
Hasna dan Reza melihat Emran membonceng Hujan dan Maura, terlihat kalau Reza sedikit khawatir melihat anaknya dibonceng naik motor oleh Emran, tapi dia berusaha memberikan kepercayaan pada anaknya dan Emran.
Hasna langsung merasa canggung setelah ditinggal berdua dengan Reza, selama ini memang tidak pernah ada kegiatan yang menjadikan mereka berdua untuk berkomunikasi berdua. Pernah satu kali sebetulnya saat dikibulin kamvret, hingga saat ini Reza masih belum tega untuk mengakui skenario itu.
Ayah pamit ke kamar dulu, tinggallah mereka berdua di ruang tamu. Hasna pusing mencari bahan pembicaraan.
“Bapak mau minum kopi? Kata Mas Arya kopi bikinan saya paling enak, padahal cuma nakar kopinya aja yang pas … sisanya mesin kopi yang ngolah kalau di kantor”
“Hmmm .. boleh” jawab Reza, ternyata Arya memang dekat dengan Hasna, hufttt tampaknya mesin kopi yang di pantry musti dihilangkan supaya tidak ada kebiasaan yang berlanjut.
“Mau robusta atau arabika?” tanya Hasna
“Kamu paham juga rupanya soal perkopian” Reza tersenyum jarang-jarang ada perempuan paham perbedaan jenis kopi.
“Waktu kuliah temen-temen suka pada bikin seduhan kopi sendiri, soalnya ada anak Lampung yang suka bawa kopi, namanya Dila. Lengkap deh stock di BPM kalau dia udah pulang kampung… jadi mau apa?”
“Yang kamu suka aja.. Saya pengen tau selera kamu” jawab Reza singkat
“Ehhh malah ngetes” ucap Hasna sambil ke dapur.
Reza POV
Aku mengikuti Hasna ke dapur, entah kenapa rumah ini terasa sangat welcome padahal ini adalah kali pertama aku datang ke sini.
Dimulai dari saat datang, adiknya Hasna yang langsung mendominasi percakapan, dan mengajak anak-anak untuk langsung berinteraksi. Tidak jelas apa yang mereka lakukan hanya terdengar teriakan Emran dan Hujan yang tertawa-tawa kayanya mereka sedang main game.
Kemudian terdengar suara Maura yang marah-marah karena digoda oleh Emran, aneh sekali kenapa mereka seperti sudah kenal lama dengan anak-anak. Ayah Hasna asyik mengajak mengobrol tentang perusahaan. Ternyata beliau adalah dosen ekonomi, langsung nyambung karena dulu kuliah juga di ekonomi karena harus melanjutkan handle perusahaan Papa. Sebetulnya minatku bukan dalam bidang ekonomi lebih ke Sipil tapi karena tekanan dalam keluarga lebih besar aku melepaskan impian dalam bidang itu, dan ternyata belajar ekonomi menarik juga.
Makan siang juga menyenangkan, seperti acara makan dengan keluarga sendiri, lebih ramai daripada di rumah sebetulnya, yang harus selalu tertib duduk di meja. Hasna dan adiknya lebih memilih makan di karpet sambil nonton TV, Hujan dan Maura jadi ikutan duduk disana. Ya sudahlah menyesuaikan dengan tempat yang kita datangi. Lagi pula kalau duduk semua di meja tidak cukup, karna kursinya hanya untuk 6 orang, tampaknya mereka tidak terbiasa mengundang tamu banyak seperti di rumah.
Makanan yang dibuat oleh Mamanya Hasna enak, khas makanan rumah, diselingi bercanda dan ribut dengan saudaranya. Kakaknya Hasna bergabung belakangan masih terlihat tidak terlalu antusias dengan kehadiranku di rumahnya, dia benar-benar kakak yang sangat protektif pada adiknya.
Hasna sibuk menuangkan kopi pada coffe drip, terlihat sudah biasa menakar kopi.
“Sudah biasa membuat kopi untuk siapa lagi” tanyaku
“Ehhh… bapak ikut ke dapur.. Hmm buat sendiri saja, kadang buat Ayah dan Kak Angga… gak pake gula kan Pak.. biar sehat” Hasna memberikan kopi nya langsung kepada Reza.
“Mau cemilan kuenya Pak? Kemarin Mama bikin Marmer Cake enak” Hasna ke meja makan untuk memotong kue. Tiba-tiba dia berteriak
“Kak Angga mau dibuatkan kopi gaaaak?” teriaknya
“Kamu teriak-teriak, kenapa gak tanya langsung ke kamarnya” tegurku
“Hehehehe lupa ada bapak.. “ Hasna nyengir, gara-gara liat cake trus ingat pada kakaknya yang masih sibuk bekerja.
“Iyaaaa… kasih gula dikit biar gak terlalu pait” terdengar teriakan Angga dari kamar
“Maa…. “ Hasna sudah akan teriak lagi tapi langsung melihat kearahku dan berhenti, dia langsung pergi ke kamar kakaknya, ampun deh.
“Mama bikin cake udah manis jadi mendingan kopinya pait aja yah?” ucapnya di pintu. Dia sangat perhatian sama kakaknya rupanya.
“Hmmm...Terserah kamu” terdengar jawaban Angga, mereka memang sangat dekat.
“Ini pak… kue bikinan Mama itu enak, aku suka bekal kalau pulang ke Jakarta” Dia memotongkan sepotong besar kue, kemudian kembali ke dapur untuk membuatkan kopi untuk kakaknya.
Secangkir kopi dan 2 potong besar kue disimpan di piring oleh Hasna dan dibawa ke kamar kakaknya. Lucu melihatnya sibuk untuk membuatkan minuman dan makanan untuk kakaknya yang pemarah itu.
__ADS_1
“Kamu sayang banget yaa sama Kakak mu itu” ucapku
“Ehmm.. biasa aja.. Kasian aja masih musti kerja hari Minggu, biasanya dia tidur kalau wiken, kayanya pekerjaanya banyak banget” jawabnya
“Betah kamu kerja di Jakarta” pancing ku
“Seneng, teman-teman di Divisi aku menyenangkan, Mas Arya banyak bantu ngasih tau, Mbak Maytha juga sering bantu trus Bu Rika gak galak kalau ngasih tau” jawabnya lagi
“Memang siapa yang galak?” tanyaku heran
“Bapak” jawabnya langsung dengan cemberut.
“Owh..ehmm” aku langsung salah tingkah, rupanya bagi perempuan ini memaafkan bukan berarti melupakan
“Itu hanya salah paham” jawabku singkat.
“Mau pindah bagian ke bagian Sekretariat, disana pekerjaanya tidak terlalu berat hanya mengorganisir kegiatan saja” tawarku, dengan Hasna bekerja dibagian itu aku bisa bertemu dengannya setiap hari.
“TIDAK MAU” jawabnya langsung dengan melotot
“Eh kenapa.. “ reaksinya begitu mengagetkan.
“Sayaa… sayaa.. Tidak suka dengan pekerjaan administratif, saya suka mengembangkan suatu produk.. Yang terpenting saya sudah menyukai lingkungan kerja yang sekarang”
“Kalau harus handle pekerjaan administratif, lebih baik saya kembali saja ke kantor project yang lama” sambungnya lagi
“Lagipula saya tidak berniat bekerja lama di Jakarta, begitu tabungan sudah terkumpul saya akan melanjutkan lagi kuliah S2… saya kan sudah cerita pada Bapak” ucapnya sambil makan kue dengan cemberut
“Langsung kuliah? Tidak akan menikah dulu?” sambung ku sambil tersenyum, dia langsung terhenyak.
“Saya belum memikirkan menikah” jawabnya lemah
“Ajakanku kemarin tidak main-main” ucapku
Dia tampak bingung dan akhirnya menjawab,
“Saya tidak mengenal Bapak, menikah itu bagi saya bukan kegiatan yang disambi dengan kegiatan yang lain, komitmen seumur hidup”
“Harus memiliki alasan yang tepat mengapa harus menikah dengan seseorang” jawabnya lugas
“Apa karena kita tidak mengenal kemudian tidak saling mencintai seperti dalam drama-drama di TV” aku tersenyum tipis, tampaknya perempuan di depan ini terlalu banyak menonton drama.
“Bukan, mungkin saja ada orang yang menikah karena saling mencintai dan ditakdirkan untuk bersama, mungkin juga ada orang yang tidak saling mengenal tapi ditakdirkan bersama, tapi mereka pasti memiliki alasan itu memilih jalan itu” jawabannya terlalu membingungkan.
“Bapak kenapa mengajak saya menikah? Bapak tidak mengenal saya, tidak mengenal keluarga saya tapi mengapa mengajak saya menikah?” desaknya.. Aku jadi kaget akan pertanyaannya, tidak kusangka dia berani mendebatku disini.
“Saya pikir sudah waktunya saya menikah” jawabku asal..
“Itu bukan jawabannya, coba bapak pikirkan kenapa Bapak memilih saya, kenapa tidak Maytha, atau Bu Rika atau bahkan Bu Arcy yang selama ini selalu berdekatan dengan Bapak.. Kenapa saya?” dia terus mendesakku. Anak ini benar-benar suka memojokkan orang.
Aku terdiam menatapnya, tumben dia berani menatapku langsung, mungkin karena berada di rumahnya, sehingga dia memiliki keberanian.
“Karena kamu bisa dekat dengan anak-anak saya, saya membutuhkan pendamping untuk bisa mengurus dan merawat anak-anak” Akhirnya aku mengakui
“Bapak tidak mencintai saya, atau menyukai saya kan?” tanyanya lagi
“Tidak...ehh. Belum mungkin… kita kan tidak tahu kedepan… tapi saya merasa senang kalau kamu bersama dengan anak-anak” jawabku
“Paling tidak bapak sudah memiliki alasan untuk mengajak saya menikah” ucapnya
__ADS_1
“Saya belum memiliki alasan yang tepat untuk menikah dengan Bapak. Alasan yang cukup kuat yang membuat saya yakin untuk mengambil keputusan untuk mengambil komitmen seumur hidup dengan seorang laki-laki” jawabnya
“Tidak untuk saat ini” sambungnya lagi
Aku tersenyum.. “What a woman” berani untuk berargumen,
“Kapan kalau begitu?” tanyaku..
‘Saya tidak tahu… mungkin setahun kedepan, mungkin bulan depan, mungkin minggu depan, atau mungkin bahkan tidak akan” jawabnya.
Dan diskusi yang panjang ini terpotong oleh tangisan Maura yang datang dari luar. Rupanya mereka sudah datang.
“Papi .. ini Maura mengantuk “ Hujan tampak menggendong adiknya, yang sudah menangis.
“Tidurkan di kamar Kak Hasna ” Hasna tampak langsung berdiri dan berjalan ke arah kamar yang berada di samping kamar Angga.
“Ini tidurin sama Papi aja, aku mau ikut Om Emran jalan-jalan.. Tadi katanya mau ngeliatin sekolah SMA yang ada di Bandung” Hujan langsung menyerahkan Maura yang sudah terlihat mengantuk.
“Hati-hati bilang pada Emran jangan ngebut-ngebut” ucapku
“Yaa dont worry, aku juga takut kalau dibawa ngebut sama motor” jawabnya sambil berlari. Rupanya dia merasa mendapatkan kebebasan yang tidak pernah ia dapati kalau di Jakarta
Aku masuk ke dalam kamar Hasna, kamarnya tidak terlalu besar, tampak dia merapihkan kasurnya untuk ditiduri Maura.
“Tidurkan saja Pak.. kasian kalau terlambat tidur nanti suka manja… Bapak kalau mau tidur silahkan saja… Seprei nya baru saya ganti koq bersih” ucapnya.
“Ok terimakasih” mataku memang terasa mengantuk setelah mendengar argumennya tadi.
“Siapa itu?” aku menunjuk pada poster di depan kasur yang besar ukuran 1.5 x 2 m yang tampak jelas di depan mataku. Sudah pasti itu bintang pop Korea tapi mengapa sampai sebesar itu posternya yang dibingkai dengan kayu warna hitam.
“Owh… hahahaha GD Oppa” jawabnya singkat
“Kalau dia mau menikah dengan saya, sudah dipastikan saya tidak akan mau menikah dengan bapak” jawabnya sambil tertawa keluar kamar.
Damn… Halusinasi ternyata melanda semua perempuan di Indonesia
**********************
Bahagianya kaum wanita itu sederhana… bisa berhalunisasi dengan drama korea.. Setelah itu normal kembali kepada dunia nyata dengan baik dan benar… yang penting hidup itu harus bahagia, karena kalau perempuan bahagia maka seluruh rumah akan bahagia…. Betul kan gurlz…. Hehehehe terima kasih sudah membaca halusinasi saya… Jangan lupa like, komen yah dan vote yang penuh keikhlasan …. Stay safe and keep productive… Love u all
***********************
__ADS_1