Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Panggil dia Soju


__ADS_3

Reza dan Hasna berpandangan saat terdengar suara Maura yang mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi.


“Banyak protes sih jadi lama mandinya” gerutu Hasna sambil membilas sampo yang tersisa di rambut Reza. Reza hanya diam tersenyum mendengar ketukan di pintu. “Sebentar ini Papinya lagi dimandiin sakit badannya. Maura tunggu duluuu” jawab Hasna. “Papi syakit apaaa?” kembali suara Maura terdengar di pintu, Reza tersenyum semakin lebar sambil menikmati guyuran air hangat di kepalanya. “Terusin sendiri..senyam senyum aja” Hasna memberikan shower ke tangan Reza.


“Nanggung udah kok.. Handukin” Reza menolak memegang shower, Hasna hanya mendelik, sabar..sabar dalam hati. Diberikannya handuk besar pada Reza, ia kemudian mengeringkan kepala suaminya dengan handuk kecil dan pundak Reza yang basah. “Berdiri…” Hasna kemudian mengeringkan kursi plastik agar tidak meneteskan air saat dibawa keluar. “Aku gak dipegangin” tanya Reza sambil tersenyum, Hasna langsung mendelik “pegangan sama iman biar gak makin menipis” jawab Hasna sambil berjalan ke pintu.


Begitu dibuka terlihat Maura sedang tiduran di tempat tidur Reza, “Maura sudah lama bangun? Tidurnya nyenyak banget di kamar Buna” Hasna tersenyum menghampiri Maura. “Kenapah Papi mandi sama Buna?” Maura memperhatikan kursi yang dibawa Hasna “Kan tadi juga Buna bilang kalau Papi sakit kepalanya pusing sampai susah berdiri.. Jadi mesti pake kursi” Hasna mengacungkan kursi plastik yang dibawanya.


 “Mola kalau syakit nda boleh mandi sama syustel” Maura rupanya ingat saat ia dirawat di rumah sakit hanya dilap tidak mandi. “Iya Papi kalau tidak mandi nanti bau kambing” jawab Hasna asal “Mola nda pelna cium cium kambing” Maura menatap Hasna dengan lugu, Hasna langsung tertawa “Tadi mestinya Maura mencium Papi waktu belum mandi...baunya sama seperti kambing” Reza yang keluar dari kamar mandi langsung mendengus.


“Papi udah mandi udah nda bau ladih” Maura menunjuk Reza yang masih memakai kimono mandi. “Iya Papiny sekarang sudah harum, ayo kita keluar supaya Papi bisa pakai baju” Hasna mengajak Maura keluar “Bisa pakai baju sendiri yaaa… itu baju gantinya di kasur” Reza mengangguk dan tersenyum pada Maura.


“Mola nanti mau liat kambing...mau cium kambing” ucapnya sambil mengikuti Hasna. “Boleh… artinya Maura suka yang bau-bau yah” Hasna menutup pintu kamar dan menyimpan kembali kursi plastik. “Maura sarapan sup ayam yaaa… bisa kan makan sendiri? Buna mau menggosok kakinya Papi supaya hangat terus nanti Papi nya disuruh tidur dulu supaya sehat” Hasna kemudian menyiapkan sarapan untuk Maura “Kaka Hujan belum bangun yaah mentang-mentang minggu pagi males bangun” ucapnya sambil melihat ke arah kamar anak-anak.


Saat Hasna masuk kembali ke kamar Reza dilihatnya suaminya telah berpakaian dan duduk disisi tempat tidur dan sedang melihat handphone. “Kakinya dibalur dulu sama kayu putih Mas.. terus bagusnya sekarang tidur lagi… masih sakit kepala gak?” Hasna mengambil minyak kayu putih dan menggosok telapak kaki suaminya. “Udah gak terlalu cuma masih terasa belum seimbang aja masih kaya mengambang perasaannya” jawab Reza. “Simpan hp nya...sekarang tidur lagi… ini minum obatnya supaya pas bangun nanti lebih fit” Hasna menyodorkan obat sakit kepala, dilihatnya muka Reza masih pucat.


“Ra… makasih” ucap Reza pelan melihat istrinya menyelimutinya dan membenahi tempat tidur. “Hmmm…” Hasna hanya menjawab pendek, ia sudah malas untuk bicara panjang lebar lagi. Tadi sudah menumpahkan kekesalannya tapi masih belum ingin bicara banyak dengan Reza yang terus menatapnya.


Siang itu Hasna dan anak-anak menghabiskan waktu dirumah, mencoba membuat resep cookies coklat yang disukai anak-anak sambil minum susu. Jam 11 siang Reza keluar kamar mukanya tampak lebih segar. Maura yang melihatnya langsung berlari “Papiiiiii udah syembuhhhh?” langsung minta digendong. “Sudah ...udah ga sakit kepala lagi sekarang” jawab Reza sambil mencium Maura “Papi halumm kayu putih nda bau kambing” ucap Maura sambil mencium cium kepala Reza. “Hehehe iya tadi sama Buna di gosok sama kayuputih” Reza tersenyum malu. Hasna hanya melirik tanpa senyuman di mukanya.


“Sakit apa Pi? Malam memangnya pulang jam berapa? Kemarin ditungguin sama Aba sampai jam 8 malam kasian pengen ketemu Papi” ucap Hujan sambil asyik menata kue coklat dalam toples. “Hmm… gitu yahhh wah kasihan Papi nya terlalu lama kerjanya” Reza melirik Hasna yang tampak tidak peduli sambil membereskan meja bekas anak-anak membuat kue.


“Papi tuh udah tiap hari kerja sampai malam masa sabtu juga kerja sampai malam juga.. Bilangin dong sama klien nya kalau Papi juga mau kumpul sama keluarga” sambung Hujan “Nihh… cobain kue bikinan kita” disodorkannya toples kue ke depan Reza. Sambil beranjak ke dapur Hasna menyambung “Bukan aku yang ngomong….” ucapnya sambil tersenyum sinis.


Reza hanya diam dan mengambil kue buatan anaknya “Hmmm enak Ka.. bikin yang banyak nanti Papi bawa bekal ke kantor” puji Reza kepada putri sulungnya. “Buna yang tau resepnya aku cuma ngebulet-buletin doang” jawabnya sambil mengambil 3 keping besar. “Buna kata Papi cookiesnya enak.. Papi minta dibuatin buat ke kantor” ucap Hujan pada Hasna yang baru masuk dari dapur.

__ADS_1


“Wani piro?” jawabnya santai…. Maura langsung tertawa “wani pilo papi...wani pilo” Hasna tertawa mendengar Maura yang mengikuti ucapannya. “Maura ngerti apa itu wani piro?” tanya Hasna, Maura menggelengkan kepalanya “Wani piro itu artinya berani bayar berapa?” jelas Hasna.. “Jadi kalau ada orang yang nyuruh kita melakukan sesuatu kita tanya sama dia wani piro berani bayar berapa… artinya kalau nyuruh itu gak gratis” jelas Hasna, Maura tampak bingung. “Jangan ngajarin yang gak bener” ucap Reza pendek.


“Bisa bagus bisa nggak sih kalau kata aku” tiba-tiba Hujan menyambung pembicaraan Hasna. “Kalau sekiranya kita ngerjain sesuatu trus dapat iming-iming hadiah kadang senang juga kaya menambah motivasi gitu” tambahnya lagi “yaah tapi kalau segala hal dihitung dengan imbalan gak bagus” jawab Reza.


“Bisa ditetapkan hukum wani piro itu Kak kalau memang membuat kita mesti kerja ekstra diluar dari kewajiban … contohnya Buna udah cape nih bikinin makanan buat kalian di rumah, ehhh trus Papi masih nyuruh Buna buat bikinin makanan juga buat orang lain padahal bisa beli sendiri… nah Buna akan bilang wani piro? Soalnya Papi kan banyak uangnya” jawab Hasna santai. “Hahahahha bener-bener….Papi banyak uangnya minta ongkos tambahan aja” Hujan menertawakan Reza yang tampak cemberut sambil mengunyah kue.


“Beda lagi tapi hukumnya sama kamu Ka.. kamu tuh santai gak banyak kerjaan, dimintain tolong sama Papi buat dibikinin kue itu gak boleh bilang wani piro soalnya tugasnya anak itu berbakti sama orang tua..” tungkas Hasna yang kesal melihat Hujan menertawakan Papinya. “Ehhh siapa bilang aku gak ada kerjaan, tugas aku banyak dari sekolah” sanggah Hujan sambil melengos.


“Alaaah kamu banyak alasan.. Dari tadi bangun bangun jam 9 .. santai terus juga..dasar malesss aja kamu mahh ari makan kue beuki dasar..” Hasna langsung memiting leher Hujan… “Ehhhh ampun...hahahhaha..ampunn ihhh Buna sakitt iiiih awass nanti aku balesss” Ibu dan anak itu asyik saling bergulat di karpet sambil ditertawakan Muara.


Reza melihat interaksi keduanya, ia menghela nafas entah apa jadinya kalau tadi pagi dia tidak dirawat oleh Hasna, mungkin seharian ini dia akan merasa terpuruk dengan kondisi badan yang acak-acakan. “Maura main sama Kaka… Papi mau kirim email dulu sama teman Papi” Reza menurunkan Maura yang duduk di pangkuannya. “Tolong buatkan aku kopi Ra.. ada dokumen yang mesti aku email sekarang” ucapnya sambil beranjak ke ruang kerja.


Hasna melihat Reza yang lebih pendiam, tampaknya suaminya sudah muncul kesadarannya. Dibuatnya kopi dan beberapa potong biskuit pada piring kecil dan masuk ke ruangan Reza. Suaminya tampak terlihat serius menghadap pada laptop, pandangannya beralih pada Hasna yang masuk ke ruangan.


“Ini kopinya, kalau mau dibuatkan kue nanti aku buatkan tapi tidak sekarang aku capek mau tidur semalam kurang tidur” ucap Hasna singkat sambil beranjak pergi meninggalkan meja kerja Reza. “Ra tunggu sebentar aku mau bicara” Hasna menghentikan langkahnya dan berbalik. “Mau ngomongin apa? Aku ngantuk” jawabnya ketus.


“Aku gak suka Mas Reza melakukan itu, gak ada toleransi sama sekali. Sepenting apapun nilai suatu pekerjaan tidak sebanding dengan melanggar aturan agama” ucap Hasna. “Mungkin selama ini Mas Reza gak pernah ada yang mengingatkan ...ok gak apa-apa aku maafkan tapi aku gak akan pernah lupa” sambungnya lagi, Reza langsung mengerutkan dahinya “Dimaafkan tapi gak akan pernah lupa artinya akan terus-terus disebut dong kesalahannya” dia langsung menggeleng-gelengkan kepalanya, terasa sangat mengerikan.


“Aku gak suka Mas Reza disetir sama Arcy..sepenting apapun posisinya bukan berarti harus ditolerir” sambungnya lagi “Saya tahu kalau Bu Arcy anak Komisaris tapi Mas Reza musti sadar kalau Mas punya keluarga dan sekarang punya istri… kecuali kalau memang sebetulnya Mas Reza menyukai sikap Arcy yang memuja… siapa sih yang tidak suka dipuja sama lawan jenis..apalagi cantik dan seksi” dengus Hasna.


“Ehhh kamu kok ngomong gitu sih… aku tuh gak ada apa-apa sama Arcy” jawab Reza cepat. “Sekarang jawab kemarin saat mabuk… Mas Reza ingat tidak melakukan apa sama perempuan itu?” Hasna menatap tajam suaminya. Reza langsung melepaskan pelukannya dan melengos dia menarik nafas, ia mencoba mengingat-ngingat dengan jelas rasanya tidak melakukan hal yang aneh karena ada banyak orang disana.


“Hmm setelah makan, mereka kemudian ditawari untuk hiburan dengan nyanyi bersama, asalnya aku sudah mau pulang tapi waktu itu mereka ingin hiburan bersama-sama ada room khusus yang full studio di restaurant itu” Reza mengingat-ingat acara tadi malam. Hasna menatapnya dengan tajam. Hasna mendengus pasti si Nenek Sihir yang menawari acara hiburan itu, “pasti yang menawari hiburan itu Arcy kan?” Hasna menatap Reza tajam yang hanya bisa mengangguk.


“Ampun deh Mas.. otak bisnis sih pinter tapi kalau berhadapan sama kuda liar pasti kalah” Reza mengerutkan dahinya “kuda liar?....” Hasna langsung tidak sabar “Itu sekretaris mu … kuda liar.. Lari kesana kemari ..kamu kaya cowboy aja ngejar-ngejar… pasti gak akan jauh sama Om Om Korea yang kemarin juga kaya gitu” Hasna megap-megap kesal, ditepisnya tangan Reza dan pangkuannya. Saat itu Hasna duduk bersandar di meja kerja.

__ADS_1


“Kamu tuh berlebihan banget sih.. Aku disebut cowboy ngejar-ngejar kuda…” Reza merengut. “Sekarang selama proses nyanyi-nyanyi kamu ngapain aja sama dia… ngaku ...jujur sekarang daripada nanti ada yang lapor sama aku..gak akan aku maafkan kamu” Hasna melotot.


Reza langsung menunduk berusaha mengingat-ingat, dia minum tertawa-tawa bernyanyi tiba-tiba dia ingat langsung panik dan pucat..”Hmmm itu… gimana yang bilangnya” Reza terlihat seperti kebingungan.


“Bilaaang ngapain!” Hasna langsung naik satu oktaf.. “Hmm dia mau jatuh trus duduk di pangkuan aku… sambil nyanyi-nyanyi” Reza menunduk… “Hmmm bagus banget enak yaaa.. Senang-senang duduk pangku-pangkuan sama perempuan lain...hebat sekali kelakuan suami aku….ckckckck... “ Hasna langsung beranjak tapi tangannya ditarik oleh Reza..”Maaf aku gak ngapa-ngapain kok sumpah Ra… aku masih sadar kok… aku cuma ketawa-ketawa aja.. Trus udah gitu pulang”


“Maaf aku benar-benar minta maaf… janji tidak akan melakukan hal seperti ini lagi… aku kemarin betul-betul gak berpikir panjang, dulu aku pernah minum wine sama beer tapi efeknya gak sampai kaya gini…” Reza tampak menyesal mukanya jadi seperti anak kecil yang ketahuan melakukan kesalahan. Hasna memandangnya dengan kesal, mau gimana lagi sudah kejadian.


“Kamu mesti sholat taubat Mas… minta maaf sama Allah sudah melanggar larangannya” Hasna menatap tajam Reza hanya mengangguk pelan “Kata kamu solat aku gak akan diterima 40 hari..” Hasna langsung melotot “Trus karena merasa gak diterima gak akan solat selama 40 hari? SALAAAAH ITU”


“Udah mah melakukan dosa malah nambah dosa lagi gak solat… Sholat aja lakukan, saat Allah masih memberikan kesadaran sama kita untuk menyadari kesalahan dan memperbaikinya… Hadeuuh aku jadi kaya ceramah ginih sih..” Hasna jadi semakin kesal ditepisnya tangan Reza yang menggenggam tangannya tapi tidak bisa karena dipegang dengan erat.


“Yaah kasih tau kan aku gak hapal. Makanya kalau ngasih tahu jangan membingungkan kan aku pusing katanya gak diterima shalat 40 hari kenapa aku mesti sholat kalau begitu?” Reza cemberut. Hasna menarik nafas, jangan terbawa emosi musti paham kalau suaminya memang kurang ilmu agama.


“Allah itu Maha Pengampun, Maha Penyayang pada umatnya, kalau Mas Reza benar-benar merasa bersalah dan meminta ampunan atas dosa khilaf yang dilakukan sebesar apapun dosa akan dimaafkan. Jadi tetap lakukan kewajiban kita sholat dan berdoa supaya batin kita diberikan ketenangan”


“Sekarang bathin gak merasa tenang kan? Ada perasaan was-was, merasa bersalah bingung?” tanya Hasna tatapannya sudah tidak segarang sebelumnya, Reza mengangguk. “Sebentar lagi dzuhur… Mas sholat duhur dulu terus kemudian sholat taubat.. Bacaannya gimana googling aja biar lebih jelas.. Jangan pusing musti baca suratnya kalau gak hapal, baca saja surat yang hafal..Allah Maha mengerti” tanpa sadar diusapnya tangan Reza.


“Makasih yaa sayang untuk tetap berada sama aku… “dipeluknya Hasna dengan erat. Akhirnya hatinya luluh untuk ucapan Reza, diusapnya kepala suaminya dengan penuh rasa sayang “Maafin aku yah..” Reza menatap Hasna dengan penuh harap. Hasna diam dan mengangguk lemah. Ditariknya Hasna lebih dekat dan menyandarkan kepalanya di dada perempuan itu. Lama-lama Hasna merasa kalau Reza bukan hanya bersandar di dadanya, kepalanya sudah mulai mengendus dan mencium dadanya, langsung saja kepala Reza diangkat dan ditengadahkan oleh tangannya.


“Heeeeh… jangan berpikir maafnya sudah sampai sejauh itu yaaaaa… enaknya saja.. Aku gak mau making love sampai lewat 40 hari salah sendiri …. “ Hasna melepaskan pelukan Reza dari badannya. “Whaaat masa aku mesti nunggu sampai 40 hariii… itu kan sama seperti masa nifas aja” Reza langsung menolak, bayangan 40 hari harus berpuasa tidak bisa bercampur dengan istrinya membuatnya pusing, barusan saja memeluk Hasna sudah langsung membangkitkan gairahnya.


“Tahu kenapa perempuan baru bisa menikah lagi setelah lewat masa idah? Karena DNA dari  suaminya akan masih menempel di perempuan itu selama masa itu… makanya aku gak mau nanti kalau di dalam benih Mas Reza yang sudah tercemar soju sekarang akan menempel di DNA anak aku… Aku gak mau nanti anak aku dipanggil Soju sama malaikat… Hell No!” ucap Hasna sambil beranjak pergi.


“Masaaa aku gak boleh tidur sama kamu selama 40 hari Raaa…. Please aku bisa pusing…” Reza langsung berdiri menyusul Hasna dan menahan pundak istrinya. “Terserah.. Pokoknya aku gak mau nanti ada pembuahan selama 40 hari” Hasna bersikukuh. “Ya udah gak apa-apa.. Kita pakai sarung aja” Reza langsung menawarkan jalan keluar.

__ADS_1


“Sarung? Gimana caranya pake sarung bisa menghalangi pembuahan… sarung kan cuma dipakai buat sholat” Hasna. Reza langsung menarik nafas… ya ampun ini punya istri polos amat. “Pakai k*nd*m maksudnya… disarungin jadi gak akan ada benih yang masuk” Hasna bengong tidak mengerti dan mengerutkan dahi “ terserah aaah mau pakai sarung mau pakai mukena… pokoknya yang penting gak boleh ada pembuahan… aku gak mau punya anak namanya Soju”


Padahal lucu juga yah namanya kalau Soju heheheheheheh…….


__ADS_2