
Setelah menerima telepon dari anaknya. Mami Arum menangis tersenyum. Hingga Jeff sang asisten merasa khawatir kepada Bos nya itu.
Ingin bertanya. Tapi, Jeff takut jika itu masalah privasi Bos nya. Jeff lebih mendengarkan Bos nya menangis. Mungkin jika sudah lega perasaan akan bercerita kepada Jeff. Itu yang Jeff tahu tentang Nyonya Arum.
Dan, benar saja setelah menangis nya reda. Mami Arum akhir mau bercerita.
"Jeff."
"Apa kau tidak bertanya kepada ku. Kenapa aku menangis?"
Jeff masih diam tidak menjawab pertanyaan mami Arum.
"Aku menangis karena bahagia. Rey baru saja menghubungiku memberikan kabar. Jika, Ayumi sedang hamil." kata mami Arum seraya menghapus air matanya.
"Ha ..." Jeff malah bengong mendengar Ayumi hamil.
Mami Arum memukul asisten nya.
Bugk
"Kau, bukannya senang kenapa malah bengong Jeff." Kesal Mami Arum.
"Maaf, Nyonya. Saya masih tidak percaya. Tapi, melihat nona muda Ayumi kemarin saya sudah menduga ada sesuatu. Dan benar saja."
"Kau, memperhatikan menantuku?" Tanya Mami Arum dengan tatapan tajam.
"Ti-dak mungkin saya memperhatikan nona muda, Nyonya. Itu semua seperti istri saja waktu mengandung." Kata Jeff.
Mami Arum merasa lega. Ia pikir asisten nya menaruh hati kepada menantunya yang masih muda.
__ADS_1
"Syukurlah, Jika, kau sampai itu terjadi ... "
Mami Arum bangkit dari tempat duduknya dan mendekati Jeff yang masih berdiri tidak jauh dari mami Arum.
"Habis kau ... "
Glek
Jeff menelan Saliva nya. Karena ancaman Mami Arum tidak main-main. Meski dia perempuan tapi tidak boleh meremehkan dirinya.
Di tinggal figur seorang suami. membuat mami Arum harus kuat dan tidak boleh lemah mengingat dia harus membesarkan putra semata wayangnya yang masih belia dan di tuntut untuk mengurus perusahaan suaminya.
Sebelum sampai di depan pintu, mami Arum berkata. "Jeff, siapkan pesawat segera. Karena, aku akan ke Moskow."
"Baik. Nyonya." Kata Jeff.
🍃🍃🍃
"Honey ... "
"Aku sudah memberitahu tentang kehamilan mu kepada mami. Mami merasa senang akan kabar baik ini."
"Iya ,sayang. Akhirnya doa Ayumi selama ini terkabul. Ayumi bisa memberikan mami seorang cucu." Ayumi mengelus perutnya yang masih datar.
Rey ikut mengelus perut istrinya. "Hai, sayang ini Dady. Dady senang kau hadir di perut mommy. Tapi, jangan pernah membuat mommy kamu menderita. " Rey mengecup perut Ayumi. Sedangkan tangan Ayumi mengelus rambut Rey.
Ayumi tersenyum melihat Rey yang sangat bahagia.
"Sayang, kapan kita pergi untuk USG. Ayumi tidak sabar ingin melihat calon anak kita." ucap Ayumi.
__ADS_1
"Apa kau sudah tidak sakit lagi. Maksudku apa tidak ada keluhan lagi. Jika tidak ada sekarang saja kita untuk USG."
Sedangkan Ayumi hanya mengangguk kepalanya.
"Wait ... "
Ayumi mengerutkan keningnya melihat Rey malah pergi meninggalkan dirinya.
Tidak butuh lama Rey kembali lagi ke dalam ruangan Ayumi dengan membawa kursi roda.
Rey mengendong Ayumi dan mendudukkan Ayumi di kursi roda.
Rey mendorong kursi roda keluar kamar menuju klinik Obgy. Mereka tidak butuh mengantri. Karena dokter yang menangani Ayumi tadi untuk langsung masuk. Karena ia sudah di daftarkan membuat Ayumi dan Rey tidak perlu menunggu.
"Silahkan, Nyonya dan Tuan Xavier."
Ayumi di bantu Rey untuk di rebahkan di kasur pasien.
Dokter akan mengukur berat badan serta tanda-tanda vital, yang meliputi tekanan darah, denyut jantung, laju pernapasan, dan suhu tubuh. Dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan kandungan, termasuk pemeriksaan Leopold. di bantu Perawat.
Tidak hanya itu. dokter juga mungkin akan melakukan beberapa pemeriksaan penunjang, seperti Tes darah, Hemoglobin (Hb), tes gula darah, Skrining penyakit infeksi (hepatitis B, sifilis, HIV, dan TORCH.) Dan Ultrasonografi (USG).
Ayumi di bantu Perawat. Perut Ayumi sebelumnya sudah di olesi gel pada Perutnya sebelum melakukan USG.
Dokter mulai mengarahkan alat USG yang menempel diperut Ayumi.
" Usia Janin sudah memasuki 7 minggu dan untuk ukuran mencapai 1.27 cm. Ini untuk janin 7 minggu juga masih sangat kecil, yakni kira-kira sebesar buah ceri. " Jelas Dokter kandungan.
"Dan ... Wait ... "
__ADS_1