
Sebetulnya sedari menggosok gigi Maura Hasna memikirkan ide cerita Ikan yang suka menangis. Tadi dia hanya asal saja menyebutkan ikan yang suka menangis karena melihat Maura yang menangis. Untung saja tadi dia menyebut ikan karena kebetulan ada yang sedang membakar Ikan saat barbeque. Hmmm cerita apa yah..
“Gimana celitanya?” tanya Maura setelah kumur-kumur dan kembali berbaring di kasur sambil bersender nyaman pada Papinya. Hasna melihat betapa dekat hubungan antara ayah dan anak itu.
"Baik begini ceritanya...Dahulu kala, saat masa-masa di bumi belum ada manusia. Tinggallah keluarga binatang dipinggir Hutan. Ada Baba Ayah Beruang Bubu Ibu Burung dan anak-anaknya yaitu Cici Kelinci, Didi Dino dan Kankan Ikan.
Reza sudah mulai menguap, kepalanya sudah mulai terkulai di bantal sambil menatap Hasna, sedangkan Maura masih on 25 watt.
“Hahahahah namanya aneh-aneh Bubu Bulung Baba Beluang, Cici Kelinci Didi Dino Kankan Ikan” Maura langsung tertawa-tawa satu kakinya ditumpangan ke badan Reza, anak bos mah bebassss.
“Baba Beluang adalah ayah yang sangat galak, dia suka sekali menyuruh anaknya untuk membantu bekerja sedangkan Bubu Bulung adalah ibu yang sangat baik karena sangat sayang pada anak-anaknya”
“Memangnya kalau galak itu gak sayang, justru dengan galak dan tegas itu kita bisa mengarahkan mereka menjadi anak yang kuat dan kompetitif” Reza langsung memotong cerita.
“Ehhh ini kan lagi cerita… kok jadi masuk ke hati” jawab Hasna
“Ceritanya tidak adil masa ayahnya galak kalau ibunya baik.. Kan itu diskriminatif sama yang namanya ayah” kembali komentator memberikan review
“Papiiii belisik … dangan bicala telus Buna nya jadi nda celita lagi” Maura langsung protes membuat Reza langsung diam, Boz juga kalah kalau sama anak Boz
“Ya Buna terusin yah”
“Ketiga anak itu sangat patuh pada Baba Beruang, mereka takut kalau mereka tidak belajar nanti akan dimarahi olehnya” lanjut Hasna
“Tuh kan yang marah-marahnya Ayahnya, kesannya jadi ayah itu menyebalkan” ucap Reza sambil memejamkan mata
“Hufftt ya sudah diganti plotnya… protes melulu” Hasna mendengus kesal. Kalau mendongeng live gini kok banyak protesnya. Bikin ide jadi hilang.
“Ternyata Bubu Burung gampang sekali marah pada anak-anaknya”
“Kenapaah Bubu Bulungnya suka malah sama anaknah ..katanya tadi Bubu Bulung baik hati” Maura memprotes perubahan plot.
“Iya kadang-kadang Bubu Bulung suka kesal juga sama anak-anaknya karena mereka jarang membantu Bubu Burung untuk beres-beres di rumah”
“Hanya Baba Beruang yang suka membantu dan menolong Bubu Burung”
“Nah seperti itu dong jadi kan enak dengernya” ucap Reza sambil terus merem. Hasna hanya mengernyit kesal mendengarnya. Ingin rasanya melempar bantal.
“Didi Dinosaurus adalah Kaka yang paling kuat sehingga semua pekerjaan yang berat selalu dikerjakan olehnya sedangkan Cici Kelinci paling senang untuk berjalan-jalan mencari makanan untuk semua anggota keluarga. Hanya Kankan Ikan yang paling malas untuk bekerja, ia hanya suka diam saja di rumah”
“Mola mau jadi dinolous kuat soalnya mola banyak makan dan minum syusyu” Maura tiba-tiba berdiri dan langsung bergaya seperti Hulk. Reza yang sempat tertidur langsung terbangun karena kaget.
“Iya-iya Maura kuat, ayo sekarang dengerin lagi ceritanya sambil tiduran” ucap Reza sambil menarik Maura tiduran dan mengepok-epok pantat putrinya. Mata Reza masih tertutup karena mengantuk.
“Bubu Burung sangat kesal karena Kankan Ikan hanya makan dan tiduran saja dirumah”
“Kankan Ikan… kamu jangan bermalas-malasan terus.. Harus membantu bekerja seperti Kakak-kakakmu”
“Aku harus kerja apa Bubu Burung”
“Carikan air untuk masak dan mandi … kita sudah tidak punya persediaan air lagi” ucap Bubu Burung sambil memberikan ember kepada Kankan Ikan.
__ADS_1
“Baiklah.. Aku pergi dulu” kata Kankan Ikan, ia bingung dimana ia harus mencari air. Ia tidak pernah mencari air sebelumnya
Akhirnya Kankan Ikan pergi ke hutan untuk mencari air, dia pergi ke dalam Hutan dengan harapan bisa menemukan sumber mata air.
“Haaah kenapa ail punya mata Buna… Mola kalo liat air nda ada matana” Maura yang sudah mulai mengantuk masih sempat bertanya. Sedangkan bayi besar yang dibelakangnya sudah pulas tertidur mendengarkan cerita.
“Maksudnya kalau air yang dihutan itu suka keluarnya dari satu lubang, nah lubangnya itu suka keliatan mirip mata” jelas Hasna setelah dipikir-pikir terlebih dahulu, selama ini dia juga tidak pernah memikirkan kenapa sumber air disebut mata air, cerdas juga anak Pak Reza ini.
Maura tampak menggangguk-angguk mendengarkan penjelasan Hasna.
“Owh .. mola ngelti… telusin Buna” ucapnya sambil menggosok-gosokan hidungnya. Hmmm ini sudah mengantuk.
“Kalau Maura mengantuk gimana sekarang tidur dulu saja ceritanya dilanjutkan besok”
“Nda ...celita sekalang saja, besok celitanya yang lain lagi” anak koala ini pinter banget berstrategi. Sementara Bapak Koala sudah ada di langit ketujuh.
“Kankan ikan terus berjalan masuk ke Hutan sampai ia merasa kalau ia sudah masuk cukup jauh, tapi kenapa ia belum menemukan sumber mata air sedikit pun. Kankan Ikan sangat sedih, ia sudah cukup lelah berjalan”
“Bunaaa ikan itu nda punya kaki.. Mau beldalan gimana cuba” dan anak koala itu langsung bangun memperagakan ikan berjalan dengan ekornya. Reza kembali bangun karena kaget saat Maura berjalan dengan gaya ikan di depannya. Kali ini ia hanya melihat dan kemudian tertidur lagi. Hasna ingin tertawa melihatnya rupanya bapak koala benar-benar lelah.
“Jaman dulu Ikan bisa berjalan dengan ekornya itu Maura, kan Buna ceritanya jaman dulu ini” ternyata hobi protes bapak koala turun ke anak koala.
‘Oww iya telusin celitanya” anak koala kembali tiduran dengan manis, bapak koala langsung memeluknya dengan mata terpejam.
“Kankan Ikan mulai merasa takut, hutan terlihat gelap dan menyeramkan kemudian terdengar wukwuk wukwuk… bunyi apa itu.. Pikir Kankan Ikan.. aku belum pernah mendengar suara seperti itu”
“Kemudian terdengar suara kaaak kaaak..kaaaak…. Uhiiiiw….uhiiiiw….uhiiiiiw ….. Tsseeeee …. tseeee …. tseeeeee… Kankan Ikan menjadi ketakutan mendengar suara itu”
“Kenapa..kenapa….” ucapnya dengan bingung.
“Mola takuuut Papi” sambil memeluk tangan Reza dengan kuat, Hasna hanya bisa menahan tawanya melihat Reza yang kebingungan tapi tidak tahu ada permasalahan apa.
“Jangan takut kan sama Papi dipeluk gak akan ada apa-apa” ucapnya sambil kembali memejamkan mata.
“Telusin Buna” anak koala itu mengintip dibalik tangan bapaknya sambil memandang dengan penuh keingintahuan. Ini mah alamat jadi hilang ngantuknya hadeeeuuuh.
“Suara-suara yang ada di Hutan seperti mengejar Kankan Ikan, saat Kankan Ikan berbelok suaranya ikut belok, saat Kankan Ikan lurus… suaranya seperti mendahului di depan Kankan Ikan”. Dan Maura semakin memegang erat tangan Reza.
“Jangan bikin cerita yang aneh-aneh nanti malah ngompol malam-malam” ucap Reza sambil mata terpejam, rupanya bapake memantau gegara tangannya dipegang sama nakanaknya keras-keras. Hasna jadi tersenyum sendiri, ya sudah ketegangannya diakhiri saja.
“Tidak kuat berjalan lebih jauh lagi akhirnya Kankan Ikan terjatuh…. Kdeblukkkkk…. Aduuuh sakiiiiit…. Kankan Ikan pun menangis, ia sangat kesal dan sedih… ia sudah berjalan jauh tapi belum menemukan air sedikit pun malahan jatuh karena ia sangat takut dengan suara-suara yang ada di hutan.
“Huaaaaahh….huaaaaahhhhh…. Lama sekali Kankan Ikan menangis dengan keras, ia bingung harus kemana ia pulang karena ia tidak tahu jalan pulang”
“Tiba-tiba terdengar bunyi greseeek--greseeek haaaah bunyi apa itu Kankan Ikan langsung melihat ke kanan dan kekiri…”
“Kemudian terdengar suara debuuuum ….debuuuummm…. Haaaaah bunyi apa itu Kankan Ikan semakin ketakutan sehingga ia menangis semakin keras”
“Kankan…. Kaukah itu yang menangiss? Terdengar suara Kakaknya Cici Kelinci
“Khankhan Ikhaaan dimana kau.. Kenapa kau menangis terdengar suara Kakaknya Didi Dino
__ADS_1
“Kakak syukurlah kalian menemukan aku … aku sudah takut sekali tidak bisa pulang… aku kehutan mencari air tapi airnya tidak kutemukan.. Kankan Ikan mengadu kepada kedua kakaknya” Mata Hasna sudah mulai keleyeng-keleyeng mengantuk. Dia menarik nafas sebentar.
“Telusss” eh masih bangun rupanya
“Lalu apa itu air yang ada di ember… kamu temukan dari mana.” Cici Kelinci menunjuk ember yang telah penuh terisi air.
“Haaaaa ya ampuuun dari mana air ini datangnya” Kankan Ikan kebingungan dia tidak merasa mengisi air di embernya.
“Owhhhh iya mungkin karena tadi aku menangis lama dan keras sampai air mata aku tertampung di ember ini” ucap Kankan Ikan…
Kedua kakaknya mentertawakan Kankan Ikan..
“Kalau begitu nanti kamu tinggal menangis saja di rumah, kalau Bubu Burung membutuhkan air” ucap Didi Dino..
“Iya kak… aku sudah tidak usah cape-cape pergi ke Hutan” Kankan Ikan langsung tertawa senang. Ia bisa pulang dengan kakaknya dan mendapatkan air yang dibutuhkan oleh Bubu Burung.
Akhirnya mereka semua pulang dengan gembira….
“Naaaooohhh itu ceritanya Maura” ucap Hasna sambil menguap.
‘“Telus kalau Kankan Ikannya tenggelam gimana” tanya Maura. Hadeuuuh ini anak inget aja padahal tadi Hasna asal bicaranya.
“Itu karena Kankan Ikan nangisnya kelamaan, sampai akhirnya banjir…. Trus Kankan Ikan jadinya tenggelam karena airnya kebanyakan”
“Makanya nanti Maura kalau menangis jangan kelamaan nanti banjir rumahnya trus kita tenggelam deh”
“Nda Maura nda akan nangis lama-lama sama banak-banak sekalang. Mola kalo nangis mau ditit aja… sampe bisa dipake mandi” ucapnya sambil memperagakan tangan yang mengecil.
“Heheheheh iya pinter… pipis dulu yuks… biar nanti ga ngompol kata Papi juga, kasian kan besok yang beresin kasurnya kalau kenal pipis Maura yang dikasur” Hasna langsung menggendong Maura ke toilet di kamar. Untung saja langsung diajak pipis rupanya sudah penuh.
Saat berbaring di kasur kembali Hasna melihat gaya tidur Maura yang lucu, memeluk tangan Papinya sambil mengelus-elus sikutnya… dan ia tertidur. Akhirnya aku bisa tidur pikir Hasna.
Saat Hasna mulai akan terbang ke alam mimpi tiba-tiba ia merasa tangannya ada yang memegang, terpaksa ia mendarat kembali dan membuka matanya. Ternyata Reza sedang memandangnya dan tersenyum.
“Tangannya gak apa-apa aku pegang kan.. Takut soalnya” ucapnya sambil tersenyum
“Takut kenapa?” Hasna mengereyitna dahinya antara bingung dan mengantuk.
“Takut jatuh… ada yang nendang lagi pas bangun tidur nanti” Reza tersenyum menggoda.
“Ahhh terserah…” Hasna terlalu mengantuk untuk melawan… Dia sudah siap untuk terbang landas…. Dan take off ke langit ketujuh.
****************************
Demikian dongeng tidur siang ini saya bacakan, semoga para deterjen puas dan kembali tertidur tidak meminta up-up story lagi... Happy wiken yoooo...
****************************
__ADS_1