
Author POV
Ting-ting.. Darth Vader
“Besok pagi saya ke Bandung untuk bertemu dengan keluargamu”
Hasna langsung loncat dari sofa.
“Kenapa Teh?’ tanya Mama heran melihat ekspresi Hasna
“Ma… ini Pak GM nya mau ke rumah besok” jawab Hasna dengan pucat.
“Siapa pak GM?” tanya Mama
“Eh… itu Pak Reza.. aku biasa manggilnya Pak GM” Hasna menghela nafas, weekend ini ia merasakan tekanan yang luar biasa. Hari ini disidang sama keluarga, besok masih dilanjutkan sidang dengan pihak luar.
“Waaaaaa… besok besok .. teh.. Mama musti masak dong” Mama langsung panik.
“Mama mikirinnya makanan melulu, aku gak dipikirin. Ngapain juga coba si Bapak pake datang ke rumah” jawab Hasna
“Ayaaaaahhhh… itu atasannya Hasna mau datang besok” Mama langsung jadi speaker, begitu ayah masuk ke ruang makan.
“Hmmm… bagus dong, kita bisa lihat seperti apa orangnya.. Sudah dewasa rupanya” jawab Ayah santai
“Ya iyalah udah dewasa udah punya anak SMP” sahut Hasna kesal, dia masih memikirkan apa yang menjadi alasan sampai Reza datang ke Bandung. Akhirnya daripada menduga-duga Hasna mengirimkan pesan.
“Bapak mau apa ke Bandung, Senin juga aku sudah ngantor” tulisnya
“Saya mau bertemu dengan keluarga kamu, bukan dengan kamu” balas Reza singkat
“Widih meni pedes gitu.. Ya mangga saja silahkan ah....emang gw pikirin” pikir Hasna sambil cemberut, gak muka gak pesan Pak Reza itu selalu pedas pikirnya. Kurang gula kali hidupnya, biasanya orang kaya dia sukanya makanan yang asin-asin, karena hidupnya asin. Cocok kalau disebut Manusia Asin.
Orang yang suka makanan manis biasanya rame ceria, bisa dibuktikan hanya sayang saja jadi cenderung kena diabetes heheheheh.
Esok harinya tidak ada persiapan yang berarti kecuali Mama yang sibuk belanja ini dan itu. Ema yang membantu kerja di rumah jadi ketiban tugas tambahan, tapi begitu mendengar yang akan datang itu adalah laki-laki yang suka pada Hasna langsung semangat. Bahkan sampai khusus datang ke kamar Hasna pada malam harinya.
“Neng Hasna, saurna bade nikah?
**Neng Hasna katanya mau nikah**
“Alhamdulillah Ema bingah pisan, ema teh tos melang, neng Hasna tara bobogohan, batur mah sok aya anu ngapelan ari neng mah malam minggu dikamar weh nonggeng, padahal neng teh geulis, pinter”
*Alhamdulillah, Ema sangat bahagia, selama ini khawatir karena Neng Hasna tidak pernah pacaran, orang lain suka ada yang datang malam minggu tapi Hasna selalu di kamar nungging, padahal cantik dan pintar” sambung Ema
“Hehehehhe… teu acan Ma, duka ah nuju diemutan hela, duda Ma tos gaduh putri 2, hawatos teu gaduh biang mangkaning aralit keneh”
“Hehehehhe belum Ma, gak tau masih dipikirn, Duda soalnya Ma udah punya anak 2, kasian gak punya ibu sedangkan anaknya masih pada kecil” jawab Hasna
“Dudaaa… atuh teu aya anu masih keneh jajaka… jeung tos gaduh putra deuih nya, hadeuuh padahal tara dihuapan tina coet ku Ema”
“Duda… memangnya tidak ada yang masih bujangan… sudah punya anak lagi, padahal gak pernah disuapin pakai cobek” Ema langsung memasang ekspresi sedih. Hasna diurus semenjak masih bayi, jadi rasanya seperti dengan anak sendiri. Ada mitos di budaya Sunda kalau menyuapi atau makan langsung dari cobek orang yang makan kalau belum menikah akan menikah Janda atau Duda... Haduuh ada-ada saja.
“Heheheh iya … tapi kasep Ma… beunghar deuih.. Gaduh perusahaan ageung saur batur mah, tapi da Teteh teu ningali eta, diemutan teh hawatos ka putrina weh meni karunya alit keneh, meni apet ka teteh”
“Heheheh iya… tapi cakep Ma… kaya lagi… punya perusahaan besar kata orang sih, tapi Teteh gak mikir kesitu, ini dipikirin karena kasian sama anaknya kasian masih kecil trus dekat sama Teteh.
“Ahhh… ari kasep mah teu nanaon, sugan teh tos sepuh gendut botak… teu ridho Ema mun kitu mah”
__ADS_1
“Ahhhh… kalau cakep sih gak apa-apa, kirain udah tua gendut dan botak… Ema gak rela kalau begitu” Ema langsung tersenyum sambil memijit mijit kaki Hasna.
“Hahahah Ema resep keneh kanu kasep gening… saur Ema eta anu dina dinding kasep teu?”
“Hahahah Ema masih suka sama yang cakep ternyata… kata Ema itu yang di dinding cakep gak?” Hasna langsung menunjuk poster G Dragon yang segede gaban menempel di dinding kamarnya.
“Ahhh… Jang Naga… sipit kitu .. jiga budak alit… teu ceuk Ema mah”
“Ahhh… Pemuda Naga… sipit begitu kaya anak kecil… engga kata Ema sih” jawab Ema, yang bukan anggota VIP memang tidak akan bisa memahami kegantengan yang haqiqi dari G Dragon.
“Hahahaha Ujang Naga… Buah Naga kali Ma… ini jajan buat ema beli buah Naga yang banyak supaya jangan kena magh terus… Ema udah tua masih aja suka makan sambel, makanya perutna sakit aja” Hasna langsung memberi uang jajan untuk Ema, salah satu kebahagian yang dirasakannya adalah bisa memberi jajan tambahan bagi perempuan yang turut membesarkannya.
“Hehehehe nuhuuun geulis… ku ema didoakeun sing dicakeuutkeun jodohna, upami leres eta jodohna Neng Hasna. Upami sanes tong dugika ngahalangan. Wios duda ge da sami jalmi anu penting soleh, bageur ka neng Hasna, ka ibu rama, tiasa nganafkahan lahir batin bahagia dunia akherat”
“Hehehehe terima kasih cantik… Sama Ema didoakan semoga jodohnya semakin dekat kalau memang itu jodohnya Neng Hasna. Kalau bukan jangan sampai menghalangi. Gak apa-apa duda juga da sama-sama manusia, yang penting soleh, baik sama Hasna, sama orangtua, bisa menafkahi lahir bathin bahagia dunia dan akhirat” Ema sambil menempelkan uang ke dahinya langsung meluncurkan serangkaian doa mustajab. Money talk
“Aamiin yra” jawab Hasna.. “Sini atuh peluk dulu” ucapnya.. Hati Hasna merasa hangat dengan doa dan dukungan dari orang-orang yang terdekat dengan dirinya. Apa yang akan terjadi besok tidak usah terlalu dipikirkan, kadang permasalahan akan berlalu dengan sendirinya tanpa kita sadari. “Jangan overthinking Hasna” ucapnya dalam hati.
Reza POV
Hari ini kami berangkat jam 8 pagi dari Jakarta, kalau melihat dari Google Map tampak tidak ada kemacetan yang berarti, perkiraan hanya 3 jam Jakarta Bandung. Semalam Ibu mertua telepon secara khusus menanyakan soal rencana hari ini. Tampaknya Hujan sudah mengirimkan pesan tentang rencana ke Bandung. Beliau memberikan doa dan restu supaya aku bisa melangkah kedepan, harapannya agar anak-anak ada yang menjaga dan merawat menjadi perhatian terbesarnya.
Aku hanya menyampaikan kalau ini hanya kunjungan silaturahmi biasa, tidak ada niat secara khusus, hanya bentuk penghormatan kepada keluarga dari perempuan kalau aku memiliki niatan yang lebih serius dengan putrinya. Menyadari posisi sebagai laki-laki yang sudah memiliki anak dan usia yang tidak lagi muda menjadikan sikapku tidak lagi bisa melakukan apa yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan yang masih muda dalam menjalin hubungan yang lebih dari sekedar pertemanan.
Hasna mengirimkan lokasi rumahnya, di kompleks daerah Bandung Utara rupanya, aku belum tahu terlalu banyak tentang latar belakang keluarganya, hanya sebatas foto yang dikirimkan saat kemarin. Semalam aku melihat foto yang dikirimkan setelah hilang efek terkejutku, lucu sebetulnya melihat foto itu, keluarga yang sangat ekspresif. Tidak ada batasan harus membangun image baik dalam suatu foto, kepalsuan yang dibuat untuk mengesankan orang lain.
Hanya saja aku jadi bertanya-tanya dalam hati apakah ayah Hasna tuna netra karena beliau memakai kacamata hitam di dalam ruangan. Ibunya tampaknya perempuan yang gampang emosi kalau terlihat ekspresinya memegang pisau dan itu tampaknya menurun kepada anak laki-lakinya. Aku ingat pernah bertemu dengannya di Mall dulu dan memang seperti mudah marah. Kalau adiknya pernah bertemu sebentar saat di Lembang dulu, melihat gayanya terlihat seperti anak bungsu yang dimanja oleh seluruh keluarga.
Hujan tampak seperti bersemangat bertemu dengan mereka. Jarang-jarang dia menunjukkan antusiasme untuk ikut dalam kegiatan yang berhubungan dengan diriku. Dia membantu menyiapkan adiknya tanpa disuruh. Aneh padahal dia bilang kalau sikapnya biasa saja pada Hasna yang penting dia tidak membenci seperti kalau dia bertemu dengan Arcy.
Beberapa kali kalau bertemu dengan Arcy dalam kegiatan di kantor, Hujan selalu membuang muka bahkan tidak mau bersalaman sampai harus diperingatkan. Kalau sudah seperti itu sudah dipastikan dia akan marah seharian dan akan mendiamku selama berhari-hari. Pernah Arcy memaksa untuk hadir mendampingiku dalam acara pernikahan keluarga karena ternyata saudara yang menikah itu adalah temannya. Hampir selama 1 minggu Hujan tidak mau aku ajak bicara, dia marah karena aku ditemani Arcy tanpa membicarakan dulu dengannya, sejak saat itu aku memilih hanya pergi dengan anak-anak atau tidak sama sekali.
Seperti halnya rumah di kompleks yang lain, tampak nyaman dengan adanya 1 pohon di depan rumah dengan pagar tanaman di depannya. Maura tertidur selama di perjalanan, saat dibangunkan dia langsung bersemangat karena tahu akan datang ke rumah Hasna.
“Sudah syaampai...woaaaa” mukanya masih mengantuk, tadi Hujan membangunnya sejak subuh.
“Iya itu rumahnya Kak Hasna” jawabku menunjukkan rumah Hasna, tampak ada 1 mobil dan sedang dicuci karena keluar air melewati garasi rumah.
Hujan turun terlebih dahulu sambil kemudian menurunkan Maura bersamanya. Aku membawa buah tangan dan meminta supir untuk mencari posisi yang nyaman kalau tidak mau turun bersama. Tapi rimbun dari pohon jambu membuatnya memilih diam di dalam mobil.
“Maura ucapkan salam” ucap Hujan, ia menyuruh adiknya untuk mengucapkan salam, dasar anak itu terlalu gengsi untuk memulai sesuatu.
“Accalamulekum….accalamulekum…” Maura mengucapkan salam sambil melihat-lihat ke dalam rumah.
“Waalaikum salam wr wb”... terdengar suara laki-laki dari balik mobil, ku lihat seorang pria yang sedang memakai celana pendek yang mencuci mobil.
“Mau kesiapa yaaa…” tanyanya melihat pada Maura dan kemudian melihat ke arahku
“Saya mau bertemu Hasna Pak… saya Reza” jawabku
“Ya Allah jam berapa ini…. Ayaaaaah mah aku jadi lupaaaa… pake disuruh nyuci mobil segalaaa aaahhhh” terdengar suara Hasna dari belakang mobil dan dia kemudian keluar dengan memakai celana selutut dan rambut dikat ke belakang.
“Addduuhh Bapak maaf… saya lupa… sekarang jam berapa… Ya Allah … Ayah sihhhhh pake ngebongkar ban lagiiii…. Sebentarrr Pakkkk” Hasna malah berlari sambil berjinjit jinjit masuk….
Dan kemudian dia tiba-tiba berputar lagi berbalik…
“Ehhhhh Molaaaaa…. Hihihihi bentar yaaa Kak Hasna ganti baju duluuuu… bentar yaaa Kaka Hujan bajunya Kak Hasna basaaaahhh…. Ihhhh ayaaah sih…” Hasna kembali berbalik.
Aku hanya bengong melihat kelakuannya, perempuan ini ternyata bisa membongkar ban mobil, what a skill… aku sendiri tidak bisa membongkar ban mobil semuanya dilakukan supir.
__ADS_1
Ayahnya Hasna yang semula aku kira tunanetra langsung mempersilahkan masuk dan meminta ijin untuk berganti pakaian karena bajunya basah, ternyata memang kemarin kacamata hitamnya dipakai hanya untuk bergaya saja. Apa alasannya memakai kacamata hitam di meja makan yah, padahal kan kacamata hitam dipakai diluar ruangan saat panas saja.
Seperti biasa Maura selalu meminta untuk digendong kalau datang ke tempat yang baru, dia baru bisa lepas kalau sudah kenal dan terbiasa. Rumahnya nyaman tampak foto-foto dari keluarga di ruang tamu, mencerminkan suasana rumah yang hangat, ada kertas-kertas dokumen di atas meja tampaknya pekerjaan dari ayahnya.
Hasna keluar dengan membawa minuman, tampak sudah segar dan berbeda tampilannya dengan di kantor. Dia seperti anak perempuan rumahan.
“Maura gimana jauh yah rumah Kakak Hasna… hehehe masih ngantuk yah tadi pasti bobo di jalan” tanyanya. Dia tidak menyapa aku lebih dahulu, pikirannya pasti pada Maura
“Kak Hujan hari ini gak ada kegiatan dengan teman-teman? Biasanya seumuran kamu sibuk dengan teman abg” masih nyerocos kepada anak-anak. Hujan hanya tersenyum tipis dia tidak menjawab
“Hehehe maaf Pak tadi saya lupa waktu, pas sudah mencuci mobil ayah jadi banyak permintaan” akhirnya dia menyapaku dengan kembali meminta maaf soal melupakan kedatangku.
“Tadi saya mengirimkankan pesan dan telepon pas sudah sampai Bandung tapi tidak dijawab dan diangkat” ucapku menyatakan kalau aku selalu menyiapkan segala sesuatu dengan baik.
“Owh...tadi hp saya tinggal di kamar pak, soalnya kalau dibawa nyuci mobil ribet nanti kemasukan air” jawabnya.. Yah masuk akal memang.
Kemudian ayah dan ibunya Hasna masuk ke ruang tamu. Ibunya terlihat cantik dan masih muda, ternyata muka Hasna sangat mirip dengan ibunya hanya berbeda dari mata, mata Hasna lebih sipit kecil, mungkin itu sebabnya dia suka memakai eyeliner.
“Perkenalkan ibu bapak saya Reza atasannya Hasna di kantor, ini putri-putri saya Hujan dan Maura” aku memperkenalkan diri dan anak-anakku.
Ibunya Hasna tersenyum melihatku tidak terlihat galak seperti di foto, mukanya sangat ramah. Langsung melihat kepada Hujan dan Maura.
“Waaah ini putrinya cantik-cantik begini… udah pada besar yahh… yang besar ini Kaka namanya siapa? Kalau yang gembil ini siapa?” tanya Mamanya Hasna
“Hujan” jawabnya singkat dan sambil memberikan salam
“Mola” setelah salam langsung menyembunyikan kepalanya ke dadaku.
“Maura sinih… Ka Hasna punya ikan gueedeeee di belakang, dia temenan sama Kura-kura” ucap Hasna langsung mencoba mengambil Maura dari gendongan ku.
“Kula-kula yang nyuri kumis limau?” Maura masih ingat saja cerita itu…
“Hahahahaha iyaaaa… kakek buyutnya itu mah… ini kura-kura anaknya” sambung Hasna
Ayah dan Mama Hasna tampak memperhatikan saat Maura dengan cepat berpindah digendong oleh Hasna, mereka kemudian saling berpandangan, entah apa yang ada dalam pikiran mereka.
Saat Maura mau digendong Hasna tiba-tiba terdengar suara ribut laki-laki di luar.
“Inii siapa sihhh yang parkir mobil Alphard di depan, gak mikir apa yah mobil segede gaban gitu parkir di depan garasi rumah orang. Teteh coba panggil itu tetangga sebelah suka seenaknya aja parkir… ini Ade gak bisa masukin motor”
Hmmm ternyata adiknya Hasna.
Hasna langsung kedepan dan terlihat kaget
“Lohhh katanya kamu mau ada kumpul BPM kok udah pulang, katanya baru pulang nanti malam” tanya Hasna
“Gak jadi pada gak kumpul anak-anaknya… ehhh ini siapa ada Neng Bakpau… itu mobil punya siapa ngehalangin garasi”
“Stsss… kamu tuh berisik ih… kirain gak akan di rumah, jangan berisik punya bosnya teteh...ih malu-maluin.. Awas kamu” Hasna langsung mencubiti adiknya… Hahaha rupanya bakat berisik memang sudah mengakar di keluarga ini.
“Eh ada Om…Eh…. Ada neneng syantiekk” ucapnya.. Sambil melihat kearahku dan Hujan.
Hmmmm masih tetap memanggil Om, tampaknya dibutuhkan kesabaran dan daya adaptasi yang luar biasa untuk mengenal keluarga ini…
***********************
Mohon maaf Emran tidak bisa dikurung dalam kandang, karena memang sudah takdirnya harus berkeliaran terus.. Berhubung wfh jadi saya kasih bonus up siang-siang, tapi jangan minta up malam yah biar seimbang antara hak dan kewajiban hehehe.. Kecuali kalau dikasih bonus vote.. Saya pertimbangkan untuk up malam hari… Stay safe and keep productive yaa Gurlz and Boyz… Love u all
__ADS_1
***********************