
Di mobil kondisi Hasna tidak membaik, malah semakin pusing dan mual, apalagi udara AC yang dipasang di mobil membuatnya semakin mual.
“Mas… ac nya aku matikan yah aku mual” Hasna mencari-cari tombol ac, tapi mobil ini berbeda dengan mobil yang biasa ia pakai, Hasna meraba-raba tombol mana yang harus disentuh hingga akhirnya Reza tidak sabar dan mematikannya sendiri. Tiba-tiba Hasna semakin merasa pusing dan membuatnya ingin muntah.
“Mas bisa minggir dulu..ooo” Hasna berusaha menahan tekanan untuk muntah dengan menutup mulutnya. Reza menatap panik melihat Hasna yang terus bergerak menahan diri untuk tidak muntah. Untung hari sudah malam sehingga arus kendaraan sudah sepi, membuat Reza bisa langsung menepikan kendaraan. Mobil belum berhenti sempurna Hasna sudah tidak tahan lagi dan membuka pintu sehingga membuat Reza kaget. “Kamuuu ..tunggu dulu bahaya” ia melihat Hasna seperti meloncat keluar dan berlari ke sisi trotoar. Disana Hasna menumpahkan semua tekanan yang dari tadi menekan ingin keluar.
Setelah parkir dengan posisi aman Reza segera menghampiri Hasna dilihatnya istrinya masih terus memuntahkan semua isi perutnya. Hasna menyuruh Reza menjauh “hmmmm...hmmmm” ucapnya sambil mengibas-ngibas tangan supaya menjauh. “Kenapa..?” Reza bingung “Jangan deket-deket ...jijik” Hasna menjawab lemah, Reza tersenyum sedih.. Masih memikirkan orang lain padahal dia sedang muntah. Hilang semua amarah yang memenuhi hatinya, saat melihat Hasna muntah dengan hebat dipinggir jalan.
Diusapnya bibir Hasna dengan saputangan miliknya. “Bisa berdiri ga?” diraihnya lengan Hasna untuk bisa disangga berdiri. Hasna mengangguk lemah, berjalan di papah untuk duduk kembali di mobil. “Tunggu sebentar aku beli air minum dulu” Reza mengedarkan pandangannya mencari warung rokok yang biasanya banyak dipinggir jalan. Untunglah ada yang dekat hanya 10 meter dari tempat ia memarkir mobil.
Sesekali melihat ke arah istrinya yang duduk di mobil dengan menjulurkan kaki keluar, masih terlihat lemah. “Minum dulu… asam lambungnya nanti merusak gigi kalau tidak segera kumur-kumur” Reza menyorongkan air mineral ke mulut Hasna, tampak peluh bercucuran di dahi istrinya. “Kamu cepat sekali sih dropnya” Reza merasa heran karena tadi istrinya terlihat baik-baik saja saat ia marahi di Ballroom.
“Aku paling gak kuat sama dingin.. Makanya tadi dipinjemin jas nya Arkhan” Hasna menjawab dengan serak. Reza tampak diam termenung, ia tidak menyangka kalau dampak alergi dingin sampai sejauh ini. “Kita ke rumah sakit aja ya sekarang?” melihat butiran keringat yang mengucur dari dahi Hasna yang menggeleng lemah. “Aku udah sering kaya gimana..tadi salah aku gak makan siang jadi lemes banget pas tadi tuh” Disentuhnya dahi Hasna terasa sangat dingin tapi kenapa malah keringatan.
“Kita ke rumah sakit..” Reza menjadi panik. “Gak mau ...aku mau pulang cukup digosok sama kayu putih sama minum air panas manis aja.. Dulu juga gak pernah sampai ke rumah sakit” Hasna menolak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku mau pulang sekarang” Hasna meringkuk di bangku mobil sambil merapatkan jas Reza yang dipakainya. Reza menghela nafas, memang kondisinya terlihat lebih tenang setelah muntah. Setengah perjalanan Hasna tertidur karena energinya terkuras saat muntah tadi. Ia terbangun saat Reza berhenti untuk membuka gerbang otomatis.
“Sudah sampai?” suaranya serak hampir hilang, mencoba merubah posisi untuk bangun tapi badannya terasa lemah. “Sudah diam saja jangan banyak bergerak” setelah mobil terparkir dengan baik Reza segera membuka pintu penumpang dan mengangkat tubuh Hasna. Sudah lama ia tidak membopong tubuh istrinya, terasa ringan. “Kamu turun berat badan? Kenapa terasa ringan” Hasna hanya diam menyusupkan kepalanya di dada Reza, ia masih merasa pusing dan lemas.
Dirumah semua penghuni sudah tertidur, Reza membawa Hasna ke kamarnya lebih mudah tidak usah naik tangga. “Aku mau tidur di kamar” Hasna baru menyadarinya saat ia dibaringkan di kasur. “Sudah malam ini tidur disini kalau ke atas nanti terdengar oleh Maura dia akan bangun repot lagi” Reza membuka pakaiannya dengan segera supaya lebih mudah merawat Hasna. “Ini kamar Mbak Mitha..” ucapnya lemah sambil kemudian kembali tertidur.
Reza tertegun, ternyata untuk Hasna kamar ini masih identik dengan kamar Mitha. “Ganti dulu pakaiannya” Reza mencoba membangunkan Hasna untuk duduk. “Enghhh… gak mau Mama dingin akunya… nanti aja… aku bisa ganti baju sendiri” Hasna mulai mengigau, tubuhnya seperti menggigil tapi berkeringat. Dibukanya perlahan jas yang membalut tubuh istrinya, kemudian melepaskan semua lapisan pakaian satu persatu.
Saat seperti ini ia baru menyadari kalau Hasna terlihat lebih kurus dari biasanya, kenapa ia sampai tidak memperhatikan perubahan fisik dari istrinya. Kayuputih masih ada di meja rias yang ada di kamar bekas kemarin ia sakit, digosoknya perlahan hingga terasa badan istrinya mulai terasa hangat. Baru kali ini ia mengetahui efek alergi dingin pada seseorang ternyata seperti hipotermia.
Dipakaikannya celana piyama flanel tebal yang ada di lemari, lucu panjang melewati kaki Hasna kemudian jaket hoodie yang bisa menutupi hingga kepala supaya hangat. Kalau tidak ingat kondisinya yang sedang sakit Hasna terlihat menggemaskan dengan bajunya. Kemudian ia ingat harus memberikan asupan sebagai pengganti makanan yang tadi dimuntahkan.
__ADS_1
Sudah lama Reza tidak pernah ke dapur membuat makanan, ia hanya bisa membuat omelet dan american breakfast yang paling mudah. Akhirnya menggoreng sosis kentang dan membuat omelet paling tidak ada sesuatu yang bisa dimakan. Saat ia kembali ke kamar Hasna sudah tidur dengan posisi menelungkup, badannya sudah tidak lagi menggigil.
“Raa… bangun...bangun” ia menggoyang-goyangkan tubuh istrinya. Hasna menggeliat dan menatap Reza dengan lemah. “Apaa.. aku ngantuk” ia kembali tidur dan mengeratkan pelukan pada guling supaya terasa hangat. “Makan dulu sebentar tadikan muntah biar bisa ada tenaga” Dibangunkannya tubuh Hasna supaya bisa duduk.
“Ini minum dulu air teh manis biar ada energi” Reza menyorongkan cangkir teh ke depan mulut Hasna, rambut menutupi mukanya karena terdorong oleh hoodie. Dirapihkannya rambut dan diusapnya muka Hasna terlihat matanya cekung. “Kok kamu jadi kurus gini sih… turun berapa kg kamu… suka makan gak?” Reza jadi semakin bingung melihat muka istrinya yang tampak semakin tirus.
Hasna hanya diam dan mencoba minum lebih banyak lagi air teh hangat yang sangat dinantinya tadi selama diacara pesta. Ia hanya minum jus apple yang dingin membuatnya semakin merasa mual tadi. Diliriknya piring yang berisi telor omelet, kentang goreng dan sosis seperti makanan sarapan anak-anak di pagi hari. “Makanan siapa itu?” ucapnya sambil mengerutkan dahi.
“Buat kamu...tadi aku yang bikin..aku gak bisa buat bubur” ucap Reza sambil menyorongkan piring berisi makanan. “GD Oppa bisa membuat bubur” jawab Hasna sambil kemudian mencoba membaringkan tubuhnya kembali. “Aku bukan idolamu aku suamimu… makan... aku sudah buatkan untuk kamu musti dimakan” suara Reza yang memerintahkan dengan penuh kekuasaan membuat Hasna mencoba kembali duduk.
“Terlalu banyak aku gak bisa habiskan” jawabnya lemah sambil menatap makanan yang ada di piring. “Aku suapi” jawab Reza cepat Hasna menatap lemah suaminya, masih ada perasaan sedih di dalam hatinya karena perlakuan Reza tadi. “A… “ Reza menyodorkan sesendok besar omelet ke mulut Hasna. Mulutnya menjadi penuh dengan omelet tapi rasanya lumayan ternyata kalau hangat enak juga. Reza menyodorkan potongan besar sosis, Hasna menggelengkan kepala “Aku gak suka sosis” Reza berkerut “tapi kamu suka memasak sosis untuk anak-anak dan aku” sanggahnya cepat.
“Aku masak untuk dimakan kalian bukan untuk aku” Reza menghela nafas ternyata banyak hal yang ia tidak ketahui tentang Hasna. “Kentang?” tawarnya, kembali Hasna menggelengkan kepalanya. “Aku gak suka kentang goreng.. Lebih suka dibuat mash potato suka jadi batuk” jawabnya lagi. Akhirnya Reza menyuapkan kentang dan sosis ke mulutnya. “Habiskan omeletnya kalau begitu” perintahnya sambil terus menyuapi Hasna yang mengangguk lemah.
“Kamu alergi apa lagi yang perlu aku tahu?” akhirnya Reza mencoba membuat percakapan yang berhubungan dengan kejadian yang baru dilalui. Hasna diam dan menghabiskan teh manis, perasaannya sudah lebih baik. “Aku masih lemes tapi belum sholat isya” Hasna mengeluh sambil membaringkan tubuhnya. Reza menghela nafas, kondisi seperti ini masih saja ingat untuk sholat. “Ya sudah tunggu dulu sebentar biar energinya kembali… sini aku pijat kakinya supaya aliran darahnya mengalir” Reza menarik kaki Hasna dan menggosok-gosok kakinya supaya hangat.
“Aku alergi debu.. Makanya aku gak terlalu suka bersih-bersih mendingan masak atau bikin kue, dirumah aku dibolehkan ga ikut bersihin rumah kecuali nyuci mobil” Reza membelalakan mata baru mendengar ada orang yang alergi sama debu. “Kalau kena debu trus gimana?” penasaran mendengarnya “ yah bersin-bersin trus langsung flu..mata merah sampai kadang bengkak” Reza mendengus “kamu gak cocok jadi ibu rumah tangga kalau gak bisa bersih-bersih”
Hasna langsung mendelik dan menarik selimutnya dengan kesal. Tapi tak lama ia membuka kembali selimut dan bergerak turun dari tempat tidur. “Mau kemana?” Reza kaget melihat Hasna yang mukanya sudah kembali bisa ditekuk. “Mau ke kamar.. Gak enak tidur disini” ucapnya sambil menepiskan tangan Reza.
“Ihhh kamu kok sensitif banget sih kalau lagi sakit gini sayang..” Reza langsung mencoba menahan Hasna dengan memeluk dari belakang. “Lepas..tadi juga kamu gak suka deket-deket sama aku..ngapain sekarang peluk-peluk” Hasna berusaha melepaskan pelukan Reza tapi tenaganya masih belum kembali normal, masih terasa lemas. “Lepaaasss iiih” Hasna malah jadi ingin menangis suaranya menjadi serak.
“Aku tuh tadi kesal melihat Arkhan seenaknya saja memegang kamu, kamu kelihatan tertawa-tawa gembira sama dia, yang paling aku kesal ngelihat kamu memakai jasnya dia.. Rasanya tadi pengen menyobek-nyobek” Reza mendengus. Hasna diam, sebetulnya dia tidak ingin membahas masalah tadi masih membuatnya sakit hati.
“Aku sekarang gak tahu Mas… yang disebut istri yang baik itu sebetulnya seperti apa” Hasna diam sebentar dan kemudian mengusap air mata yang ada diujung matanya. “Aku berusaha memberikan yang aku bisa. Mengurus anak-anak, menyiapkan keperluan suami… saat diberikan pujian tadi di panggung aku merasa sudah melakukan semuanya dengan baik” Hasna tersenyum sinis. Disentakkannya pelukan Reza dari tubuhnya hingga terlepas.
__ADS_1
“Tapi hanya karena aku berbicara dengan temanku yang tidak disukai oleh suamiku.. Bicara hal yang biasa aku lakukan dulu, semua hal yang aku lakukan menjadi tidak berarti. Yang ada hanya kesalahan dan kebodohan karena membuat suami tidak senang. Seperti peribahasa gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga itu benar adanya” Reza terhenyak ia tidak menyangka itu yang dirasakan Hasna.
“Aku terus terang tidak merasa kalau berbicara dengan lawan jenis itu suatu aib. Malah aku bilang kalau aku merasa tersanjung dipuji oleh suamiku sendiri walaupun kang Arkhan bilang kalau yang diucapkan oleh Mas Reza cuma sekedar akting agar dipuji oleh teman-teman bisnisnya..tapi aku gak peduli aku merasa bahagia” Hasna mengusap air mata yang terus menetes keluar.
“Cuma ternyata akhirnya apa yang dia katakan benar adanya, hanya...hanya karena aku ngobrol sama dia..Mas tahu? cuma dia yang aku bisa ajak ngobrol di pesta tadi… yang bahasanya aku mengerti… cuma karena aku mengenakan jas pemberiannya yang aku pakai karena memang aku merasa kedinginan… mungkin bagi Mas Reza tidak masalah kalau saya mati kedinginan selama tidak mempermalukan begitu…. Tidak masalah saya menjadi bengkak selama rumah jadi bersih….” Hasna menyusut air matanya yang keluar dengan deras.. Ia kemudian turun dari tempat tidur, yang sekarang ingin lakukan hanya kembali ke kamarnya. Kamar ini hanya menyimpan rasa tidak nyaman dan tidak tenang.
Reza langsung meloncat turun dari tempat tidur, ia tidak menyangka ucapannya akan ditanggapi seperti itu oleh Hasna. “Aku sama sekali tidak berpikir seperti itu….” ia langsung memeluk Hasna yang langsung melorot jatuh ke lantai karena masih lemas. “Ra...Rara… jangan berpikir seperti itu…..” Hasna tidak memperdulikannya perasaannya semakin sakit mendengar ucapan Reza yang menyebutnya tidak cocok jadi ibu rumah tangga karena tidak bisa bersih-bersih.
“Wuaaaahhhh…. Aku mau pulang ajaa…. Aahaaaaawaaa” Hasna menangis tersedu-sedu seperti anak kecil, untung saja menangis di kamar Reza kalau menangis di kamarnya mungkin sudah terdengar oleh anak-anak. “Mau pulang kemanaaa… kan disini rumah kamu sekarang” hati Reza merasa sakit mendengar tangisan Hasna, berulang kali ia sudah membuatnya menangis lagi dan lagi.
“Maaf aku minta maaf… aku gak bermaksud menyepelekan kamu… ucapanku di atas panggung itu betul adanya… aku bisa mencapai semua ini sekarang kalau tidak ada bantuan dari kamu” dia hanya bisa mengutuki kebodohannya dalam berbicara. Si laki-laki songong itu betul-betul berengsek menyebutnya berakting hanya ingin mendapatkan pujian dari orang lain. Bodohnya lagi dia malah menyepelekan istrinya saat ia membutuhkannya.
“Kalau aku tahu kamu memakai jas Arkhan karena alergi dingin aku gak akan melarang sama sekali, masa kamu berpikir aku pengen kamu mati.. kamu sakit… gak sama sekali...aku cuma pengen kamu bahagia, jangan menangis terus seperti ini… aku memang laki-laki bodoh. Makanya Mitha meninggal karena kebodohan aku … kalau aku lebih mengerti Mitha gak akan mati muda” Reza akhirnya tidak kuasa menahan rasa bersalahnya. Ia jadi ikut terisak sambil memeluk Hasna.
“Maafin aku yaa Rara… aku banyak melakukan kebodohan sama kamu” Reza menatap wajah Hasna yang masih menangis tersedu. Hasna kaget melihat Reza yang juga menangis melihatnya menangis, “kenapa Mas Reza jadi ikutan nangggggisss...heeuuuuuung” Hasna menghapus airmata yang mengalir di pipi Reza. “kamu jangan berpikir akan pernah mati meninggalkan saya sendiri… kamu jangan pernah sakit gara-gara aku..sudah cukup satu perempuan yang mati menderita gara-gara aku" Reza mengencangkan genggamannya pada muka Hasna.
Ucapan Hasna menyentakkan alam dibawah sadarnya, akan pengabaian yang ia lakukan pada istrinya dulu. Hasna mengangguk pelan, cengkraman tangan Reza membuatnya merasa sakit, diusapnya air mata di pipi suaminya. “Aku gak akan mati .. tapi jangan suka berpikir buruk kalau aku bicara dengan laki-laki lain, kalau berpikir aku ada hubungan istimewa sama Kang Arkhan mungkin sudah dari dulu aku pacaran sama dia. Tapi aku gak tertarik buat pacaran sama dia.. Aku cuma berteman dia senior aku yang baik dan punya ide-ide hebat” Hasna menyusut air matanya.
Mereka berdua duduk di lantai sambil bertatapan, “kamu tidak mengerti dia menyukai kamu..kamunya saja yang bodoh” Hasna langsung mendelik disebut bodoh oleh Reza yang langsung menyadari kesalahannya. “Bukan bodoh bodoh tapi bodoh tidak peka, tidak tahu kalau laki-laki itu suka sama kamu” Reza meralat ucapannya. “Aku tahu Kang Arkhan suka sama aku, teman-teman aku bilang tapi aku dari dulu sudah bilang sama dia kalau aku gak suka sama dia sebagai laki-laki.. Dia itu keras kepala dan menyebalkan dalam bicara SAMA seperti Mas Reza” ucap Hasna sambil berdiri.
Ehhhh… kok sama kaya aku....iya KAMU
***************
ini edisi khusus dibuat seawal mungkin untuk menjaga makemak yang ga bisa tidur gegara baper dan emosi... saya takut kena kutukan 😜
__ADS_1
episode selanjutnya akan kembali after midnight
**************