
Diperjalanan Hasna lebih banyak diam, memperhatikan pemandangan di luar. Jam menunjukkan 3.30 saat mereka keluar dari kantor.
“Kenapa diam saja?” tanya Reza
“Lagi ga mood ngobrol”
“Masih marah? Tadi aku tuh benar-benar harus koordinasi pekerjaan dulu”
“Kirain bisa sebentar, tapi lama yah ternyata?”
“Udah lah gak usah dibahas lagi, suka jadi makin kesal” Hasna menarik nafas panjang.
“Saya gak biasa adu mulut sama orang, suka bikin efek sakit sama aku kalau sudah bertengkar tuh”
“Nguras energi”
“Kita isi ulang yah energinya nanti” bujuk Reza
“Hmm” Hasna malas menjawab lagi
“Apa kabar anak-anak? Sudah lama tidak bertemu Maura dan Kaka Hujan” Hasna mencoba mengalihkan fokus pembicaraan.
“Baik, gak sabar ketemu sama kamu kalau Maura. Sebentar lagi kamu akan tinggal bersama mereka” jawab Reza singkat.
“Aku akan tinggal dirumah Mas Reza nanti?”
“Yah dimana lagi?”
Hasna merenungkan masa depannya di Reza, dimana ia akan tinggal. Reza berjanji kalau mereka tidak usah tinggal dalam kamar yang sama sampai mereka berdua merasa nyaman. HIngga saat ini Hasna masih merasa asing dengan sikap Reza. Terkadang dingin, terkadang baik, terkadang posesif, terkadang tidak perduli. Yang pasti Hasna merasa ada tembok yang menghalangi dirinya dengan Reza.
Reza POV
Dia tampak diam sejak kejadian ribut dengan Arcy, salahku memang memaksanya untuk bisa pulang bersama. Aku lupa betapa Arcy sangat membenci Hasna karena kami akan menikah, ternyata Arcy benar-benar menyukaiku. Kadang aku heran apa yang menjadikanku tidak menyukai Arcy, padahal dia cantik dan badannya pun bagus. Tapi memang attitude dia gak bagus, menyebalkan terkadang, mungkin karena datang dari keluarga berada. Tidak terbayang dia harus menjadi ibu dari anak-anak, akan banyak pertikaian di rumah terutama dengan Hujan.
Kasian sebetulnya melihat Hasna harus melepaskan pekerjaan demi pernikahan ini, heran juga sebetulnya kenapa ia mau melepaskannya. Tapi aku bersyukur paling tidak ia mau fokus untuk menyiapkan diri. Sebetulnya tadi aku merasa kesal melihat perubahan sikapnya antara berbicara denganku dan dengan teman-temannya. Seperti tidak bahagia kalau berbicara denganku, berbeda sekali saat sedang bicara dengan Arya misalnya sampai tertawa-tawa, ditambah dengan membelikan hadiah yang banyak untuk laki-laki itu, apakah mereka ada hubungan spesial dulu? Harus kuperjelas sekarang.
“Banyak sekali tadi hadiah yang diberikan untuk teman-temanmu”
“Hmm… iya, kebetulan dapat barang sale di toko online”
“Terutama Arya” ucapku singkat memperjelas maksudku.
“Kenapa emang? Perasaan biasa aja” dia kelihatan heran, hmm benar-benar tidak peka perempuan ini.
“Kado spesial rupanya” aku mendengus,
“Maksudnya” Hmm masih belum mengerti juga dia masih bertanya.
Akhirnya aku diam malas membahas laki-laki itu.
“Maksudnya apa Pak” sambungnya lagi
“Saya membelikan hadiah untuk semua orang, Bu Rika, Mas Arya, Mbak Maytha dan Pak Aswin”
“Saya selalu memberikan kenang-kenangan untuk orang yang baik pada saya”
“Saya gak dapat hadiah artinya saya gak baik dong” aku ingin tahu pikiran dia terhadapku.
“Engga… lebih banyak nyusahin” jawabnya sambil menatap keluar jendela
“Eh...serius?” tanyaku
“Makanya jangan suka nanya hal yang aneh-aneh kalau gak pengen dapat jawaban aneh” jawabnya ketus.
“Masih kesel yah” tanyaku
“Bangunin kalau sudah mau sampai, ngabisin energi ngomongin yang gak penting” ehhh dia malah nyelonjor tidur mundurin jok mobil.
Sesampainya di Mall dia masih tidur, capek rupanya dia, aku putuskan untuk memberinya kesempatan tidur lebih lama, sambil mengecek pesan dan email di hp. Setelah 10 menit akhirnya aku bangunkan.
“Hasna bangun, kita sudah sampai, kalau terlalu sore nanti kita gak punya banyak waktu”
Dia menggeliat dan memandangku dengan heran dan langsung terbangun seperti meloncat.
“Ini dimana kok gelap”
“Basement Mall, gelap gimana ada lampu kok”
“Waaah saya tidur lama juga sampai 30 menit lebih, Bapak kenapa gak bangunin saya” dia terlihat kaget dan merenggangkan anggota tubuhnya.
“Ayo turun” ucapku, ia langsung mengikuti ke pintu masuk Mall dan mukanya terlihat lebih segar terlihat dari ekspresinya yang langsung tersenyum saat bertatap pandang.
“Hehe” eh malah senyum. Aku langsung memalingkan muka melihat dia cengengesan seperti itu, rupanya moodnya langsung berubah kalau dikasih kesempatan tidur.
“Ke lantai 2 dulu yah Pak.. saya belum sholat ashar.. Bapak juga belum” ucapnya sambil memijit lift.
__ADS_1
Perempuan ini memang kuat dalam menjaga sholatnya. Aku jadi terbawa untuk sholat dulu, padahal biasanya kalau rapat aku lebih memilih menyelesaikan rapat daripada break untuk sholat dulu.
“Kamu sudah biasa sholat tepat waktu rupanya?” tanyaku
“Ini sih gak tepat waktu … sudah mau jam 5” jawabnya sambil menguap.
“Masih mengantuk?” tanyaku
“Iya tadi malam beres-beres barang di kost an karena mau ditinggal ke Bandung besok”
“Beberapa barang masih ditinggal di kost an karena saya masih punya jatah sampai akhir bulan ini”
“Mudah-mudahan Ghina bisa punya kesempatan bekerja di kantor Bapak menggantikan saya”
“Hmm tadi sudah masukan CV kan ke Aswin” aku jadi mengingat-ngingat kejadian tadi, rupanya dia ke meja Aswin untuk mencetak CV temannya, pantas.
‘Belum.. Kan sama Bapak dilarang ngeprint ditempat Pak Aswin” ehhh dia cemberut lagi
“Yah kirimkan saja lewat email, nanti aku minta Rika untuk review” saranku, sayang sekali kalau mood yang sudah bagus jadi berubah lagi.
“Serius Pak…. makasih..makasih” ucapnya sambil memegang tangan dan mengayun-ayunkannya.
“Sudah ah kaya anak kecil” Aku malu orang-orang melihat kami di lift, masih memanggil bapak lagi perempuan ini.
Sambil berjalan ke mushola, aku raih tangannya
“Hasna.. Bisa mulai memanggil aku dengan panggilan lain selain bapak” ucapku lembut, perempuan ini tidak bisa diajak berdebat keras, suka melawan.
“Hmm iya maaf masih suka lupa, Mas.. mungkin kalau diluar kantor akan terbiasa. Tadi karena di kantor jadi masih sungkan. Maaf” dia tersenyum sambil memberikan simbol ok.
Setelah sholat aku masih menunggu dia beberapa menit sampai dia keluar, tumben memakai lipstik dan bedak terlihat lebih segar dan cerah.
“Maaf lama yah nunggu, tadi touch up dulu, malu jalan sama Mas Reza kalau keliatan kucel hehehehe”
“Kenapa biar keliatan masih muda?” tanyaku sinis
“Ehh suudzon aja orang teh, yah biar berseka lah… berseka itu artinya segar, tidak kucel. Saya tuh menghargai keberadaan orang disamping saya, biar ga malu jalan sama aku” jelasnya panjang lebar.
“Gak pake make up juga udah cantik” jawabku asal
“Ahh… terserah lah, aku pake make up buat diri sendiri kok”
“Mau beli apa sekarang? Saya gak hapal Mall Pacific Palace.. Ini keduakalinya saya kesini, dulu nemani Emran pas lagi TK”
“Ihh ya Allah udah lama banget artinya aku lagi SD”
“Haaaaa… itu artinya Mas Reza udah nikah” matanya membelalak melihatku
“Aku lahir bayi, itu artinya Mas Reza kelas 2 SMA yah… Owh My God” dia masih terus saja membandingkan umur, ingin rasanya membekap mulut perempuan ini.
“Usia seseorang biasanya akan berhenti di kisaran 30-40, kalau dia bisa menjaga kesehatan diri dan tidak strees akan relatif terlihat sama sampai usia 50 an" jelasku. Aku merasa orang banyak yang menyangka usiaku baru menginjak 30an, kebanyakan mereka kaget saat tahu aku sudah memiliki anak seumur Hujan.
“Nah umur kamu dari 25-35 an yang biasanya boros di muka..”
“Coba aja tanyakan pada yang gak kenal sama kita palingan disangka beda 5 tahunan” sambungku
“Yang beda usia 5 tahun bisa terlihat umurnya seperti samaan malah”
“Kemungkinan sih iya pak kalau saya sekarang” jawabnya
“Iya gimana”
“Saya terlihat menua” ia tampak memukul-mukul mukanya dengan penuh keprihatinan.
“Kok bisa tau”
“Semenjak saya mengenal Mas Reza saya suka stress dan banyak pikiran, banyak hal aneh yang gak pernah saya alamin”
“Aslinya Mas… saya suka ngeliat di kaca kenapa muka jadi menua begini” sambungnya sambil terus memukul-mukul mukanya.
“Saya juga jadi stress setelah mengenal kamu, setiap malam musti bikin cerita absurd sama Maura, ” jawabku
“Hahahahaha… draw kalau begitu.. Gak apa-apa” ehhh gampang banget ketawanya.
“Ya sudah kita beli sepatu dulu di toko langganan saya” aku menunjuk ke arah toko sepatu yang direkomendasikan Isyana.
“Pak itu merk sepatu mahal yang suka dipakai Carrie Bradshaw di Sex in the City”
“Manolo Blahnik itu merk nya mahal, aku gak suka pakai sepatu mahal-mahal” sambungnya
“Sudah ah… gak beli banyak kok minimal 1 harus ada sepatu bagus yang kamu pakai kalau nanti ada acara kantor” Aku menyeretnya masuk.
Langsung ku bawa dia ke deretan sepatu wanita yang tampak mengkilat dan menunjuk beberapa pilihan warna.
“Maaaasss… ini kok pake $ ” dia berbisik dan tersenyum miris saat mengambil 1 sepatu dengan warna hitam dan hiasan simple di depannya.
“Jangan liat harganya, ambil yang kamu suka.. Cepatlah ambil 1 flat shoes dan 1 yang ada heels nya”
Dia tampak kebingungan, mukanya seperti cemas.
__ADS_1
“Aku pilihkan saja yah, nomor berapa sepatu mu” aku melihat kakinya, eh badannya kecil-kecil tapi kakinya terlihat panjang juga.
“Yaa… 39-40” jawabnya lemah
Aku mengambil model yang berwarna hitam dan 1 flat shoes yang berwarna coklat muda.
“Minta 2 ukuran keduanya yang 39 dan 40”
“Hmm aku lebih suka yang maroon untuk yang flatnya” ucapnya cepat. Aku tersenyum ternyata dia punya selera yang berbeda untuk warna.
“Good… jangan terlalu banyak berpikir, biasakan ambil keputusan cepat” ucapku
“Mas… masalahnya aku gak biasa beli yang mahal, ini harga sepatunya 3x gaji aku sebulan” dia berbisik tiba-tiba di telingaku.
Srupppp… bulu kudukku langsung berdiri mendengar dia berbisik di telingaku. Perempuan ini tidak tahu rupanya jangan suka berbisik-bisik di telinga laki-laki itu berbahaya. Aku langsung berdiri dari duduk, dia terlihat kaget melihat ekspresi ku.
“Sudah ku bilang jangan suka berbisik-bisik di telinga.. Geli” ucapku sambil menggosok-gosok telinga.
“Hehehe maaf Pak.. eh Mas.. masa bilang soal gaji keras-keras, nanti orang tau kalau Mas Reza ngasih gaji aku kecil” dia malah nyengir.
“Aku membayar sesuai aturan pemerintah” jawabku cepat
“Iya tapi kalau Mas Reza bisa membelikan aku barang yang mahal artinya selisih untungnya banyak dong ” dia masih bersikukuh soal gaji.
“Yah keuntungan perusahaan diberikan kepada pemegang saham, yang sudah menanamkan modal, wajar saja kalau kami mendapatkan pendapatan yang lebih”
“Investasi kan harus menghasilkan keuntungan, untuk apa berinvestasi kalau tidak menguntungkan dan memberikan nilai lebih”
“Iya Pak Boz saya mengerti” dia langsung memotong mendengar penjelasanku.
“Semua orang sudah menyetujui kontrak kerja saat masuk ke perusahaan, jadi mereka sudah tahu kalau bekerja di perusahaan akan mendapatkan gaji berapa”
“Lagipula selain gaji mereka juga mendapatkan bonus tahunan dan asuransi kesehatan”
“Ditambah lagi ada insentif non bonus seperti kegiatan rekreasi keluar yang kamu ikuti kemarin di Lembang” sambungku
“Ngobrol sama Bapak tuh kaya main game … salah mijit tombol aja kena perangkap” dia manyun-manyun sambil mencoba sepatu yang dibawa sales penjual.
“Maksudnya?”
“Iya.. gara-gara menyinggung gaji yang kecil langsung keluar ceramah tentang kesejahteraan karyawan dan bonus” dia mematut matut sepatunya di depan kaca, kakinya terlihat panjang dan bersih. Selama ini dia selalu memakai sneaker dan kaus kaki, seperti anak SMA saja.
“Ya soalnya kamu seperti gak puas dengan gaji di perusahaan, padahal kan banyak benefit yang dirasakan karyawan”
“Kamu nya saja yang gak berhitung dan gak sadar”
“Yah gimana bisa saya tahu Mas, saya kan kerja belum setahun jadi belum pernah dapat bonus tahunan”
“Belum pernah sakit, jad belum pernah pakai jaminan asuransi dari perusahaan”
“Ikut rekreasi cuma sekali, itupun jadi panitia, riweuh aja yang ada”
Ehhh…. Bener juga, pikirku.
“Ya sudah, dengan menikah sama aku benefit yang kamu dapatkan lebih besar daripada kerja di perusahaan, banyak bonusnya”
“Maksud bonus apa” dia langsung sumringah
“Bonus Re-Za yang berisi 1) gaji bulanan, 2) tunjangan kuliah, 3) uang jajan bulanan, 4) kendaraan, 5) bonus bermain dengan 2 anak yang lucu dan baik”
“Weeeksss… itu sih bukan bonus tapi memang kewajiban suami” dia langsung manyun
“Ditambah nanti bisa dapetin Doorprize” ucapku sambil menahan tawa
“Apaan doorprize nya”
“Bapaknya anak-anak yang ganteng inih”
“Ihhhh…. itu sih bukan doorprize tapi barang yang udah di sale. Udah ah bayar dulu, aku udah laper pengen makan enak”
“Itu juga termasuk bonus menikah dengan aku… setiap saat bisa makan enak” ucapku
“Iya makan Sop Iga… moal jauh, kolestrol aja akhirnya” ucapnya sambil pergi meninggalkanku.
Hahahahhahahaha
**********************
Hiliw... Miip bingits yih, iki biri bisi ip sikiring, siilnya libir sih jidi ripit binyik irisin.. iki jigi giliw...hihihi
Pusing nulisnya juga... kalau ada yang bisa translate di atas, dikasih like sama author...double up yah... hadiah buat deterjen yang sabar dan gak marah-marah. Meni bageur ih kalian mendoakan aku sehat. Alhamdulillah sehat tapi banyak yang harus dikerjakan karena wiken adalah family time, jadi saya gak bisa bawa-bawa laptop kalau lagi sama babang dan krucil. ... Mari kita lanjutkan halusinasi kita...
************************
__ADS_1