
Reza PoV
Perempuan masih terlelap saat alarm subuh berbunyi, Ia tadi baru tidur jam 3 lebih setelah menangis sampai membuat baju tidurku basah. Sepanjang dia menangis hingga tertidur sekarang aku tidak bisa tidur lagi, perasaanku jadi sakit mendengar tangisnya sampai terisak-isak hingga akhirnya lelah dan tertidur, lagi-lagi aku membuat kesalahan yang membuatnya marah dan kesal.
Tapi kenapa dia tampak menjadi emosi dan sekarang malah sedih seperti ini, bukankah tadi pas magrib tampak sudah tenang dan saat ku ajak bercinta mengiyakan walaupun banyak persyaratan.
Kulihat handphonenya bergetar ada pesan masuk, siapa yang mengirimkan pesan jam 5 pagi, seperti tidak ada waktu lain saja. Kubuka hpnya, jadi ingin tahu siapa yang suka mengirim pesan jam segini. Apa ini nomor tidak dikenal? Aku langsung kaget melihat pesan yang di dalamnya, ada foto-foto aku dan Arcy saat menjamu tamu-tamu dari Korea, tapi ini bukan foto acara resmi ini seperti foto teror, seperti sengaja ingin memperlihatkan hubungan yang tidak semestinya antara aku dan perempuan itu. Shitss…. Ini foto terlihat aku seperti laki-laki murahan.
Dia pasti sudah melihat foto ini, ada beberapa chat yang dikirimkannya mengomentari foto ini. Untuk apa juga dia kasih komentar, pantas tadi dia menangis. Tapi kenapa dia gak menceritakan soal foto ini, malah menyimpannya sendiri. Apa lagi ini pesan yang dikirim barusan.
“Orang udik ngomongnya bahasa udik bentar lagi juga loe dicerai bikin malu”
Siapa orang mengirimkan pesan gelap seperti ini, akhirnya aku coba telepon, ternyata memang orang pengecut langsung dimatikan dan tidak ada lagi nada sambung. Aku cuma bisa menarik nafas, pernikahan dengan Hasna butuh banyak adaptasi dan cobaan. Padahal aku tidak pernah bermaksud untuk menyakiti perempuan ini. Kuusap rambut yang menutupi matanya, masih ada genangan air mata di hidungnya, pantas saja dia menangis sedih seperti ini.
“Raa… sudah jam 5, hari ini katanya kamu mulai kuliah? Jam berapa?” kuusap rambutnya, matanya mengerjap dan tampak sulit untuk membuka mata, jelas saja susah membuka mata, gara-gara menangis tadi jadi bengkak.
“Ughh… jam berapa inih?” dia mencoba duduk tapi matanya masih menutup
“Jam 5, aku bangunin takut kamu kuliahnya jam 7 jadi kamu musti berangkat jam 6 kalau tidak mau terlambat” ucapku sambil merapihkan rambutnya yang masih terasa lembab. Rupanya tadi pas mandi besar dini hari ia tidak mengeringkan rambutnya.
“Kepala aku pusing” dia memegang kepalanya sambil menekan-nekan pelipisnya.
“Kamu tidur dengan rambut basah jadi pusing...kuliah jam berapa?” kucoba memijat pundaknya.
“Jam 9 artinya nanti berangkat barengan Maura terus langsung ke kampus” ia masih diam menunduk di tempat tidur. Dicarinya handphonenya dan kulihat dia diam membaca pesan yang masuk, akankah dia menceritakan soal foto-foto itu. Aku masih menunggu reaksinya, dia malah melihatku.
“Kenapa Mas? Udah sholat subuh belum? Jamaah yuk” dia langsung turun dari tempat tidur, dan menyimpan hapenya di meja seperti tidak ingin aku melihatnya. Ok dia sengaja menyembunyikannya.
Pagi itu semua berjalan seperti biasa, seperti tidak ada apa-apa, dia menyiapkan sarapan dan bekal untuk anak-anak, sambil terus menempelkan sendok ke matanya.
“Bunaa kenapa pake sendok matanya” Maura tampak penasaran melihat kelakuannya.
“Biar mata Buna gak keliatan bengkak.. Coba liat sekarang mata Buna masih sipit gak?” ia menyorongkan mukanya kedepan Maura
“Mata Buna masih ada dua” Hasna langsung menciuminya, aku jadi tertawa mendengar jawaban Maura, tak sengaja mataku bertatapan dengan Hujan yang menatapku dengan tajam. Uhhhh...pasti anak ini akan menumpahkan kekesalan padaku lagi. Kadang aku merasa melihat cermin saat berhadapan dengan Hujan.. Muka memang mirip Mitha tapi semua sifat dan tingkah lakunya sama denganku.
“Papi buat ulah apa lagi kemarin sampai Buna menangis?” dia langsung menembakkan pertanyaan saat Hasna masuk ke dapur.
“Gak buat masalah apa-apa Ka.. kamu selalu salah paham sama Papi, Buna mungkin kangen pengen pulang ke Bandung” jawabku cepat sebelum Hasna masuk.
“Gak akan mungkin, kemarin baru bertemu sama Enin dan Abab” ia langsung berdiri dan kembali ke atas, anak itu susah untuk dibohongi, ya sudahlah yang penting tidak bertanya lagi.
“Maura nanti Buna antar sampai ke depan kelas trus ditinggal yaaa, hari ini Buna mulai belajar ke sekolah jadi langsung pergi lagi… gak apa-apa kan?” Hasna langsung membuat perjanjian dengan Maura untuk hari ini.
__ADS_1
“Nanti Mola pulang sama siapaa?” Anak ini langsung merajuk dan duduk menunduk.
“Sama Buna, nanti Buna setelah selesai kuliah pertama langsung jemput Maura” ia langsung membuat janji yang akan sulit ia tepati pastinya.
“Matakuliah kedua jam berapa memangnya?” dia masih belum tahu kalau Jakarta akan macet di siang hari.
“Jam 1.30 mas” dia membuat tiga bekal makan. “Itu bekal buat siapa?” aku tidak suka membawa bekal, makanan harus hangat kalau saat dimakan.
“Hehehehe buat aku.. Mas Reza kan gak suka bawa bekal, aku khawatir ga sempat beli makan siang nanti” ia langsung membungkus semua bekal makanan dalam tiga kantong yang berbeda. Perempuan ternyata memang senangnya membawa makanan rumahan.
“Maura nanti pulang dijemput sama Pak Agus saja supaya bisa beli ice cream di Mart depan” ucapku mengalihkan perhatiannya pada makanan kesukaannya. Maura harus dibiasakan tidak tergantung kalau Hasna sudah mulai kuliah. “Boyeh beli dua” mukanya langsung bersemangat mendengar membeli ice cream kesukaannya.
“Gak boleh, kalau terlalu banyak nanti Maura sakit batuk trus gak bisa sekolah dong” dia terlalu keras padahal sesekali tidak apa pikirku yang penting mau dijemput sama orang lain selain dirinya. “Bukan buat Mola ais klimnya tapi buat Kaka Ujan” dasar anak ini sudah pintar tawar menawar.
“Ya boleh kalau buat Kaka Hujan, sekalian saja nanti beli lima yah, buat Buna, Papi sama Mbak Jumi…. Ehhh beli enam saja Pak Agus juga belikan sama Maura, pilihan rasanya boleh sama Maura aja dipilihkan yaaa… Eh Buna minta yang stowbelly… kalau Papi mau apa?” pintar dia membuat Maura teralihkan fokus manjanya jadi misi membelikan sesuatu sepulang sekolah.
“Papi mau rasa pisang saja” jawabku asal. “Lasa pisang yang sponbob Papi” ternyata ada ice cream rasa pisang rupanya “Ya boleh spongebob” jawabku “Kaka mau lasa apa?” ia langsung bertanya pada Hujan yang sudah turun dengan memakai baju seragam lengkap. “Lasa apa maksudnya?” dia bingung “ Adik kamu mau belikan ice cream mau rasa apa katanya” tiba-tiba Maura menjawab sendiri.
“Mola tau ..mola tau Kaka syuka lasa cokelat pakai kacang-kacang” rupanya dia suka memperhatikan ice cream yang suka dimakan Hujan. “Pinteeeerrrr kamu anak kecil” Hujan langsung menjembel pipi adiknya “Papiiiiiii kakak nakaaallll uwaaaaaahhhh…..” langsung menangis mengadukan kelakuan kakaknya.
“Kamu tuuuh gimana sih suka banget ngisengin adek” ucapku sambil melotot mengusap-usap pipi Maura.
“Sama kaya Papi yaa.. Suka jahatin Buna” anakkkk ini…. Urgh… semakin kesini semakin berani menjawab kalau dimarahi.
“Kakaak… gak boleh bicara seperti itu” tiba-tiba Hasna sudah ada di belakang, “Pagi-pagi jangan suka ribut nanti harinya gak berkah… kita mulai hari dengan basmallah supaya berkah.. Minta doa dari Papi biar lancar di sekolahnya” dia mengacungkan kotak bekal makan siang Hujan.
“Kalau pagi ini terlalu mepet waktunya, Maura diantar sama aku aja” dia melihat kearahku, matanya sudah mulai terlihat normal, rupanya dari tadi menempelkan sendok ke mata supaya mengurangi bengkak matanya.
“Gak apa-apa, sekarang mau siap-siap berangkat jam 7.15 aja jadi ada spare waktu 1.15 menit. Maura masuk jam 8 ada waktu main dulu dia sama temen-temennya, kalau udah main suka lupa sama aku dia mah” Ia langsung meraih Maura yang masih bermain-main dengan makanan. “Ayo kita mandi… hari ini kita akan berpetualang lebih pagi...blururbrupbrup” sambil menggigit telinga Maura yang membuatnya menjerit-jerit geli..”Ihihihihi geliw Bunaa...geliww” tidak tampak muka sedih sama sekali dimuka perempuan itu.
Ditinggalkan pergi oleh semua orang membuat perasaan terasa sepi. Kalau saja Pa Agus sudah pulang setelah mengantarkan Hujan, rasanya lebih tenang kalau dia diantar saja oleh Pak Agus, sayang aku tidak bisa mengantar dia pergi ada jadwal rapat jam 9 pagi ini. Sehingga jam 8 pagi ini aku harus sudah berangkat ke kantor.
Author PoV
Siang itu setelah rapat Reza masih berdiskusi soal kelanjutan kontrak dengan perusahaan Korea yang kemarin datang berkunjung. Aswin yang masih terlihat sakit tapi memaksakan diri untuk berangkat ke kantor karena jadwal hari ini yang sangat padat. Reza akan kewalahan menyiapkan semua berkas untuk rapat kerjasama.
“Mass…. Maaf yaa kemarin” tiba-tiba Hasna sudah muncul di depan pintu. Aswin langsung kaget dia terlalu fokus menghitung perbandingan persentase profit kalau dilakukan dalam kurun waktu satu tahun, lima tahun dan 10 tahun. Ternyata tidak terlalu besar selisihnya kalau dilakukan jangka panjang.
“Ehhh kaget saya… gimana Mba..ehh Bu.. kemarin Pak Reza pulang jam berapa?” Aswin berbisik sambil melihat ke arah luar.
“Kaya kalau Mas Aswin gak nyari tahu, dia bakalan gak pulang.. Panjang deh ceritanya mendingan gak tau”
“Lain kali Mas Aswin jangan biarin Pak Reza pergi berdua sama dia itu… bahaya.. Pak Reza orangnya lemah banget kayanya sama perempuan itu” Hasna mengarahkan kepalanya ke arah ruangan Arcy sambil cemberut kemudian menghela nafas.
__ADS_1
“Eh gimana udah baikan? Aku bawain Mie Kocok nih… ternyata di depan kampus ada warung mie kocok enak banget katanya kalau lagi jam istirahat bisa sampai ngantri-ngantri gitu” Hasna mengacungkan bungkusan pelastik yang dibawanya.
“Waaah saya udah lama gak makan Mie Kocok” Aswin langsung sumringah, hidung mampetnya membutuhkan kuah yang segar.
“Bentar yahh aku angetin dulu, Pak Rezanya masih rapat yah?” Hasna langsung masuk ke ruangan Reza, sekarang ia sudah tidak sungkan lagi.
“Sebentar lagi selesai bu, saya gak ikut rapat soalnya mau menyiapkan bahan rapat nanti siang jam 2” Aswin mengikuti Hasna ke pantry kecil yang ada di ruangan Reza.
“Ya udah sana kerja aja, aku siapin sendiri, mau diangetin dulu di microwave biar panas kuahnya” Hasna langsung membuka plastik dan menumpahkan kuah ke dalamnya. Saat akan menghidupkan microwave ada panggilan telepon di hapenya.
“Hallo assalamualaikum Ra… “
“Hasnaaa kamu nyebelin iiiih..” terdengar suara perempuan di sebrang telepon
“Bentar-bentar aku hidupin speaker dulu, aku mau ngangetin kuah Mie nya” Hasna langsung menghidupkan mode speaker di hapenya.
“Ya gimana..kenapa?” Hasna langsung melihat microwave yang ada di ruangan Reza kok beda dengan yang biasa ia pakai dirumah. Yang ini kelihatan lebih canggih.
“Kamu tuh gak bertanggungjawab banget. Yang setuju makan sama mereka bertiga kan kamu, tapi kamu malah ninggalin aku sama mereka. Kamu tau gak mereka ngajak kita makan soalnya pengen ngobrol sama kamu” terdengar suara perempuan berteriak di sebrang telepon.
“Enaknya aja… aku setuju makan Mie Kocok bukan karena mereka bertiga kebetulan aja mereka juga mau, emang kenapa? Duh ini microwave nya kok aneh sih Ra.. aku ga ngerti musti pijit yang mana” Hasna mengeluh melihat microwave yang tidak ia kenal cara pakainya.
“Sepanjang makan mereka tuh nanyain elo tau gak, apalagi si Ferdi.. Pake minta nomor telepon kamu lagi” suaranya terdengar kesal. Hasna masih mengerutkan dahi melihat menu microwave, dia kemudian googling mencari cara pakai microwave dengan merk itu.
“Bodo aja orangnya, kalau mau tahu nomor hape aku kan tinggal lihat di grup wag yang dibuat tadi.. Yang mana sih yang namanya Ferdi?... ah ini dia cara pakainya… owh yaa ampun gampang banget ternyata hihihihihi” Hasna menemukan manual penggunaan microwave di youtube.
“Itu yang pakai kemeja putih, yang tadi ngajakin kita makan bareng, kamu tuh gimana sih kan tadi kamu ngobrol sama dia kok gak inget namanya” tanya perempuan itu terdengar kesal.
“Owh yang pake kemeja putih, buset deh tuh lakik gayanya kegantengan banget...eneg liatnya juga.. Bilang nanti kalau magang kerja di perusahaan Babe gw segala.. Mak sombong kali dia..baru perusahaan bapaknya bukan perusahaan dia” Hasna langsung ngoceh
“Aku tadi lupa namanya dia… jadi cuman ngomong loe gw aja...hihihihi padahal gak inget namanya siapa...mustinya kalau hari pertama pake name tag kaya anak SD biar gampang ngapalin nama...uffff..anjay panaas” Hasna langsung meniup-niup tangannya saat memegang mangkuk kuah Mie Kocok ternyata kelamaan memanaskan kuahnya.
“Kamu tuh di kelas kita laki-laki cuma ada dikit tapi gak hapal gimana sih, katanya bapaknya petinggi Pertamina” perempuan itu terdengar kesal
“Yah gak apa-apa asal mereka gak tau aku gak hapal nama mereka. Petinggi Pertamina maksudnya apa? ngaku-ngaku kali Raa.. loe jangan mau percaya. Kalau bapaknya jualan bensin eceran juga bisa disebut pemilik Pom Bensin..hihihihi” Hasna cekikikan.
“Dia tanya loe udah punya pacar belum?” tanya perempuan di seberang telepon
“Gw… gak punya pacar gak laku” Hasna langsung cekikikan, terbayang kagetnya mereka kalau tahu kalau dirinya sudah menikah.
“Ra… aku mau ngasihkan dulu Mie Kocok dulu, ntar disambung lagi...lanjutkan perjuangan sama si Ferdi cayangk...hahahahha” Hasna langsung menutup telepon dan keluar dari pantry.
“Owwhh ya Allah kaget.. “ Hasna hampir menumpahkan Mie Kocok ditangannya. Ternyata dari tadi Reza sudah ada di ruangannya. Ia berdiri bersender di dinding, ekspresi mukanya dingin penuh kekesalan.
__ADS_1
“Gak punya pacar gak laku… bagus ….sekalian saja bilang lagi mencari pasangan” Reza langsung melengos pergi..
Waduuuuh … ini mah alamat musti nambah kecap biar jadi manis Mie Kocoknya, muka yang depan udah asem asin kecut.