
Hasna menarik nafas, ditatapnya makam Mitha yang ada di depannya. Maura masih sibuk menuangkan botol air doa yang dibawa dari rumah, Ia masih kecil belum mengerti kesedihan kehilangan ibu, baginya sosok ibu adalah sebentuk kotak yang disebut sebagai makam tempat ibunya tidur.
Maura tidak mengenal arti kehilangan seorang perempuan yang telah membawanya selama 9 di dalam kandungan hingga meregang nyawa karena melahirkannya. Bagi Maura sosok ibu adalah sosok abstrak yang hanya tergambarkan dalam foto tapi tidak bisa dirasakan hubungan kedekatan dengannya. Mungkin kontak batin yang pernah Maura alami hanyalah saat ia menangis saat Mitha sedang koma, dan berhenti menangis saat alat bantu Mitha dilepaskan. Mungkin Mitha mencoba berkomunikasi melalui Maura untuk bisa melepaskannya pergi menuju kehidupan di alam keabadian.
Mama Isna tampak khusyu berdoa, air mata masih terus mengalir di matanya, kehadiran Hasna dengan Maura membuka kembali luka lama yang telah coba ia simpan dan pendam dalam-dalam demi kebahagian cucunya. Telah tiba saatnya untuk dia bisa mengeluarkan semua duka yang dirasakannya selama ini.
“Yang tenang ya Mitha sekarang Maura dan Hujan sudah ada yang menjaga, maafkan Mama tidak bisa terus menemani mereka. Mama sudah tua jadi sering sakit, kasihan Reza harus mengurus anak-anak sendiri”
“Relakan yaa sayang, relakan supaya mereka bisa diurus oleh Hasna, dia perempuan yang baik. Mama tau itu…” dan kemudian kembali Mama Isna kembali menangis terisak-isak.
“Kenapa Iyang menangis?” Maura sibuk menyusuti air mata di muka Mama Isna.
“Iyang menangis karena merasa senang Maura sudah punya Buna, jadi Mami Mitha bisa istirahat dengan tenang tidak akan khawatir lagi pada Maura”
“Sebetulnya saya mau menikah dengan Mas Reza karena Mbak Mita” ucap Hasna pelan sambil menatap nisan Mitha.
“Apa?… maksudnya apa Hasna” Mama Mitha tampak terlihat bingung
“Mama Bertha apakah tidak bercerita pada Mama?” Hasna mengira kalau mereka berdua telah saling bercerita tentang dirinya.
“Iya.. dulu Mama tanya apakah Hasna tidak masalah menikah dengan Reza yang sudah duda dan memiliki 2 anak, kemudian Jeng Bertha cerita kalau Hasna sudah sholat istiqarah dan merasa yakin untuk bisa menikah dengan Reza”
“Iya betul memang Mama, dalam mimpi setelah istiqarah itu saya bertemu Mba Mitha”
“Mba Mitha menyerahkan Maura kepada saya dan kemudian beberapa kali meminta saya untuk membawa Hujan…” Hasna menunduk mengingat mimpinya.
“Ohhh Ya Allah Mitha yang memilih kamu sendiri….. Mithaaaa….kamu pasti sangat khawatir pada anak-anakmu sampai tidak tenang” Mama Isna langsung menangis lagi. Hasna melihat matahari semakin tinggi udara semakin panas. Dengan kondisi seperti ini Mama Isna dan Maura bisa sakit.
“Mama kita ke mobil dulu yuk, sudah mau jam makan siang, kita ngobrol sambil makan siang, nanti Mama sakit lihat Maura juga sudah meringis kepanasan” Hasna sambil memeluk pundak Mama Isna dan mengajaknya berdiri.
“Buna mola haussssh” Maura sudah terlihat lelah dan mulai mengantuk. Hmm ini sih alamat dikasih susu langsung tepar.
“Iya nanti kita dimobil minum susu” tangan Maura langsung terentang minta digendong. Hadeuuh ini alamat latihan angkat beban. Maura langsung nemplok di gendongan Hasna.
“Mbak Mitha… aku pamit pulang dulu nanti aku kesini lagi sama anak-anak. Mba Mitha yang tenang yaaa, insya allah anak-anak aku jaga. Anak koala ini makin berat aja hobinya nyanyi. Kaka Hujan juga alhamdulillah baik bisa menerima saya. Mama Isna juga aku jagain jangan khawatir. Pamit dulu yaaa.. Assmlkm yaa ahli kubur.
Satu tangan Hasna memegang tangan Mama Isna yang berjalan lemah. Kalau ditambah 10 menit lagi diam di makam bisa-bisa pingsan semua ini sih.
“Mama sudah masak di rumah, kita makan di rumah saja. Kasian Maura supaya bisa tidur siang di rumah saja” Mama Isna langsung berjalan dengan pelan, tanggannya menggenggam erat lengan Hasna. Untung tadi sarapan lengkap ikan, sayur dan nasi jadi kuat menggendong anak koala dan mengepit tangan Mama Isna pikir Hasna.
Begitu sampai di rumah Hasna segera membaringkan Maura yang sudah tidur sejak di mobil. Mama langsung masuk ke kamar untuk sholat Duhur dan beristirahat. Hasna langsung sholat, hari ini ia merasa sudah menyelesaikan misi yang sangat penting dan bisa memiliki gambaran akan keluarga Reza. Ia bersyukur bisa hadir dalam keluarga dimana ia bisa memberikan perannya sebagai seorang manusia.
Kalau mengikuti egonya sebagai perempuan, sebetulnya akan lebih mudah kalau ia menikah dengan lelaki single, ia hanya perlu beradaptasi dengan lelaki yang mungkin sudah ia kenal dan cintai. Tapi kalau mendengar cerita Mama Isna tadi, Hasna merasa sudah mengambil keputusan yang tepat.
“Sebaik-baiknya manusia adalah yang bisa memberikan manfaat dan kebaikan bagi orang lain”. Hasna jadi teringat ucapan Mama, Ia memiliki kesempatan untuk memberikan kebaikan kepada 2 orang anak yang tidak memiliki ibu dan laki-laki yang diliputi perasaan bersalah kepada istrinya.
Hasna menunggu Mama Isna di ruang keluarga. Tampaknya Mama Isna beristirahat dulu setelah kena panas terik di makam tadi. Hasna kemudian melihat-lihat foto keluarga yang ada disana. Ternyata banyak sekali foto-foto Mbak Mitha sejak kecil, ada yang sendiri dan dengan kakaknya. Foto saat diluar negeri dengan Hujan dan Reza, ternyata memang Mita sangat mirip dengan Hujan parasnya, hanya saja Hujan memiliki pancaran dingin dari Reza sedangkan muka mirip plek dengan Hujan. Kalau Maura mirip dengan Reza hanya pancaran lembut dan manisnya sangat mirip dengan Mitha.
Melihat foto Reza dan Mitha yang sedang berdua, muncul perasaan sedih pada diri Hasna. Dia merasa seperti orang luar yang melihat kebahagian antara sepasang kekasih dan dia hanya menjadi penonton. Deg...deg….deg… perasaan ini kenapa muncul yah, kenapa merasa sakit hati seperti sudah gagal ujian dapat nilai jelek.
Lamunan Hasna terpotong oleh kehadiran Mama Isna.
“Kita makan dulu yuk, nanti kalau Maura bangun kita sudah kuat menghadapi anak… anak apa Hasna bilang?”
“Anak koala Ma..hehehehe” Hasna tertawa, Mama Isna sudah tampak lebih segar
Selama makan siang mereka banyak bercerita soal aktivitas masing-masing dan apa rencana Hasna kedepan. Mama Isna sangat mendukung rencana Hasna untuk sekolah lagi. Salah satu penyelesalannya dulu adalah tidak mendorong Mitha untuk menyelesaikan kuliahnya sehingga itu kerap menjadi penyesalan Mitha saat bercerita kepada Mama Isna.
“Reza orangnya sangat protektif Hasna, dia tidak ingin Hujan diurus oleh orang lain, sehingga Mitha tidak punya pilihan saat pulang ke Indonesia”
__ADS_1
“Ia tidak bisa melanjutkan lagi kuliahnya karena waktu studinya akhirnya habis”
“Ia sering mengeluh merasa tidak percaya diri kalau bergaul dengan teman-teman sekolahnya, mereka sudah banyak yang bekerja dan ada yang melanjutkan lagi kuliah, sedangkan ia kuliah S1 pun tidak selesai”
“Mama bilang nanti kalau Hujan sudah besar, dia bisa ambil kuliah lagi, ehhh malah hamil oleh Maura, akhirnya dia bilang kalau mungkin memang sudah nasibnya tidak selesai kuliah”
“Yang membuat Mama kesal adalah cerita Mitha tentang sekretarisnya Reza, dia suka bicara menghina dan bilang kalau Mitha tidak akan mengerti kesibukan di kantor karena tidak punya pengalaman”
“Dia itu mentang-mentang anak pemegang saham di kantor Reza jadi gayanya mengesalkan sekali”
“Mitha anaknya memang tidak suka ribut, akhirnya dia memutuskan untuk tidak datang lagi ke kantor Reza”
“Waaah Nenek Sihir Arcy yah mah… heuuuuh dulu juga pernah menyerang aku Ma” Hasna langsung mengambil kerupuk, diremukkan dengan sepenuh hati. Masih kesal mengingat terkena lemparan tempat pulpen dulu.
“Ini ada luka kan? Bekas lemparan dia, gegara aku ngelawan saat dia mendorong-dorong aku”
“Cuma kecolongan gegara Mas Reza masuk ruangan, mata aku nya jadi gak fokus, kalau inget kejadian itu pengen rasanya duel 1 lawan 1”
“Ya allah kamu lawan sampai kena lemparan?” Mama Isna langsung kaget mendengar cerita Hasna.
“Gak bisa didiamkan kalau dulu Mama menahan diri gak cerita sama Jeng Bertha sekarang Mama akan ceritakan semuanya” Mama Isna langsung menghentikan makannya dan hendak beranjak dari meja makan untuk mengambil handphone.
“Ehehehhehe Mama jangan-jangan sudah gak usah diperpanjang. Dia sudah kena surat peringatan. Lagipula aku juga bisa melindungi diri, jangan khawatir. Sekarang kalau ada keributan di kantor kasian Mas Reza sedang banyak pekerjaan terkait merger” Mama Isna langsung ditahan oleh Hasna dan kembali duduk di kursinya.
Akhirnya hari itu Hasna habiskan untuk menemani Mama Isna, mereka baru pulang setelah ashar jam 3 lebih. Maura merengek menagih janji untuk melihat sekolah, sehingga Hasna harus mencari di map sekolah taman kanak-kanak yang akan terlewati atau jaraknya dekat dengan rumah. Sebetulnya Hasna berniat nanti malam untuk googling dulu mencari informasi sekolah Play Group yang terdekat dengan rumah, tapi memiliki program belajar dan fasilitas yang bagus supaya bisa meyakinkan bos besar.
Sepulang dari rumah Mama Isna mereka berbelanja keperluan yang dibutuhkan untuk dirumah. Untuk pertama kalinya Hasna menggunakan “Kartu King” yaitu kartu yang diberikan paduka tuanku raja untuk bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin tanpa banyak pertimbangan apakah saldonya cukup atau tidak. Mari kita manfaatkan pikir Hasna.
Dibelinya kelengkapan bumbu untuk membuat bekal, daging, ayam dan ikan. Tidak lupa sayuran dan buah-buahan yang mudah untuk dikemas. Tampaknya untuk bekal putri mahkota sudah cukup lengkap. Paduka Tuanku Raja hanya makan roti dan dan minum kopi saja, bagaimanaka kalau kita membuat roti baru setiap pagi...hehehe mari kita coba limit kartu ini.
Hasna kemudian membeli alat pembuat roti yang selama ini ia ingin coba. Iklannya hampir setiap hari dipantengin di tv saluran belanja komersial. Dan ternyata masih on untuk bisa dipakai berbelanja Kartu King nya… mantaap pikir Hasna. Ternyata begini nasib kalau jadi orang kaya ternyata bisa belanja sesuai kebutuhan. Mungkin masih bisa dicoba untuk membeli coffe maker..heheh mari kita coba dan ternyata masih bisa… Hahahahaha bahagianya hatiku Hasna langsung tersenyum-senyum sendiri. Ini harus jadi bahan cerita kepada Mama di Bandung. Pohon kesabarannya sekarang telah mulai berbuah, anaknya bisa berbelanja tanpa adanya batasan jumlah. Hmmm sudah cukup jangan berlebihan nanti akan ditegur oleh yang Maha Pemberi Rezeki.
Baru saja Hasna berpikir untuk berhenti berbelanja ternyata, penguasa dunia mengirimkan pesan peringatan pertama.
“Hehehe sudah masuk notifikasi belanjanya rupanya.. Jangan khawatir sesuai kebutuhan Tuanku yang Mulia”
“Hmmm.. pakai saja. Saya pulang agak malam”
“Ya jangan lupa makan nanti besok aku bikinkan bekal”
“Gak usah repot-repot. Untuk anak-anak saja. Aku rapat lagi. Bye”
Dan itu adalah percakapan terakhir antara Hasna dan Reza di hari itu, karena malamnya ternyata Reza pulang hingga larut malam. Hasna mencoba menunggu hingga jam 11 malam tapi Reza masih belum pulang juga akhirnya Hasna memutuskan untuk tidur dengan Maura. Jam 1 malam Hasna terbangun karena melihat ada bayangan di kamar ternyata Reza yang sedang menyelimuti Hujan. Hasna hanya menatap dalam gelap, laki-laki itu terlihat sangat lelah kalau dia mengajak bicara waktu istirahatnya akan semakin berkurang, akhirnya Hasna memutuskan untuk melanjutkan tidurnya.
Keesokan paginya setelah menunaikan kewajiban lima waktu, Hasna bergegas turun ke bawah, tadi malam dia sudah membuat uji coba roti gandum sendiri dan hasilnya ternyata enak. Rotinya empuk dan terasa mudah untuk ditelan. Wuaaarbiazaaa… belanja yang sangat bermanfaat. Ia langsung membuat lagi roti isi untuk bekal, maksimalkan pemakaian untuk kemanfaatan.
Coffe maker langsung diuji cobakan. Hmmm jadi inget sama Mas Arya, siapa yang membuat kopi untuk teman-teman di kantor sekarang pikir Hasna. “Ahhh mereka juga dulu bikin sendiri, masih tetap hidup dan bertahan di kantor. Masa gak ada aku dunia perkopian di kantor akan tamat… terlalu geer kau Hasna” Hasna langsung tersenyum sendiri membayangkannya.
Sambil menunggu kopi jadi dia langsung membuat menu bekal untuk Hujan, mari kita membuat kimbap untuk bekal putri mahkota. Hasna langsung membuat isian kimbab, tadi malam dia googling membuat menu kimbab yang mudah tapi enak, ternyata sangat simple. Tidak sampai 30 menit kimbab ala Buna Peri sudah selesai.
“Apa ini Neng Hasna, mirip lontong, mau dimakan sama Non Hujan nanti gak yah?” Mbak Jumi tampak penasaran saat Hasna mencetak kimbab dalam cetakan yang dibelinya kemarin.
“Hahahah lontong luar negeri kaya gini Mbak, bentar dipotong-potong dulu” Hasna langsung memotong kimbab dan menatanya di lunch box. Mata Mbak Jumi langsung bersinar melihatnya.
“Oalaah cantiknya… kalau lontong dipotong-potong yo gak akan kaya gini” ditatapnya kotak makan siang Hujan dengan penuh kekaguman.
“Buat kita mah makan ujungnya aja yang paling enak, niiiih cobain Mba… aaaa” Hasna langsung menyuapi Mbak Jum..
“Wiis isin aku, biar maem sendiri aja ojo disuapin, nanti Tuan marah” Mbak Jum langsung mengambil suapan kimbab dari tangan Hasna dan menyuapnya sendiri.
__ADS_1
“Wuaaah uenak e poll… sueger-sueger gurih gitu yaaa ada kres-kres sayur tapi ada gurih ikannya juga” Mbak Jum langsung senyam senyum. Hadeuuuh ini mah indikator musti dibikinin banyak biar kenyang hehehehe.
“Ehhh hampir lupa belum bikin kopi” Mbak Jumi langsung beranjak ke ruang makan.
“Sudah aku bikin pake alat kopi yang baru Mbak.. kita liat nanti Mas Reza suka gak” Hasna menenangkan Mbak Jum sambil membawa bekal makan Hujan ke ruang makan. Ternyata Mas Reza masih belum tampak keluar dari kamar.
Hujan tampak sedang sarapan sereal di meja, tangannya sibuk scroll hape melihat youtube, hmmm gak jauh palingan lagi nonton BTS.
“Papi belum bangun Ka?” tanya Hasna sambil memasukan bekal makan siang kedalam kantong kecil untuk bekal yang dibelinya kemarin.
“Tadi malam Papi tulis pesan kalau aku pagi ini diantar oleh Pak Agus, Papi tadi malam pulangnya larut jadi mau istirahat dulu”
“Ke kantornya agak siangan katanya” Hujan menjelaskan tanpa mengalihkan pandangannya dari handphone, standar anak jaman now.
“Itu untuk bekal aku?” Hujan langsung melirik kantong bekal makan siangnya yang disodorkan Hasna.
‘Iya kemarin Tante beli kantong bekal makan siang, lucu-lucu jadi pengen sekolah lagi bawa bekal ke sekolah” Hasna membayangkan bisa membawa bekal makan siang lagi.
“Kaya anak kecil aja diwadahi tas bekal, isinya apa?” dia langsung membuka kantong dan melihat isi kotak makan siangnya.
‘Hmm….” hanya itu saja komentarnya dan penontonpun kecewa, tidak ada ekspresi kekaguman dari muka Hujan. Yahhhh anak petir memang hanya akan menggelegar saat langit mendung. Kalau cuaca cerah sih bakalan gak banyak suaranya pikir Hasna.
Hujan langsung membawa bekal makan siangnya untuk bersiap ke sekolah. Hmm yang bilang kaya anak kecil bawa bekal itu ternyata senang dibelikan tas bekal… inkonsistensi antara perkataan dan perbuatan pikir Hasna sambil membereskan meja bekas makan Hujan, tiba-tiba anak petir itu berbalik.
“Terima kasih tante, aku berangkat dulu” ucapnya sambil mencium pipi Hasna sekilas. Hasna langsung tersenyum… hihihihi perlu dicatat dalam sejarah ada yang cium pipi.
Ternyata efek dicium pipi oleh Hujan membuat Hasna merasa bahagia, pagi itu dia jadi pengen sanyam senyum sendiri, sampai akhirnya ada yang memergokinya sedang tersenyum.
“Ngetawain apa sampai kaya gitu” terdengar suara yang serak seperti bangun tidur. Reza keluar dari kamar dengan muka bantal, rambutnya tampak berantakan dan mukanya masih terlihat kusut.
“Whahahaha tumben bapak klimis rambutnya jadi kaya tukang nasi goreng” Hasna langsung cekikikan melihat tatapan maut Reza.
“Uyug-uyug meni ngambek disebut kaya tukang nasi goreng… cape ya Mas..hehehe di rumah ada tukang nasi goreng yang kalau jualan malam rambut mumbul kaya Mas Reza gini hehehehe” Reza langsung merapikan rambutnya dan duduk di meja makan.
“Sini aku sisirin, aku hair dresser berpengalaman dalam menata rambut pria.. Emran salah satu korban percobaan yang paling berhasil” Hasna langsung mengambil sisir dan memegang kepala Reza.
“Kamu mau apain sih… sini biar sama aku” Reza menolak tangan Hasna yang akan memegang kepalanya dan mencoba mengambil sisir dari tangan Hasna.
“Dieeem… nurut kalau ada yang mau mengurus tuh… ih keras kepala banget kaya anaknya”
“Permisi Om saya pegang kelapanya ehhhh kepalanya” Hasna langsung memegang pinggir kepala Reza dan mulai menyisir rambut Reza.
“Hmmm ini model kepalanya kaya Hyun Bin Oppa coba kalau kita sisir ke pinggir ya Reza Oppa” Hasna langsung menyisir dengan gaya profesional, diambilnya sedikit air untuk membasahi rambut Reza, dicipratkannya sedikit air dan mulai disisir dengan sepenuh hati.
Reza hanya diam dan mengamati kelakuan Hasna, diusapnya air yang menetes ke mukanya tanpa banyak protes. Tadi malam ia pulang larut dan Hasna tidak banyak mengeluh soal kepulangannya, paling tidak membiarkan bereksperimen dengan rambutnya akan menghibur perempuan di depannya.
“Whahahahaha bagus lagih dengan gaya rambut kaya gini, jangan disisir kebelakang terus” Hasna langsung tertawa mengagumi hasil karyanya.
“Ada kekurangannya sedikit… Hyun Bin Oppa punya lesung pipit, Mas Reza juga bisa punya lesung pipit kalau banyak dicubit sedikit pipinya” tangan Hasna langsung teracung untuk mencubit pipi Reza.
‘Berani kamu mencubit pipi, saya langsung kasih tutorial mencium, mau kamu?” Reza langsung memegang tangan Hasna.
Hasna langsung kaget dan menjauh dari Reza.
“Ada kopi baru mas… enak loh pake alat baru.. Mau?” Hasna langsung beranjak mengambil cangkir di meja, tidak bisa dibayangkan olehnya harus mengikuti tutorial yang lain lagi. Sudah cukup tadi malam tutorial membuat roti dan membuat kopi dengan coffe maker.
Hmmm apakah mencium memang harus ikut tutorial dulu ?
***********************
__ADS_1
Silahkan para penggemar tutorial di yucub untuk berkomentar, jenis tutorial apakah yang sering ditonton dan diikuti. Apakah termasuk di dalamnya tutorial mencium ....hehehehhe jangan suka maksa membuat adegan halusinasi .... hidup gak selalu musti pakai logika.... kalau berbeda logika gak usah dipaksain baca... dibawa senang aja yaaaa..... love u all
*************************