Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Menolong Sesama Mahluk


__ADS_3

Flasback Rumah Reza


Setelah Hujan dan Reza pergi menemui Hasna, sekitar jam 7 kurang Maura bangun, untung saja Mama Bertha dan Papa Ardy masih di rumah. Saat terdengar tangisan di kamar atas Mama Bertha langsung menemui Maura di atas.


“Waaa cucu Granny sudah bangun, kok malah ada di sini bukan di kamar?” Mama Bertha menemukan Maura di kamar Hasna.


“Bunaa nda ada… Mola mau ke Bunaa” Maura menangis sambil tidur di kasur Hasna.


“Mola suka tidur sama Buna disini?” Mama Bertha mengedarkan pandangan ke dalam kamar, rupanya selama ini Hasna tidur di kamar ini, dilihatnya ada beberapa pakaian Hasna yang terlipat. Di meja belajar terdapat laptop dan kertas-kertas yang berserakan.


“Glanny maanaa Bunaaa… Mola mau ke Buna… tadi Papi malah-malah sama Buna” Maura mengadukan apa yang dialaminya tadi siang.


“Papi sama Kaka Hujan lagi jemput Buna, karena tadi Maura tidur, jadi ditinggal” Mama Bertha kemudian menggendong Maura untuk menenangkannya.


“Buna tidur dengan siapa disini?” Mama Bertha berusaha mengorek bagaimana kondisi Hasna dan Reza.


“Buna tidul sama Mola… Buna ga boyeh tidul sama Papi… Mola ga mau ade bayi”Maura kembali mengingat cerita Reza.


“Iya.. jadi Papi ga boleh tidur sama Buna yaaa… kita turun yuk ke bawah ada Babab tungguin Maura … mau main katanya” Mama Bertha langsung menuntut Maura turun ke bawah bersamanya.


“Pap… tolong ajak main Maura sebentar, Mama ada perlu sama Mbak Jum” Mama Bertha langsung menyerahkan Maura, ada hal yang perlu ia pastikan tentang kondisi anaknya dengan orang yang selalu ada disini Mba Jumi.


Papa Ardy langsung mengajak Maura menonton TV dibiarkannya istrinya untuk beraktivitas di rumah, perlu mengalihkan fokus perhatian setelah keributan dengan anaknya tadi.


“Mba Jum… kalau Tuan Reza tidurnya dimana?” Mama Bertha langsung menanyakan kepenasaran hatinya”


“Dikamarnya Nyonya” jawab Mba Juma pendek, ia tampak heran kenapa Mama Bertha menanyakan itu, selama ini kan suka melihat kalau Reza masuk ke kamarnya.


“Kalau Bu Hasna?” Mama Bertha kembali bertanya


“Diatas Nyonya dengan Non Maura terkadang di kamarnya” Mbak Jumi tanpa berpikir panjang menjawab dengan jujur.


“Saya mau ke kamar Reza, tolong dibuka pintunya” Mama Bertha langsung membuat Mbak Jum kaget.


“Hmmm...hmmmm kuncinya di Tuan Nyonya” Mbak Jum menjawab dengan takut, ia tidak ingin mendapatkan masalah.


“Saya tau Mbak Jum menyimpan kuncinya, jangan  berbohong sama saya, kalau Tuan Reza ada, saya juga bisa memaksa dia untuk membuka kamar. Sekarang buka kamarnya” Mama Bertha kalau sudah keluar tanduk tidak akan ada yang berani melawan.


Mbak Jumi bergegas mengambil kunci kamar dan membuka kamar Reza, ia kembali ke dapur, tidak ingin terserat masalah kalau ada banyak pertanyaan dari Mama Bertha.


“Papaaaaaa…. Aduh gimana ini… kok masih gak berubah isi kamarnya?” terdengar teriakan Mama Bertha dari kamar Reza.


“Ada apa?” Papa Ardy menghampiri ke kamar, kebetulan Maura masih asyik menonton TV sambil meminum susu kemasan yang dia ambilkan tadi.


“Papa gimana kalau Hasna tau kalau kamar Reza masih penuh dengan foto Mitha?” Mama Bertha memandang Papa Ardy dengan waswas.


Papa Ardy mengedarkan pandangannya ke dalam kamar, selama ini ia tidak pernah ikut campur dalam urusan rumah tangga anaknya. Kalaupun datang berkunjung hanya sekedar menyapa cucunya dan kembali lagi. Pemandangan di kamar anaknya membuatnya kaget, begitu banyak foto Mitha disana.


“Hasna tidak pernah masuk ke kamar ini?” Papa Ardy bertanya pada Mama Bertha.


“Kayanya engga.. Soalnya Hasna tidur di kamar atas sebelah kamar anak-anak, terkadang tidur dengan Maura katanya” Mama Bertha membuka lemari pakaian Mitha, dan ia langsung kaget.


“Papa… baju Mitha masih lengkap disini, dan masih harum seperti baru dicuci dan dipakai” Mama Bertha mengelus dadanya dengan sedih, ia tidak tahu selama ini Reza masih merawat pakaian almarhum istrinya dengan baik.


“Foto-foto kita turunkan saja sekarang, mumpung Reza tidak ada. Mudah-mudahan Hasna belum melihat isi kamar ini” ucap Papa Ardy


“Panggilkan Pak Agus untuk membantu” Papa Ardy langsung mengambil langkah cepat.


“Pakaian Mitha aku masukan ke dalam koper saja yah, supaya cepat.. Sebentar aku panggil Mbak Jumi” Mama Bertha langsung keluar kamar dan memanggil Pak Agus dan Mbak Jumi.


Malam itu mereka sibuk mengemasi barang dari kamar Reza dengan cepat, tidak ada yang berani melawan perintah dari Papa Ardy dan Mama Bertha… mereka tetap menjadi pihak yang paling berwenang kalau dalam hirarki kekuasaan keluarga.


“Maura mau ikut Granny yuks…. Menginap  sama Granny dan Babab” Mama Bertha tampak menarik nafas panjang setelah selesai mengangkut semua barang ke mobil.


“Nda mahu… Mola mau tungu Buna” Maura tidak mengindahkan pandangan dari TV.


“Sudah lama Benny Kura-kura tidak ditengok sama Maura sekarang dia sudah besar dan suka makan ikan” Mama Bertha hapal kesukaan cucunya adalah pada binatang.


“Benny kula-kula sudah besal Glany… sudah sebesal apah” Maura langsung tertarik dan mendekat pada neneknya.


“Hmmmm… sudah sebesar telapak tangan Granny… sebesar ini” ia memperlihatkan telapak tangannya.


“Mola mau liat Benny kula-kula, tapi mola mau ketemu Buna” Maura tampak bingung

__ADS_1


“Hmm bagaimana kalau besok Buna menjemput Maura ke rumah Granny pagi-pagi?” Mama Bertha perlu memastikan agar Hasna bisa bertemu dengannya besok.


“Mola mahu...mola mahu ke lumah Glanny tapi besok dijemput Buna” Maura langsung duduk di pangkuan Mama Bertha. Akhirnya Mama Bertha bisa segera pulang, ia khawatir kalau bertemu dengan Reza sekarang akan terjadi keributan dan barang yang sudah dimasukan ke mobil bisa ditarik lagi olehnya.


Mereka langsung pulang dengan membawa dua kendaraan, foto-foto dan pakaian Mitha yang disimpan di kamar Reza cukup banyak sehingga harus bawa menggunakan satu mobil terpisah.


Flasback Off


Setelah mandi dan membersihkan diri Hasna pergi ke kamar Hujan, ia ingin memastikan anaknya sudah membersihkan diri dan bersiap untuk tidur.


“Buna… barusan Granny kirim pesan, minta nomor handphone Buna katanya nanti akan mengontak Buna” Hujan langsung menyampaikan pesan dari Neneknya kepada Hasna.


“Tanyakan kalau Maura gimana?’ Hasna masih memikirkan Maura yang menangis saat ditinggalkan olehnya.


“Maura besok minta dijemput ke rumah Granny katanya, sekarang dia lagi ngasih makan Benny” jawab Hujan.


“Siapa Benny?” Hasna bingung, ia belum pernah mendengar nama Benny sebelumnya.


“Hahhahaha Benny kura-kura peliharaan kita dulu, disimpan di kolam ikannya Granny karena disini gak ada yang mengurus” Hujan menjelaskan binatang kesayangan mereka yang dirawat neneknya.


“Ohh… kirain anak kecil… Buna bingung” Hasna terkekeh, terbayang Maura menyuapi anak kecil, lah dia sendiri masih balita.


“Rumah Granny besar memang?” Hasna belum pernah kerumah mertuanya.


“Hmm lebih besar dari rumah ini.. Ada kolam renangnya, dulu bikin kolam ikan kecil supaya Maura mau nginap kalau Papi pergi keluar kota” Hujan menjelaskan kondisi dulu saat Maura masih kecil dan mereka harus sering berpindah-pindah rumah, karena Reza sering pergi keluar kota dan Mama Isna sering pula sakit sehingga tidak bisa menemani.


“Besok kita ke rumah Granny yah jemput Maura… sekarang Kaka tidur sudah malam” Hasna membetulkan selimut Hujan.


“Kamu berani tidur sendiri? Kalau gak berani Buna temani disini” Hasna menawarkan kalau Hujan ingin ditemani.


“Aku udah gede gak usah ditemani” Hujan langsung tidur dan membelakangi Hasna.


“Gak mau dikasih cerita pengantar tidur?” Hasna menggoda Hujan.. Hujan langsung membalikkan badan dengan cemberut.


“Emangnya aku Maura” jawabnya sambil langsung berbalik kembali…


“Lagu pengantar tidur atuh yah… biar cepet bobo.. Lagu BTS…” Hasna masih ingin menggoda Hujan.


“Kaya yang hapal aja lagu BTS, Buna hapalnya lagu BigBang sama GD” jawab Hujan sambil tetap membelakangi Hasna, sudah mengantuk rupanya dia.


“Bunaaa diam… diaammm jangan gelitik aku gak kuat… mau nanti aku ngompol kaya maura” Hujan langsung mengkerut karena digelitikin Hasna.


“Hahahaha kalau kamu ngompol.. Nanti Buna ceritakan sama Pak Rudi pacar kamu yang di BK” Hasna cekikikan membayangkan Pak Rudi yang Hujan paling benci.


“Apaan iiihh itu pacar Buna bukan aku… amit-amit aku gak suka ngeliatnya juga… dia nyebelin banget keliatannya juga” Hujan langsung menutupi badannya dengan selimut.


“Pak Rudi… assalamualaikum… ini aku Mamanya Hujan mau laporan… Hujan sekarang suka ngompol kalau digelitikin” Hasna masih senang mengganggu Hujan


“Bunaaaaaa” Hujan berteriak kesal…


“Hahahahah iya-iya…” Hasna akhirnya menyerah. Dipeluknya Hujan dari belakang dan diciumnya anak sambungnya dengan penuh rasa sayang. Jam sudah menunjukkan pukul 10, wajar kalau Hujan sudah mengantuk.


Hasna membaringkan dirinya di kasur, setelah berbaring baru terasa rasa lelah itu, pantesan Hujan tadi sudah tidak mau diganggu. Tidak menunggu lama bagi Hasna untuk terbang ke alam mimpi, begitu dalam hingga tidak terasa ada orang yang masuk ke kamarnya.


Hasna bisa merasakan kalau ada orang lain di kamar tapi sulit baginya untuk kembali tersadar. Saat orang itu naik ke atas kasur kesadaran Hasna langsung kembali sehingga ia bisa segera membuka mata. Dilihatnya ada bayangan orang yang bersandar di tempat tidurnya.


“Ehmmm….. Mmmaaas?” Hasna menatap dengan mata terpicing, sinar lampu dari meja belajarnya bisa membuatnya langsung mengenali.


“Kamu sudah tidur?” Reza menatap Hasna, matanya tampak terlihat sedih dan bingung.


“Udah aku cape, mau apa?” Hasna beranjang bangun dari tidurnya menjauh dari Reza dan bersender ke dinding.


“Gak mau apa-apa… aku cuma gak bisa tidur saja” jawabnya pendek


“Dibawah sepi”


“Ya sudah tidur aja di kamar Maura, kasurnya kan kosong” Hasna jadi teringat kalau dia masih kesal dengan laki-laki itu.


“Hujan masih marah sama aku… dari tadi masih saja ketus” jawab Reza lemah.


“Memangnya aku gak kesal sama Mas Reza” Hasna langsung membaringkan lagi dirinya sambil membelakangi laki-laki itu. Ternyata duduk berhadapan malah membuatnya kembali kesal.


“Aku minta maaf kalau tadi bicaranya keterlaluan, aku juga gak ngerti kenapa kok sampai berlebihan marahnya” Reza berkata masih dengan nada suara yang lemah. Kasihan sih Hasna saat mendengarnya, tapi kalau diingat kejadian tadi siang Hasna berusaha menguatkan diri untuk tidak mudah melemah.

__ADS_1


“Sudah beberapa kali Mas Reza memarahi aku untuk kesalahan yang gak jelas, waktu dulu di kantor juga seperti itu” Hasna menjawab dengan penuh rasa kesal, airmatanya sudah kembali berkumpul di matanya.


“Ya saya minta maaf..” Reza menunduk dilihatnya Hasna yang membelakangi bersembunyi di balik selimut tidak mau melihatnya.


“Mudah memang meminta maaf kalau berbuat kesalahan itu, tapi sakit hati itu meninggalkan bekas di luka di perasaan” Hasna mengusap air mata yang mengalir di pipinya.


“Kaya paku yang ditancapkan di dinding.. Saat dicabut tetap saja meninggalkan bekasnya.. Makanya kalau bicara itu dipikir … karena begitu sudah diucapkan akan membekas”


Hasna bicara dengan suara sengau, hidungnya jadi mangpet gara-gara harus mencurahkan kekesalannya malam itu.


“Iya.. aku kesal dengan laki-laki itu, Ngedenger manggil kamu Nana, bawain kamu makanan trus kamu makan lagi” Reza mendengus.


“Memang salah aku kalau dia manggil aku dengan panggilan kecil, dia sudah manggil Nana sejak kuliah.. Orang-orang dikampus sebagian suka manggil gitu juga biar gak ketuker sama Hasna Wulandari temen aku”


“Kalau soal dia bawain makanan, mustinya Mas bersyukur ada orang yang peduli sama aku, aku juga tadi laper, tapi gak bisa ninggalin Maura soalnya makannya suka berantakan nanti bajunya kotor” Hasna bangun dan memandang Reza dengan kesal.


“Kamu suka strawberry coklat rupanya” Reza menatap Hasna dengan senyum lemah.


“Suka.. enak soalnya manis asem nyampur jadi satu” jawab Hasna pendek.


“Apalagi yang kamu suka?” Reza menggeser duduknya hingga berhadapan dengan Hasna.


“Hmm banyak.. Cheesecake, Cinnamon Rolls, Ice Cream, trus kalau makanan Cream sup, Macaroni Schotel, Sate, hmmm apalagi yah..” Hasna berpikir hmm kenapa jadi mikirin makanan malam-malam.


“Ini apaan sih malah nanyain soal makanan…” Hasna jadi teringat kalau dia tadi sedang marah pada Reza.


“Trus aku gak suka disebut perempuan murahan… itu yang paling menyakitkan buat aku” Hasna menatap Reza dengan kesal.


“Pernah lihat perempuan murahan memang…. Atau jangan-jangan suka main dengan perempuan murahan yahhh” Hasna menaikan suaranya 1 oktaf, sekarang dia diatas angin, jangan dikasih kendor kalau lagi ginih.


“Apa maksud kamu, saya gak pernah main perempuan” jawab Reza keras.


“Lah itu nyebut aku perempuan murahan segala.. “ Hasna duduk dengan tegak, penghinaan menyebut dia perempuan murahan membuatnya sangat kesal.


“Aku kesal soalnya kamu nyanyi di depan disuitin sama laki-laki trus kamunya santai aja pakai baju itu lagi… kaki kamu jadi keliatan semua” Reza menatap kesal.


“Itu baju yang belikan Mas Reza, aku bawa dari barang seserahan, mana aku tahu Mas Reza gak suka, aku sendiri gak nyaman pakainya… tapi aku gak ada baju lagi yang pantas untuk dipakai ke acara formal”


“Aku nyanyi di panggung juga karena nemenin Hujan dan memeriahkan acaranya Papa”


“Kalau Mas Reza gak mau aku naik ke panggung kenapa gak kamu sendiri yang naik” saking emosinya Hasna jadi menyebut kamu pada Reza.


“Ehhh… gak sopan lagi nyebut sama suami KAMU aku tuh umurnya 10 tahun diatas kamu tau”


“Iyaaa maap gak sengaja saking kesalnya tauuu…. Umur 10 tahun lebih tua tapi umur mentalnya dibawah aku” jawab Hasna kesal. Nafasnya terasa tersenggal karena emosi.


“Udah ahhhh… aku kesal.. Mau apa lagi ke kamar cuma ngajak bertengkar aku mau tidur” Hasna kembali membaringkan tubuhnya dan menutup badannya hingga kepala.


“Iya aku minta maaf, aku gak suka ngeliat kamu disuitin laki-laki. Nanti lain kali jangan memakai baju seperti itu lagi, kamu keliatan cantik dan muda… aku jadi seperti ayah dengan 3 anak perempuan kalau kamu memakai baju seperti itu”


“Kalau gak percaya diri jangan suka menyalahkan orang lain.. Pernah dengar gak istilah iri tanda tak mampu” Hasna terbangun lagi dan langsung nyap-nyap… mumpung bisa menumpahkan semua amarahnya.


“Iya kemudaan kamu membuat saya iri karena saya gak bisa mengimbanginya, iri melihat kamu bisa bernyanyi dengan lelaki songong itu” Reza menyebutkan Arkhan dengan muka yang kesal.


“Kalau mau nyanyi sama aku tinggal bilang...jangan malah jadi bicara yang menyakitkan orang lain” Hasna kesal hanya karena Arkhan ia jadi sasaran kemarahan.


“Ini sudah jadi alasan buat ilfil” Hasna langsung mengingatkan alasan penggunaan uang 1 milyar.


“Iya dipakai saja ...belikan semua yang kamu mau beli, belikan pakaian yang kamu sukai dan butuhkan tapi jangan beli model yang kemarin..aku gak suka”


“Itu Syana yang beli dan pilih modelnya bukan aku” jawab Reza lambat.


“Ya sudah aku sekarang mau tidur Mas Reza tidur sana, aku masih kesal” Hasna kembali berbaring dan menutup selimut.


“Aku mau disini saja… kamu boleh marahi aku sampai tidur… gak apa-apa” Reza merubah posisinya menjadi berbaring menatap punggung Hasna.


“Ehhh… siapa yang bolehin tidur disini… gak semudah itu aku memberikan maaf” Hasna langsung terbangun dan menatap kesal.


“Aku gak bisa tidur di kamar Hasna… kamarnya terasa kosong dan sepi…. Aku merasa dingin” Reza berbicara dengan muka yang sedih.


Hasna terdiam ia lupa, tadi semua foto Mitha dibawa oleh Mama Bertha, kamar Reza sekarang pasti kosong, pantas saja dia merasa kebingungan dan datang ke kamar Hasna.


“Aku mau tidur disini… aku janji gak akan menyentuh kamu… tapi ijinkan aku tidur disini… aku benar-benar merasa sepi dan kosong disana… aku bingung” suara Reza seperti laki-laki yang kebingungan harus berbuat apa.

__ADS_1


Hasna duduk dan menatap Reza yang tengah berbaring dan menunduk di bantalnya, keinginannya untuk mengusir laki-laki itu seketika sirna. Tidak menyenangkan untuk bertarung bersama lawan yang terlihat lemah dan tidak memiliki energi kehidupan… itu seperti menyiksa.


Jangan suka menyiksa makhluk yang lebih lemah… musti saling membantu menguatkan… baru nanti dibanting lagi kalau macam-macam


__ADS_2