditertawakan… lucu polos dan ketakutan.
“Maanehh anu tadii manciing di situuu…. Kamuu yaang tadiii manciiiing dii danau” mahluk itu bertanya pada Pak Oon..
“Muuuhuuuun… iyaaaaa” jawab Pak Oon dengan ketakutan.
“Cengeek na manaa….. Cabeenya maanaa” teriak mahluk itu dengan keras” Hasna sudah tidak tahan ingin tertawa.
“Cengeeekk…. Cabeee?” Pa Oon seperti kebingungan menjawab pertanyaan mahluk itu.
“Tadii maneeh ngalungkeun balaa-balaa tapi teu makee cengeek… ayeuuna cengeeek na manaaa…. Kamuu taddi melempaarkan bakwaan tapi tidak pakaai cabeee sekaranggg cabeee nya manaaaa” teriak mahluk itu…. Pak Oon langsung pingsan… rupanya tadi bakwan yang ia lemparkan di pancingan dimakan oleh makluk itu tapi dia memang tidak membawa cabe rawit.
“Ieuuu cengeekkna mangggga… iniii cabenyaa silahkan” Bu Oon langsung melemparkan seplastik cabe dari dapur…. Begitu mendapatkan cabe wussshhh mahluk itu pun langsung hilang…
Hasna langsung tertawa-tawa melihat ekspresi semua orang yang bengong dengan ending cerita itu…
“Ahhhh. Sialan kirain beneran… ternyata mahluk yang doyan makan bakwan… Buna gak lucu” Hujan langsung marah-marah sambil tersenyum… dia benar-benar tertipu.
Untuk pertama kalinya Hasna melihat Reza tersenyum dengan malu-malu menahan diri, supaya tidak tertawa lebar.
“Mola ga ngelti…” anak koala tampak kebingungan, sedangkan Mbak Jumi tampak tertawa cekikikan.
“Mbak mulai sekarang mau nyiapin cabe rawit ah Neng daripada nanti ada ngetokin pintu si mbak” ucapnya sambil tertawa-tawa dan pergi ke dapur.
“Udah ah Mola kita sholat Magrib aja dulu” Hasna mengandeng anak koala untuk ikut dengannya ke atas.
“Mas sholat Magrib nanti baca doa yang khusyu dan panjang… takut nanti ada yang ketok-ketok nanyain cengek.. Soalnya tadi Mas Reza makan bakwan gak pakai cabe” Hasna tertawa tawa sambil beranjak pergi. Reza memegang tangannya dan berbisik.
__ADS_1
“Yang ada saya yang ketok-ketok tengah malam di kamar kamu trus ngomong “Hasnaaanya manaaa… mau saya bikin bakwan” bisiknya sambil tersenyum…. wah ini sih ceritanya lebih Horor dari yang tadi.
Alamat musti tidur bareng Maura aja nanti malam