
Untunglah malam ini Reza mau turun gunung menemani Maura untuk tidur sehingga Hasna bisa menyelesaikan tugas kuliah. Tadi sore ia masih sempat tidur sebentar sehingga bisa menyelesaikan tugasnya yang harus diserahkan besok. Saat Reza masuk ke kamar ia sudah hampir menyelesaikan tugasnya.
“Maura sudah tidur?” tanya Hasna sambil melirik Reza yang hanya mengangguk tipis sambil menuju ke tempat tidur. “Ngerjain apa?” sambil menghampiri meja belajar, dilihatnya tugas Hasna “Ini analisa tentang perilaku organisasi dalam perusahaan, masih ingat gak kuliah ini” seingat Hasna suaminya mengambil magister dalam manajemen waktu kuliah magister dulu di Inggris. Reza mengerutkan dahinya. “Hmm ...lupa sudah terlalu lama secara prinsip masih ingat tapi konten sudah lupa” Hasna menghela nafas padahal dia butuh bantuan untuk analisis.
“Kamu pasti bisa.. Anak pintar cumlaude kan?” ledek Reza sambil menggoyang-goyang kepala Hasna, sambil dia meraih handphone istrinya. “Heeeh kebiasaan ngeliat hape aku...kenapa sih suka banget stalking hape aku” Hasna langsung protes saat Reza mengambil hp nya kemudian rebahan di kasur. “Handphone kamu banyak ceritanya lebih rame” jawabnya santai sambil terus scrolling. Hasna hanya menghela nafas pasrah mau bagaimana lagi.
Hening lama dalam kesibukan masing-masing sampai kemudian Hasna menyelesaikan tugasnya. “Yesss… beres..” Hasna menggeliat meregangkan badannya yang terasa kaku. Selama lebih dari 2 jam dia fokus menuliskan bahan paper hingga bisa dikirimkan. Rutinitas sebelum tidur ia lakukan, menggosok gigi, mengoleskan krim perawatan malam dan akhirnya bisa merebahkan diri di kasur dengan nyaman. Reza tampak sudah bersiap untuk tidur, ia duduk bersedekap menunggu Hasna.
“Mikirin apa Mas kaya serius banget” Hasna mengambil posisi di sisi dalam tempat tidur kemudian ia tidur miring menghadap suaminya. “Kapan kamu ketemu si song… Si Arkhan?” Reza masih tidak bisa menahan diri menyebut Arkhan dengan sebutan songong. “Kenapa sih nyebut dia songong terus, padahal perasaan aku biasa deh… kalau gaya bicaranya seperti itu mungkin karena anak tunggal jadi terbiasa dominan.. Mas Reza juga karena anak kesatu gaya ngomongnya suka mendominasi”
“Kamu tuh malah nyamain aku sama dia… umur dia itu dibawah aku tapi gayanya kaya seumuran” Reza masih merajuk soal Arkhan. “Iya makanya dia dulu suka bentrok sama teman-teman seangkatan karena gaya ngomongnya suka to the point gak pake basa basi ..tapi maksud sebetulnya baik” Reza semakin kesal mendengar Hasna malah membela, ia langsung tidur dan membelakangi Hasna. “Ehhh malah pundung… kenapa atuh jangan suka marah sama orang yang gak ada hubungan apa-apa sama aku” Hasna berusaha membujuk suaminya.
“Apa maksudnya dia soal kunjungan ke Jepang” Reza terdengar mendengus kesal. Hasna langsung kaget dia lupa menghapus pesan dari Arkhan yang dikirim tadi siang. “Makanya jangan suka stalking hp orang jadi aja banyak pikiran yang enggak-enggak” jawab Hasna sambil tersenyum ditengoknya muka Reza yang membelakanginya. “Tawaran buat studi banding di universitas tempat kang Arkhan ambil summer class tapi kita belum sempat diskusi lebih jauh..aku belum sempat jawab” Hasna menengok muka suaminya yang tampak kesal.
“Muka Mas Reza kalau cemberut begini keliatan gemesin” godanya sambil mencolek pipi suaminya. “Diam… aku lagi gak pengen main-main” Reza menepis tangan Hasna yang masih terus mempermainkan pipinya. “Awww… makin gemez akunya kalau ngambek ginih” Hasna malah semakin menjadi dan memeluk Reza dari belakang dengan penuh semangat. “Cemburu yahhhh… adeuuuh ih kaya anak SMA aja cemburuan… udah tua ihh suka cemburuan sama yang muda hihihihihi” Hasna semakin menjadi kalau sudah iseng di jembelnya pipi Reza. “Kamu tuh yaaaa...udah dibilangin aku lagi gak pengen main-main… tanggung sendiri akibatnya” dan memang akhirnya Hasna yang harus menanggung sendiri keramas malam-malam.
“Mas….” Hasna menggoyang-goyangkan tubuh suaminya. Dasar laki-laki kalau sudah tercapai maksud dan tujuan main tidur saja. “Hmmm...mau apa lagi?” Hasna langsung mendengus..”mau apa lagi emangnya aku mau minta lagi” pikirnya. “Soal studi banding ke Jepang, aku boleh yah ikut kalau ada? Aku pengen liat gimana kampus disana trus suasana kuliahnya… biasanya kalau studi banding cuma seminggu” Hasna kembali memohon, terbayang melakukan kunjungan ke universitas di negara maju waah tampaknya menyenangkan.
Lama Reza tidak menjawab, sampai Hasna mengira kalau suaminya tidur “Massss… jangan tidur dulu atuuuh ihh gak adil kalau aku ada pengen ngobrol malah tidur” Hasna merengek. Reza menoleh tumben-tumben istrinya merengek seperti ini. “Aku pengen ikut studi banding ke Jepang lah… cuma satu minggu” Hasna mengerahkan semua kekuatan yang dimiliki untuk bisa membujuk Reza.
“Siapa saja yang ikut?” tanya Reza pendek, Hasna terlihat merenung “aku gak tau, soalnya belum diumumkan juga sama kaprodi, tapi kata Kang Arkhan sudah disetujui untuk dilakukan akhir semester ini” Reza terdiam dan memandang istrinya, antara kasihan melihatnya tapi ada rasa tidak suka kalau istrinya pergi bersama laki-laki yang tidak ia sukai. “Nanti aku pikirkan” jawab Reza pendek. Hasna menghela nafas kalau masih dipikirkan masih banyak ketidakpastian.
__ADS_1
“Sabtu malam ini kamu harus ikut acara Private Party Perusahaan. Sudah lama dirancang tapi baru terlaksana sekarang, sekaligus menandai kerjasama dengan mitra luar negeri semuanya” Reza menjelaskan acara lusa kepada Hasna, ia lupa mengingatkan sejak minggu kemarin. Hasna langsung kaget “Kapan? Malam hari? Aduuh aku gak punya gaun malam” ia langsung panik. “Yaa.. besok saja beli, di butik yang dulu pernah kita pesan untuk baju tunangan mereka menyediakan gaun malam juga” Reza mengingatkan Butik SV yang dulu pernah mereka kunjungi bersama.
“Suka bikin acara dadakan begini sih bikin aku panik, untung besok libur jadi aku bisa nyari baju. Gimana kalau ga ada yang pas bajunya aku mesti cari dimana” Hasna langsung panik. Reza tersenyum “kamu memakai baju apapun terlihat cantik” ucapnya sambil memeluk mencoba memutuskan percakapan matanya sudah sangat mengantuk ditambah dengan upayanya memenuhi kewajiban hingga dua kali hari. “Alaaah merayu supaya aku cepat tidur dasarr… pokoknya aku mau studi banding nanti” Hasna bersikukuh. Reza hanya menjawab “Hmmmmmm…” dan itu menjadi akhir percakapan malam itu.
Esok harinya setelah Hasna menjemput Maura, ia langsung minta diantar Pak Agus ke Butik SV, ia tidak berani membawa mobil ke daerah yang tidak ia kenal. Hampir dua jam ia memilih baju yang sampaikan akhir memutuskan memilih satu gaun yang dirasakan paling sopan dan terlihat normal, hanya perlu dikecilkan sedikit sehingga terlihat lebih pas dengan tubuhnya. Salah satu kenyamanan berbelanja pakaian di butik adalah bisa mengubah ukuran baju sesuai ukuran tubuh kita, hanya saja dengan pola custom ini harga pakaian jelas menjadi lebih mahal. Tapi ini adalah masa dimana uang tidak lagi menjadi masalah tapi penampilan yang baik menjadi suatu kebutuhan demi nama baik keluarga.
Saat Reza menanyakan model pakaian yang dipilih Hasna mengirimkan foto dirinya dengan memakai baju tersebut, Reza langsung setuju walaupun Hasna menjelaskan kalau bagian lengannya akan terbuka kalau ia bergerak karena ada variasi belahan namun Reza tidak mempermasalahkannya karena lengan yang terlihat panjang hingga ke siku. Warna hitam memang menjadi warna yang elegan untuk dipakai di malam hari apalagi dengan variasi sparkling dari kainnya sehingga menjadikan baju seperti bintang di malam hari.
Terus terang saja Hasna agak nervous dengan acara yang akan dihadiri esok malam, apalagi Mama Bertha tidak hadir karena sedang ada di Singapura menemani Isyana, kalau saja ada Mama Bertha ia akan merasa lebih nyaman, paling tidak ada yang akan menemaninya. Ia belum pernah mengikuti acara private party yang dihadiri oleh tamu-tamu penting perusahaan. Tidak hanya mitra dalam negeri semua tamu undangan dari luar juga akan hadir. Perusahaan yang memiliki potensi strategis ke depan akan diundang juga untuk memperlihatkan kekuatan perusahaan, ini menjadi salah satu pesta yang penting dalam menunjukkan prestasi capaian Reza saat ini.
Seharian Hasna memikirkan gaya rambut seperti apa yang harus ia pakai sehingga menunjang penampilannya malam nanti. Dimulai dengan model rambut dicepol dengan disisakan sedikit uraian di pinggir, ahhhh tampak seperti Cici-Cici tidak cocok dengan lehernya yang tidak terlalu jenjang, kalau rambutnya diurai dan diberikan sedikit curly agar tampak bervolume jadi seperti artis dangdut yang akan manggung. Semua tampak aneh, kalau sudah seperti ini paling mudah adalah memakai kerudung blusss selesai masalah, tapi artinya dia meremehkan aturan dalam agama dengan fashion. Hingga kini Hasna masih terus meluruskan niat dan tekadnya untuk segera menutup aurat lengkap tapi masih saja ragu-ragu.
Akhirnya Hasna memutuskan untuk mengikat rambutnya dengan satu hiasan rambut, lebih simple, ia melihat gaya tersebut pada selebritis korea yang menghadiri acara Gala Premier sekaligus pemutaran perdana filmnya. Tampak cantik, sederhana namun elegan, ok tidak terlalu menarik perhatian tapi tetap sopan dan menawan pikirnya.
Reza tampak terhenyak melihat Hasna dengan gaun malamnya, panjang dan memiliki ujung yang menyapu lantai tapi kainnya jatuh mengikuti tubuh sang pemilik gaun sehingga membentuk tubuhnya dengan halus, lengan bajunya memang panjang hingga ke siku jatuh dengan ujung yang melebar tapi kalau Hasna mengangkat tangannya sedikit maka lengan baju akan terbelah memanjang ke ke bawah sehingga tangan bagian atas yang putih sehingga berkesan seksi tapi manis.
“Kenapa tangannya seperti itu, jadi memperlihatkan bagian dalam tangan kamu” Reza langsung menunjuk bagian lengan. Hasna langsung nyengir “Hehe iya, aku juga gak nyamannya disana, tapi ini baju yang modelnya paling sopan paling gak masih nutup kalau aku tangannya ke bawah terus, yang lain malah gak berlengan atau hanya sedikit saja menutupi bagian lengan bajunya itu” Hasna mendeskripsikan baju lain yang ia coba di butik. Reza menghela nafas, lagi-lagi ia kecolongan dalam menyeleksi pakaian yang dikenakan istrinya.
“Ya sudah, selama party kamu jangan mengangkat tangan” ancam Reza, Hasna langsung melotot aneh-aneh saja permintaan suaminya itu. Maura yang selama Hasna berdandan selalu memperhatikan dan mengomentari semua yang dikenakan Hasna. “Buna gak akan lama-lama pulangnya” sambil terus mengikuti.
“Kalau boleh Buna mau langsung pulang begitu sampai” Hasna langsung tertawa mendengarkan alasannya sendiri. “Boyeeh?” Maura tampak begitu berharap. “Gakk boyeehh… hahahaha… Ughh anak Buna gemoy nyaa… Buna harus menemani Papi bertemu dengan teman-teman Papi dari luar negeri. Papi harus bicara bahasa Inggris jadi nanti Buna harus membantu Papi ngomong Bahasa Inggris… karena you know Maura your mother is very smart” Hasna bergaya seperti seorang artis.
__ADS_1
“Mola can speak english a little” jawab Maura tidak mau kalah. “Yesss I know… tapi disana tidak ada anak kecil, kebanyakan bapak-bapak yang has a mustache so very scary” Hasna tahu kalau Maura paling tidak suka pada laki-laki yang berkumis kecuali Aba Kumis ayahnya Hasna. “Mola want to stay at home” ia langsung memutuskan tinggal di rumah begitu mendengar banyak laki-laki berkumis. Hasna langsung tertawa, anak ini masih mudah untuk dibohongi karena masih lugu, tidak terbayang kalau sudah sebesar Hujan butuh suapan dalam bentuk materi.
Saat berangkat menuju pesta Hasna semakin berkeringat karena nervous, untunglah ia sudah memiliki makeup waterproof, dan malahan kalau ia merasa gerah malah akan menambah efek glowing, harga memang memang selalu berkorelasi dengan kualitas dari barang.
Saat tiba di tempat pesta rupanya diselenggarakan di Ballroom Hotel Bintang Lima, Hasna merasa seperti artis yang menghadiri acara penghargaan dengan pakaian formal dan bersama pasangan yang memakai jas dengan dasi kupu-kupu. Ahhhhh andai saja ada teman-temannya sekarang ingin rasanya ada seseorang yang memotret mereka berdua dan disimpan sebagai kenang-kenangan. Tadi ia lupa melakukan selfie dengan Reza, “Masss…. Aku lupa tadi mustinya kita berfoto selfie dulu… kapan lagi kita bergaya seperti sekarang ini” saat Hasna menyertai Reza berjalan di lobby hotel. Ada staf hotel yang telah menunggu mereka dan memandu menuju ruangan.
“Hmmm… jangan khawatir ada yang sudah bertugas untuk itu” jawab Reza pendek, ia sudah kembali pada mode dingin kalau masuk pada lingkungan kantor. Hasna hanya diam cemberut, difoto oleh orang lain tentu saja berbeda. “Ckkk…. “ Reza terdengar tidak sabar sehingga Hasna menoleh, rupanya suaminya merasa kesal karena ia cemberut. “Sini…. Kamu makin kesini makin banyak maunya” Reza menarik Hasna mendekat dan langsung melakukan foto selfie, petugas hotel yang memandu akhirnya berhenti dan menunggu mereka dulu sambil tersenyum. “Saya fotokan Pak ..supaya hasilnya lebih bagus”
“Yaa tolong, istri saya tidak ingin melupakan penampilan suaminya Mas” ucap Reza sambil tersenyum, Hasna sampai bengong “benar-benar sangat percaya diri manusia satu ini” Hasna sambil menggelengkan kepala akhirnya melakukan beberapa gaya yang terbatas karena beberapa kali bilang supaya tangannya tidak terangkat. Akhirnya setelah beberapa kali take foto memuaskan Hasna dan membuatnya lebih relax untuk masuk bersama Reza ke acara jamuan makan malam ini.
Saat pintu terbuka, Hasna seperti melihat acara yang ada di drama korea. “Aurel ...Ghina ..seandainya kalian bisa ada disini malam ini ..pasti akan melupakan Lee Min Hoo dan Kim Bum yang membuat mimpi kalian tidak pernah berakhir” pikir Hasna. Di ruangan yang besar ini ada banyak meja-meja yang tertata cantik dan di depan ada panggung yang dikitari meja-meja itu. Hasna mengikuti Reza sambil memegang erat tangan suaminya,di perutnya seperti ada tali yang terlepas yang sedang menari.
Di meja bagian depan sebelah kiri Hasna bisa melihat ada perempuan yang berpakaian merah dengan potongan yang off sholder sebelah kiri, bajunya tidak berlengan sehingga memperlihatkan tangannya yang panjang dan mulus. Nenek Sihir itu ternyata berdandan dengan sangat maksimal, cantik, seksi dan menarik perhatian semua orang dengan warna merah blik-bliknya.
Reza hanya mengangguk dan menarikkan kursi untuk istrinya. Ia tampak sangat dingin, ternyata kalau suaminya sedang dalam mode serius dan resmi ini menjadi penampilan standar Reza. Ok pikir Hasna sekarang waktunya menjadi perempuan yang harus bisa mendampingi suami. Ia kemudian mengedarkan pandangan melihat tamu undangan, dan yang pertama kali terlihat dengan jelas adalah ayah mertuanya yang melambai. Hasna langsung berbisik “Mas ada Papa Ardy… aku boleh menemui beliau” Reza menoleh dan mengangguk. Hasna langsung berdiri dan menghampiri mertuanya.
“Papa… lama tidak jumpa” Papa Ardy adalah orang paling spontan, ia langsung mencium pipi dan memeluk menantunya, hmmm Hasna sudah mulai terbiasa dengan gaya mertuanya. “Hahahahah kamu semakin cantik saja… katanya perempuan kalau semakin cantik indikator mau punya bayi sebentar lagi….Hahahahahha” Hasna langsung cemberut. “Cucu Papa yang paling kecil belum mengijinkan punya adik dulu” jawab Hasna cepat. “Hahahahahaha Maura memang selalu manja sama kamu…. Gak apa-apa selesaikan saja dulu kuliahnya…. Oh iyaaa Papa mengundang juga teman kuliah kamu mana diaaa” Papa Ardy tampak mengedarkan pandangannya.
“Ohh itu diaaa… Arkhaaan hahahahah sini ...ini ada adik kelasnya datang juga” Hasna terbelalak yaaa ampun.. Ini sihh alamat perang dunia ke 2 lagi ……
__ADS_1