Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Syarat dan Ketentuan Berlaku


__ADS_3

Hari itu Hasna tidak keluar rumah, saat Reza berangkat ke kantor ia memutuskan tetap di rumah sampai anak-anak pulang. Sambil menunggu Maura pulang Hasna masuk ke kamarnya yang sudah dirubah oleh Reza dengan menambahkan ranjang bayi, sofa kecil, meja untuk mengganti popok. Kamar jadi terasa penuh, yah dia harus menghargai usaha Reza paling tidak ia berusaha menunjukkan antusiasnya dalam menyambut anak ketiga dan keempat.


Anak ketiga dan keempat, jumlah anak yang banyak untuk ukuran jaman sekarang. Ia saja hanya tiga bersaudara, anak kembar memang menambah jumlah yang signifikan dalam satu kali kelahiran. Hasna bersyukur hanya kembar dua tidak terbayang kalau dia dapat kembar tiga sekaligus mau dipegang oleh tangan yang mana karena tangannya hanya dua.


Beberapa saat Hasna memikirkan bagaimana caranya menceritakan tentang kehadiran adik dengan Maura. Dicarinya beberapa referensi cerita tentang bayi yang ada dalam dongeng, lebih mudah menceritakan lewat dongeng kalau dengan Maura daripada memberitahunya dengan cara normal seperti pada manusia dewasa. Dan ternyata ada film animasi yang menceritakan tentang pengiriman bayi oleh burung bangau. Akhirnya Hasna menonton film dengan judul Sroks itu, ternyata film itu sangat lucu ia sangat terhibur saat menontonnya sampai tidak sadar Maura pulang dari sekolah.


“Bunaa ladi apaah, tenapa tadi Mola dengel Buna tawa-tawa telus” Maura tiba-tiba sudah datang ke kamar.


“Ehhhhh hihihihi assalamualaikum anak Buna...aduuuh senengnya yang udah pulang sekolah sampai kuncirannya pada berantakan semua” Hasna langsung menyambut Maura yang seperti sudah pulang dari Sirkus.


“Tadi Mola lambutnya salon-salonan sama Molin… katana kalau mau besok Molin mau bawa walna-walna lambut tlus Azzka mau ditempelin kutek-kutek kaya kaka Ujan” Hasna tertawa geli rupanya anak sekarag walaupun masih TK pembicaraannya sudah membahas makeup dan asesoris rambut.


“Ya nanti Buna buatkan liptin Buah Naga sama kutek yang aman buat anak-anak, jangan pakai yang kaka Ujan” Hasna ingat ada kuteks untuk anak-anak yang aman digunakan karena berbahan dasar air. Maura langsung terlihat bersemangat, anak ini memang suka ada saja maunya.


“Mau nonton film ini gak lucu banget” Maura langsung memperhatikan film yang ditonton Hasna, “Mola nda syuka bayi” jawabnya sambil cemberut.


“Ini film tentang burung yang punya tugas mengantarkan bayi, burungnya lucu banget Mola, Buna jadi pengen punya burung seperti ini” mendengar cerita tentang burung perhatian Maura langsung teralihkan.


“Mola juga syuka sama Bulung, nanti boyeh punya bulung kaya di Iyang” Maura rupanya sangat menyukai burung parkit yang lucu di rumah Mama Isna.


“Hmmm boyeeeh tapi kalau burung ini sukanya tinggal dipantai soalnya makannya ikan laut, nonton yuks sambil makan” Hasna berusaha membujuk Maura untuk menonton supaya bisa mengawali pembahasan tentang bayi dengan Maura. Ternyata memang film itu terlalu panjang untuk Maura, setelah ia menghabiskan makan siang Maura sudah tidak tertarik lagi melihat film animasi itu.


“Maura kenapa tidak suka sama bayi?” akhirnya Hasna mengalihkan perhatian pada  Maura yang sedang menyusun mainan melihat pada Hasna dan kemudian terlihat berpikir. “Kalna bayi syuka menangis belisik seperti Mikail” ucapnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.


“Bayi menangis karena dia lapar atau karena popoknya basah. Kalau seperti itu kita harus segera memberi susu atau mengganti popok, karena bayi belum bisa bicara jadi dia bisanya hanya menangis” jelas Hasna, Maura hanya menganguk-angguk.


“Kalau Maura punya adik baby nanti ada yang menemani Maura bermain, kalau adiknya sudah besar dia nanti bisa menjaga Maura supaya tidak ada yang ganggu” Maura menatap pada Hasna.


“Temen Maula yang laki-laki suka mendanggu, suka nalik-nalik baju kalau lagi balis” Maura langsung mengadukan teman laki-lakinya. “ Hmmm kalau begitu nanti adiknya akan bilang sama temannya Mola… jangan ganggu-ganggu kakak aku…” Hasna menirukan gaya preman sehingga Maura tertawa.


“Dulu waktu Buna masih kecil, Kak Angga yang suka galak sama temen-temen Buna yang suka ganggu jadi gak ada deh yang suka ganggu Buna lagih” Maura tampak diam, ide memiliki penjaga tampak menyenangkan untuknya. “Nanti Maura akan punya teman yang bisa dimintain tolong … Adikk… tolong bawakan boneka yang dilemari.. Langsung deh ada yang bantu bawain… atau adiik ayo kita main-main minum teh… atau adik ayo kita main petak umpet” Hasna menyebutkan beberapa hal yang paling menyenangkan kalau memiliki adik atau kakak.


Maura masih tampak tidak menyimak, dia masih belum sepenuhnya mengerti, tiba-tiba adegan di dalam film menunjukkan bayi yang diberikan oleh Burung Bangau kepada sepasang suami istri. “Kenapa bayinya dikasihkan sama meleka” ia menunjukkan bayi yang di film.


“Karena kalau sudah menikah nanti burung akan memberikan bayi kepada mereka” jawab Hasna cepat, Maura melihat dengan cermat kemudian menatap Hasna “Buna kenapa gak dikasih bayi sama bulung?” Hasna langsung kaget dari tadi dia muter-muter mencari ide, tiba-tiba diberikan tendangan langsung oleh Maura.


“Buna sudah dikasih sama burung dua kali malah” jawab Hasna cepat. “Kapan Mola kok gak liat bulungna”


“Waktu sebelum menikah, Buna mimpi dikasih dua anak perempuan sama Burung yang cantik… eh ternyata itu Kakak Hujan sama Maura… trus kemarin Buna mimpi lagi ketemu Burung dikasih bayi dua” Maura langsung menengok pada Hasna. “Mola juda nda liat bulungnya… bayinya sekalang mana?” Maura langsung mendekat.

__ADS_1


“Di dalam perut Buna, soalnya masih kecil jadi dimasukin dulu ke dalam perut Buna, kalau Kaka Ujan dan Maura kan sudah besar jadi udah gak muat di perut Bunda” Maura menatap perut Hasna dengan penuh selidik. “Maura mau pegang?” tanyanya dengan lembut, Maura langsung mengangguk. “Disini ada dua bayi yang menjaga Maura dari teman-teman yang suka mengganggu nanti dia akan menjadi pengawal Kaka Hujan dan Maura” Hasna menempelkan tangan Maura ke sebelah kiri dan kanan perut.


“Buna pelutnya sekarang dendut” ucapnya sambil mengusap-usap perut Hasna. Terdengar pintu terbuka, Hasna langsung melihat disangkanya Hujan yang datang ternyata Reza, tumben pulangnya lebih cepat.


“Gimana bayinya bisa masuk ke pelut Buna” Maura tampak bingung melihat perut Hasna, dalam film bayinya cukup besar untuk dipeluk. Hasna langsung menoleh kearah Reza dan menunjuk Reza.


“Nah kalau itu Papi yang tahu, soalnya pas Buna mimpi yang ke dua Papi yang bawa burungnya” Reza langsung tersentak. Ia baru datang ke rumah belum juga mengucap salam sudah harus menjelaskan perburungan.


“Papiii…. Kata Buna bayi di pelutnya dibawa sama Bulung… Papi ketemu sama bulungnya? Burungnya besar?” Maura langsung menghampiri Reza dan mencecar dengan pertanyaan.


“Ehhhh burung apa ini?” Reza bertanya dengan bingung, sambil membawa tas di tangan Reza Hasna berbisik “Makanya kalau punya burung harus bertanggungjawab” Reza langsung melotot pikirannya sudah melayang kemana-mana. Hasna langsung menunjuk film animasi di tv. “Itu film Stroks… Burung Pengantar Bayi… Papi tuh ihhh pikirannya kemana-mana” Hasna langsung cekikan masuk ke dapur.


Mbak Jumi yang di dapur melirik Hasna yang tertawa saat masuk ke dapur.


“Alhamdulillah ya Allah.. Si Mbak seneng liat Neng Hasna udah ketawa lagi, dari kemarin perasaan Mbak sedih liat Tuan dan Neng Hasna kaya marahan terus… Mugi-mugi Gusti Allah selalu melindungi Neng Hasna dan Tuan sekeluarga, sakinah mawadah dan warohmah” Mbak Jumi mengusap-usap tangan Hasna sambil tersenyum sendu. Hasna tersenyum malu tanpa ia sadari pertikaiannya dengan Reza telah menyusahkan banyak pihak. Untung saja keluarga Bandung tidak tahu kondisinya saat ini, kalau Mama Merin dan Ayah Kumis tahu tidak terbayang petuah apa yang akan ia dengar selama berhari-hari.


Malam itu Maura tidur lebih cepat karena tidak tidur siang, Hasna hanya tinggal menceritakan cerita dari buku yang dipilih sendiri oleh Maura. Pada akhirnya Maura yang menceritakan buku itu karena sekarang ia sudah bisa membaca sendiri dengan lancar. Hujan yang baru pulang menjelang magrib juga terlihat lelah. Seharian penuh ia mengikuti bimbingan belajar dan pulangnya langsung les piano, seminggu kedepan adalah ujian akhir sekolah. Hasna sangat menjaga jangan sampai Hujan terganggu konsentrasinya.


“Buna mau ke apartemen malam sekarang?" tanyanya sambil masuk ke dalam selimut. Hasna menoleh ia tidak mengira kalau Hujan sudah menebaknya. Tapi anak itu hanya tersenyum, “Gak apa-apa kalau Buna mau tidur disana. Papi bilang mulai besok malahan kita bisa pindah sama-sama ke apartemen” Hasna terhenyak apa maksudnya, mereka mau pindah semua ke kamar apartemennya yang kecil. Kalau luas sih Hasna tidak berkeberatan tapi ia sadar kalau unitnya kecil hanya tipe studio, kasian anak-anak yang sudah biasa tinggal di tempat yang luas.


“Hehehe tanyakan saja sama Papi nanti, kata Papi besok kita pindahan mumpung wiken, aku tidur dulu sekarang. Jangan lupa besok pagi bawakan pizza. Sesekali gak apa-apa kan makan pizza pagi-pagi !?” anak ini memang aliran aji mumpung. Antara ingin menggigit saking gemasnya dan memeluk anak petir ini. Akhirnya Hasna hanya bisa menghujani dengan ciuman. “Udaaah sana aahh pergi nanti pizza nya keburu tutup” ampuuun ini bocah.. Aji mumpung banget.


Tok..tok..tok. tidak ada jawaban.. Tok...tok hmm apa di kamar yah pikir Hasna. Perlahan ia membuka pintu ruang kerja ternyata tidak dikunci. Tampak Reza sedang melihat laptop dengan serius sambil memakai headset. Pantesan tidak terdengar, begitu melihat pintu terbuka Reza langsung mengalihkan pandangan. Tatapannya langsung menajam.


“Mau kemana kamu” mukanya sudah galak lagi. Hasna langsung cemberut, manisnya cuma bentar kemarin-kemarin. “Mas mobilnya matic yah?” tanya Hasna cepat, “kenapa emang?” Reza membereskan meja kerja dan menutup laptopnya. “Kalau ngomong langsung nge gas gak pakai kopling” ucap Hasna sambil meninggalkan ruang kerja Reza. Awal mula Reza bingung maksudnya apa, tapi setelah menyadari ia langsung tersenyum. Ternyata selera humor Hasna sudah kembali seperti dulu.


“Mas di rumah aja, di depan ada Pak Agus, aku dianterin Pak Agus aja, kasian anak-anak di rumah” Reza hanya melewati Hasna tanpa menjawab. Sudah lengkap memakai jaket dan membawa tas pemberian Hasna, langsung pergi keluar menemui Pak Agus yang sudah siap untuk menginap di rumah Reza.


“Besok saya pulang pagi-pagi, Pak Agus besok bantu untuk membawa barang-barang ke apartemen” rupanya memang Reza sedang menyiapkan rencana kepindahan.


Hasna langsung mengejar Reza. “Mass… mau pindah ke mana? Apartemen aku kan kecil gak akan muat” Reza tampak santai tidak mengindahkan protes Hasna. “Masuk..” ucapnya pendek, Hasna tanpa banyak bicara masuk ke dalam mobil, Hasna sudah hapal, kalau Reza di depan orang tidak suka banyak bicara.


Sesaat di dalam mobil Hasna memilih diam dan tidak bicara, malas rasanya meminta penjelasan, sesekali Reza melirik Hasna yang lebih banyak melihat pemandangan di sampingnya. Tiba-tiba Hasna teringat pesanan Hujan, restaurant pizza tidak ada di daerah yang akan dilewatinya, lebih baik memesan online delivery sehingga tidak repot harus menunggu. Menjelang masuk ke daerah apartemen, Reza yang memecah kesunyian.


“Mau beli apa dulu buat di apartemen?” ia ingat kalau Hasna hanya memiliki susu dan sereal saja di sana. Hasna menggelengkan kepala, “Gak usah aku mau langsung tidur” jawabnya sambil merebahkan diri di kursi penumpang. “Ehehehe kamu udah kebiasaan kalau udah deket suka mau tidur nanti susah lagi bangunnya” Hasna langsung melirik kesal. “Abis bosen dari tadi sepi… ngobrol kek...nyanyi kek ngapain gitu…” Reza menarik nafas, dilarang emosi lagi, musti belajar lebih pengertian.


“Mau ngobrol apa? Aku kan gak banyak ide selain dari kerjaan” Reza tahu kalau Hasna ingin tahu rencana kepindahan ke apartemen. “Ya udah kalau gak punya ide mau tidur aja, kalau diem kaya gini mendingan dianterin sama Pak Agus aja… eh Pak Agus masih mending suka ngajak ngobrol” Hasna langsung membalikan badannya kembali, Reza akhirnya mengalah.


“Mau tahu soal rencana pindahan?” akhirnya Reza membicarakan topik yang ditunggu-tunggu Hasna yang langsung bangkit mendengar ucapan suaminya. “Mau pindah kemana? Kenapa pindah segala? Apa gara-gara aku gak mau tinggal di rumah? Aku kan bilang hanya perlu waktu. Kenapa ngambil keputusan tiba-tiba? Aku kan kasian sama anak-anak nanti disangkanya aku manja dan banyak maunya gara-gara hamil” Reza melongo mendengar rentetan pertanyaan Hasna. Pancingan satu pertanyaan pendek dibalas dengan puluhan pertanyaan balik.

__ADS_1


Reza langsung tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala, perilaku Hasna berubah total saat ini. Dulu dia selalu ceria dan positif thinking dalam segala hal. Sekarang menjadi gampang marah dan mudah curiga akan segala sesuatu, apa karena pertengkaran mereka kemarin dulu atau karena kehamilan Reza masih belum menemukan penyebab utamanya.


Setelah memarkirkan mobil di halaman apartemen Reza memandang Hasna yang menatapnya penuh rasa kesal. Ditangkupnya muka Hasna dengan gemas.


“Kenapa yah sama kamu itu... biarpun jadi pemarah dan galak aku tuh gak bisa move on. Tetap aja merasa kangen, gak bisa...gak liat kamu sehari aja. gak bisa tidur kalau gak liat kamu.. Pengen meluk terus kalau melihat dekat seperti ini” Reza merengkuh Hasna ke dalam pelukan.


“Kita seperti pacaran lagi yah” sambungnya sambil mengusap-usap rambut Hasna yang langsung mendorong badan suaminya menjauh “pacaran tapi hamil… udah ah jangan peluk-peluk di parkiran nanti digerebek satpam” Hasna langsung keluar dari mobil. Sejatinya dia merasa berdebar mendengar pengakuan Reza yang memeluknya dengan sepenuh hati tadi.


“Ra… tunggu jangan cepat-cepat” suara Reza mengingatkan Hasna untuk menunggu suaminya. Hasna akhirnya menghentikan langkah, ditunggunya Reza hingga berjalan sejajar, ia tersentak saat merasakan tangannya digenggam Reza. “Apaan sih kaya anak remaja aja” Reza tersenyum “remaja kedua” bisiknya sambil tersenyum menggoda. Hasna langsung melengos antara pengen tertawa dan sebal mendengar candaan suaminya.


“Ambil dulu pizza di satpam, yang kecil 1 kasihkan sama penjaga” rupanya pizza pesanan Hasna sudah datang terlebih dahulu. “Owh tadi kamu pesan pizza waktu di mobil kirain kirim pesan sama temen” Hasna langsung mendengus “curiga pasti bawaannya… musti dibasmi otak curigation nya”


Sesampainya di kamar Hasna langsung bersiap untuk tidur. Minum susu, menggosok gigi dan langsung memakai pakaian yang paling nyaman untuk tidur. Reza hanya duduk dan sibuk membaca tab nya, sesekali menuliskan sesuatu dan kembali mengamati. “Mau minum air hangat?” tanya Hasna ia tahu kalau suaminya sebetulnya sudah lelah. Reza tersenyum dan menggelengkan kepala “nanti aku ambil sendiri saja. Kamu tidur saja duluan” Hasna mengangguk, menata bantal seperti kemarin dan kemudian merebahkan diri.


Hasna mencoba untuk tidur tapi matanya sulit untuk dipejamkan, pertanyaan yang tadi masih belum dijawab Reza. Akhirnya ia  tidak tahan bangun dan duduk bersender di kepala kasur. Reza menoleh heran “Kenapa ada yang terasa?” ia langsung mendekat tapi tidak terlalu dekat, Hasna tidur dengan piyama pendek. Saat keluar kamar mandi saja ia sudah berdesir melihatnya.


“Tadi pertanyaan aku belum dijawab” jawab Hasna cemberut. Reza tersenyum, rupanya masih penasaran. “Tadi Aswin sudah menemukan apartemen untuk kita tinggali bersama, tentu saja tidak pindah kesini. Ada apartemen yang bisa  langsung kita tempati di Pakubuwono, tempatnya nyaman dan lingkungannya bagus. Tadi aku sudah diskusi sama Hujan dan dia setuju, lebih dekat ke sekolah dia, posisinya ada di tengah-tengah. Sedikit lebih jauh memang untuk ke kampus kalau dibandingkan dengan apartemen ini, tapi kan nanti kamu diantar sama supir jadi gak masalah” Hasna menatapnya dengan tatapan sendu.


“Mas Reza memilih pindah ke apartemen apa karena gara-gara aku gak mau tidur di rumah sekarang” Reza tersenyum, diusapnya rambut istrinya dengan penuh kelembutan. Kalau melihat muka Hasna terlihat sendu seperti ini Reza suka merasa bersalah. Dipeluknya lagi sambil mengusap-usap punggungnya. “Iya..aku pengen kamu bahagia, tidak merasa sedih, tidak merasa terabaikan” Reza menatap Hasna


“Aku pengen kamu merasa bahagia dan percaya diri lagi seperti dulu… gak gampang marah seperti sekarang dan galak” Reza tersenyum melihat Hasna cemberut. “Tapi tetap saja melihat kamu cemberut aku suka pengen nyium kamu” Hasna langsung menutup muka Reza.


“Ngantuk…” ucapnya sambil langsung membaringkan tubuh dan membelakangi Reza yang hanya bisa menarik nafas dan ikut membaringkan tubuhnya di sebelah Hasna dengan dibatasi guling seperti biasa. Pikiran Reza melayang, ia harus menahan perasaan dan emosi di rumah dan sekarang ditambah dengan menghadapi Arkhan di kantor. Mungkin memang selama ini dirinya terlalu mengumbar emosi sehingga diberikan cobaan yang lumayan menguji tingkat kewarasannya. Berkali-kali Reza berpikir untuk memposisikan Arkhan dalam bidang-bidang pekerjaan yang mungkin bisa membuatnya mendapatkan pengalaman selama bekerja di perusahaan. Mau tidak mau ia harus menghormati persahabatan antara Papa dan Om Felix.


“Dari tadi narik nafasnya panjang mulu, ngabisin oksigen yang dikamar aja” akhirnya Hasna tidak tahan untuk tidak berkomentar mendengar Reza yang terus menerus menarik nafas panjang. “Susah tidur aku Ra… ada badak masuk ke kantor. Mau disakiti hewan langka, dibiarin bakalan nyundul, kamu tahu kan badak kulitnya tebal gak tau malu… nah mahluk ini juga kaya gitu… gak tau malu” Reza menjelaskan dengan penuh emosi.


Hasna mengerutkan kening tidak mengerti. “Karyawan baru?” Siapa? Gantiin Arcy?” Reza kembali menghela nafas. “Sudahlah mendingan kamu jangan tahu, yang penting Arcy udah di depak dari kantor gak akan bikin masalah lagi” jawabnya sambil memiringkan badan.


“Aku boleh pegang Samsul?” tanya Reza sambil menatap perut Hasna. Dengan enggan Hasna menjawab “ sebelah kiri bukan Samsul tapi Udin” Reza mengangguk-angguk semangat “boleh pegang Udin?” Hasna menganggukan kepala, perlahan tangan Reza memegang perut Hasna. “Hmmm gak kerasa gerakannya ketahan sama baju aku mau pegang langsung yaaa?” melihat antusiasme Reza akhirnya Hasna mengalah. Sentuhan tangan Reza di perutnya membuat Hasna tersentak “jangan pelan-pelan ngerayap gitu pegangnya bikin geli” Reza tersenyum melihat istrinya yang terlihat memerah mukanya.


“Sekalian mau pegang samsul juga” sambung Reza yang terus mengusap perut Hasna, yang punya perut mulai merasakan nafasnya jadi pendek-pendek. “Ini gulingnya menghalangi jadi susah pegang Samsul” Reza langsung menarik guling yang membatasi mereka berdua. Reza langsung merapatkan tubuh, tangan terus bergerak naik. Hasna langsung melotot, Reza kembali beralasan. “Aku cuma mau mengecek kecukupan asi buat mereka” nafasnya langsung tidak beraturan.


“Raaa…. Rasanya seperti udah tiga bulanan… plissssss” berikutnya adalah permohonan yang sulit untuk ditolak. Hasna menatap Reza, muka suaminya sudah seperti petapa yang turun gunung dan melihat makanan lezat terhidang di meja.


“Raaa… mau yah...yah...plisssss” Hasna menarik nafas, sudah kewajibannya memenuhi kebutuhan suami. Ditatapnya Reza, “Boleh… tapi ingat ada syaratnya, sepanjang pernikahan kita, Mas Reza gak boleh nyakitin aku lagi” Reza mengangguk-angguk seperti Maura. Hasna sudah ingin tertawa melihatnya.


“Kalau Mas Reza sudah mulai bicara keras dan aku melotot, Mas Reza harus langsung minta maaf...saat itu juga gak boleh ditunda. Kalau nggak Mas Reza tanggung sendiri akibatnya” Reza kembali mengangguk. “Aku janji akan bikin kamu bahagia terus… kalau kamu merasa sedih kamu tinggal bilang nanti aku akan perbaiki….janji yah kamu mesti bilang” Hasna mengangguk. Baginya janji itu yang akan dia pegang.


“Yah sudah mau pegang samsul atau udin?” tawar Hasna. Reza langsung menjawab dengan cepat. “Aku cek kecukupan sumber makanan mereka saja…” Hasna langsung membekap mulut suaminya. Malam itu semua perselisihan sirna sudah, Hasna akan melihat sampai sejauh mana suaminya bisa memegang ucapannya kedepan.

__ADS_1


__ADS_2