Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Jangan Pundungan Kaya Mama


__ADS_3

Akhirnya mereka berangkat bersama Mama dan Ayah kembali ke hotel. Hasna hanya membawa 1 koper kecil pakaian sehari-hari miliknya, sebagian bajunya masih ada di kost an. Ia masih perlu melihat kondisi saat pindah rumah nanti.


“Kok hanya membawa 1 koper kecil?” Reza merasa heran saat melihat Hasna memasukan 1 koper kecil ke bagasi mobil.


“Sebagian baju masih ada di kost an, aku kan gak tahu nanti pindah ke rumah Mas Reza kaya gimana?”


“Kamu bisa menempati kamar tamu, ada 2 kamar kosong di rumah. Kamu tinggal pilih yang mana” Reza memundurkan mobil, mereka berangkat lebih dulu karena berjanji pulang cepat kepada Hujan.


Hasna mengangguk lemah, dia sama sekali tidak terbayang seperti apa nanti tinggal di rumah Reza.


“Kamu kan tidak siap untuk tinggal satu kamar denganku kan” sambungnya.


“Ya… nanti saya akan tidur dengan anak-anak saja”


“Terserah kamu” jawab Reza, ia tidak ingin terlalu memikirkan terlalu banyak soal masalah kamar dengan Hasna. Hal yang paling penting sekarang adalah tidak adanya keributan soal kedatangan Hasna di rumah dan anak-anak bisa menerimanya dengan baik.


“Mau beli sesuatu kah untuk Hujan dan Maura?” tanya Hasna


“Di hotel juga banyak makanan, nanti malah tidak habis mubazir” jawab Reza pendek.


Sepanjang perjalanan mereka lebih banyak menghabiskan perjalanan dengan menghabiskan pikiran mereka masing-masing.


“Kita pulang ke Jakarta kapan?” tiba-tiba Hasna terpikir kapan mereka akan kembali ke Jakarta.


“Mama dan Papa akan malam ini atau besok subuh soalnya Hujan harus sekolah besok, kalau Isyana besok, kita juga besok siang saja. Malam ini istirahat di hotel, saya sudah izin tidak masuk besok”


“Hmmm di depan berhenti dulu. Cuangkinya terkenal enak Kaka Hujan pasti suka” Hasna tiba-tiba teringat kalau Hujan paling suka jajanan anak remaja.


Reza melihat Hasna berlari-lari masuk ke warung cuanki, tidak tampak antrian mungkin karena  sudah malam.


“Kaka Hujan pasti suka ini.. Hehehe. Tadi dia nyuruh cepet-cepet kita malah ketiduran, pasti dia ngambek” Hasna bisa membayangkan betapa kesalnya anak petir itu.


“Biarlah anak itu memang seperti itu, mudah-mudahan kamu bisa mengerti”


“Iya kita bekerjasama untuk masa depan lebih baik” ucap Hasna dengan penuh semangat.


“Apaan sih kaya iklan properti aja” Reza mendengus,


“Lah memangnya mesti gimana? Slogan keluarga bahagia yah” pikir Hasna


“Mana ada keluarga istilahnya bekerja sama? Itu biasanya kan kerjasama kalau dalam tim work” jawab Reza


“Oh iyaya mestinya kalau keluarga itu bukan kerjasama tapi saling menyayangi dan mencintai”


“Emang kita sudah mencintai gitu?” tanya Hasna


Reza melirik cepat, kenapa pertanyaannya jadi kesana.


“Ya gimana perasaan kamu kok nanya sama saya?” jawabnya


“Saya yang nanya duluan sama Mas Reza kenapa malah balik nanya” Hasna cemberut


“Kalau kata kamu saya kelihatannya gimana?” goda Reza


“Ehhh angger itu sih balik nanya kakang” Hasna cemberut sambil melihat keluar. Diminta membuat semboyan keluarga tapi tidak tahu apakah mereka memang sudah sehati berkeluarga.


“Sudahlah tidak usah mempertanyakan dulu soal hati dan perasaan, kita jalani saja” Reza mencoba menengahi. Hasna tidak menjawab, ia awam dalam hal percintaan antara laki-laki dan perempuan. Apakah perasaan itu perlu diungkapkan atau tidak, apakah cukup dengan perhatian mereka bisa mengikatkan diri dan mengakui sebagai keluarga.

__ADS_1


Di Keluarganya, ia adalah anak yang pertama yang menikah, kalau dipikir-pikir sebetulnya ia adalah anak pertama yang punya pacar juga, walaupun tidak terhitung pacaran dengan Reza itu karena hitungan antara kenal dan dilamar relatif cepat hanya 2 bulan. Untuk itu ia tidak mungkin bertanya pada Angga bahkan Emran, mustahil. Bertanya pada Ayah dan Mama malah nanti menimbulkan pertanyaan susulan dan malah akan membuat mereka khawatir. Hasna tidak ingin itu terjadi.


Sampai di hotel ternyata mobil Ayah sudah tampak ada duluan disana, mungkin karena tadi Hasna berhenti untuk membeli makanan dulu. Mereka bergegas naik ke lantai 6 lokasi tempat diselenggarakannya acara Makan Malam Keluarga dengan Barbeque Party.


“Bunaaaa… knapa pelgi pelgi nda bilang.. Mola dali tadi cali cali… Buna syama Papi pelginya lamaaaa… tadi Mola nangis lamaaa” begitu sampai di tempat makan, langsung diserbu oleh Maura yang merajuk. Hidungnya sampai merah karena sisa menangis.


“Unyu-unyu… maapin Buna yaaa… Tadi Bunanya ketiduran di kamar, soalnya Buna capeee bingits. Untung ada Kaka Hujan temenin Maura”


“Kaka Hujan malah-malah sama Mola katanya Mola belisik nangis telus. Mola disuluh pelgi kelual kamal kalo nangis telus” adu Maura sambil menggosok-gosok matanya.


“Terus gimana Maura keluar kamar?”


“Nda Molanya belenti nangis soalnya Mola atut kalo kelual delap” ucap Maura sambil menyusut isungnya.


“Wahahaha sayang sampai keluar ingus… Nanti Buna cerita tentang Ikan yang suka menangis yaah”


“Haaah Ikan bisa nangis… Mola nda tau kalau Ikan bisa nanis” Maura langsung bingung dan senang.


“Nanti Buna celita sambil temenin Mola tidul yaa” tanyanya dengan gembira.


“Waaaah iyaaa sekarang kita bisa bobo syama-syama yaaa… Maura bisa dengerin cerita Buna gak dari Hp lagiiih” ucap Hasna sambil membuat ekspresi terkejut.


“Acik acik acik acik Mola mau bobo sama Buna… mau celita ikaaan…. Glanny nanti malam Mola mau bobonya cama Buna aja… nda mau sama Glanny” Maura langsung berlari ke arah neneknya yang sedang asyik mengobrol sama Mama.


Ditengah-tengah lokasi makan malam tampak Emran sibuk dengan peralatan bakar-bakaran dengan dimandori oleh  Hujan, melihat itu Hasna langsung mendekati Hujan untuk membujuk anak petir yang sudah dipastikan akan ngambek melihat dia.


“Weiiis gayanya Emran sudah kaya Chef aja”


“Taaah ini dia pelaku kekerasan dalam rumah tangganya datang Jan” Emran langsung menunjuk Hasna yang baru datang.


“Iya tadi kan Teteh menendang Mas Reza dari kasur waktu bangun tidur” Emran langsung mengacung-acungkan penjepit Jagung yang sedang dibakar.


“Udah dibilangin Teteh lupa kalau tadi pagi udah menikah sama Mas Reza… eeeh kamu tuh malah dibilangin lagi sama anaknya” Hasna langsung merengut kesal.


“Pantesan aku tungguin lama banget sampe si ade nangis lama, aku jadi belum beres ngerjain PR IPA gara-gara ade berisik Tante” Hujan berusaha menyembunyikan senyumannya diantara ekspresi cemberutnya. Ia awalnya kesal menunggu kedatangan Hasna dan Papinya tadi begitu mendengar cerita Emran bahwa mereka tertidur kelelahan sampai Hasna lupa sudah menikah ia langsung tertawa membayangkan Papinya jatuh terjungkal di dorong oleh Hasna.


“Sudah-sudah jangan membahas soal itu, ini dibawakan cuanki yang terkenal di Bandung. PR nya dibantu in dikerjakan sama Emran saja supaya selesai. Emran jago IPA dia nilainya 10 waktu UN dulu” Hasna langsung mengambil alih kegiatan bakar membakar yang dilakukan Emran. Dipanggilnya petugas hotel untuk segera menyelesaikan proses barbeque, Hasna paling tidak kuat dengan bau asap.


Akhirnya acara makan malam berlangsung dengan meriah dan akrab. Semua orang tampak merasa puas dengan acara yang terselenggara hari ini, akad nikah dan resepsi pernikahan berlangsung dengan lancar. Sehingga dalam pesta Barbaque ini pihak keluarga mengucapkan apresiasi dan terima kasih kepada pihak wedding organizer yang telah menjalankan tugasnya dengan baik.


Saat berpisah di lobby hotel Hasna kembali memeluk Mama dan Ayah, rasanya seperti mimpi tiba-tiba dipisahkan dengan mereka berdua.


“Sudah-sudah jangan nangis, kamu cuma pindah rumah aja Teh bukan pindah alam” ucap Ayah.


“Ayaaah maah… kalau pindah alam artinya meninggal atuuuh” Hasna langsung memukul ayahnya yang mengganggu matanya yang sudah mulai berair.


“Iya habisnya kamu tuh kaya gak akan bertemu Ayah sama Mama aja. Sudah ibaratkan saja kamu pindah kosan”


“Malah mesti bersyukur jadi punya rumah dua. Kalau dimarahin sama Mas Reza ada rumah Ayah, kalau dimarahin Ayah ada rumah Mas Reza”


“Ehhh ari Ayah malah ngajarin gak bener, kalau dimarahi suami itu bukannya kabur pulang ke Ayah, tapi diselesaikan baik-baik dengan suami… suka ngajarin pundungan sama anak jelek itu” Mama langsung nyolot mendengar ucapan Ayah


“Ari dulu Mama kalau ngambek sama Ayah suka pulang ke Garut hayooo” Ayah langsung mengumbar masa lalu.


“Beda itu mah soalnya ayahnya pikasebelen cunihin… teu kaop aya perempuan geulis anu bageur sok sms an ditelepon suka diangkat gak tau waktu”


“Beda itu sih, soalnya ayahnya menyebalkan ganjen, setiap ada perempuan cantik baik suka sms an kalau ditelepon suka diangkat gak tau waktu”

__ADS_1


“Ehhh suka mengungkit-ungkit masa lalu di depan orang Mama, wajar kan Ayah sebagai pemimpin harus mengayomi bawahan” Ayah langsung membela diri, Reza langsung berusaha menahan senyum.


“Alasan… udah ah Mama mau pulang aja ke Garut” Mama langsung manyun dan meninggalkan Ayah setelah memeluk Hasna dan Reza.


“Ehhhh suka pundungan gitu… katanya jangan ngajarin yang gak bener sama Hasna”


“Ayah pulang dulu yah Nak Reza… Teteh besok sebelum ke Jakarta belok dulu yah ke rumah, bawa makanan buat oleh-oleh disana” Ayah langsung berlari mengejar Mama yang sudah pundung duluan ke mobil.


Reza tertawa melihat tingkah laku orangtua Hasna, ternyata memang Hasna yang memiliki sifat yang terbuka karena orangtuanya yang tidak memendam emosi dan sangat terbuka. Hasna hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah ayahnya yang bakalan kerepotan menenangkan Mama. Ia jadi ingat dulu berangkat ke Garut waktu SD naik Bus bersama Angga dan Emran yang masih bayi, gara-gara Mama cemburu pada ayah yang sibuk mengurus pegawai di kantornya.


Hampir seminggu lebih mereka tinggal di Garut, dan selama mereka di sana Ayah terpaksa pulang balik Bandung Garut demi membujuk Mama agar mau pulang kembali ke Bandung. Akhirnya Mama mau pulang kembali karena disuruh pulang oleh Aki, dan selama hampir satu bulan Hasna merasakan suasana medan perang di rumah. Bukan perang ribut tapi seperti perang dingin, terutama Mama yang tidak pernah menyapa Ayah. Kalau ada yang mau disampaikan kepada Ayah selalu meminta ia dan Angga untuk menyampaikannya, seperti menyuruh makan atau membeli sesuatu.


Perang dingin itu berakhir saat Ayah akhirnya jatuh sakit, Mama akhirnya jatuh kasihan melihat ayah yang terbaring sakit, kumis kebanggaannya tidak tampak melenting ke atas tapi turun jatuh ke bawah karena sakit panas. Ayah sakit tipes karena makan tidak teratur, dan tidur yang tidak nyaman karena tidur di sofa. Akhirnya mereka kembali berbaikan dan semenjak saat itu tidak pernah lagi ada acara pundung-pundungan. Ayah sangat menjaga perasaan Mama yang tidak bekerja karena harus mengurus anak-anak. Padahal dulu sebelum Mama berhenti bekerja ia adalah seorang apoteker tapi karena harus mengurus anak-anaknya akhirnya Mama berhenti bekerja. Bakat meracik bahan kimianya ternyata turun ke Emran sekarang.


Sampai di kamar hotel ternyata  HUjan sudah pindah ke kamar Granny alasannya besok harus pulang subuh supaya bisa mengejar ke sekolah. Hingga akhirnya mereka hanya tidur bertiga di kamar, awalnya Maura pun diajak tidur di kamar Granny tapi karena sudah dijanjikan akan mendengarkan cerita tentang ikan, Maura memaksa untuk tidur dengan Hasna dan Reza.


“Ayo gosok gigi dulu sebelum tidur” ajak Hasna


“Buna kenapa kalau tidul nda pake piyama kaya mola?” Maura melihat Hasna sudah bersiap tidur dengan hanya memakai celana katun dan kaos saja.


“Buna gak suka seragaman kalau tidur .. enaknya kaya gini aja” jawab Hasna asal.


“Haaaah selagaman” Maura tampak bingung..


“Sudah sini gosok gigi dulu supaya cepat bobonya” Hasna langsung menggosok gigi Maura dan membawanya kembali ke kamar. Di kamar tampak Reza sudah berbaring di kasur dengan membawa susu.


“Kok tidur disini?” Hasna langsung bingung


“Yah emangnya kenapa … ini Papi sudah buatkan susu buat Maura” Reza memberikan susu yang sudah dibuatnya kepada Maura.


“Papi mau bobo disyini juga sama Mola” Maura langsung meloncat-loncat senang.


“Iya Papi juga mau bobo sambil dengerin cerita Buna” ucap Reza sambil berbenah dan mengambil posisi di sisi tempat tidur.


“Ehhh bagaimana inih… gimana kalau anaknya nanti tidur” Hasna langsung bingung.


“Saya suka langsung tidur juga kok kalau sudah dengerin cerita kamu” goda Reza ia melihat kebingungan Hasna.


Hmmmm … yah sudah mau bagaimana lagi.


“Celitanya… celitanya tentang Ikang yang suka menangis kaya Mola” Maura masih meloncat-loncat di atas tempat tidur.


“Iya… karena ikannya suka menangis sampai dia tenggelam dalam air matanya” ucap Hasna.


“Haaaah tenggelam” Maura langsung berhenti meloncat-loncat dan duduk diantara Hasna dan Reza..


“Mola mau dengel celitanya” ucapnya kemudian mengambil posisi rebahan sambil bersandar pada Reza.


“Boleh tapi habiskan dulu susunya dan kumur-kumur yah” ucap Reza.


Sabaaar yaaa yang mau dengelin celita balengan Mola dan Leza.. Kita lanjut di episode belikutnya...


*******************


Maafkan saya tidak bisa up story seperti biasa. Matanya harus puasa liat laptop n hape karena radiasi ...hehehe dampak kurang istirahat gegara sisa waktunya dipakai up story... gpp aku seneng koq menulis tp sabar yah klw gak bisa up story cepat skrng.... intinya stay safe aj deh semuanya... jangan kbanyakan main hp banyakin liat yg ijo royo-royo.... love u all


*******************

__ADS_1


__ADS_2