Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Topan Badai Kalah sama Petir


__ADS_3

Reza berjalan dengan tergesa, ia sudah tidak memperdulikan Hasna yang berjalan dengan setengah berlari karena harus mengimbangi langkah Reza yang lebar. Satu tangannya menggendong Maura dan satu tangannya lagi yang menarik tangan Hasna. Hujan berjalan mengikuti di belakang dengan setengah berlari juga.


Hasna mengentakkan lengannya dari genggaman Reza.


“Lepas Mas, kenapa sih berjalan sampai terburu-buru seperti ini?” Hasna menarik tangannya, ia kasihan melihat Hujan yang juga harus berlari seperti dia.


Reza berbalik dan menatap Hasna dengan tajam, tiba-tiba Hasna teringat ekspresi Reza saat memarahi ia waktu di kantor dulu.


“Saya tidak mau mendengar argumentasi apapun sekarang” Reza hanya berkata pendek, tapi Hasna tahu kalau itu kalimat yang tidak terbantahkan. Ia tidak banyak bicara langsung meraih tangan Hujan dan mengikuti Reza dari belakang. Hasna hanya tersenyum kaku ke Hujan, hanya sekedar menenangkan kalau semuanya baik-baik saja. Hujan membalas dengan senyuman kecut.


Begitu sampai di mobil Maura langsung masuk duduk di kursi belakang, ingin rasanya Hasna ikut duduk di belakang, tapi ia ingat jangan sampai tindakannya memicu ledakan gunung berapi, akhirnya dengan perlahan dia duduk di depan disebelah Reza. Hmmm... adaikan ada Pak Agus disini pasti dia akan duduk di belakang bersama anak-anak.


Muka Reza tampak tegang dan kesal, Hasna hanya melirik, sayang di dalam mobil tidak ada air minum jadi tidak bisa membantu meredakan amarah Reza. Reza menyetir dengan agak sedikit kasar, beberapa kali dia memaki pengendara motor yang seperti biasa menyalip seenaknya.


“Mas… jangan suka emosi gitu, kasian anak-anak jadi takut” Hasna berusaha mengingatkan Reza untuk menghentikan aksi premannya.


“Diaam… kamu yang membuat aku kesal seperti ini, paling tidak hargai aku saat ada disana” Reza mulai menyemburkan segala amarah yang dipendam olehnya sejak tadi.


“Memangnya aku kenapa, tadi bernyanyi di depan karena menemani Hujan dan diminta Papa Ardy untuk berpartisipasi”


“Arghhhh itu alasan saja, kamu bisa saja menolak, dasar saja kamu ingin terlihat tampil dengan anak songong itu, pake panggil nama kecil segala, ngasih sapu tangan, membawakan makanan… maksud kamu apa… ingin memperlihatkan kalau kamu punya mantan juga sama aku”


“Mantan apa… aku gak ada hubungan apa-apa sama Kang Arkhan.. Dia cuma kakak kelas di organisasi dulu”


“Kalau nama panggilan yah dari dulu juga aku dipanggil Nana sama dia sejak sebelum kenal Mas Reza trus soal sapu tangan yah wajar ngasih saputangan sama orang yang keringetan. Aku tadi kepanasan”


“Kamu mustinya berpikir disana kamu itu statusnya adalah istri dari Reza Ardiansyah GM dari PT Great Indonesia… bukan perempuan single yang bisa bebas bersikap bernyanyi pecicilan di atas panggung…. memalukan”


Hasna langsung terdiam saat mendengar Reza menyebutnya sebagai perempuan pecicilan yang memalukan, rasanya tadi dia hanya bernyanyi biasa. Hujan dan Maura diam tidak mengucap satu patah katapun mereka terlalu kaget mendengar Papinya begitu murka sehingga menyetir dengan kasar untuk melampiaskan amarahnya. Hingga akhirnya hampir saja Reza menabrak mobil yang berhenti mendadak di depan. Reza langsung memijit klakson dengan keras sambil memaki-maki.


Hasna sudah ingin menangis, rasa kesal dihatinya harus ia tahan karena api kalau dilawan dengan api malah akan memperbesar masalah. Ada anak-anak yang harus ia tenangkan, dia hanya bisa menahan rasa kesal dan amarah dengan meremas pakaiannya.


“Jangan lagi kamu memakai baju seperti itu lagi … seperti perempuan murahan”


Kalimat terakhir itu pertahannya semakin menipis, dia sudah ingin menangis, tapi dia tidak ingin air matanya tumpah di mobil dan anak-anak melihatnya.


“Bunaaaa… molaa mau pipisss” tiba-tiba Maura menyentuhnya dari belakang, suaranya terdengar takut-takut.


“Mau pipis? Masih bisa ditahan gak sayang?” Hasna mencoba melihat kebelakang dan memegang badan Maura yang menempel pada kursi yang didudukinya.


“Mau pipis syekalaang” terdengar lagi suara yang penuh ketakutan seperti sudah tidak tahan.


“Di depan ada mart Mas, tolong berhenti sebentar, kasian nanti dia sakit kalau menahan pipis” Hasna berusaha bersuara normal.


Reza segera menghentikan mobilnya di di halaman parkir mart, Hasna segera menggendong Maura masuk ke dalam. Hampir 20 menit Hasna di dalam mart sampai Reza mulai kesal, apalagi saat dilihat Hasna berdiri di depan pintu Mart dan malah terlihat bermain hape. Akhirnya Reza membunyikan klakson beberapa kali, Hasna langsung melihat ke arah mobil tapi tidak mendekat.


“Kaka coba kamu panggil… mau apa sih malah diam disana bukannya masuk!” Reza langsung melihat ke belakang lewat spion.


“Papi bisa gak sih gak marah-marah gitu, aku kesel ngedengernya apalagi Buna” Hujan akhirnya mengeluarkan kekesalannya, ia merasa sikap Reza berlebihan.


Reza langsung diam melihat ucapan Hujan, menunggu selama 20 menit kebelakang membuat dirinya lebih bisa mengendalikan diri. Ia hampir tidak ingat apa yang ia ucapkan tadi, hanya sekedar menumpahkan kekesalan yang berkecamuk dalam hatinya selama acara reuni tadi.


Terlihat Hasna mendekat dengan tergesa, Reza sedikit merasa menyesal melihat mata Hasna terlihat sembab habis menangis. Hasna membuka pintu samping belakang dan mendudukkan Maura.


“Aku mau ke kost an Kak Angga sebentar” hanya itu ucapan Hasna tanpa melihat kearah Reza dan langsung beranjak untuk  menutup pintu saat Maura menjerit dan menangis tidak mau melepaskan tangan Hasna.


“Ndaaaa mahuuu Mola mau ikudd… Mola ikuud syama Bunaaa… ndaa mauuu” Maura menarik badan Hasna dan memegangnya dengan kuat.


Airmata yang tadi sudah disusut Hasna kembali mengalir dan dengan suara tertahan Hasna melihat ke arah Hujan.


“Kaka tolong pegang Ade, Buna mau ke rumah Om Angga” Hasna menatap Hujan dengan tatapan memohon yang langsung dimengerti olehnya. Dengan segera dipegang dan dipeluk adiknya.


“Buna mau ke rumah Om Angga sebentar ada perlu, ade sama kaka disini” begitu pegangan Maura terlepas Hasna segera menutup pintu dan tanpa menoleh ke belakang langsung berjalan menuju mobil putih yang terparkir di pinggir jalan. Rupanya tadi sibuk dengan hape di pintu mart karena memesan mobil online.

__ADS_1


Reza hanya bisa mematung saat melihat Hasna pergi, ia tidak menyangka kalau Hasna bisa pergi meninggalkan dia dan anak-anak di mobil. Suara tangisan Maura menyadarkannya.


“Maura berhenti menangis, nanti Buna akan pulang” Reza hanya berkata pendek. Ia masih bingung melihat Hasna yang masuk ke mobil di depan tanpa melihat sedikitpun ke arahnya.


“Whaaaa…. Mau ke Bunaaaa… dali tadi buna nangis waktu mola pipis… kata buna inih bukan nangis tapi kelinget...whaaaaaa mola mau ikud Bunaaaaa” Maura kembali menangis keras.


“Papi ikutin mobil nya” Hujan langsung menyuruh Papinya mengikuti mobil putih yang mulai maju. Reza seperti macan dicocok hidung mengikuti mobil putih yang terhalang 2 mobil di depannya.


“Papi tuh kenapa sih tadi marah-marah sama Buna? Kan Papi tahu kalau Buna nyanyi buat nemenin aku di depan trus dipanggil juga sama Babab, jadi bukan kepengen Buna nyanyi di depan juga”


“Molaaaaa mau ikuddd Bunaaaa….haaaaaaaa” Maura mengiringi keluh kesah Hujan dengan tangisan.


“Trus apa lagi tadi nyebut Buna kaya perempuan murahan… baju itu Buna ambil dari hadiah yang Papi belikan.. Tadi pagi aku yang bukanya juga… kenapa kalau dianggap murahan Papi malah belikan” ledakan petir masih terus sambung menyambung menyambar telinga Reza.


“Aku tuh gak suka liat Papi tadi marah-marah sama Buna… wajar kalau sekarang Buna pergi.. Kalau aku jadi Buna juga gak akan mau lihat Papi” jedeeer sambaran terakhir langsung menyambar Reza yang hanya bisa diam. Dia sama sekali tidak berpikir ucapannya sampai sepedas itu. Tadi dia hanya asal saja bicara menumpahkan kekesalannya. Melihat Hasna di atas panggung dengan pakaian itu membuat ia berpikir Hasna seperti artis-artis yang bergaya di panggung menarik perhatian laki-laki.


Mobil online putih yang ditumpangi Hasna sudah tidak bisa terkejar lagi saat mobilnya tertahan oleh lampu lalu lintas. Tidak mungkin dia melanggar lampu merah yang ada di depannya, terlalu berlebihan. Nanti juga pasti dia akan pulang pikir Reza.


Sesampainya di rumah Maura sudah tertidur dengan airmata menggenang di pipinya. Reza menggendong putri kecilnya tidur ke kamar, perasaannya masih bercampur aduk saat ini. Melihat Maura yang masih terlihat lelah dengan air mata di pipinya menambah perasaan bersalah yang ia rasakan saat ini.


Ia sendiri heran kenapa tadi sampai kehilangan kendali, kekesalannya terpicu saat mendengar Arkhan memanggil Hasna dengan nama Nana, belum pernah ia mendengar Hasna dipanggil dengan nama itu bahkan di rumahnya sekalipun. Itu artinya hubungan diantara mereka berdua cukup dekat, mendengar kalau Arkhan selalu mengantar Hasna pulang hingga kejadian dipukul oleh Angga menambah rasa kesal di hatinya banyak sejarah antara Hasna dan laki-laki itu.


Laki-laki itu seperti sengaja ingin memanas-manasi dia dengan membawakan makanan untuk Hasna, ia sendiri sampai sekarang tidak tahu makanan kesukaan istrinya apa. Yang ia tahu kalau Hasna suka makan sop iga saja sama seperti dirinya, melihat Hasna makan strawberry cokelat yang dibawakan Arkhan membuatnya ingin membuang makanan itu tapi ternyata dipegang oleh Maura.


Puncak kekesalannya saat Hasna di atas panggung, disuiti oleh laki-laki yang ada di ruangan dan bernyanyi bersama laki-laki songong itu. Dia tidak pernah berhenti memandang Hasna sambil tersenyum dan memamerkan kemampuannya dalam bermain gitar. Kurang ajar sama sekali tidak ada kepedulian kalau Hasna adalah perempuan yang sudah memiliki suami.


Reza berdiam di ruangan kerjanya setelah menidurkan Maura, Hujan sama sekali tidak menampakan keinginan untuk berbicara dengannya. Sepanjang perjalanan hanya diam dan hanya terdengar suara isakan Maura di mobil tadi. Jam sudah menunjukkan jam 5 sore dan tidak ada tanda-tanda istrinya akan pulang, sebentar lagi magrib dengan memakai baju tadi Hasna akan sangat menarik perhatian.


Akhirnya rasa khawatir akan keberadaan istrinya, memaksa Reza untuk melakukan panggilan telepon, tapi ternyata handphone Hasna dimatikan. Perempuan itu selalu saja seperti itu pikirannya. Dulu waktu marah saat ia memaksa untuk acara persiapan pernikahan dengan WO Hasna juga mematikan handphone seharian penuh sampai sulit ia hubungi. Akhirnya Reza memilih untuk mengirimkan pesan kepada istrinya.


“Ada dimana? Mau dijemput?” cuma itu yang ada dalam pikirannya.


“Apakah perlu meminta maaf lewat pesan?” ah kesannya terlalu kekanak-kanakan. Nanti saja kalau sudah pulang ke rumah ia akan bicara baik-baik kalau dia tadi bicara terlalu berlebihan karena terprovokasi oleh sikap Arkhan.


“Mbak mana Tuanmu?….” terdengar suara Mama Bertha


“Mana Hasna? Kenapa tadi kamu menarik dia pulang seperti membawa anak kecil pulang kemalaman aja, Tante Selvi sampai memanggil Mama, dia kasian melihat Hasna ditarik-tarik seperti itu”


“Kenapa sih kamu Bang… memalukan tahu tidak, kamu seperti anak remaja yang marah sama pacarnya gegara ngobrol sama anak laki-laki lain”


“Mana Hasna?” Mama Bertha tampak akan naik ke atas.


“Hmm dia pergi ke rumah Kakaknya?” jawab Reza pendek.


“Apa? Kenapa? Kamu marahi dia yahh? Aduuuh Abaaang kamu kenapa sih umur kamu sudah 30 tahun lebih  kok gak berpikir panjang sebelum bertindak”


“Kamu sudah telepon dia?”


“Sudah ..” jawabnya pendek


“ Hapenya mati”


“Kamu marahi dia?” Mama Bertha langsung menginterogasi,


“Sudah Ma … jangan terlalu emosi.. Dengarkan dulu penjelasan dia” Papa melerai menepuk-nepuk pundak istrinya.


“Mama ingat kalau marah seperti ini nanti darah tingginya naik” sambung Papa


“Habis sikapnya aneh kaya anak remaja saja marah-marah sama istri di depan orang banyak” Mama masih emosi.


“Aku tidak pernah marah pada Mitha” tungkas Reza


“Dia bukan Mitha… sikapnya berbeda dengan Mitha… jadi kamu jangan menyamakan sikap dia dengan Mitha” Mama langsung memotong.

__ADS_1


“Mitha tidak pernah mau tampil ke depan, dia selalu bersembunyi di belakang kamu”


“Kamu marahi apa dia? Karena dia bernyanyi di depan?” Mama Bertha tidak mau menyerah


“Ya… Papi bilang kalau Buna memalukan bernyanyi di depan pecicilan memalukan sebagai istri papi trus Papi bilang kalau Buna seperti perempuan murahan karena memakai baju tadi padahal baju itu yang dibelikan Papi” Hujan menjawab pertanyaan Mami Bertha dari tangga. Matanya menatap Papinya dengan tatapan kesal, Hujan seperti menambah bensin pada api yang sudah menyala.


“Abaaang kamu bicara seperti itu pada Hasna…. Astagfirullahalazim” Mama Bertha langsung memegang kepalanya.


“Mama….. “ Reza langsung mendekat Mamanya. Dipapahnya untuk duduk di atas sofa.


“Ambilkan air untuk Granny” perintahnya pada Hujan yang tampak kaget melihat neneknya seperti yang shock mendengar aduannya.


“Mama udah minum obat? Papa obat Mama dibawa ga?” Reza langsung menghampiri Papanya yang tampak sibuk membuka tas istrinya.


“Mama gak apa-apa tadi siang udah langsung minum obat” jawab Mama Bertha setelah minum air dari Hujan.


“Kamu harus minta maaf sama istri kamu. Dari sejak pergi ia sudah tidak percaya diri dengan memakai baju tadi, tapi mama meyakinkan kalau terlihat cantik dan memang cantik dipakai oleh Hasna, bagaimana mungkin kamu menyebutnya perempuan murahan… mulutmu itu Reza”


“Malah sekretarismu itu yang murahan ...tidak malu selalu memakai rok pendek di kantor… Mata kalian laki-laki memang tidak beres”


“Ehhh kok jadi bawa-bawa kaum laki-laki… Papa gak nyebut Hasna murahan… Papa setuju kok kalau Hasna tadi terlihat cantik” Papa langsung protes disamaratakan dengan anaknya.


“Kamu tadi marah karena Arkhan bernyanyi dengan Hasna?” Papa Ardy menyambung pertanyaan Mama Bertha.


“Kamu sendiri bisa main piano kenapa tidak pernah ditampilkan didepan umum. Hanya bermain sendiri malam-malam untuk apa? Siapa yang bisa menikmatinya ...hanya sendiri”


“Jangan menyamaratakan sikap orang dengan kamu Za… Kamu mustinya bangga punya istri yang bisa membuat suasana jadi menyenangkan dan meriah. Kalau tadi tidak ada Hasna reuni tidak akan berkesan… hanya kumpulan orangtua yang menyedihkan”


“Gara-gara Hasna mengajak kita semua bernyanyi… tadi Papa sampai pegangan tangan sama Mama terus bernyanyi yaaa Mam…” Papa Ardy berusaha meredakan emosi Mama Bertha.


“Mama gak mau tahu… kamu musti minta maaf sama istri kamu.. Cari sekarang ada dimana” Mama Bertha tampak terlihat kesal.


Reza hanya diam saja saat diomeli orangtuanya, ia sendiri juga kesal sama dirinya sendiri, kenapa sampai hilang kendali marah berlebihan pada Hasna. Sekarang yang membingungkan handphone istrinya juga mati.


Tiba-tiba Hujan berlari ke kamarnya sedari tadi dia tampak sibuk dengan hpnya dan turun dengan mengenakan jaket dengan terburu-buru.


“Mau kemana kamu?” tanya Reza. Hujan tampak terdiam sebentar seperti bimbing untuk berbicara.


“Hmmm mau keluar sebentar ada yang mau diurus”  jawabnya cepat.


“Mau kemana? Sekarang sudah magrib… kamu tidak boleh keluar sendiri” Reza langsung menarik tangan anaknya.


“Aku mau ketemu sama Buna...barusan Buna kirim pesan” Hujan berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Papinya.


“Ada dimana dia, kenapa tadi ditelepon handphonenya mati” Reza langsung meraih handphone Hujan.


“Papi kembalikan….” Hujan berusaha mengambil kembali handphonenya.


“Diam…” Dibukanya pesan di handphone putrinya.


Ada pesan dari nomor yang tidak dikenal di handphone, dibukanya pesan itu.


“Kaka ini Buna pakai handphone Om Angga, kamu bisa ke Lippo Mall kita lanjutkan Battle Dance kita”


Ya ampun kenapa dia tidak terpikir untuk menelepon Angga, bukankah tadi Hasna bilang mau ketemu dengan Angga. Diberikannya handphone putrinya.


“Kita kesana sama Papi, sekarang Papi mau solat magrib dulu. Tunggu Papi awas kalau kamu pergi sendiri” Reza langsung pergi ke kamarnya. Mama Bertha hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan anaknya yang paling besar.


Saat di kamar Reza berpikir tadi Hasna bilang ada di Lippo Mall untuk Battle Dance…. What Battle Dance dengan pakaian tadi….. Perempuan ini benar-benar cari perkara.


Hujan Let's Dance….. Kita hempaskan semua manusia yang menyebalkan dalam hidup


**********************

__ADS_1


Topan Badainya gak terlalu gede...cuma bikin basah doang...heheheh keburu disambar petir.... Mendingan kita nge dance aja yukss.... Mau lagu apa buat battle dance... plis lagunya BigBang musti ada yaaa...hehehehhe kita hempas pandemi dengan kebahagian hati dan olahraga supaya sehat.... Lets Dance Everybody.....


***********************


__ADS_2