
"Uncle, bagaimana keadaan istri dan calon anakku," tanya Sean kepada Dokter keluarganya.
Dokter keluarga yang bernama Dokter Roy itu tersenyum melihat Sean merasa khawatir dan takut kepada istri dan calon anaknya.
"Mereka tidak apa-apa Tuan muda Sean. Ini wajar di alami ibu hamil apa lagi di semester pertama. Tuan muda bisa tanyakan detailnya kepada putri saya Lauren,"
Sean menghela napas panjang.ia merasa bersyukur istri dan anaknya tidak terjadi apa-apa.
Kabar Karina pingsan terdengar hingga keluarga besar nya.
Brug
Pintu kamar di buka paksa oleh seseorang pria paru baya yang masih terlihat tampan dengan kharismanya. Ia adalah Tn. Dominik mendengar putri kesayangannya pingsan ia dengan segera datang kerumah Sean.
"Karina, bagaimana dia bisa sampai pingsan Sean?" Sahut Tn. Dominik ia meras murka mendengar kabar putri dan calon cucunya.
Sean dan Dokter Roy menoleh ketika pintu di buka paksa.
Tn. Dominik menghampiri Sean dan mencengkram erat kerah baju nya.
"Maafkan Sean dad, ini salah Sean harusnya Sean tidak mengajak Karina untuk jalan - jalan pagi."
"Apa" pekik nya . "Kau berani sekali," Teriak Tn. Dominik.
"Ini wajar Tuan, jika ibu hamil akan mengalaminya bisa saja nona belum sempat konsumsi makanan atau minuman apapun., anda tidak perlu khawatir. Kita tunggu nona mudah siuman."
Seketika Tn. Dominik melepaskan cengkraman tangannya.
Deg.
Sean baru menyadari jika memaksa kan Istrinya untuk bangun pagi dan tidak minum atau makan kecil lainnya. Sean melangkah ke arah Karina yang masih terlentang di atas kasur king sizenya. Ia memegang tangan Karina.
"Honey, maafkan aku yang sudah menyakitimu, maafkan aku baby," Sean menundukkan kepalanya dan menitihkan air matanya.
"Bangun lah baby, kau boleh marah-marah dan kau boleh meminta apapun yang kau ingin,asal kau bangun," imbuhnya Sean.
__ADS_1
Tn. Dominik ikut terharu melihat Sean yang begitu mencintai putrinya.
Kedua orang tua Sean datang setelah Dokter Roy pergi. Dan berdiri di sebelah Tn. Dominik.
Karina terbangun dari pingsannya, dia mengerjapkan matanya begitu menyadari dirinya berada di dalam kamarnya.
Karina melihat ada sean yang sedang duduk di sampingnya.
"Syukurlah, kau sudah sadar baby,." Sean sangat bernafas lega melihat istrinya yang sudah tersadar kembali dari pingsannya.
Karina menatap sekelilingnya ada kedua orang tuanya Sean dan juga Dady Dominik, padahal dia ingat betul terakhir Karina berada di taman belakang mansionnya sebelum pingsan. Kenapa kalian ada disini?"
"Kau baru saja pingsan sayang,." Ucap ibu Sean.
"Kami semua khawatir sama kamu. Baby," kata Sean.
"Pingsan?" Karina mengerutkan dahinya, ia baru ingat kalau tadi pagi ia menemani Sean untuk jalan pagi bersama. "Maafkan Karina yang sudah membuat kalian khawatir dan datang kemari?" Keluh Karina.
"No baby, aku yang salah sudah memaksamu untuk bangun pagi. Dan akhirnya seperti ini. Kau boleh marah baby, ayo marah lah baby, pukul saja aku." Kata Sean. Memegang tangan Karina dan menuntunnya untuk memukul dada Sean.
"Sudah lah son, yang terpenting Menantu dan calon cucu Dady baik-baik saja." Sahut Dady Sean.
"Tidak, mom. Karina ingin sarapan bersama kalian di ruang makan." Kata Karina.
"Kau serius honey?"Tanya Sean.
Karina menganggukan kepalanya. Dan Sean menuruti keinginan istrinya untuk makan bersama di area ruang makan bersama keluarga nya.
🍃🍃🍃
"Nick, bagaimana dengan pernikahan mu yang tertunda? " Tanya Rey yang masih menatap laptop nya.
Nick yang sedang mengerjakan pekerjaan yang sempat tertunda dari Rey.
Nick dan Irina yang gagal menikah dua bulan yang lalu, saat Rey dan Ayumi pergi babymoon. Tn. Dominik menyuruh Daniel untuk menempatkan orang kepercayaan nya untuk menjaga Jeremy selama di London.
__ADS_1
Tn. Dominik juga khawatir jika, Irina kembali ke London ia akan tertangkap oleh Zeck Holcim kembali.
"Kami berdua sudah sepakat, akan menikah setelah Ayumi melahirkan."
Rey menganggukan kepalanya. Namun, tiba-tiba ada seseorang yang ingin pernikahan Nick dan Irina di percepat.
"Ayumi ingin sekarang kak Nick dengan kak Irina menikah, sebelum Ayumi melahirkan." Timpal Ayumi. Ia memasuki ruang kerja Rey dengan perut yang membuncit.
"Baby, kenapa kau kemari, lebih baik istirahat saja aku takut kenapa- kenapa dengan kehamilan mu." Seru Rey.
"Kak Rey. Apa kak Rey lupa dengan perkataan Dokter Lauren, jika, Ayumi harus banyak bergerak menjelang melahirkan."
Semenjak tri semester ketiga Ayumi mengganti panggilan Rey dengan sebutan kak Rey lagi. Meski Rey tidak mau tapi, Ayumi malah merajuk dan tidak ingin bertemu Rey. Ayumi bilang jika ia memanggil kak Rey kembali karena permintaan calon anak-anaknya.
"Iya baby, tapi, aku takut lihat perut kamu ini," kata Rey. Ia bangkit dari tempat duduknya dan mendekati Ayumi ia menuntun Ayumi untuk duduk di kursi kebesaran nya.
"Apa mereka baik-baik saja baby?" Tanya Rey seraya mengelus perutnya.
Ayumi hanya mengangguk kepalanya.
"Kak Nick, kenapa tidak menikah sekarang saja. "
"Ayumi, kakak tidak mau terjadi sesuatu, sedangkan perut kamu saja sudah 9 bulan."
Ayumi menyimak perkataan Nick dan ia menyetujui jika pernikahan Nick dan Irina setelah ia melahirkan.
"Baby, kamu kenapa? Apa ada yang sakit," tanya Rey ia melihat istrinya yang tiba-tiba merasa gelisah.
"Perut Ayumi kram rasanya kencang kak," ucap Ayumi yang tiba-tiba merasa kontraksi.
"Baby, coba tarik napas dalam-dalam, apa sudah waktunya untuk melahirkan?" Tanya Rey.
"Rey, lebih baik kita bawa Ayumi kerumah sakit sekarang." Ajak Nick.
Rey membawa Ayumi ke rumah sakit. Sedangkan Ayumi masih merasakan kontraksi. Rey menjadi suami siaga. Setelah memasuki trimester ketiga Rey lebih banyak dirumah. Dan perusahaan Nick yang menghandle nya.
__ADS_1
Nick yang menjadi sopir mereka. Ia menghubungi Dokter Lauren terlebih dahulu. Dan ia sudah menunggu Ayumi di lobby rumah sakit.
"Baby, bertahan iya, kita sudah sampai di rumah sakit."