
"Tidak tega jika harus membangun kan nona Ayumi, tapi jika tidak di bangunin untuk makan siang dia akan sakit" ucap Bi Sri.
Bi Sri memutuskan untuk membangunkan Ayumi untuk makan siang, meski sudah lewat setengah jam tapi bi Sri tetap membangunkan nya.
"Nona Ayumi!" ucap Bi Sri.
"Nona Ayumi!" ucap Bi Sri dengan kata yang sama.
Ayumi mengerjapkan matanya merasa tidur nya terganggu dengan suara memanggil namanya terus menerus.
"Iya Bi Sri ada apa" ucap Ayumi serak khas orang bangun tidur.
"Maaf non, bibi ganggu non Ayumi. tapi anu non, sudah lewat jam makan siang" sahut Bi Sri.
Ayumi melirik ke arah jam dinding yang terletak di atas Nakas. "Astaga sudah jam 1"sahut Ayumi.
"Iya non!"
"Ya udah Bi siapkan makanannya, sebentar lagi Ayumi turun" ucap Ayumi.
"Baik non, bibi keluar dulu" sahut Bi Sri.
Bi Sri keluar dari kamar Ayumi ia kembali turun ke Dapur untuk menyuruh salah satu koki menyiapkan makan siang untuk Ayumi yang sudah dingin.
Ayumi masuk kedalam kamar mandi untuk mencuci mukanya, setelah dirasa cukup segar,baru dia turun untuk makan siang. Ayumi menghela nafas panjang. karena ia harus makan sendirian dan duduk sendirian di ruang makan yang begitu luas dan besar.
"Bi!" ucap Ayumi.
Saat melihat Bi Sri selesai menyiapkan makan siang yang tertunda untuk Ayumi.
"Iya non?"
"Bisa temani Ayumi makan?" pinta Ayumi.
"Tapi non" Bi Sri nampak ragu.
"Tidak apa-apa, aku yang minta, karena rasanya sepi jika harus makan sendirian"
Bi Sri menganggukan kepalanya dan ikut duduk di samping Ayumi, Bi Sri merasa tidak enak makan bersama dengan nona mudahnya itu.
"Bi..! Jangan sungkan begitu, Ayumi anggap bibi seperti Saudara ku, karena Ayumi sudah tidak punya..."
Bi Sri tahu apa yang akan Ayumi katakan ia merasa bersalah."Nona jangan bilang seperti itu" Bi Sri merasa membuat hati Ayumi tersakiti. "bibi juga sudah anggap non seperti anak bibi, karena bibi tidak punya anak" sendu Bi Sri.
"Maaf Bi"
"Tidak apa-apa,non" kata Bi Sri.
Tuan muda Rey,bibi bangga kau mempunyai istri sebaik dan sehangat nona Ayumi. bibi akan selalu menjaga nona Ayumi seperti bibi menjaga Tuan muda Rey waktu masih kecil.
🍃🍃🍃
Nampak seorang pria yang sedang menikmati kesendirian di bar dan klub yang cukup terkenal di negara bagian Amerika Serikat yang terletak di pesisir Samudra Atlantik di bagian tenggara Amerika Serikat yaitu Carolina Utara.
"Hai" sapa Willy.
Dia menoleh ke sumber suara lalu kembali lagi menatap satu gelas minuman yang baru saja di sajikan oleh bartender.
__ADS_1
"Kenapa tidak ikut gabung dengan mereka" kata willy lagi.
Pria bule ini menunjuk ke arah kerumunan dimana teman-teman sedang berjoget dengan pasangan nya.
"Tidak...! aku tidak tertarik bergabung dengan mereka itu" ucap Garrett.
Willy tertawa melihat teman nya. "Garrett..!! Come on, it' il be fun!"
"No Willy.!! aku lebih senang menghabiskan malam ku dengan minum"
"Jangan banyak minum" seru Willy.ia mencegah tangan Garrett yang akan kembali meminum.
"Kau tenang saja, ini tidak akan membuat ku mabuk" timpal Garrett. ia kembali menghabiskan minuman nya hingga tandas dan menyerahkan lembaran uang dolar dan ia pergi dari bar dan klub itu.
Melihat teman nya pergi, Willy mengikuti Garrett dari belakang. "ck.Kau seperti uncel Andreas, yang tidak suka bermain wanita"
"Jangan bawa Dady ku"
"Uncel sudah seperti orang tua kedua ku, dia baik kepada semua orang, apa dia tidak ada dirumah"
"Tidak ada, memang kenapa?"
"Aku merindukan Meatloaf buatan nya" jawab Willy
"Ayo kita pulang, akan aku buatkan untuk mu" ucap Garrett.
Mereka memutuskan untuk pulang dengan berjalan kaki menyusuri jalanan ibu kota.
"Aku bangga sama kamu" ucap Willy "Tidak sia-sia uncle Gandi mengajari mu, cara terbang yang baik, kau sekarang menjadi seorang copilot, hanya butuh beberapa tahun lagi kau akan mendapatkan lisensi terbang"
Garrett memukul bahu Willy "Jangan bilang seperti itu, aku masih harus belajar lagi"
Willy mengusap bahunya yang terasa sedikit sakit akibat di pukul Temannya.
***
Bulan merasa lega akhirnya ia bisa leluasa bermain handphone nya. setelah sampai dirumah Bulan menghubungi Ayumi yang dari tadi mencemaskan sahabat nya.
Bulan menghubungi Ayumi tidak butuh lama sambungan telepon tersambung.
"Hallo" ucap diseberang telepon.
"Kenapa kau tidak membalas chat ku, kau tahu aku merasa khawatir dengan mu soal kejadian tadi di sekolah"
"Maaf aku tadi langsung tidur"
"Kebiasaan kau, bagaimana keputusan pihak sekolah apa kau di keluarkan?"
"Mami tidak mungkin mengeluarkan putrinya dari sekolah nya sendiri"
"Ck kau ini, tapi aku heran siapa yang sudah membocorkan rahasia ini" geram Bulan.
"Itu tidak penting, sudah lah yang terpenting aku tidak apa-apa"
"Aku dengar kau akan mengikuti tes masuk ke perguruan tinggi"
Ayumi terdiam. ia tidak tahu jika dirinya di masukkan pihak sekolah untuk mengikuti tes.
__ADS_1
"Aku sedih jika kau lulus lebih dulu dari sekolah"ucap Bulan lagi.
"Jangan sedih, aku masih teman mu Jika sudah lulus nanti, kita masih bisa berteman"
"Really?"
"Yes of course"
"Baiklah, seperti nya mommy ku memanggil, dah Ayumi"
Panggilan telepon terputus.
Ayumi menatap wallpaper dimana foto Rey dengan baju balap nya.
"Kak Rey, Ayumi kangen" lirih Ayumi.
Ayumi mengeluarkan Cincin yang ia jadikan satu dengan Kalung yang ia pakai. di tatapnya cincin itu yang terdapat ukiran namanya dengan nama Rey. Ayumi baru ingat jika saat Rey meninggal. ia belum menerima barang- barang pribadi Rey termasuk cincin Rey.
Ayumi membuka laci meja yang terdapat di kamarnya. ia mencari cincin Rey namun tidak menemukan nya. "Apa mami yang menyimpannya?"
Ayumi keluar kamar dan mencari mami Arum.
"Bi Sri"
"Iya non"
"Bibi melihat mami tidak" tanya Ayumi.
"Nyonya besar belum pulang"
Ayumi baru menyadari jika ia pulang dulu, "Ya sudah bi tidak jadi" ucap Ayumi, ia kembali masuk kedalam kamarnya.
Di ambilnya handphone Ayumi ia menghubungi mami Arum untuk menayangkan dimana cincin Rey berada.
"Halo sayang" sapa mami Arum.
"Mih, pulang jam berapa?" seru Ayumi.
"Sebentar lagi mami siap-siap untuk pulang,putri mami ingin di bawakan apa?"
"Terserah mami, Ayumi hanya ingin bertanya, apa mami yang telah menyimpan cincin kak Rey?"
Mami Arum baru ingat jika dulu ia belum menerima apapun barang milik putranya. Harusnya pihak pengurus Rey saat di bawa pulang ia menerima barang- barang milik Rey.
"Tidak sayang, nanti mami hubungi Nick siapa tahu dia yang menyimpan nya"
"Ya sudahlah mih, jika mami tidak menyimpan nya"
"Iya sayang, sampai jumpa dirumah"
Sambungan telepon terputus.
Ayumi memutuskan untuk menonton televisi. ia merasa hampa tinggal dirumah tanpa Rey. Ayumi merasa bosen tidak ada siaran televisi atau film yang membuat nya terhibur. ia melirik ke arah sudut ruangan yang terdapat piano. ia ingat saat ia di ajarkan Rey bermain piano. Ayumi anak yang pintar jadi ia cepat menguasai meski tanpa les piano.
Saat melihat piano Ayumi merasa ada Rey. Rumah ini benar-benar mengingatkan Ayumi pada Rey.
"Kenapa semua nya mengingat kan ku pada kak Rey, Ayumi benar-benar tidak bisa melupakan kak Rey l" keluhnya
__ADS_1