
Hasna sudah mengenal karakter Arkhan sejak dulu, dia adalah laki-laki yang tidak suka basa-basi baik dalam berbicara maupun dalam ekspresi tubuh. Seperti sekarang pun ia menunjukkannya.
“Maksudnya pertunjukkan apa kang?” Hasna merasa perlu kejelasan. Ia merasa tidak merancang suatu pertunjukkan apapun.
“Tadi pertunjukkan rumah tangga bahagia yang diperlihatkan suami kamu?” Arkhan mendengus pendek. Hasna tersenyum rupanya tidak hanya dia yang kaget oleh sikap suaminya. Apakah semua orang akan berpikir seperti Arkhan pikir Hasna.
“Hmm memangnya itu kaya pertunjukkan gitu? Bukannya memang seorang suami musti menghargai istrinya?” jawab Hasna polos.
Arkhan menggelengkan kepalanya. “Kamu tuh dari dulu selalu naif .. ga pernah berpikir kalau orang itu punya maksud terselubung dalam melakukan tindakan.. Dengan drama suami yang begitu mencintai istrinya orang-orang akan sangat menyukai dia” Arkhan tersenyum sinis.
Hasna bengong kemudian dia tertawa “Haahahahaha akang mah jealous aja...hahahahaha yah biarin aja ahh emang gw pikirin mau bikin drama atau bukan yang penting aku sih seneng jadi aktris dadakan… kapan lagi ada yang nyebut aku perempuan yang berharga… di atas panggung lagi” Hasna tertawa sambil mendorong Arkhan.
“Dahhh ah aku mau masuk aja nanti di cariin Mas Reza lagi.. Di luar dingin ginih” Hasna langsung meraba lengannya yang terasa seperti es. “Hatchhiiiii… “ Arkhan menoleh dan melihat lengan baju Hasna yang tampak putih karena ia tidak mau diam.
“Kamu tuh udah tahu alergi dingin, pake baju model seperti ini… auratnya kelihatan semakin banyak” Arkhan melepaskan jas nya dan menyampirkan ke pundak Hasna, beberapa kali kegiatan malam selama organisasi membuatnya hapal kalau Hasna memiliki alergi dingin. “Ehhh… gak apa-apa… aku mau masuk aja” Hasna mencoba menolak jas pemberian Arkhan. “Pake aja nanti kamu sakit lagi… udah jadi bintang film dadakan trus meler idung malu-maluin” ucap Arkhan pendek.
“Heheheh kang tadi tuh aku klemes-klemes malu banget pas disebut wifey please stand up… kaya anak perempuan sma yang dapat pengakuan dari temennya di lapangan basket sambil teriak ginih… HASNA I LOVEEE YOU….hahahahhahaha” Hasna cekikikan membayangkan itu. Rupanya perasaaan euforia karena pernyataan Reza di panggung tadi masih membuatnya merasa berbunga-bunga.
“Kebanyakan mimpi kamu tuh… makanya gampang dikibulin” Arkhan menoyor kepala Hasna, Hasna tertawa “Dikibulin selama gak hapal mah gak apa-apa...serasa nyata weeee” Hasna menjulurkan lidahnya, obrolan yang sudah lama mereka lakukan seperti saat kuliah dulu.
“Luaaar biasaaa… ternyata sedang ada reuni disini” terdengar suara sinis Arcy, Hasna langsung menengok ke belakang tampak Reza berdiri dengan muka dingin mematung memandangnya. Hasna langsung kaget, saking asyiknya mengobrol dengan Arkhan ia sampai lupa kalau tadi akan mencari Reza.
“Ehhh Mas tadi aku cari-cari gak ketemu jadi aja keluar ruangan nyari udara, udah ngobrol-ngobrolnya.. Mau pulang sekarang?” Hasna menghampiri Reza yang tetap diam berdiri mematung. Saat Hasna mendekat pandangan Reza terarah pada jas Arkhan yang dipakainya. “Ehh iya… tadi dipinjemin jas soalnya dingin… sebentar” Hasna berbalik sambil membuka jas dan memberikannya pada Arkhan. “Kang ini jas nya makasih… maaf merepotkan”
Arcy yang berdiri ditengah diantara Reza dan Arkhan mengambil kesempatan dengan menginjak gaun Hasna yang panjang menyapu lantai. Hasna langsung terhuyung dan hampir jatuh tersungkur “Arrgghhhh……” untung Arkhan dengan sigap menahannya.
__ADS_1
Melihat Arkhan yang menahan tubuh Hasna, Reza langsung maju dan menepiskan tangan Arkhan dari bahu Hasna. “Lepasssss…. Jangan sentuh istri saya” Hasna kaget ia mendengar suara Reza yang terdengar geram dan kesal. “Mas…. udah gak apa-apa..” Hasna langsung memegang tangan Reza, ia tidak ingin ada keributan. Hasna kemudian berdiri dan memandang Arcy, ia tahu kalau perempuan itu menginjak ujung gaunnya dengan sengaja.
“Hehehe maaf, mata saya tadi tidak melihat jelas jadi gak sengaja menginjak bajunya...hahaha saya kayaknya udah kebanyakan minum” Arcy tertawa-tawa dengan sinis. Hasna hanya bisa menahan geram “Memang kalau sudah TUA itu mata jadi rabun ayam kalau sudah malam-malam” ucapnya cepat. Arcy langsung melotot dan sudah akan maju dengan tangan terkepal.
“KITA PULANG SEKARANG” Reza menarik tangan Hasna cepat sehingga hampir membuatnya terhuyung-huyung. Arkhan hanya bisa menatap tajam melihat Hasna yang tampak berjalan terseret dengan high heels. “Masss… jangan ditarik seperti ini” teriak Hasna saat akan masuk ke dalam ruangan. Reza berhenti dan menarik nafas, ia mencoba mengendalikan diri. Di dalam Ballroom masih banyak tamu undangan dari perusahaan.
“Mas tadi aku tuh nyariin tapi gak ketemu, jangan marah gitu atuuuh” Hasna menunduk sedih. Dipegangnya tangan Reza mencoba untuk menenangkan suaminya. “Kamu selalu bertindak sesuka hati” ucap Reza pendek dan melangkah masuk ke dalam ruangan Ballroom, Hasna hanya bisa mengikuti Reza dari belakang sekarang bukan waktunya untuk berargumen. Ia tahu kalau dirinya salah.
Di taman Arcy dan Arkhan yang tertinggal tampak saling mengukur keadaan. Arcy yang pertama langsung berpikir untuk mencari peluang sekutu begitu melihat ekspresi Arkhan yang tidak suka dibentak Reza dan melihat Hasna diseret pergi.
“Rupanya ada reuni dengan mantan di pesta ini” Arcy mendekati Arkhan sambil tersenyum manis berusaha mengeluarkan pesona yang dimilikinya. “Tidak ada istilah mantan dalam pertemanan” jawab Arkhan pendek dikenakannya kembali jas yang tadi dikembalikan Hasna.
Arcy mendekati Arkhan dan bersikap akrab dengan merapikan jas Arkhan, “Saya tidak tahu kalau ternyata perempuan udik itu banyak penggemarnya juga tapi bolehlah seleranya, sayang saya tidak suka laki-laki muda yang belum mapan” Arcy tersenyum menggoda “tapi tampaknya kita bisa saling membantu … kamu bisa mendapatkan kembali teman udiknya dan saya kembali mendapatkan soulmate kembali” Arcy mengusap-usap jas Arkhan sambil mengedipkan matanya.
Saat Reza dan Hasna masuk kembali ke ruangan Ballroom, mereka menghampiri Papa Ardy dan teman-temannya, mereka semua tampak masih menikmati malam ini, hiburan dari Band Pengiring tampak memeriahkan suasana. Hasna sudah tidak bisa menikmati lagi malam ini, muka Reza yang kecut setiap memandangnya membuatnya semakin tidak nyaman. Hidungnya mulai meler, udara di dalam ruangan Ballroom semakin terasa dingin ingin rasanya menggosok-gosok lengannya supaya agak hangat, tapi itu berarti tangannya akan semakin nampak jelas oleh orang lain.
Reza berdiri dekat dengan pendingin udara, berusaha untuk bersama Reza terasa menyiksanya. Hasna mencoba untuk tersenyum dan berbasa basi, tapi kebanyakan ia tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Bukan soal bahasa tapi isi materi yang tidak ia ketahui duduk perkaranya, yang terasa sekarang adalah badannya yang terasa menggigil kedinginan. “Mas saya mau duduk disebelah sana” ucap Hasna pelan, Reza hanya menatapnya dengan dingin, tidak terucap sepatah katapun darinya, sungguh kontras dengan apa yang diucapkannya satu jam yang lalu.
Hasna berjalan lambat menuju meja yang terdekat dengannya, kepalanya sudah mulai terasa pusing. Tiba-tiba ia teringat dengan apa yang dikatakan Arkhan kalau sikap Reza tadi hanya sekedar pertunjukkan saja supaya orang merasa terkesan dengan image pasangan yang bahagia. Semudah itukah kebahagian itu menguap hanya karena ia berbicara dengan lawan jenis yang tidak disukainya.
Arkhan tidak menyangka kalau Hasna memiliki rival dalam pernikahannya, ia semakin kasian pada Hasna, terutama saat melihatnya tadi ditarik oleh Reza sehingga berjalan hingga terhuyung-huyung. Selama ini ia selalu melihat Hasna sebagai perempuan yang merdeka dan bebas mengekspresikan dirinya, baru malam ini ia melihat Hasna seperti merasa terintimidasi untuk mengikuti dan tunduk pada laki-laki yang memperlakukannya seperti barang kepemilikan.
Di dalam ruangan Ballroom di kejauhan ia melihat Hasna berusaha mengikuti Reza yang tampak asyik berbicara dengan rekan-rekannya tanpa memperhatikan istrinya. Perasaannya semakin kesal saat melihat Hasna yang berusaha tersenyum sambil sesekali berusaha mengusap lengannya. Ia pasti merasa kedinginan dan suaminya tampak seperti tidak peduli. Saat Hasna tampak kemudian duduk di meja di tengah ruangan Ballroom akhirnya Arkhan tak kuasa untuk tidak mendekat.
Hasna yang melihat Arkhan mencoba mendekatinya langsung menggelengkan kepala, ia memberikan isyarat agar Arkhan menjauh. Arkhan langsung berhenti dia mengerti kalau Hasna tidak ingin ia dekati, hatinya merasa sedih melihat adik kelas yang dulu selalu bersamanya dalam kegiatan organisasi tampak pucat tapi berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Ia harus menghentikan ini. Dilihatnya Reza masih asyik berbicang dengan para tamu yang tampak enggan untuk pulang. Sebagian dari mereka malah ada yang berdansa mengikuti alunan irama musik yang dimainkan oleh Band secara live.
__ADS_1
“Maaf Mas Reza…” Arkhan mendekati Reza dan menyapanya dari samping, Reza menoleh dan melihat dengan dingin seperti tidak memperdulikan laki-laki yang menyapanya. “Excuse me can I interrupt for a moment, I need to talk with Reza.. urgent condition” karena Reza seperti tidak memperdulikannya akhirnya Arkhan memotong pembicaraan dengan tamu dari Tiongkok yang tampak asyik berbicara.
Akhirnya Reza mengarahkan pandangannya “Ada perlu apa?” tanyanya singkat. “Saya tau tadi ada kesalahpahaman, saya yang menawarkan jaket kepada Hasna karena dia kedinginan tidak ada maksud apapun, diapun awalnya menolak karena akan mencari anda. Tolong jangan berpikir macam-macam” Arkhan berusaha berbicara baik-baik, tapi Reza sudah ada dalam mode tidak suka dan tampak tidak peduli “Saya kira tidak ada yang perlu diklarifikasi..bukan urusan anda mengurusi Hasna” Reza kemudian beranjak mengalihkan pandangan dari Arkhan untuk kembali kepada tamu-tamunya.
“Tapi bukan begitu caranya menyiksa istri sendiri sehingga dia bisa sakit karena kedinginan. Mungkin karena baru mengenalnya tidak tahu kalau Hasna punya alergi dingin, dia tidak akan kuat dengan udara ac ataupun udara lewat dari jam 10 malam” Arkhan berkata dengan keras, menghentikan Reza yang akan melangkah meninggalkannya. “Kalau anda tidak segera membawanya pergi dari sini, saya yang akan mengantarkannya pulang.. Tidak peduli orang akan berpikir ini sebagai pertunjukkan murahan dari seorang laki-laki kepada perempuan yang beristri” sambungnya dengan kesal.
Reza menatap Arkhan dengan pandangan marah, ucapannya Arkhan yang terakhir berhasil memicu kemarahannya. Kalau saja tidak ada tamu-tamu undangan disini mungkin dia sudah akan menyeret laki-laki itu keluar dari ruangan. Hasna yang melihat Arkhan mendekati Reza sudah merasa akan ada pertikaian, awalnya ia akan membiarkan saja karena belum tentu mereka akan bertikai mungkin saja Arkhan hanya akan pamit pulang. Tapi begitu melihat Reza yang berbalik dan menatap Arkhan dengan kesal ia tahu kalau kakak kelasnya itu sudah mematik api pertikaian dengan Reza.
“Mas…. mas… “ Hasna memanggil Reza yang menoleh dan melihat betapa pucat wajah Hasna. “Mas aku mau pulang… kalau Mas Reza masih lama aku pulang dengan taksi saja yah gak apa-apa kan” Hasna berkata lemah, ia mencoba menahan rasa dingin yang sudah mulai membuatnya pusing dan membuat tangannya gemetar. “Kenapa kamu?” Reza tampak kaget, tadi Hasna hanya terlihat pucat tapi saat melihat tangan istrinya terlihat gemetar ia baru menyadari kalau Hasna terlihat menderita.
“Kalau masih banyak yang harus dibicarakan aku pulang duluan gak apa-apa kan? Ada supir Papa Ardy yang menemani… aku gak akan pakai taksi..aku janji” Hasna langsung teringat kalau Reza paling tidak suka kalau ia menggunakan kendaraan umum. Reza langsung membuka jasnya ditutupkannya pada lengan istrinya. “Kamu duduk sebentar...aku pamit dulu pada Papa dan tamu-tamu” Reza menuntun Hasna duduk di meja. Arkhan hanya menatap dan kemudian berjalan menjauh, saat Hasna duduk dia menatap Arkhan yang masih menatapnya dengan pandangan khawatir.
Hasna memberikan isyarat dengan tangan menandakan Ok sambil tersenyum lemah, ia tahu kalau Arkhan mengkhawatirkan dirinya. Saat Hasna dan Reza berjalan beriringan meninggalkan ruangan Ballroom ada dua pasang mata yang menatap dengan lekat keduanya saat berjalan. Arcy dengan tatapan sinisnya dan Arkhan dengan tatapan penuh kekhawatiran, keduanya sama-sama merasakan ketidaknyamanan pada kubu yang berbeda. Yang satu kubu kebencian sedangkan yang satu lagi kubu ketidakberdayaan untuk melindungi perempuan yang dulu selalu bersamanya.
Di dalam mobil Hasna langsung merebahkan dirinya, telinganya terasa berdenging, kepalanyanya terasa berat. Timbul perasaan mual, tampaknya selama ia menahan diri tadi ia merasa masuk angin. “Kenapa kamu gak bilang kalau kamu punya alergi dingin… seharusnya kalau kamu tahu punya alergi dingin jangan memilih baju seperti itu... “ Reza masih berbicara dengan nada yang kesal, Hasna sudah tidak memiliki energi lagi untuk menjawab.
“Saya jadi seperti laki-laki bodoh di depan temanmu itu.. Hanya karena dia lebih mengenal kamu membuatnya berhak untuk mengancam saya” Reza masih merasa marah dan dipukulnya setir mobil dengan kesal, amarah yang tadi ditahan membuat kepalanya terasa panas.
“Maaf …. Saya… saya memang salah…. Maafkan saya selalu tidak bisa bersikap mengimbangi Mas Reza disana… membuat acaranya terganggu… Mas Reza benar… saya selalu bersikap seenaknya” Hasna menahan rasa sedihnya.. Ia merasa kalau kondisi fisiknya saat ini benar-benar lemah, tidak bisa kendalikan. Tidak terasa air mata menetes di ujung matanya, tapi ia tidak ingin terlihat lemah dibaliknya badan melihat ke arah jendela mobil sambil menyenderkan kepalanya.
Ternyata siapa bilang Cinderella harus menunggu hingga jam dua belas malam baru berganti wujud menjadi upik abu. Jam masih menunjukkan sebelas malam kurang tapi ia merasa sudah kembali menjadi seorang Hasna, drama pertunjukkan yang tadi diikutinya sudah menutup layarnya.
Mungkin benar apa yang dikatakan Arkhan tadi pikirnya, bahwa semua itu bukanlah ucapan tulus dari seorang suami kepada istrinya tapi bagian dari politik seorang pimpinan perusahaan yang memiliki keluarga yang bahagia sehingga patut membangun kepercayaan dari klien nya.
Ia ternyata hanya seorang Hasna yang naif mempercayai skenario pertunjukann yang tidak ia ketahui….
__ADS_1