Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Mari Kita Balas dengan Pecel Lele


__ADS_3

 


 


Pagi ini Hasna berangkat dengan mata masih mengantuk, tadi malam sampai di kost an jam 12.15. Kalau boleh ambil jatah kaya waktu kuliah ingin rasanya hari ini libur saja gak usah kerja.


Ternyata tantangan hidup di Jakarta bukan dari pekerjaan, tapi dari hubungan antar manusia, sesuatu yang tidak dipersiapkan oleh Hasna. Selama ini ia mengira kalau kemampuan kerja ia yang akan diasah kalau bekerja di perusahaan multi nasional. Tapi ternyata salah, semakin besar dan kompleks lingkungan yang dihadapi semakin banyak permasalah antar manusianya.


Sesampainya di kantor dia langsung dihadang sama Mbak Maytha. Diseretnya Hasna ke toilet perempuan.


“Ini apa?” tanya Maytha menunjukkan foto dalam hp nya


“Apa?... Hahhh… Ya Allah mbak dapat darimana itu?” Hasna langsung mengambil hp Mbak Maytha dan ternyata foto itu ada difacebooknya Hasna. Pasti cecunguk dua itu yang ngetag foto dan semua orang yang berteman dengan Hasna pasti melihat postingan ini termasuk Mbak Maytha.


“Kamu musti jelasin sekarang” ucap Maytha, dia langsung memeriksa semua pintu toilet khawatir ada orang di dalamnya.


“Bentar mbak aku mau hapus dulu dari akun akunya” Hasna langsung membuka hp dan aplikasi FB nya, dan ternyata yang komen lebih dari puluhan. Dilihatnya kalau foto ini diposting tadi malam. Ini sih ngajak perang cecunguk rambut palsu, disangkanya Hasna akan diam saja.


Dipikirnya sebentar dan kemudian akhirnya Hasna tidak jadi menghapus foto tersebut, kalau dia langsung reaktif pasti orang akan berpikir kalau apa yang ditulis Aurel itu benar. Disitu Aurel menulis “Lama tidak berjumpa rupaya sudah langsung punya gandengan” Ok… sans… tenang Hasna.. Pikirkan komentar yang cerdas..


“Jelasin dulu!” Mbak Maytha mengacungkan kembali hp nya.


Masalahnya kalau yang orang yang 1 ini gak bisa dibohongi, soalnya Mbak Maytha tau kondisi dari awal lebih dari yang lain.


“Mbak aku mau cerita, tapi cuma sama Mbak Maytha aja yah, tolong jangan bilang sama yang lain” ucap Hasna


“Iya.. jelasin biar aku ngerti” Maytha menatap Hasna tajam


“Kemarin waktu aku nemenin Maura di kantor Pa GM, tiba-tiba Pak GM ngomong kalau aku mau gak jadi ibu anak-anaknya” Hasna menghela nafas.


“Aku tuh kaget mba, sampai bingung banget pas turun dari atas tuh, tiba-tiba banget dia ngomong gitu. Padahal aku kan gak pernah ada hubungan apapun sama dia”


“Aku memang suka nemenin Maura tapi gak pernah sama sekali bareng-bareng sama dia kaya orang pacaran, makanya tiba-tiba ditanya mau dijadiin ibu dari anaknya.. Kalau jadi ibu anaknya artinya kan nikah sama dia” Hasna sedih


“Aku bingung banget pas dia ngomong gitu, apalagi pas aku baru bangun ketiduran bareng sama Maura”


“Pantes kamu pas turun kemarin kata Arya pucat banget” ucap Maytha


“Iya bayangin aja kalau Mbak bangun tidur tetiba ada yang ngajak nikah kaget gak? Ucap Hasna


“Aku sih kaget enggak, pingsan iyah” jawab Maytha


“Gimana akuuu mbakkk….” Hasna langsung memegang tangan Maytha dengan muka sedih


“Aku sudah perkirakan ini bakalan terjadi ‘Na, kamu tuh deket banget sama anaknya, Pak GM kan kerepotan banget ngurus anaknya, kamu tuh kayak jadi malaikat yang turun buat ngebantuin dia”


“Kamu gimana ada rasa gak sama dia” tanya Maytha


“Aku gak tau Mbak.. aku liat dia sebagai Pak GM aja atasan aku”


“Kamu gak liat dia sebagai laki-laki emang” tanya Maytha


“Hmmm… yah gitu deh.. Kadang keliatan keren.. Kadang menakutkan soalnya galak.. Kadang aku kasian liat dia ngurus anak-anaknya sendiri… “ Hasna membayangkan sosok Reza dimatanya.


“Wiiih banyak banget bayangan kamu soal dia… udah dijawab lamaran dia?” tanya Maytha


“Belum.. Aku bilangin gak bisa jawab soalnya aku belum punya alasan buat nikah sama dia” jawab Hasna


“Huffft kasian Arya… kayanya dia suka sama kamu” ucap Maytha


“Hahhhhhh… masa sih Mbak bohoong ah.. Mas Arya galak gitu sama aku” Hasna cemberut.


“Kamu mah emang gak peka orangnya” Maytha menghela nafas. Terbayang muka Arya yang selalu memperhatikan Hasna


“Ah.. tau ah.. Mbak malah bikin aku tambah pusing” ucap Hasna. Masalah fotonya di facebook belum dia tanggapin.


“Aku mau kerja dulu aja…. Jangan sampe ganggu fokus aku” Hasna menghela nafas


“Doakan aku yah Mbak.. pusing aku, makanya aku gak suka punya hubungan sama siapapun dari dulu” ucap Hasna sambil berjalan keluar


“Ingaaat jangan bilang sama siapa-siapa” ancam Hasna


“Iya..iya.. Jangan khawatir” jawab Maytha.


Hasna langsung masuk ke kubikelnya, dibukanya aplikasi facebook dan kemudian menuliskan di kolom komentar. “Whahahaha… terima kasih atas perhatian kalian semua. Jangan khawatir Janur Kuning belum melambai.. Itu foto model buat Promo di kantor” setelah jawab langsung hide fotonya dari aplikasi. Aman.


Beres rebes… dibawa kalem aja, tingga memikirkan pembalasan Nyi Roro sama 2 cecunguk. Nanti saja dipikirkan, biarkan pembalasan dari yang Maha Kuasa saja yang akan terjadi untuk saat ini.


Hari ini Hasna membuat skenario pelatihan tahap 2 dengan menggunakan buku saku Pelatihan yang telah dibagi pada beberapa buku kecil untuk memudahkan dalam keterbacaan bahan. Modifikasi bahan belajar sesuai kemampuan peserta itu penting, kita lihat apakah akan meningkat kompetensinya.


Tidak terasa waktu berjalan, hingga makan siang terlewati oleh Hasna, ajakan untuk makan diluar ditolak oleh Hasna, dia masih memiliki bekal kue yang dibuat oleh Mama.


Akhirnya pas jam 4.30 draft rencana TOT Tahap 2 selesai, alhamdulillah hari ini produktif walaupun banyak gangguan di pagi hari. Sebetulnya Hasna ingin mengintip apa reaksi teman-temannya di facebook tapi khawatir kebablasan jadi mendingan nanti malam saja.

__ADS_1


Dia hanya sempat mengirimkan pesan ke wa grupnya dengan Aurel dan Gina, pesannya cuma 1 “awas kalian.. pembalasan akan lebih kejam dari ibu tiri” Hahahaha siapa bilang ibu tiri itu kejam padahal, yang ada banyak ibu tiri yang baik hati kaya Mama Peri.


Jam 5 semua staf sudah bersiap pulang, Mas Arya langsung membawa hasil draft TOT Hasna, mau diperiksa di rumah katanya. Mbak Maytha masih stay di kantor mau dijemput sama Bebeb setelah magrib.


Di depan lift Arya bercerita soal pameran buku terbesar se Asia yang sudah lebih dari seminggu digelar. Katanya banyak buku luar yang bagus dan murah. Mendengar kata buku luar negeri yang bagus dan murah telinga Hasna langsung depeng atau denger pengen.


Ting!


Dan seperti biasa gedung ini selalu memberikan kejutan  yang luarbiasa setiap harinya. Di dalam lift ada paket lengkap dan komplit.


Pak GM bersama Asisten yang semanis dewa, Sekretaris rasa Nenek Sihir bersama stafnya yang malu-malu tapi mau begitu melihat Arya.


Hasna langsung termenung di depan lift begitu melihat Pak Reza, dia berniat melewatkan lift daripada harus menghadapi suasana canggung di dalam.


Dan seperti biasa orang menyebalkan itu selalu memaksakan kehendak. Dia memijit pintu lift kembali saat akan menutup.


“Kenapa tidak masuk.. Masih cukup kapasitasnya masih banyak” ucap Reza dingin, dia melihat kalau Hasna hanya berdua dengan Arya.


“Ayo…” ucap Arya


Akhirnya Hasna masuk ke dalam, sesaat ia bingung menentukan pada sisi mana dia berdiri, akhirnya daripada berdiri di depan Nenek Sihir lebih baik di depan Aswin sedikit di depan Reza.


Suasana langsung hening saat pintu lift menutup. Di lantai 6 ternyata banyak karyawan yang baru pulang rapat, sehingga bersamaan pulangnya. Lift langsung terisi penuh sehingga Hasna harus bergeser ke depan Pak Reza.


“Kalau kamu mau melihat pamerannya sekarang  aku anterin mumpung masih banyak buku yang bagus” bisik Arya ke telinga Hasna, karena posisi lift yang penuh mengakibatkan bisikannya agak dekat ke telinga membuat Hasna langsung kaget karena merasa geli.


“Gak terlalu malam Mas, kan tempatnya jauh?” ucap Hasna pelan. Kapan lagi pikirnya bisa beli buku luar negri yang bagus tapi murah.


“Engga kalau pakai motor bisa cepat” ucap Arya.


“Ok.. Jam 10 sudah bisa ada di rumah kan?”


“Insya allah bisa” ucap Arya bersamaan dengan lift sampai di lobby. Rombongan karyawan bertahap keluar dari lift. Dan saat Hasna melangkah


Huppppp… baju belakangnya ada yang menarik bagian belakang kerah blazernya sehingga dia tidak bisa maju. Ehhhhh… ini kenapa.


“Kamu mau kemana malam-malam pergi naik motor” ucap Reza sambil masih terus menjewer blazer Hasna  bagian belakang.


“Eh…. ini Pak mau lihat Pameran Buku Terbesar se Asia Tenggara katanya bagus… aduuuh lepasin Pak” Hasna berusaha melepaskan dirinya, sebelah tangannya memegang bajunya jangan sampai terangkat ke atas satu tangan lagi memegang tangan Reza yang menjewer baju belakangnya.


Aswin, Arcy dan Prita bengong melihat apa yang dilakukan Reza, tidak pernah ada dalam sejarah selama bekerja di kantor ini, Pak Reza menjewer baju karyawan sampai seperti tergantung.


Arya yang keluar duluan bingung mencari-cari Hasna, saat dia berbalik dia melihat Hasna yang masih di lift dan baju bagian belakang dijewer oleh Reza.


“Hasna” teriak Reza


“Kamu mau saya laporkan sama Angga kalau kamu pergi sama laki-laki malam-malam naik motor” ucap Reza.


“Ehhh.. ini sejak kapan mereka bersekutu” pikir Hasna.


“Kakakmu sudah menitipkan kamu selama dia ada di Bali, jadi mulai sekarang kalau mau pergi ke luar harus lapor sama saya” ucap Reza saat mereka sampai di basement tempat parkir.


“Bapak ada hubungan apa sama dia” Arcy langsung bertanya saat pintu lift terbuka.


“Ini bukan urusan kantor, saya tidak usah mengkonfirmasi apapun” ucap Reza sambil menarik Hasna keluar.


“Ehhh… Pak lepas.. Saya gak akan pergi kemana-mana.. Janji, jangan bilangin sama Kak Angga” ucap Hasna sambil jalan berusaha mengimbangi langkah Reza yang cepat.


“Saya pamit pak” Aswin melihat Hasna dengan prihatin, kalau Reza sudah keluar sifat kerasnya maka akan sulit untuk dilawan.


Reza hanya mengangguk, di dorongnya Hasna masuk ke mobil, ia merasa diberikan otoritas dari Angga untuk menjaga Hasna.


“Pak saya sekarang mau pulang koq gak akan ke tempat pameran” ucap Hasna


“Saya antar kamu sampai depan kost an” jawab Reza cepat.


“Bapak koq maksa sih.. Aku bisa pulang sendiri” Hasna akan beranjak keluar dari mobil.


“Hasna… duduk.. Kita pulang sekarang” Reza menghela nafas, perempuan yang disampingnya sangat sulit untuk diatur.


“Arcy masih dluar dan melihat kesini, begitu kamu keluar dia akan langsung menanyai kamu dan saya tidak ingin ada keributan di basement” sambungnya.


Hasna melihat kesamping mobil, dilihatnya Arcy dan Prita yang menatap ke arah mobil Reza, sorot muka Arcy penuh dengan amarah dan kekesalan. Kalau dia menjabat profesi sebagai dukun santet tampaknya nenek sihir itu sedang membacakan mantera-matera penuh dengan umpatan dan kutukan.


“Bapak kenapa sih bikin saya dalam posisi seperti ini, Bu Arcy, Pa Aswin, dan Mas Arya tadi melihat bapak menarik saya”


“Besok saya pasti sudah kena gosip sama Bapak” Hasna sudah ingin menangis saja membayangkan pikiran karyawan yang lain.


“Aswin dan Arcy tidak akan semudah itu menyebarkan berita tentang saya, jangan khawatir nanti saya yang akan mengurusnya” jawab Reza


“Kamu ingin melihat pameran apa tadi? Nanti kita pergi bareng dengan anak-anak” sambung Reza.


“Katanya ada Pameran Buku terbesar di Asia Pak, tempatnya di BSD agak jauh memangnya Pak dari sini?” tanya Hasna

__ADS_1


“Kamu gila mau ke Serpong jam segini dengan memakai motor, kamu sampai kesana bisa-bisa jam 8an, lihat buku kan tidak cukup hanya 30 menit bisa sampai 1 jam lebih dan perjalanan pulang bisa lebih dari jam 9” ucap Reza keras


“Ya maaf saya kan gak tau sampai sejauh itu Pak” Hasna menjawab lemah, tadi dia tidak sempat berpikir soal jarak, keingintahuannya tentang pameran buku membuatnya tidak berpikir panjang.


“Minggu depan kita pergi saat weekend dengan anak-anak, bisa main sepuasnya kalau berangkat di siang hari”


“Pantesan kakak kamu khawatir ninggalin kamu sendiri di Jakarta, suka impulsif rupanya kamu tuh” Reza masih mengomel karena Hasna dengan mudah mengiyakan saat diajak Arya pergi.


“Lepas mulut Harimau Masuk mulut Serigala rupanya saya” Hasna membalas kesal.


“Maksudnya apa nyebut saya Serigala” potong Reza


“Bapak dari tadi melolong terus gak berenti, 11/12 sama Kak Angga hobi mengaum”


“Kamu tuh..” Reza kehabisan kata-kata untuk membalas Hasna. “Sudah jangan banyak protes kita makan dulu sekarang”


“Gak mau .. tadi disuruh pulang cepat, sekarang malah diajak makan, Bapak gak konsisten”


“Temanin saya makan sebentar supaya nanti pulang bisa langsung main dengan anak-anak” kalau sudah bikin alasan Reza memang paling pintar.


Hasna memandang Reza, laki-laki ini benar-benar membuatnya tidak berkutik.


“Bapak mau makan? Kalau mau saya temani, saya yang memilih tempat makannya dimana yah” Hasna langsung memikirkan balasan yang tepat untuk orang yang suka memaksakan kehendak.


“Boleh saya ikut saja”


“Kalau Bapak gak mau, saya akan langsung pulang makan di rumah” sambung Hasna


“Ayo saya tidak masalah” jawab Reza cepat.


Hasna langsung bicara pada Pa Agus supir.


“Pak di depan belok kanan yah, nanti sekitar 100 m dari situ ada warung Pecel Lele” ucap Hasna cepat


“Ehhh apa Pecel Lele?” Reza langsung kaget, dia tidak pernah makan di pinggir jalan.


“Bagaimana pak take it or leave it?” Hasna tersenyum mengejek.


Hahahahaha…. Hasna dilawan… take it or leave it yaaaa?


 


*********************


Jadi pengen makan Pecel Lele udah lama gak makan nih. Siapa yang suka Lele yang digoreng kering, sambal plus tahu dan tempe. Kenikmatan yang hakiki, dibarengi dengan keringat yang mengucur deras karena pedasnya sambal. Sruuuups.. Mantap.. Es Jeruknya Pak 1…. Hari ini Minggu butuh energi buat Senin… Makan yang banyak yah Bro n Sis… Jangan lupa vote juga yang banyak, kalau komen mah jangan ditanya pada rajin semua kasih komen hehehehe… Terima kasih juga like nya… Love u all


**********************


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2