Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
BonCab: Ibadah 1001 Malam


__ADS_3

“Mas..” Hasna cuma bisa berkata pendek tanpa mampu untuk melanjutkan. Reza seperti tidak mendengar ucapannya seperti biasanya. Kalau sudah menatap laptop atau tabnya walaupun di tempat tidur pasti ia akan fokus, percuma juga ia berbicara.


Kemarin Reza berjanji kalau sebelum lebaran tahun ini mereka akan pulang kampung ke Bandung, setelah sebelumnya dua kali lebaran Hasna tidak bisa berkumpul bersama keluarganya di Bandung. Tapi apa daya hingga H-7 lebaran masih belum ada tanda-tanda kalau Reza akan mengurangi kesibukan di kantornya.


Reza seperti tidak bergeming, kerutan di dahinya masih terlihat dalam dan matanya menyorot tajam ke arah tab yang digenggamnya di tempat tidur. Hasna menarik nafas panjang, percuma saja pikirnya berbicara pada suaminya itu. Sosok yang jadi mirip makhluk astral, terlihat tapi tidak merespon saat ditanya. Sambil mendengus kesal kemudian Hasna turun dari tempat tidur.


“Mau kemana?” ternyata mahluk astral itu sadar ada yang pergi meninggalkannya, Reza berteriak melihat Hasna yang beranjak pergi tanpa berbicara sepatah kata pun.


“Tidur… sama anak-anak” jawabnya sambil menutup pintu kesal. Sudah beberapa hari ini Hasna merasa kesabarannya mulai habis, suasana di bulan puasa yang biasanya berbeda dan selalu dinanti, dibandingkan bulan-bulan yang lain sekarang terasa hambar. Mereka lebih sering menghabiskan waktu berbuka puasa hanya berempat saja awalnya bersama Maura dan Si Kembar Ay dan Bu. Baru setelah Hujan libur sekolah tiga hari kebelakang suasana terasa lebih semarak tapi tetap saja tanpa kehadiran Reza kepala keluarga terasa sepi.


Hasna hampir terlelap tidur saat ia merasa tiba-tiba tubuhnya melayang di udara. Rupanya Reza yang mengangkat dan menggendongnya.


“Aduuh” ucapnya kaget


“Stttttt… jangan ribut nanti anak-anak bangun” bisik Reza pelan.


“Turunin aku nanti jatuh”


“Main gendong aja, aku sekarang berat beda sepuluh kilo daripada dulu” Hasna meronta dalam gendongan Reza yang langsung turun dengan tergesa, mukanya tampak kesal dan cemberut. Setelah berjuang berusaha untuk tidur karena diliputi perasaan kesal tiba-tiba dibangunkan oleh si biang kerok pemicu kekesalan membuat dirinya ingin berteriak.


“Mau ngapain sih? aku mau tidur” ucapnya sambil kembali ngeloyor ke arah tempat tidur Si Kembar. Tapi keduanya tertidur nyenyak tidak menyadari kalau di kamar mereka ada yang sedang ngambek.


“Yahhh tidurnya sama aku dong… kan anak-anak sudah bisa disapih”


“Lagian kan nanti ada suster yang bangun ngecek anak-anak kalau bangun” bisik Reza sambil menarik tangan Hasna agar tidak kembali ke tempat tidur anak-anak. Kamar anak-anak bersebelahan dengan kamar suster yang menjadi baby sitter mereka.


“Percuma tidur sama Mas Reza, gak sadar juga ada aku disebelah. Paling gak kalau tidur disini anak-anak sadar kalau ada ada sama mereka” suara Hasna sudah hampir menangis karena kesal.


“Maaf… tadi aku tanggung jawab email dari klien… beda waktunya delapan jam sama mereka jadi mereka butuh jawaban segera” kilah Reza sambil terus berupaya membujuk dengan mengusap-usap tangan Hasna.


“Bulan puasa loh ini… kalau ngasih maaf sama suami beuuuh pahalanya gede banget” tangan Reza mulai merengkuh pundak Hasna agar mendekat.


‘Aku kira kalau bulan puasa syaitonnya pada gak ada diikat… itu kan yang diceritain guru agama waktu aku SD, ehhh ternyata masih ada yah setan yang lepas” ucap Reza terkekeh sendiri kepalanya mulai mengendus rambut Hasna pelan.


“Diiket kalau manusianya rajin ibadah, jadi setannya gak bisa masuk saking banyaknya ibadah”


“Ini mah boro-boro ibadah sholat tarawih… bulan puasa cuma menahan lapar haus saja” mata Hasna mendelik kesal.


“Hehehe iya… abisnya gimana sibuk banget sampai susah menyisihkan waktu”


“Ehhh tapi aku solat tarawih kok beberapa kali kemarin”


“GAK CUKUP”


“Umur udah mau 40 tahun tapi masih belum ada kesadaran buat ibadah” suara Hasna mendesis kesal, matanya seperti akan melompat keluar.


“Stttt… marah-marahnya dikamar aja… nanti anak-anak bangun kan kamu sendiri yang repot”


“Biarin aja… Mas Reza yang tidurin mereka… aku mau tiduur... nanti kesiangan sahur” ucap Hasna sambil melengos kesal dan meninggalkan suaminya yang hanya bisa senyum kecut sambil menggaruk-garuk kepala. Untung saja Al dan Bu tidak terbangun, malah ada sepasang mata dibalik pintu yang tersenyum melihat interaksi keduanya, Pingkan sang baby sitter yang terbangun karena mendengar interaksi keduanya.


“Gemesin banget Bu Hasna kalau sudah ngambek… Bapak sampai speechless” ucap Pingkan sambil tersenyum dan kemudian kembali mencoba tidur”


Sementara suasana di kamar terasa hening saat Reza menyusul Hasna tidur.


“Sudah tidur?” tanya Reza, tapi yang ditanya hanya diam, sesekali terdengar suara helaan nafas panjang seperti menanggung beban yang berat.


“Maaf yaaa kalau beberapa hari belakangan ini aku sibuk, hmmmm… ada tawaran untuk menjadi pemegang apparel dari Jerman”


“Jadi aku kemarin menyiapkan profil perusahaan untuk kelayakan usaha”


“Aku pengennya setelah lebaran bisa mengambil cuti jadi ingin menyelesaikan semua urusan sebelum lebaran” jelas Reza panjang lebar.


Terdengar suara Hasna mendengus kesal, semua ucapan Reza terasa seperti janji manis belaka karena pada akhirnya sudah hampir dua tahun belakangan ini mereka tidak pernah pergi kemana-mana.


“Betulan Ra… aku janji mau ngambil cuti supaya bisa punya waktu liburan sama anak-anak” jelas Reza sambil memeluk erat Hasna dari belakang.

__ADS_1


“Boong… tahun kemarin juga bilangnya begitu mau cuti tapi tetap saja gak pernah ada waktu buat aku sama anak-anak” ucap Hasna nafasnya mulai mengap-mengap menahan tangis.


“Apa sih yang dikejar?” suara Hasna terdengar serak.


“Uang juga gak pernah kita kekurangan… pengeluaran aku sama anak-anak gak pernah berlebihan sampai Mas Reza harus banting tulang kerja setiap malam”


“Kita lebih butuh kehadiran Mas Reza di rumah daripada uang yang dihasilkan” ucap Hasna parau.


Reza hanya bisa terdiam mendengar keluhan istrinya.


“Kemarin pentas kenaikan kelas Maura, Mas Reza gak bisa hadir”


“Aku tuh pengen ditemani sama suami nonton anak-anak pentas, orang lain pada datang lengkap orangtuanya. Maura yang hadir memang banyak… ada Granny sama Babab juga tapi kan yang jadi papinya itu kamu Mas”


“Terus aku juga kan pengen bisa tarawih bareng sama kamu… sekeluarga kita solat berjamaah bersama”


“Ay sama Bu belajar jadi makmum dibelakang Mas Reza jangan sama aku melulu”


“Nanti gimana kalau anak-anak nyangkanya Imam di keluarga ini aku.. mau emang?” ucap Hasna kesal sambil melirik ke belakang. Hilang semua rasa kantuk yang pada awalnya membuatnya terkantuk-kantuk.


“Sekarang aku tanya… kalau kerjasama dengan perusahaan Jerman itu tidak selesai dealnya bulan ini apakah perusahaan akan merugi? akan ada kompetitor lain yang mengambil kesempatan kerjasama?” tanya Hasna. Reza hanya diam.


“MAS?” tanya Hasna keras. Reza langsung tergagap kaget.


“Ehh iya gimana?” tanya Reza bingung.


“Ya Allah dari tadi aku ngomong gak disimak rupanya?” Hasna langsung duduk kesal, tubuhnya sudah memasang kuda-kuda seperti akan berperang. Reza langsung memundurkan tubuhnya.


“Ehhh nyimak dong sayang nyimak”


“Sttttt jangan keras-keras ngomongnya nanti Maura bangun… dia paling sensitif kalau kamu lagi marah kaya gini”


“Iya aku dengar tadi kamu nanya soal target kerja sama kan?’


“Iya nanti besok aku bilang sama perusahaan Jerman itu kalau kita akan melengkapi semua persyaratan setelah lebaran”


“Mas ini bukan event… ini hari raya… sebelum hari raya kita puasa Ramadhan… mestinya bulan ini kita itu banyakin ibadah”


“Apalagi sepuluh hari terakhir seperti sekarang, kita mestinya i'tikaf ke masjid”


“Mas Reza pernah itikaf gak sih sebelumnya” Hasna memandang kesal. Reza hanya bisa tersenyum getir sambil memandang balik. Mata Hasna langsung melotot.


“Astagfirullah! belum pernah i'tikaf?”


Reza menggeleng lemah


“I’tikaf itu kan diam di masjid kan? aku mana sempat i'tikaf kan pulangnya malam terus dari dulu juga, udah keburu ngantuk” ucap Reza lemah, ia sudah mengantuk tapi menghadapi sikap Hasna yang sedang meradang membuatnya dalam kondisi siaga 1.


“Mas Reza sayangku…. i’tikaf itu bukan cuma diam di masjid. Dalam sepuluh hari terakhir di Bulan Ramadhan kita disunahkan untuk melakukan i'tikaf di masjid, dengan memperbanyak berdoa, mengaji, merenungkan semua nikmat dan karunia yang Allah sudah limpahkan kepada kita, mensyukuri atas semua nikmat dan memohon maaf atas segala kesalahan yang telah lalu. Terutama di hari-hari ganjil Mas kaya hari ini… terutama kalau kita mendapatkan lailatul qadar maka pahalanya sama dengan ibadah selama seribu tahun” jelas Hasna dengan suara yang hampir putus asa, pantas saja selama bulan puasa kualitas ibadah suaminya tidak mengalami perubahan.


“Jangan-jangan kalau di kantor Mas Reza suka buka puasa lagi?” tuduh Hasna


“Ya Allah kamu suudzon banget sama aku… aku memang belum maksimal dalam ibadah tapi aku gak segila itu sampai batal puasa selama bulan Ramadhan” giliran Reza yang sekarang terlihat kesal.


“Habisnya… i'tikaf aja sampai ga pernah sama sekali, umur udah mau empat puluh tahun belum pernah itikaf… ih ampun” ucap Hasna kesal sambil kembali berbaring membelakangi Reza.


“Makanya aku menikah sama kamu supaya kamu bisa ngajarin aku ilmu agama yang lebih baik, bisa mengajari anak-anak supaya gak seperti aku”


“Kamu mau kan ngajarin aku supaya lebih baik lagi?” suara Reza dengan nada rendah dan merengkuh Hasna dari belakang.


“Aku jadi ingat kata kamu dulu… kan katanya dengan pernikahan kita akan naik kelas, belajar sama-sama supaya bisa lebih baik lagi” bujuk Reza.


“Tau ah” ucap Hasna sambil menepis tangan Reza di bahunya.


“Gimana mau naik kelas bareng-bareng kalau yang belajarnya cuma aku saja, pas mau ujian Mas Reza kebagian kopean dari aku… capek tau”

__ADS_1


“Iya aku juga mau belajar bareng kamu… startnya dari mana yah?” tanya Reza sambil kembali memeluk Hasna.


"Bantuin aku yah sayang?"


“Startnya di Bandung, masih ada waktu tiga hari ganjil untuk itikaf, sekarang kan malam ke 23 Ramadhan jadi bisa itikaf di tanggal 25, 27 sampai 29… gimana?” tanya Hasna dengan penuh harap, mendengar suara Reza yang seperti bingung membuatnya lupa akan rasa marah kemudian menatap Reza dengan penuh perhatian.


“Hmmm bisa gak yah, besok hari terakhir ngantor dong kalau di hari ke 25 harus sudah ada di Bandung?” ucap Reza bingung.


“Katanya mau belajar agama pengen naik kelas tapi kaya yang gak ridho” muka Hasna kembali cemberut kesal.


“Bukan gak ridho tapi kan libur bersama masih dua hari lagi, gimana kalau kita ke Bandungnya hari ke 26 saja, supaya tidak terlalu jauh dengan cuti pegawai, masa staf belum cuti kita udah duluan off” ucap Reza tenang.


“Ehhh itu kan privilege kalau punya perusahaan sendiri, gak ada yang mengatur kita wong kita yang bikin aturan kan” sambung Hasna.


“Yah gak seperti itu juga sayang… harus sejalan seiring sama bawahan itu supaya mereka merasa gak sendiri berjuangnya”


“Dan aku kira kamu juga kan punya waktu lebih leluasa untuk mempersiapkan pulang ke Bandung” Reza berusaha mencari cara agar Hasna mau memundurkan waktu kepulangan, masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum mengambil cuti lebaran.


Hasna menarik nafas panjang, kalau dipikir-pikir ia memang belum menyiapkan perlengkapan untuk pulang secara maksimal. Banyak yang sudah dibeli sebagai oleh-oleh tapi belum ditata. Belum lagi perlengkapan si kembar yang pasti akan butuh waktu, kemudian Maura dan Hujan walaupun sudah besar tetap saja harus ia cek dan persiapkan sendiri, ia ingin kepulangan kali ini tidak hanya dua atau tiga hari. Minimal satu minggu karena sangat jarang mereka bisa menginap di Bandung lebih dari dua hari.


“Tapi bener yah lusa kita berangkat ke Bandungnya” Hasna memandang Reza sambil cemberut.


“Promise” ucap Reza cepat sambil mengangkat dua jari, memakai gaya Maura yang berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan kalau dimarahi oleh Bunanya.


“Gak lucu kalau Mas Reza bergaya seperti Maura… tetap saja auranya nyebelin” ucap Hasna sambil mendelik kesal.


“Ahahahahahha… masa sih? bukannya Maura itu mirip banget sama aku”


“Bukan cuma Maura yang mirip Mas Reza tapi Ay sama Bu juga mirip Mas Reza, gak adil… di rumah ini gak ada yang mirip sama aku sama sekali” keluh Hasna.


“Oya… aaahhhh aku tau... kalau pengen punya anak mirip sama kamu, cuma satu cara yang paling mudah dan dijamin tokcer” jelas Reza sambil tersenyum lebar.


“Apa?” Hasna menoleh melihat pada Reza yang tersenyum dengan penuh muslihat.


“Kita bikin lagi baby… tapi supaya mirip sama kamu… hmmm kamunya yang mesti jadi leader…hehehehe”


“Mas Rezaaaa ihhhh”


“Lahhhh kan katanya kalau beribadah di malam ganjil itu pahalanya seribu kali lipat”


“Melayani suami juga itu kan ibadah sayang… beuh bayangkan…melayani suami satu malam sama dengan melayani seribu malam… umur kita juga gak akan sampai seratus tahun tuh”


“Halaaaah kalau soal itu aja paling jago ngelesnya… itu pahala kalau i’tikaf di masjid gak tau kalau dirumah beneran gak seribu kali lipat” jawab Hasna cepat.


“Laaah soal pahala ibadah itu kita jangan terlalu dipikirkan. Itu adalah urusan Allah yang penting niatnya sudah dicatat” jelas Reza lagi sambil memeluk erat. Hasna menahan senyum sambil mendelik. Suaminya itu kalau soal berdebat memang paling jago, baginya bukan soal menang kalah dalam berdebat tapi kesempatan bisa berdiskusi seperti ini yang sangat langka. Kesibukan Reza di kantor yang tak kunjung berkurang ditambah dengan kesibukan Hasna mengurus anak-anak membuat mereka sulit untuk berkomunikasi intim sebagai pasangan.


Baru setahun ini Hasna bisa menarik nafas semenjak kuliah S2 nya dirampungkan, Ramadhan tahun kemarin, ia betul-betul jumpalitan karena harus menyelesaikan tugas akhirnya dan selama enam bulan kebelakang ia baru bisa menarik nafas.


“Bunaaaaaa” dukkk…dukkk…dukkk suara pintu digedor dari luar karena pintu kamar dikunci Reza supaya bisa ibadah malam tanpa diganggu. Entah jam berapa tadi malam mereka akhirnya tertidur yang pasti menjelang dini hari karena ibadah tambahan memenuhi keinginan Reza.


“Bunaaa mau puasa enggak? sepuluh menit lagi imsak” teriakan Hujan langsung membuat Hasna terbangun siaga 1.


“Argggghhh…. Mas kesiangan ini… Ya allah… astagfirullahaladzim…. aaaahh kamu sih Mas pakai acara nyari pahala seribu malam segalaaa” Hasna langsung melompat dari tempat tidur.


“Udah tenang aja, anak-anak pasti udah pada sahur… kita makan ala militer aja lima menit juga selesai”


“Lima menit… lima menit… di baju aja udah dua menit… ngupas buah tiga menit belum lagi kalau minum kopi…” Reza selalu mengawali makan sahur dengan buah-buahan dan diakhiri dengan minum kopi.


“Nihhh aku tambah bonus dikasih kiss sebelum imsak satu menit kalau kalau ngomong terus” Reza langsung memeluk dan menciumi Hasna yang tidak berhenti bicara.


“Massss Rezaaaa ihhhh”


“Bunaaaaa mau puasa gakkkk” kembali teriakan Hujan dari luar.


“Bunaaaa ini Ay sama Bu nya gak mau sahur… malah dilemparin makanannya” suara Maura yang mengadukan adik kembarnya tidak ketinggalan menimpali kakaknya Hujan.

__ADS_1


“aaaaahaaaaa… Bunaaaaaaaa… Bunyaaaaaa.....emaam...mam” plak… plak…. suara teriakan dan pukulan tangan  Ay dan Bu menimpali kedua kakaknya.


“Ya Allah…ini sih bukan seribu malam tapi ibadah 1001 malam” Hasna langsung menepuk jidat.


__ADS_2