Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Ingin Tetap Menjadi Elang


__ADS_3

Hasna PoV


Aku merasakan di titik terendah dalam kehidupan, aku kira semua orang pernah mengalami  perasaan terpuruk seperti sekarang. Belajar tentang psikologi ternyata tidak membuat aku jadi memiliki imunitas dalam emosi. Baru sekarang aku paham kenapa ada orang yang memiliki pemikiran hingga bunuh diri karena keputusasaan dan ketidakyakinan dalam kehidupannya. Seperti yang kualami


Semua kebanggaan yang ku anggap yang menjadi bagian dari identitas diri hilang terhempas tidak bersisa. Cap sebagai Perempuan Piala Bergilir, Perempuan Tidak Tahu Malu, Perempuan yang Tidak Bernilai sehingga tak bisa disandingkan dengan Istrinya, serendah itukah aku dimatanya, disaat aku mengatakan kalau aku mencintai laki-laki itu dan dengan bodohnya aku mengungkapkan itu padanya di saat dia melihat aku sebagai perempuan tak bernilai.


Aku memang hanya datang dari keluarga yang biasa, untuk mendapatkan barang yang mahal perlu waktu dengan mengumpulkan rupiah demi rupiah, membeli mobil baru butuh waktu hingga beberapa tahun, membeli pakaian yang bermerk bukan karena keinginan tampil fashionable tapi karena biasanya baju bermerk lebih tahan lama. Tapi itu semua tidak membuat kami menjadi orang yang tidak berharga, biasa saja seperti keluarga yang lain bahagia dengan capain yang dimiliki.


Butuh waktu hingga dua hari hingga air mata ini surut, tidak mungkin aku pulang ke rumah, Ayah pasti akan sangat terpukul dengan keadaanku, Mama pasti akan sakit hati karena semenjak awal Mama memang tidak setuju, khawatir kalau nanti pada akhirnya aku akan terluka dan ternyata benar adanya. Tidak mungkin mengadu pada Kak Angga entah apa yang akan dilakukannya kalau ia mendengar umpatan yang disebutkan Mas Reza...menyebutkan namanya saja membuatku sakit.


Yang menguatkan aku bertahan dirumah ini hanya Maura, setiap pagi selalu dengan setia membuatkan susu dan roti, terkadang membawa nasi goreng dan makanan lainnya. Tidak lupa menyimpan minuman jus seperti seorang ibu yang akan meninggalkan anaknya pergi bekerja karena ia harus berangkat sekolah. Hujan selalu memaksa ingin masuk ke kamar, dia dengan kata-kata sinis mengatakan kalau dia bukan anak kecil yang bisa dibohongi seperti Maura, aku hanya bisa bertahan dengan alasan yang paling masuk akal saat itu terkena flu.


Hari ketiga akhirnya aku memutuskan untuk mulai mengendalikan diri dan keluar dari kamar, terutama karena Maura, rasa sedih mulai terasa menjadi sakit karena tidak bisa memeluknya. Ia membawa selimut dan bantal kedepan pintu kamar, dia bilang mau kemping depan kamarku. Menceritakan kegiatannya di sekolah, memintaku bercerita dari buku cerita, atau sekedar makan kue bersama-sama dengan dibatasi pintu kamar.


Aku menguatkan diri untuk keluar, kacamata dan masker yang dibelikan Mas Aswin benar-benar membantu, aku sangat berterima kasih dia memang laki-laki yang penuh pengertian. Saat aku melihat Mas Reza  terlihat kalau ia tidak berani mengambil langkah mendekat, aku hanya tidak perlu banyak bicara dengannya. Setiap melihat wajahnya rasa sakit itu terasa berdenyut di dada. Dia tampak seperti biasa-biasa saja, berangkat bekerja seperti biasa tidak membuatnya terpengaruh dalam kehidupan.


Tapi kenapa aku yang merasa mengecil dan tidak berarti dalam hubungan ini, kenapa setiap melihat wajahnya aku merasa menjadi orang yang tidak memiliki nilai. Ya aku cuma seorang perempuan yang menjaga anak-anaknya dengan baik, bisa dimanfaatkan untuk memenuhi hasratnya, aku telah diberi uang sehingga harus berterima kasih dengan menjaga perilaku. Jangan mengharapkan untuk memiliki nilai yang sama dengan istrinya, Ia terlalu berharga dimatanya, aku tidak memiliki sikap sebagai perempuan yang baik. Semua pikiran-pikiran itu terus berkecamuk, setiap melihat foto Mbak Mitha di kamar anak-anak aku ingin menangis, untuk pertama kalinya dalam enam bulan pernikahan aku tidak ingin melihat foto perempuan itu.


Akhirnya aku putuskan untuk mengurangi aktivitas ku di rumah ini, mengurangi semua ketergantungan dan keterikatan akan rumah ini. Semalam aku mulai browsing tentang hubungan laki-laki dan perempuan, bagaimana sebetulnya seorang perempuan harus bersikap dengan laki-laki yang terus berulang menyakiti hatinya. Sampai pada suatu pembahasan tentang toxic relation hubungan yang meracuni diri seseorang.


Hubungan yang mengubah pribadi seseorang menjadi kerdil karena ucapan-ucapan yang diungkapkan oleh pasangan sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap pasangannya. Hahaha… aku memang berbeda dengan Mbak Mitha tapi apakah karena perbedaan itu menjadikan aku sebagai orang yang salah. Dan itu semua terjawab saat Mas Reza memaksa masuk ke kamar, ia mengharapkan aku memberikan sambutan yang hangat sebagaimana keinginannya untuk melakukan hubungan intim.


Dengan mudahnya dia menuduh aku bersikap baik dengan orang lain tapi tidak dengannya. Manusia adalah makhluk sosial, dia akan bertemu dengan orang lain, apakah karena sudah menikah kemudian tidak bisa lagi bertemu dan bersosialisasi dengan lawan jenis. Berulang kali aku katakan kalau aku tahu tanggungjawab dan peran sebagai seorang istri tapi apa yang bisa diharapkan dari orang yang selalu berpikir negatif dia terus saja mengulangi tuduhan yang sama, meminta maaf, menuduh lagi, meminta maaf dan terakhir menyebut aku sebagai Piala Bergilir.


Sudah saatnya aku membuat batasan, aku perlu waktu untuk berpikir jernih. Dengan kehamilan ini aku tidak bisa membuat keputusan hanya untuk diriku sendiri. Aku harus melindungi perasaanku supaya tidak terpuruk lagi seperti kemarin, emosi dari ibu yang sedang hamil akan bisa dirasakan oleh bayi yang di dalam perutnya. Walaupun aku belum merasakan apapun kecuali rasa pusing dan lemas yang berkelanjutan tapi aku harus bertanggung jawab pada makhluk yang tumbuh di dalam tubuhku.


Satu-satunya orang yang bisa diajak berdiskusi dengan netral hanya Ammera, dan seperti biasa dia adalah perempuan emosial yang langsung akan melakukan tindakan sebelum berpikir dulu.


“Aku gak terima” dia langsung meradang saat menceritakan pertikaian yang kualami di kantor.


“Kamu jangan mau kembali lagi ke rumah itu aku gak ridho, mentang-mentang kaya seenaknya saja menghina orang lain. Kamu jangan mau diperlakukan seperti itu… pasti dia menebus rasa bersalahnya dengan memberikan kamu hadiah kan?” Ammera menatapku dengan tajam.


Aku hanya tersenyum, tidak mengiyakan atau menggeleng. Bukan itu permasalahannya sekarang diberi hadiah apapun sekarang perasaanku sulit untuk pulih seperti sedia kala. Dulu walaupun tidak diberikan hadiah, aku selalu mencoba memahaminya. Tapi sekarang aku merasa tidak layak menjadi istrinya, setiap berdekatan dengannya aku merasa diriku mengecil dan tidak berarti.


Akhirnya Ammera menyetujui semua pemikiran  tentang menstabilkan emosi dan menenangkan diri terlebih dahulu, Minggu depan adalah rencana kunjungan studi banding ke Jepang waktu yang tepat untuk merefresh semua tekanan perasaan dengan suasana yang baru.


“Tapi kamu lagi hamil Hasna, apa boleh naik pesawat kalau lagi hamil” Ammera terlihat bingung.


“Aku sudah browsing, tidak masalah bagi seorang ibu hamil untuk naik pesawat asal kondisi tubuhnya sehat, makanya aku butuh kamu untuk nemenin aku” Aku berusaha meyakinkan Ammera, ini adalah kesempatanku yang terakhir bisa pergi dari carut marut emosi dan menenangkan pikiran.


“Ke dokter dulu deh, Tante aku dokter kandungan, tapi tempat praktek dia jauh. Kalau mau sekedar diskusi kita bisa periksa kondisi kamu, cuma kalau mau periksa lengkap musti ke rumah sakit dia” Ammera akhirnya perlu meyakinkan dirinya dulu, dia bilang dia tidak mau kalau terjadi hal yang tidak diinginkan selama perjalanan.


Akhirnya aku menjalani pemeriksaan pertama ke dokter, saat kami datang, semua peralatan sedang dikalibrasi sehingga tidak bisa menjalani pemeriksaan di USG, dan ternyata hasilnya bagus walaupun tidak bisa dibuat perkiraan kehamilan karena aku lupa kapan terakhir menstruasi. Dokter memperbolehkan mengikuti studi banding selama diperjalanan aku harus tidak lupa bergerak dan berjalan-jalan selama di pesawat. Tidak lupa diberikan vitamin dan harus makan dengan baik.

__ADS_1


Aku memutuskan mencari tempat tinggal baru, yang bisa aku pakai untuk beraktivitas sehingga tidak lagi tergantung diam di rumah Mas Reza. Rumah itu identik dengan Mbak Mitha aku akan terus saja merasa menjadi orang kedua disana. Tempat kost an lama tidak bisa aku tempati sudah terlalu banyak orang yang tahu. Bersama Ammera aku berhasil menemukan tempat yang baru yang membuat aku menjadi manusia yang utuh, di tempat ini aku menjadi seorang individu lagi menjadi seorang Hasna Humaira lagi. Di tempat ini aku mulai bisa tidur siang dengan tenang, perasaanku mulai terasa stabil, makanan yang kutelan mulai terasa manis dan asin lagi tidak seperti kemarin terasa pahit.


Akhirnya minggu yang ditunggu-tunggu datang, semua persiapan sudah dirancang dengan baik. Entah apa yang menjadi rencana Tuhan, sehingga saat aku harus berangkat ke Jepang, Mas Reza harus tugas keluar kota. Aku merasa keberuntungan berada di pihakku, tinggal menjaga janin dalam perutku, menjaga Maura agar tetap terlindungi dan meminta pengertian dari Hujan. Dengan semakin stabilnya kondisi emosiku menjadikan fisikku semakin kuat dan aku yakin janin di dalam tubuhku juga semakin kuat, tinggal bagaimana caranya agar Maura tetap terlindungi selama aku tinggalkan. Satu-satunya orang yang aku bisa minta bantuan pertolongan hanya Mama Isna.


Saat aku menceritakan soal rencana studi banding selama seminggu Mama langsung menyetujui untuk membantu, aku tidak menceritakan soal pertikaian ataupun kehamilan, cukup Ammera saja yang tahu. Bagi Mama Isna menantunya Reza adalah laki-laki yang selalu memiliki sikap yang baik dan aku tidak mau menodai pemikirannya. Rasa bersalah Mama Isna karena tidak bisa mendukung Mbak Mitha untuk melanjutkan kuliah membuatnya mendukung penuh semua rencana kuliahku. Ia meyakinkan bahwa akan semakin sulit bagiku untuk bergerak dan meraih semua cita-cita kalau sudah memiliki anak, aku hanya tersenyum ia tidak tahu kalau saat ini aku sedang mengandung.


Sekarang hanya tinggal meyakinkan Hujan agar dia bisa memahami kalau ini adalah jalan yang aku ambil untuk kebaikan bersama. Malam itu aku mengatur agar Maura menginap dengan Mama Isna agar besok aku bisa pergi tanpa adanya tangisan dan menggagalkan semua rencana yang sudah dirancang.


“Kaka… malam ini Buna mau tidur sama kamu yaa” ucapku setelah kami selesai makan.


“Kenapa Buna takut karena cuma kita berdua yang ada di rumah? Ada Mbak Jumi dan sodaranya tinggal di paviliun kok” anak itu selalu saja menggodaku.


“Hmmm ada yang ingin Buna ceritakan sama kamu” jawabku sambil membawa air putih dan susu di gelas.


“Buna sekarang kok rajin banget minum susu, pagi-pagi sama malam selalu minum susu” Ia ternyata memperhatikan aktivitasku yang baru ini.


“Heheheh biar tulangnya kuat dan jiwanya semakin sehat..katanya minum susu coklat membuat kita lebih bahagia” jawabku asal, tidak mungkin aku menjawab kalau ini adalah susu untuk ibu hamil.


Aku melihat Hujan menyelesaikan tugas dan menyiapkan buku untuk sekolah besok, sebenarnya kenapa Mbak Mitha memaksa aku untuk menjaga anak ini, karena yang aku lihat dia menjadi yang mandiri dan bisa diandalkan.


“Kamu mau Buna temani tidur disini?” tanyaku, dia langsung tersenyum


“Memang Buna mau? Biasanya selalu tidur dengan Maura” rupanya ia juga mau aku temani tidur hanya selalu kalah suara dengan Maura.


“Kaka kalau nanti SMA pasti akan banyak kakak kelas yang suka, soalnya kaka cantik dan tinggi” ucapku sambil mengusap rambutnya.


“Aku gak mau SMA di Jakarta.. Aku mau sekolah di Bandung kaya Buna sama Om Emran dan Om Angga” jawabnya pendek. Aku tersenyum rupanya Emran berhasil mempengaruhi anak ini.


“Aku pengen kuliah ke ITB masuk Arsitektur kaya Om Angga, aku seneng ngegambar kaya Om Angga” tidak kusangka Kak Angga sudah menjadi idola Hujan.


“Kamu gak pengen masuk sekolah bisnis supaya bisa nerusin perusahaan kaya Papi dan Abab” dia langsung menggeleng.


“Aku gak terlalu suka ketemu sama orang-orang, aku suka mengerjakan sesuatu sendiri, bikin karya dan mewujudkan karya itu tapi aku gak yakin aku bisa melakukan itu” anak ini memang introvert dan punya idealisme.


“Kaka pasti bisa … Dulu Buna juga seperti Kaka selalu yakin dan percaya sama kemampuan Buna… semua orang percaya kalau Buna bisa melakukan apa yang Buna mau”


“Buna punya cerita tentang Elang” dia langsung menatapku dengan cemberut.


“Aku bukan Maura yang musti dikasih dongeng sebelum tidur” aku langsung tertawa.


“Ini bukan dongeng pengantar tidur tapi cerita tentang mengejar impian” jawabku sambil menggoyang-goyang mukanya.


“Gini ceritanya...Suatu hari ada telur elang yang terjatuh dari sarangnya, untunglah telur itu tidak pecah, seekor Induk Ayam yang menemukannya mengambil dan merawat telur itu bersama telur-telurnya yang lain. Induk ayam membesarkannya seperti anak ayam yang lain, memberinya makan dan memperlakukannya seperti seekor ayam sehingga si anak elang dan anak ayam yang lain merasa dirinya seperti ayam juga”

__ADS_1


“Sampai suatu hari ia melihat Elang terbang dan melintas, anak elang itu berkata “aku juga bisa terbang seperti elang itu” anak ayam yang lain mentertawakan “hahahah sudahlah kita adalah ayam kita tidak bisa terbang, kita mencari makan di tanah sudah jangan banyak bermimpi” dan itu terjadi terus menerus sampai akhirnya si anak elang berpikir kalau dirinya memang seekor ayam dan tidak akan pernah bisa terbang”


“Kaka Hujan adalah anak elang yang tumbuh di sarang burung Elang, semua orang yakin kalau Kaka bisa terbang dan melintasi bumi dengan sayap Kaka yang kokoh. Kakak harus yakin itu Buna akan bantu” memeluk anak ini selalu memberikan kekuatan.


“Tapi Buna mau minta tolong sama Kaka” aku menarik nafas memikirkan  analogi yang bisa kubuat untuk anak seusia Hujan.


“Buna dulu adalah elang yang kuat, selalu yakin bisa terbang dan melintasi semua benua dan pulau di dunia.. Sampai Buna hinggap di sarang ini di rumah Kaka… Papi adalah Elang yang sangat kuat dan hebat… menguasai semua pepohonan dan lembah di sehingga semua orang mengagumi Papi dan membuat Papi semakin hebat. Bersama dengan Papi membuat Buna merasa menjadi elang yang kecil tidak bisa lagi terbang dan selalu patah sayapnya sehingga Buna merasa kalau Buna hanya seekor ayam yang tidak bisa lagi terbang” dan air mata sudah mulai berkumpul di mataku, walaupun berusaha untuk ditahan tapi tetap saja mengalir. Aku pindahkan kepala ke atas kepala Hujan dan bertumpu disana agar anak petir itu tidak melihatku meneteskan air mata.


“Buna khawatir tidak bisa membuat Kaka menjadi Elang yang hebat kalau Buna merasa diri hanya sebagai ayam. Untuk bisa membuat Kaka dan Ade menjadi Elang yang hebat seperti Papi, Buna harus menjadi Elang yang kuat juga, elang yang sayapnya tidak mudah patah, elang yang badannya besar sehingga kalau ada angin yang besar Buna bisa mengendalikan diri tidak terbawa angin”. Aku diam-diam mengusap air matanya. Hujan diam dan menyimak.


“Buna tidak bahagia dengan Papi” tanyanya pendek.


“Kebahagian terbesar Buna adalah bertemu kalian, dan kalian ada karena Papi dan Mami Mitha, dan Buna mensyukuri itu”


“Buna besok mau pergi studi banding ke Jepang, Buna ingin bisa belajar mengepakkan sayap Buna lagi, apakah sayap yang patah ini masih bisa dipakai… Kakak tidak apa-apa kan Buna tinggal pergi?” Aku terpaksa harus menceritakan rencana kepergiaan ini. Hanya Hujan yang bisa aku andalkan di rumah ini.


“Berapa lama?” tiba-tiba Hujan menatap mukaku dan melihat air mata yang mengalir.


“Studi bandingnya satu minggu” jawabku cepat, dan anak itu tiba-tiba tertawa.


“Hahahaha Buna-buna... aku kira mau pergi lama setahun kaya dulu Papi...seminggu? Hahahaha Buna kaya yang mau pergi lama sampe nangis-nangis gitu” dia masih tertawa melihat mukaku yang sedih.


“Heheheh Buna lebay yah… Kaka bisa bantu nanti menemani Ade yaah?” pintaku dengan penuh harap.


“Ada Iyang yang pasti nanti menemani, dan Papi juga kan ada, dari dulu Maura selalu nempel sama Papi” ia langsung merebahkan dirinya kembali.


“Buna akan membuat serial cerita untuk ade, nanti kalau ade mau denger suara Buna, Kaka tolong putarkan rekamannya dan mainkan videonya  saja yaa” pintaku padanya.


“Nanti telepon saja, gak usah repot-repot. Diisi saja paket internasionalnya yang banyak minta sama Papi” dia tampak tidak mau ambil pusing.


“Hmmm jaga-jaga kalau Maura menangis dan Buna tidak bisa dihubungi, kaka bisa putarkan itu. Kaka juga kalau ada apa-apa kasih Buna kabar dengan email yaah” aku mencoba membujuknya.


“Ahhhh nanti Buna telpon saja jangan repot-repot.. Jangan sedih satu minggu gak lama, Buna nanti tahu-tahu sudah waktunya pulang ke Indonesia… jangan sedih kaya anak kecil seperti itu” Ia langsung menyelimuti dirinya, dia adalah anak paling cool yang kukenal dalam sejarah.


“Maafkan Buna yaaah… belum bisa menjadi ibu yang baik untuk Kaka dan Maura” aku memeluknya dengan hati penuh rasa haru, entah kenapa hal itu dirasakan juga oleh janin diperutku yang terasa bergetar… rupanya ia merasakan Kakanya yang punya sifat yang kuat.


Malam itu terasa tenang… malam terakhir aku tidur di rumah ini


***************


setiap permasalahan yang dihadapi perempuan, selalu dibenturkan dengan nilai-nilai dan aturan agama. Saya adalah orang yg berusaha mematuhi aturan agama, tapi saya juga selalu berusaha memahami mengapa aturan itu dibuat dan dalam kasus apa aturan tersebut muncul. Pertanyaan yg kmudian muncul adalah pada saat suatu aturan berbenturan dgn kebahagian seseorang. Mana yg harus didahulukan, taat pada aturan atau kebahagiaan hati. Komentar-komentar yang muncul pada setiap story, Saya pahami bahwa setiap orang akan memiliki jawaban rasionalnya masing-masing, tapi cobalah belajar memahami bahwa kondisi setiap orang berbeda. Jangan menilai seseorang dr sudut pandang kita, tapi pahami dr sudut pandang orang lain juga. Demikian komentar serius saya utk deterjen sekalian... hehehe jangan kbanyakan emosi ntar imunitasnya berkurang... love u all


***************

__ADS_1


__ADS_2