Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Mulutmu Harimaumu


__ADS_3

Di dalam ruangan kantor tampak Reza berdiri menghadap keluar jendela, Hasna mendekat dengan penuh perasaan emosi, melihat tampilan Arcy yang seperti berantakan membuatnya mulai berpikir terlalu jauh, apalagi dengan kondisi ruangan yang dikunci.


“Mas… apa-apaan sih kenapa kalau mau diskusi dengan Arcy harus mengunci pintu segala” Hasna berkata dengan keras, ingin rasanya melemparkan kantong kertas berisi kue kedepannya. Reza membalikkan tubuhnya, bukan muka bersalah yang didapatkan tapi muka penuh kekesalan. Hasna terhenyak perasaannya bercampur aduk antara sedih, kecewa, kesal dan marah melihat kejadian tadi.


“Kamu sudah berapa kali saya bilang untuk menjaga sikap...tapi kamu selalu saja bersikap seenaknya” Reza langsung membentak, matanya menatap tajam. Hasna terbelalak… gak salah ini kenapa malah dia yang harus menjaga sikap.


“Haaah… gak salah ngomong Mas… ngomong sama aku atau Mas sendiri?” Hasna tertawa sinis. Dia terhenyak di kemeja Reza tampak noda berwarna merah seperti lipstik, Hasna mendekat di sudut bibir Reza tampak juga warna merah seperti lipstik. Hasna langsung menggigit bibirnya kesal, air mata sudah menggenang di matanya.


“Mas Reza melakukan apa barusan sama Arcy? perzinahan?” ucapnya getir. Airmata sudah mulai menetes dari matanya.


“Jaga omongan kamu… bukannya kamu yang selalu tidak bisa menahan diri untuk tidak berdekatan dengan laki-laki lain… kemarin dengan si Arkhan sekarang dengan si Arya seperti Piala Bergilir saja” Hasna langsung merasa ditusuk pisau ke dadanya. “Mamaaaa…. Apa ini sakit sekaliiiiii” ia terdiam tidak mungkin Mas Reza berbicara seperti itu.


“Aaaapa… apaa Mas bilang barusan… aku piala bergilir..” ucapan Hasna tersekat pisau itu menancap terlalu dalam.


“Iyaaa… kamu tidak pernah bisa menjaga nama baik, memalukan” Reza terus mengumpat-ngumpat. Hasna masih terlihat syok, ia berpegangan pada kursi di meja. Dadanya terasa sesak.


“Aku memalukan apa?” Hasna berpikir ia dari tadi tidak bertemu dengan siapa, hanya dengan Arya dan Maytha. Air matanya terus mengalir, “Mas Reza tadi melihat aku dan Mas Arya dan Mbak Maytha di cafetaria? Itu yang disebut memalukan? Aku makan dengan mereka di ruang makan itu memalukan? LEBIH MEMALUKAN MANA DENGAN BERCIUMAN DENGAN PEREMPUAN LAIN DI DALAM RUANGAN TERTUTUP” Hasna berteriak dengan penuh kekecewaan, dadanya terasa penuh kesedihan.


“Aku hanya berbicara dengan Mas Arya di cafetaria karena menunggu Mas Reza rapat, aku memilih berbicara di sana karena tidak mungkin diam di ruangannya tanpa ada orang lain, aku tidak mau ada fitnah… aku tidak ada hubungan apapun dengan Mas Arya…jangan berpikir kelewatan Mas… “


“Kamu bisa menunggu di ruangan ini diam tidak usah bertemu dengan siapa-siapa kalau mau bertemu saya… Mitha bisa melakukan itu KENAPA KAMU TIDAKKKKK” Reza balas berteriak karena merasa kesal.


“KARENA SAYA BUKAN MITHA MAS… Mbak Mitha tidak pernah kerja ...dia tidak pernah punya teman kerja disini, dan tidak ada teman kuliah karena berhenti… di SMA temannya juga cuma kamuu kan Mas…. AKU BUKAN MITHAAAAA” Hasna menangis tersedu-sedu…


“Teman aku banyaaaakkk…. Aku berteman sama semua orang…. Aku cuma mau berteman... nggak mau apa-apaaaa” Hasna terus menangis… Baru pertama kali dalam hidupnya ia merasa kalau dirinya dianggap biang masalah karena memiliki teman.


“Hahaha… itu pikiran kamu..laki-laki bisa berhubungan dengan perempuan manapun tanpa memakai perasaan, selama perempuan itu menarik dia akan dengan senang hati berdekatan dan intim dengannya” Reza tertawa sinis…. Hasna langsung menengok kepadanya, ucapan Reza barusan terasa membuat pisau yang menancap tadi merobek hatinya.


“Ohhhh aku baru tahu seperti itu pikiran Mas Reza tentang perempuan… Aku perempuan baik-baik yang hanya akan mau berhubungan dengan laki-laki yang halal untuk aku, laki-laki yang menjadi imam… laki-laki yang aku sukai dan cintai. Saya cuma bisa melakukan itu dengan kamu Mas... saya tidak pernah melakukannya dengan SIAPAPUN” Hasna menarik nafas… dengan bibir bergetar kemudian ia bertanya


“Aku sekarang tanya sama Mas Reza… aku ini siapa buat kamu… jangan sebut ibu dari anak-anak… saya tanya sebagai perempuan…. Aku ini punya arti apa buat kamu?” dengan terengah Hasna menatap Reza, mukanya sudah penuh dengan airmata.

__ADS_1


Reza mendengus sambil memalingkan wajahnya “Dari dulu aku tidak pernah suka mengatakan hal-hal yang tidak berguna seperti itu… Mitha juga tidak pernah menanyakan itu” ucapnya.


“AKU BILANG AKU BUKAN MITHAA… AKU HASNA...HASNA HUMAIRA PUTRI… Sekarang aku tanya dan harus dijawab … APA ARTINYA AKU BUAT KAMU… APA PERASAAN MAS REZA KEPADAKU SEBAGAI PEREMPUAN?” Hasna menunjuk unjuk dirinya dengan penuh tekanan.


Reza memalingkan wajahnya ke jendela mukanya penuh dengan rasa marah dan kesal. Ia tidak menjawab hanya diam dan bersandar pada meja.


Hasna menunggu dalam diam tapi jawaban yang ditunggunya tidak kunjungan terucap dari mulut Reza. Hasna tiba-tiba tertawa “Hahaha bodoh kamu Hasna bodohh….. Ahhhahahahah bodoh…. Ahahahhaha bodoh" Hasna memukul mukul kepalanya, kembali ia berkata… "Mama anak kamu perempuan yang bodoh .. benar-benar bodoh….” ia kemudian berbalik mengambil tas yang terjatuh di kakinya… menyeka air matanya dan berjalan keluar.


Reza tidak bergeming, tidak berbalik ataupun mengatakan apapun, ia mendengar pintu ruangan terbuka dan kemudian tertutup perlahan. Dalam keheningan ruangan Reza terdiam, otaknya barusan seperti pecah… tidak bisa berpikir dengan jelas apa yang ia ucapkan, hanya meluapkan apa yang ingin dia ungkapan tanpa mencerna maknanya. Nafasnya masih tersenggal.


Reza PoV


Rapat hari ini berjalan dengan mengesalkan, semua target tidak tercapai dan terkesan seadanya padahal perusahaan yang ingin menanamkan modal investasi terus bertambah. Rasanya ingin berteriak dan membuat mereka berpikir, rasa-rasanya setiap informasi dan koordinasi sudah maksimal aku lakukan tapi kenapa pergerakan mereka lambat semua seakan-akan tidak ada target yang harus dicapai.


Saat kulihat pesan ternyata Hasna datang ke kantor, mau apa dia saat suasana kerja sedang penuh, bukankah hari ini tidak ada jadwal kuliah. Saat rapat ditutup aku langsung ke ruangan, ku harap dia masih menunggu disana. Saat kubuka pintu ternyata dia tidak ada disana, kemana dia.Di pintu aku berpapasan dengan Aswin.


“Win kamu lihat Hasna?” Aswin menggelengkan kepalanya, kemudian aku berpapasan dengan Arcy dan Prita, tampaknya mereka akan makan siang. “Prita kamu lihat istri saya?” Prita malah melirik Arcy, seperti menunggu persetujuan. Kulihat Arcy menaikan alisnya sambil tersenyum, mengesalkan bukannya menjawab.


“Tadi katanya mau ketemu sama Arya Pak di lantai tujuh sudah lama tidak bertemu” Prita menunduk kulihat  Arcy langsung tersenyum melihat kearahku. “Wajarlah kalau anak muda pengen ngumpulnya sama yang muda lagi kalau ada kesempatan… biarin lagi aja ….” Aku langsung meninggalkan mereka.


“Tumben sekarang rajin datang ke kantor? Bukannya dia kuliah?” aku pernah cerita dulu kalau Rara sekarang kuliah, gara-gara dia terus berbicara menanyakan hubungan Arkhan dan Hasna hingga akhirnya aku jelaskan kalau mereka sekarang teman kuliah di kampus.


“Hebat yaaa… untuk ukuran perempuan yang tidak suka dandan dia punya banyak teman laki-laki. Arya itu termasuk laki-laki yang most wanted di kantor ini, tapi dia langsung takluk sama Hasna...punya susuk kayaknya dia… sampai kamu juga jatuh ke pelukan dia” Arcy kalau ngomong memang selalu mengesalkan.


“Aku ingat waktu acara gathering dulu mereka kan nyanyi berdua, kayanya berkesan banget buat Arya… denger-denger pas kawinan kamu juga dia nyanyi lagi buat Hasna… lu gak cemburu Za punya bini banyak yang suka hahahahha… lagian umurnya dibawah lu juga pada muda” hari ini betul-betul mengesalkan, terlalu banyak orang yang banyak bicara yang mengesalkan.


“Kamu bisa diam? Hari ini saya lagi ga mood ngomongin hal pribadi” saat lift terbuka di lantai dua aku langsung mendahului dia, ternyata memang Hasna ada di sana bersama Arya, mereka terlihat asyik ngobrol berdua dan tertawa. Aku langsung merasa kesal, kenapa dia tidak memikirkan kalau orang akan melihatnya sebagai istri GM tapi malah asyik ngobrol dengan staf laki-laki dengan akrab. Dia tidak pernah tertawa lepas seperti itu saat bicara denganku. DImana harga diriku…


“Jangan ribut disini .. kamu mau orang-orang melihat kamu melabrak istrinya dengan staf di cafetaria. Dimana harga diri kamu” Arcy menarik tanganku. “Benar juga … pasti akan menjadi bahan pergunjingan kalau orang-orang melihat aku menyeret Hasna dari meja itu...kenapa dia tidak pernah belajar dari pengalaman. Apa susahnya mendengarkan permintaanku… apakah memang sulit untuk menjaga jarak dengan laki-laki lain…. Kenapa begitu menyulitkan untuk memberi pengertian pada perempuan ini”


Akhirnya aku memutuskan kembali ke ruangan, aku ingin tahu sampai dimana kesadaran dia untuk bisa menjaga nama baik suami di kantornya sendiri.

__ADS_1


“Mitha dulu gak pernah ngobrol sama staf… aku ingat kalau dia kesini dia selalu menunggu kamu di ruangan kalau lagi rapat… padahal kamu rapat lama juga sampai dua jam” Arcy malah mengingatkan aku pada penderitaan yang aku berikan pada Mitha.


“Kenapa dulu kamu tidak memberitahu kalau Mitha menunggu aku di ruangan? Waktu itu dia lagi hamil paling tidak kamu harus memberikan pesan padaku.. Kamu tahu kan kalau aku sedang rapat aku tidak pernah melihat handphone” sampai sekarang aku masih merasa kesal karena kejadian itu, perasaan bersalah itu tidak pernah hilang.


“Well…. Kita kan harus profesional.. Masa saat rapat penting kamu harus izin karena mengantar istri untuk periksa kehamilan” dia tampak tidak peduli.


“Sebagai perempuan seharusnya kamu lebih peduli Arcy… karena kamu juga akan mengalaminya kalau kamu menikah nanti” dia seharusnya berpikir dari sisi perempuan. Aku tinggalkan dia dan masuk ke ruanganku.“Haaah… seharusnya kamu yang lebih peduli pada perasaanku”


Aku bisa mendengar Arcy berbicara itu tapi aku pura-pura tidak mendengarnya, hari ini terlalu memusingkan dan mengesalkan. Saat kudengar ketukan di pintu aku kira Rara yang datang tapi ternyata Arcy.


“Ada apa lagi?” mengesalkan dia seperti bayangan yang selalu saja mengikuti aku pergi.


“Ada staf yang telepon ke Prita dan bilang liat bini lu lagi makan-makan sama Arya.. benar-benar gak bisa menjaga sikap… seluruh staf jadi bergunjing seharusnya dia cari tempat yang tidak dilihat sama orang kalau mau ketemuan sama laki-laki lain”


“Maksud kamu apa sih? Kamu nyebut istri saya selingkuh” aku jadi semakin kesal mendengarnya.


“Ahahahahahahahha sorry sorry kejauhan yah omongan aku… udah dong Za jangan sampai emosi kaya gitu.. Lu musti ngerti kalau istri lu tuh masih muda, masih pengen ketemu sama yang seumuran sama dia, kamu mestinya ngasih kebebasan dong sama dia… kasian tiap hari mesti ngurusin anak-anak kamu.. Gak hamil sendiri tahu-tahu disuruh ngurus anak orang… kebayang ….hahahahhaha kalau aku sih bakalan bete dan cari hiburan kaya sekarang” perempuan ini terlalu banyak mengoceh.. Ia sekarang malah menerima telepon


“Kamu bisa diam gak” aku semakin pusing mendengarnya…”aku mau istirahat”


“Ahahahahaha kamu semakin marah semakin terlihat menantang” dia malah mendekat dan seperti tidak peduli dengan kekesalanku.


“Lihat ini kerutan dibibir kamu semakin terlihat” ia malah mengusap bibirku, apaan sih dia semakin mengesalkan. Dia jadi semakin suka menyentuh, ku tepiskan tangannya yang memegang bahuku.


“Aku mau istirahat..” saat kudengar ketukan pintu … Hasna rupanya… perempuan itu dari tadi baru datang sekarang ke ruangan… apa saja yang dibicarakan dengan laki-laki itu.


“Ahahahah dia akhirnya datang juga… coba tanyakan lebih fresh gak ketemuan sama mantan ttm” ingin rasanya membungkam mulut perempuan ini.


Tok..tok… terdengar suara “Mas mas… ini aku Hasna” apa lagi maunya… bukannya masuk .. kepalaku rasanya ingin meledak…


**********************

__ADS_1


Mas Reza... yang pengen meledak gak cuma dirimu tapi juga para deterjen disini juga meledak komentarnya… Saya sharing cerita ini bukan ingin membuat konflik sinetron tapi ingin mengajak kita berpikir bahwa semua hal terjadi sebagai hukum sebab akibat… tidak akan ada kejadian kalau tidak ada pemicunya… terkadang kita gampang mengambil kesimpulan dan membuat suatu keputusan berdasarkan informasi dari apa yang terlihat saja tanpa berusaha mencari tahu apa penyebabnya dan kenapa sampai seperti itu. Untuk itu jangan mudah reaktif atas suatu kejadian.. Berpikir dahulu baru kemudian bereaksi … banyak-banyak minum yaaaa biar gak emosi. Saya kan udah bilang ini episode rollercoaster… ada nanjak kemudian turun, kemudian datar… cuma yang ini tanjakannya terjal sekali… sabar yaaa… jangan marah-marah nanti imunitas turun… Pandemic belum lewat.. Stay safe yaa gurlz...


*************************


__ADS_2