
"Biar kakak yang masakin buat Ayumi," ujar Nick.
"Tapi kak" Jawa Ayumi.
"Husshh sana, kamu fokus belajar saja biar cepat lulus" tutur Nick mengusir Ayumi dari pantry "Hanya sekedar masak saja masa tidak boleh" gerutu Ayumi yang melangkah masuk ke kamar dan ia mengikuti perintah Nick untuk belajar.
Namun bukannya belajar Ayumi mengingat kembali jika ia belum memberitahukan mami Arum tentang Rey.
Ayumi merogoh tas nya dan mencari gawai. Ia mencari nomor mami Arum dan menghubunginya.
Tidak butuh lama mami Arum mengangkat telepon dari nya.
"Hallo sayang" sahut dari sebrang telepon.
"Mami, Ayumi kangen" teriak Ayumi. "Mami juga sayang, Bagaimana kuliah kamu sayang?"
"Lancar mih, doa in iya mih Minggu depan Ayumi sudah mau ujian akhir"
"Itu pasti sayang, mami selalu mendoakan putri mami" seru mami Arum.
Ayumi menghela napas panjang sebelum memulai bercerita. "Mih"
"Iya sayang, ada apa?"
Ayumi hanya diam, ia malah menitihkan air matanya sebelum bercerita kepada mami Arum.
Hanya terdengar Isak tangis di sebrang telepon. "Sayang kau menangis" tanya mami Arum merasa khawatir mendengar Ayumi menangis.
"Ada apa sayang, cerita sama mami"tanya mami Arum. "Apa kau sedang ada masalah dengan Garrett" tebak mami Arum.
"Bukan mih, tapi ini masalah kak Rey" ujar Ayumi.
Deg
Mami Arum merasa ada sesuatu yang serius. "Rey?" Tanya Mami.
"Rey?" Kata yang sama mami Arum ucapkan.
"Apa Nick sudah menemukan Rey sayang" kata mami Arum lagi ia sudah nampak berkaca-kaca meski Ayumi belum sepenuhnya bercerita. Namun mendengar nama Rey hati mami Arum bergetar.
"Kak Rey sudah ketemu dan dan kak Rey itu ternyata kak Garrett mih" tangisan Ayumi dan mami Arum pecah bersamaan.
"Kau serius sayang jika Garrett itu Rey putra mami?" Pekik mami Arum.
"Hick.. hick iya mih, putra mami suami Ayumi tapi" ucapan Ayumi terhenti.
"Tapi apa sayang" mami Arum menyeka air matanya.
"Kak Rey sedang koma di rumah sakit Colorado"
Mami Arum tidak bisa berkata apa-apa ia menjatuhkan handphone. Membuat mami Arum menangis histeris hingga Jeff mendengar teriakkan.
"Nyonya anda kenapa? Ada apa?"tanya Jeff. Merasa khawatir melihat Nyonya besar nya histeris.
__ADS_1
"Rey Jeff Rey sudah ketemu" kata mami Arum.
"Nyonya tahu darimana?" Tanya Jeff yang menatap Mami Arum dengan nanar.
"Ayumi" mami Arum sedikit terbata-bata. Jeff mengambil handphone mami Arum.
"Hallo nona Ayumi"
Namun suara sambungan telepon terputus.
Setelah menelpon mami Arum Ayumi kembali menangis ia menundukkan kepalanya di atas meja belajarnya.
Nick yang sudah selesai dengan acara masak memasaknya ia memanggil Ayumi untuk makan siang bersama. Nick hanya bisa memasak makanan western, dan belum bisa memasak makanan kontinental seperti makanan khas Rusia. Berbeda dengan Ayumi yang cepat tanggap dalam segi apapun termasuk pandai memasak.
Nick membuka pintu kamar Ayumi yang tidak di kunci. Terlihat Ayumi yang menunduk di atas meja.
Nick semakin mendekat namun ia bisa terdengar rintihan tangis Ayumi.
"Ayumi sayang kau menangis" tanya Nick. Ia mengusap kepala Ayumi.
Merasakan ada yang menyentuh kepalanya Ayumi mendongakkan kepalanya ia menyeka air matanya.
"Kak"
"Kenapa hum"
"Ayumi sudah memberitahu mami Arum tentang kak Rey"
"Ayumi tidak tega mendengar mami Arum menangis kak" Ayumi kembali menitihkan air matanya.
Nick menghapus air mata Ayumi. "Sudah jangan nangis terus, gak capek apa tuh air mata ngalir terus, lebih baik kita makan"
Ayumi tertawa saat Nick menyindirnya. Membuat Nick tersenyum melihat Ayumi tertawa tidak sedih dan murung lagi. " Capek sih kak, Ayumi lelah terkadang ingin sekali mommy dan Dady menjemput Ayumi"
"Husssh tidak boleh bilang begitu, pamali ".seru Nick.
"Kakak orang bule tahu pamali" tanya Ayumi.
"Ini gara-gara bi Atun Kakak tahu " Nick mengingat saat ia bertanya tentang bahasa Indonesia dan daerah kepada asisten rumah tangga Rey yang bernama Bik Atun.
Membuat Ayumi murung, "ko malah adik kakak murung" Nick menyipitkan matanya melihat Ayumi tiba-tiba murung.
"Ayumi rindu Jakarta"
"Sudah-sudah lebih baik kita makan, sedih nya kita lanjut nanti lagi setelah makan, karena orang menangis butuh tenaga" cerocos Nick. Membuat Ayumi memukul lengan Nick.
Plakk.
"Menghibur sih menghibur tapi gak lucu" ketus Ayumi. ia bangkit dan pergi keluar kamar meninggalkan Nick.
Nick tersenyum melihat Ayumi.
"Lumayan buat ganjal perut" kata Ayumi yang sudah menyantap masakan Nick.
__ADS_1
"Sudah masak capek-capek dibilang lumayan, setidaknya hargai orang masak nona manis"
"Siapa suruh Ayumi ingin masak di larang"
"Ck, komentari masakan orang bilang lumayan tapi lihat sudah habis di santap semua" sindir Nick.
Membuat Ayumi tertawa renyah. "Laper kak laper " kata Ayumi.
🍃🍃🍃
Jessica yang ingin meminta maaf kepada Ayumi tentang tadi di kampus.
Ia menghubungi Ayumi, namun Ayumi mengabaikan panggilan masuk dari Jessica. Karena Ayumi sedang bersama Nick. Sedangkan handphone berada di dalam kamarnya.
"Tuh kan marah, hingga telepon dari Jessi saja.tidak di angkat" keluh Jessica.
Ia mengingat kedua temannya yang menyinggung Garrett tadi siang, ia pun baru ingat jika cowok incaran nya tidak pernah memberi kabar sama sekali.
Jessica menghubungi Kakaknya Willi untuk menanyakan tentang Garrett.
"Tumben telepon ada apa"kata Willi di sebrang sana
"Kak, apa kak Willi sedang bersama kak Garret? " Tanya Jessica.
"Sudah lah Jess mulai detik ini.jangan tanya Garrett lagi".pinta Willi kepada adik semata wayangnya itu.
"Kenapa kak? Ada apa?" Cecar Jessica.
"Lebih baik kau tidak perlu mengharapkan pria itu lagi, lebih baik cari pria lain yang mencintai mu".
"Ma-maksud kak"
"Maaf Jess, kakak yang menyuruh Garret untuk mendekati mu, tapi setelah tahu jika Garrett hanya ingin memanfaatkan kamu saja,.kakak tidak mau jika.kau di permainkan oleh pria brengsek itu"
"Hah.. Kak Willi tega sekali sama adik sendiri, biar Jessi adu in sama. Dady " teriak Jessica, ia mutuskan sambungan telepon dengan kakaknya
Jessica membanting, membuat barang- barang berharga dan barang branded nya ia buang ke penjuru arah.
Ia kecewa dengan kakaknya, ternyata Garret baik dan mendekati dirinya atas perintah Willi.
"Ahhhhggggghh" teriak Jessica di dalam kamarnya.
Ia terduduk lemas di lantai marmer. "Kenapa harus seperti ini, Ayumi yang sekarang berubah, dan kak Willi " Jessica menangis sejadi-jadinya.
"Pantas saja sikap kak Garrett kepada Jessi begitu seperti terpaksa, ternyata ulah kak Willi" keluh Jessica
"Maafkan kakak Jess, mungkin saat ini. Kau sedang marah" gumam Willi seraya menatap layar handphone yang baru saja adik ny menghubunginya.
"Mungkin jika kakak tidak menyuruh dia mendekati mu tidak akan seperti ini"
Awas saja kau Garrett bajingan jika kau ingin menghancurkan adik ku kau berhadapan dengan ku langsung
Batin Willi menggenggam tangan nya hingga buku-buku di tangannya memutih
__ADS_1