Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Kesetrum Lagih...


__ADS_3

Hasna menoleh ke kiri, hatinya tercekat.. itu suara Mbak Maytha..


"Mbak..." Hasna meringis, kenapa dia merasa tercyduk.. padahal tidak melakukan kesalahan apapun.


"Ehhh... Maura sudah boleh pulang.. Selamat malam Pak" Maytha menyapa Pak Reza yang tampak sedang menahan Maura yang asyik bergelayutan.


Reza mengangguk dan tersenyum tipis. Ia menarik Maura dan memangkunya.


"Maura kita masuk duluan, Kak Hasna ada temannya dulu"


"Mola mau sama Kak Asna" Anak koala ini langsung merentangkan tangannya ingin dipangku Hasna.


"Sama Papi saja, Kak Hasna ada temannya" Reza memaksa akan membawa Maura masuk


"Nda mahuuu... aaawwhhhh" Maura mulai menangis sambil merentangkan tangannya ke arah Hasna


"Biar Pak sama saya, sebentar koq Pak, jangan sampai menangis nanti takut drop lagi kondisinya" Hasna segera mengambil Maura dari pangkuan Reza


"Kalau begitu saya pesan duluan ke dalam" Reza beranjak masuk, dia tahu kalau keberadaannya di sana membuat mereka canggung.


"Mbak maaf tadi aku gak ikut rapat, ginih dehh anak koalanya lagi manja" Hasna tersenyum tipis.


"Gak apa-apa, tadi sama Arya sudah dilaporkan kok progres kerjaan kamu, udah sana kamu masuk aja, kasian diluar dingin. Nanti sakit lagi Mauranya... besok kita ngobrol yah" Maytha mendorong Hasna masuk.


"Mbak gak beli ayam?" Hasna bingung kenapa Maytha ada disana


"Sudah aku take away, ini dimasukin ke tas, ribet kalau pake KRL bawa kresekan ntar kesangkut-sangkut... aku duluan yah" Maytha melambaikan tangannya.


Hufffttt... nasib, mau gimana lagi ketauan sama Mbak Maytha. Lagipula memang gerai makanan cepat saji ini dekat kantor sih.. Pak Reza lagian kenapa makannya memilih disini, jauhan dikit sebelum sampai jangan dekat daerah kantor. Ya sudah mau bagaimana lagi, besok pasti akan diintograsi deh sama Mbak Maytha.


"Papiii... " Maura memanggil Pak Reza yang tampak sedang mengantri makanan.


Dan Hasna yang sedang memangku Maura tampak tercekat, untuk pertama kalinya dalam hidupnya dia melihat seorang manusia tampak seperti laki-laki. Kemeja tangan panjangnya tampak digulung hingga ke siku, efek lampu yang terang di counter penjual menjadikan Reza seperti bintang diantara para pembeli yang lain.


Hasna segera memalingkan kepalanya, dia merasa kaget nafasnya seperti terasa sesak... hufft tarik nafas.


"Mola mau main kesana boyeeeh" Maura menunjuk ke arena bermain.


"Maura kan baru sembuh dari sakit, tadi dokter minta Maura untuk istirahat dulu di rumah, jadi jangan langsung bermain dulu"


"Nanti kalau Maura sudah istirahat di rumah, Maura boleh bermain lagi dimanapun sepuas Maura... Maura ga pengen ke rumah sakit lagi kan?" Hasna tidak mau Maura lelah sepulang dari rumah sakit, kondisinya harus dijaga terlebih dahulu


"Sekarang kita cuci tangan dulu yah"


"Iyah... Mola nda mahu ke lumah syakit lagi..... aaatiit tangan molanya" Maura mengusap-ngusap tangan bekas infusannya.


"Iya kamu jagoan ih... kuat banget... dikasih air terjunnya banyak gak kemarin?" Hasna menggesek-gesekannya hidungnya ke rambut Maura... hmmm bau asem tapi enak beginih...hihihi

__ADS_1


"Ail teljunnya sama sustel diganti ganti gak habis habis" Maura cemberut


"Hahahahahah.... telinganya nge gedein dong... coba Kak Hasna pegang" Hasna memegang telinga Maura


"Waduuuuuhh towewwww....toweeewwww... ini telinganya lebar beginih... bisa dipakai terbang Mor..hahahahhahaha" Hasna asyik mengganggu Maura


"Telinga Mola engaa duedheee... nanti Molanya telbangggg Ka Asnaaa....whoaaa" Maura jadi meyek meyek mau nangis....


"Hahahahahah jangan nangisss hahahahah tayang tayaaang... kan air terjunnya udah abis jadi telinganya kecil lagiiii....hahahaahha... ini coba pegang telinga Ka Hasna sama dengan Maura" Hasna menawarkan telinganya untuk dipegang Maura.


"Ka Asna telinganya telasss.." Maura membandingkan telinganya dengan telinga Hasna


"Hahahahahahha masa sihhh" dipegangnya telinga Hasna sediri, memang keras. Hasna jadi teringat komentar Mama tentang telinganya kalau sifat keras kepalanya tercermin dari kerasnya daun telinga Hasna, mirip sama punya Ayah katanya, keras makanya cocok sama-sama keras kepala.


"Kenapa..." Reza datang dengan membawa makanan ke meja.


"Papi telinganya telass ga" Maura berdiri dan memegang telinga Reza.


"Telinga papi nda kelasss... telinga Ka Asna telass... Ka Asna halus dkasih ail teljun supaya ga telas....."


"Hahahahahah ... iya nanti Kak Hasna minum air terjunnya biar gak keras" Hasna tertawa logika Maura sangat cepat, dasar anak koala pinter.


Reza menggeleng-gelengkan kepalanya. Obrolan Hasna selalu saja berbeda dengan obrolan manusia normal, kalau sudah berbicara dengan anak kecil.


"Maaf saya tidak menanyakan menu apa yang kamu makan.. saya pilihkan saja yang paling cepat dan ada" Reza menyodorkan piring berisi ayam nasi dan perkedel ke depan Hasna


"Gak apa-apa saya orangnya segala masuk" Hasna langsung menyambut piring dari Pak Reza


"Kamu makan saja sendiri, tadi siang kan tidak sempat makan, Maura saya yang suapi" Reza langsung memilah makanan untuk Maura, dari bahasa tubuhnya terlihat Reza sudah terbiasa menyuapi Maura.


Dengan kemeja yang digulung hingga ke siku, rambut yang sedikit acak-acakan dan muka yang tampak sedikit lelah tidak menjadikan Reza kehilangan pesonanya.


"Bapak sudah terbiasa menyuapi Maura?" tanya Hasna


"Hmm... yaa.. lebih cepat kalau disuapi" jawab Reza singkat.


Hasna tidak ingin meneruskan pembicaraan, sebetulnya dia ingin tahu kapan ibunya Maura meninggal, tapi rasanya sangat tidak sopan apalagi ada Maura di depannya.


"Tadi temanmu tidak menanyakan apa-apa?" Reza bertanya singkat, dia tahu kalau Hasna merasa canggung saat Maytha datang menyapanya..


"Siapa?.... owh Mbak Maytha.. enggak Pak hanya menceritakan soal rapat tadi siang, kebetulan saya satu tim dengan Mas Arya jadi tadi dilaporkan oleh Mas Arya" jawab Hasna sambil menunduk


"Owh jadi Arya namanya, yang perempuan tadi Maytha" dalam hati Reza mencoba mengingat nama kedua teman Hasna.


"Kalau kamu ada kesulitan karena seminggu ini harus menemani Maura di rumah sakit, sampaikan kepada saya. Nanti saya minta Aswin bantu untuk menyelesaikan ke Bu Rika" ucap Reza.


"Ehhh... enggak Pak gak ada masalah apa-apa, semua pekerjaan sudah saya selesaikan pak.. alhamdulillah sesuai target waktunya pak"

__ADS_1


"Bagaimana progres project TOT kemarin, ada kesulitan?" Reza mengalihkan topik pembicaraan agar Hasna tidak terlihat sungkan.


"Alhamdulillah Pak kalau dari hasil evaluasi belajarnya mencapai kompetensi, kemudian dari survey kepuasanya pun mereka 85 % merasa puas dengan TOT yang diikuti. Hanya bahan TOT yang menjadi masalah" Hasna kemudian menceritakan permasalahan yang dihadapi oleh peserta, sementara anak koala asyik saja makan ayam sambil disuapi Papa Bear.


"Hmm coba kamu kembangkan bahan buku saku itu, uji cobakan keterbacaannya pada satu pabrik saja dulu, kalau hasilnya bagus baru perbanyak untuk disebarkan ke pabrik yang lain" ucap Reza


"Seriusss boleh Pak?" tanya Hasna cepat, kemarin diskusinya adalah kemungkinan ide ini ditolak karena memakan biaya.


"Ya kenapa tidak dicoba dulu, ajukan saja anggarannya, nanti saya acc" jawab Reza


"Terima kasih Pak... terima kasih... Hasna tersenyum lebar.


 


Reza POV


Perempuan di depanku ini tersenyum lebar saat aku setujui untuk membiayai pembuatan bahan belajar karyawan di pabrik. Senyumnya ini lebih lebar dari pada saat aku belikan dia make up dan parfum kemarin. Ternyata membuat dia tertawa sangat mudah, semudah dia membuat orang lain bahagia.


Saat tadi pagi dia datang ke rumah sakit, rasanya seperti ada orang yang membawakan beban yang kubawa sendirian, padahal dia adalah orang yang tidak pernah aku kenal sebelumnya. Semakin diingat rasanya semakin menyesal pernah berpura-pura memarahinya waktu itu. Masih terbayang airmata di mukanya, rasanya seperti teriris kalau mengingatnya. Seharusnya dia tidak akan mau membantu menemani Maura kalau dia manusia yang normal, tapi memang mungkin sebagaian dari otak pendendamnya hilang dari bagian kepalanya.


Hari ini aku sama sekali tidak bisa memalingkan muka untuk menanyakan kondisi Maura, ternyata pabrik yang dicabang punya banyak permasalahan terkait peningkatan kapasitas produksi. Saat dia mengirimkan pesan kalau Maura sudah bisa pulang, aku hanya bisa menjawab "ya" paling tidak dia tahu kalau aku membaca pesannya. Tapi dia tidak mengirimkan pesan-pesan apalagi, sempat khawatir dia merasa tersinggung karena aku seperti tidak bertanggungjawab dan membebaninya.


Tapi ternyata saat datang sore hari terlihat dia santai, dan menyapa dengan tenang setelah shalat. Tidak terlihat terbebani dan marah karena harus menunggui Maura seharian penuh, masih sempat mengerjakan pekerjaannya juga, ku lihat laptopnya terbuka dengan tumpukan kertas. Dia hanya makan roti, karena pelastik pembungkus roti masih ada di dekat laptopnya. Tidak mengeluh dan merajuk, masih ada rupanya perempuan yang tidak gampang merajuk. Aku kira sifat itu tertinggal cuma ada di Mitha.


Malam ini dia tampak kaget saat teman sekantornya menyapa, aku sudah tahu kalau dia tidak nyaman bersamaku, perempuan muda mana yang mau berdekatan dengan laki-laki yang sudah punya anak dan atasannya juga. Tapi Maura terlalu menempel padanya, seperti punya perasaan kalau dia bersamaku akan ditinggalkan olehnya, hufft jangan sampai Maura terlalu menempel kepadanya, kasihan jadi bebannya.


Dari kejauhan saat memesan makanan kulihat Maura tertawa-tawa bersamanya, membuatku terlena sampai pegawai counter memanggilku berkali-kali. Apa yang mereka tertawakan cerita absurd apa lagi yang dia ceritakan.


Dan seperti aku perkirakan sikap kakunya menghilang kalau aku membicarakan soal pekerjaan dengannya, bersemangat dan berapi-api. Rasanya ingin tersenyum lebar melihat hidungnya sampai kembang kempis menceritakan peserta pelatihan yang terus bertanya saat pelatihan, dan ekspresi sedihnya saat harus membuat buku saku yang diperkirakan akan memakan biaya lebih banyak.


Dan kembali tersenyum lebar dan tertawa saat aku bilang untuk mengembangkan bahan ajar itu. Semudah itu membuatnya tertawa, sampai melupakan saus yang menempel di pipinya karena dia kaget mendengar aku menyetujui untuk membiayai pembuatan buku saku.


"Usap ada saus tertinggal" ucapku..


"Ehh... heheheh saya suka memang suka berantakan pak" jawabnya


"yang ini ..." tanpa ku sadari tanganku mengusap saus di pipinya dengan punggung tangganku.


Dia tersentak... sampai memundurkan badannya. tampak menjadi gugup, kenapa... punggung tanganku kan bersih.


Dia langsung menyudahi makannya, tampak seperti bingung. Pamit untuk mencuci tangannya, hmm tampaknya dia tidak terbiasa untuk melakukan kontak dengan lawan jenis. Huffftt... masih ada mahluk seperti dia jaman sekarang.


********************


Masih ori Pak... belum pernah kesterum sama yang lain jadi efeknya beda Pak... Bapak mah kelamaan menduda siy...hihihihi. Saya berikan bonus di menjelang wiken khawatir kalau wiken saya gak bisa update... hehehe doakan tidak banyak permintaan dari client biar bisa up episode.. Jangan lupa like, komen and vote yaaah ofcros.... Stay safe and keep productive during wiken... Love u all


*********************

__ADS_1


 


 


__ADS_2