
"Revan darimana aja kamu dimana Wanita itu kenapa kamu tidak membawanya apa kamu mencoba menyembunyikan nara pidana seperti dia?"
"Sudah cukup Ma! Dia bukanlah Nara pidana. Dan dia juga bukanlah pembunuh Nina biarlah Nina tenang di alam sana jadi Revan mohon jangan mengungkit-ungkitnya lagi Revan mohon!"
"Bagaimana Mama bisa tenang dia sudah bikin istrimu meningal apa Mama harus memaafkannya begitu mudah tidak Revan itu tidak akan pernah terjadi. Mama baru akan bisa tenang jika kalian bercerai apa kamu paham!"
"Mama tenang saja tidak akan impian Mama akan segera terkabul. Revan dan Putri kita sudah sama-sama sepakat untuk memutuskan bercerai jadi tunggulah, sudahlah Revan capek mau istirahat," ucapnya yang tanpa berkata ia segera masuk kedalam kamarnya.
"Mereka sudah memutuskan untuk bercerai baguslah kalau gitu jadi aku gak perlu susah-susah lagi untuk mengatur rencana agar bisa memisahkan mereka," timpalnya.
Terduduk melamun diatas ranjang sembari memperhatikan dengan serius suasana dikamar ini. Lamunan Revan terus saja terjadi, ia mengingatkan gimana perlakuannya pada Nina. Dan hal yang paling menyakitkan ia mengingatkan perkataan terakhir yang Nina ucapkan sebelum ajak menjemputnya. Ia perkataan menyakitkan yang sudah terasa tergores dari dalam lubuk hatinya.
"Kenapa perasaan ini baru muncul setelah kamu pergi Nin? Kenapa perasaan penyesalan dan kesadaran ku baru muncul setelah kamu pergi meninggalkan aku dari dunia ini kenapa?"
Tetesan air matanya mulai mengalir dari kedua sudut matanya. Revan yang akhirnya memejamkan kedua matanya ia mulai bisa terlelap dari tidurnya.
Dalam tidur malam yang sangat menghanyutkan. Revan seakan-akan berada dalam sebuah dunia alam mimpi, mengenakan pakaian serba putih ia berjalan memperhatikan sekelilingnya yang nampak sepi tanpa adanya seseorang, dengan adanya pemandangan yang sangat luar biasa membuat ia sulit untuk berpaling dari pemandangan yang sangat indah ini.
"Dimana aku kenapa aku bisa ada ditempat yang sangat indah ini dimanakah aku berada sekarang?"
Kata-katanya yang mampu ia ucapkan. Sesekali ia terus-menerus memperhatikan sekelilingnya namun masih nampak sama tak ada seseorang yang bisa ia tanya dimana ia berada sekarang.
Tak lama suara manis seorang wanita mulai mengejutkan dirinya, berpaling dari suara itu ia berlalu membalikkan pandangannya menatap siapa seseorang yang sudah memangilnya barusan.
Setelah pandangannya yang mengarah kebelakang ia melihat sesosok Wanita cantik berpakaian serba putih nampak melihatnya dengan raut wajah bahagia yang terpancar dari dalam diri seseorang wanita itu.
__ADS_1
"Nina ini beneran kamu? Kamu beneran hadir dihadapan-ku seperti ini? Aku gak lagi bermimpi kan ini beneran kenyataan kan?"tanya Revan dengan wajah tidak percayanya, Nina yang mulai menghampirinya ia kemudian menggenggam tangan Revan.
"Entah mimpi atau tidak aku senang akhirnya aku bisa melihat wajah keperdulian yang kamu tunjukkan saat ini kepadaku Revan. Aku sengaja mendatangimu karena aku ingin mengembalikan apa yang sudah seharusnya jadi milikmu," ucap Nina.
"Maksud kamu apa Nin aku tidak paham?"
"Bukan Putri orang yang sudah merebut serpihan hati yang kamu miliki tapi akulah orangnya? Akulah orang yang sudah merebut serpihan yang seharusnya sudah menjadi milik Putri. Dan sekarang aku ingin mengembalikan serpihan itu, dengan cincin ini. Cincin itu sudah seharusnya menjadi milik Putri jadi kembalikan lah padanya karena aku akan sangat lega jika aku bisa melihat Putri memakai cincin ini lagi berikanlah," ucapnya dengan memberikan cincin berlian itu tepat pada genggaman tangan Revan.
"Nina apa maksud kamu? Apa maksud kamu berkata seperti itu Nin ... Nin ... Nina ...
Belum juga ucapan yang Revan katakan mendapatkan balasan dari Nina. Tiba-tiba ia sudah kembali ke alam sadarnya setelah alarm yang berada diatas nakas sudah berbunyi dengan sangat keras.
Sekejab mata Revan membuka kedua kelopak matanya. Wajah terkejutnya masih terlihat, memandang sekeliling kamar ia tidak mendapati akan hadirnya seseorang yang berada dalam mimpinya barusan yang ada hanyalah suara berisik yang yang dihasilkan dari suara alarm tersebut.
"Jadi semua itu hanya mimpi? Apa yang Nina katakan barusan semuanya hanyalah mimpi belaka tapi kenapa mimpi itu serasa sangat nyata dan kenapa juga dalam mimpi itu Nina mengembalikan cincin itu yang sudah aku kuburkan di pemakamannya apa jangan-jangan itu firasat jika Nina sudah memberikan pintu maaf bagi Putri mau pun diriku dan ia ingin aku tidak menceraikannya?"
Dalam kantor Revan nampak linglung, ia hanya duduk di-kursi kerjanya sembari lamunannya yang tak henti-hentinya ia lakukan. Kemudian Gibran yang hendak masuk ia mencoba mengetuk pintu tapi alhasil tak ada jawaban yang terbalas dari dalam ruangan uang hendak ia masuki sekarang.
Melihat tuannya hanya duduk termenung meratapi nasibnya ia berlalu menghampirinya. Menepuk pundak Revan sekejab Revan pun terkejut dan berpaling pada Gibran.
"Gibran apa yang kamu lakukan kenapa kamu mengejutkanku?"
"Harusnya saya yang tanya pada Tuan apa yang membuat Tuan jadi melamun seperti ini?"
"Melamun? Saya barusan melamun?"
__ADS_1
"Iya Tuan saya sudah panggil-panggil tapi Tuan tidak menyahutnya makanya saya menepuk pundak tuan seperti tadi."
"Maafkan saya, maafkan saya."
"Baik Tuan tidak apa-apa lupakanlah sebenarnya apa yang membuat Tuan jadi melamun seperti tadi. Apa Tuan lagi ada masalah lagi? Atau mungkin Tuan masih kepikiran soal Nyonya almarhumah Istri Tuan?"
"Entahlah aku sendiri tidak tahu apa aku lagi memikirkan siapa bagiku keduanya masih membuatku bingung. Oh iya Gibran apa setiap mimpi yang hadir dalam tidur kita apa itu menandakan sebuah firasat yang ingin disampaikan oleh seseorang yang sudah meninggal atau bisa dibilang dia ingin memberikan jawaban disaat ia tidak berhasil mengungkapnya dimasa hidupnya?"
"Tuan kenapa tiba-tiba bertanya soal mimpi? Jujur benar atau tidak aku juga tidak tahu apa sebuah arti mimpi, tapi ada juga setiap mimpi yang hadir dalam diri kita, maka itu artinya seseorang itu memang berniat ingin mengungkap sesuatu, atau bisa dibilang seseorang itu hendak menunjukkan keinginan yang semasa hidupnya belum berhasil ia capai memangnya siapa seseorang yang sudah hadir dalam mimpi Tuan?"
"Nina! Tadi malam aku bermimpi seakan-akan jika mimpi yang aku alami sangatlah nyata. Belum lagi ia seakan mengembalikan cincin yang sudah aku kubur apa itu membuktikan jika dia memang sudah memaafkan-ku dan cincin itu apa itu artinya dia melarang ku untuk jangan menceraikan Putri?"
"Tuan ingin menceraikan Nyonya Putri?".
"Iya kita sudah sepakat ingin bercerai, tapi sekarang setelah adanya mimpi itu entah kenapa aku malah menjadi sedikit ragu?"
"Tuan berniat ingin menceraikan Nyonya Putri atau bisa dibilang Nyonya Putri sudah sepakat untuk meminta bercerai, tapi didalam kondisi itu tiba-tiba Nyonya datang dalam mimpi Tuan yang seakan ia memberikan firasat untuk Tuan jangan menceraikannya jadi aku rasa nyonya sudah memberikan firasat yang jelas jika dia tidak ingin kalian bercerai tuan," timpal Gibran.
"Sudahlah kita lupakan masalah ini cepat kamu lanjutkan pekerjaan kamu," timpal Revan.
"Baik Tuan," balas Gibran berlalu ia pun pergi dari pandangan Revan.
SEKALIAN MAAF IJIN PROMO KARYA TEMAN-KU YA CERITANYA SANGAT SERU DAN PASTINYA SANGAT SAYANG UNTUK DILEWATKAN YUK MAMPIR DAN JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAKNYA YA TERIMA KASIH 🥰
__ADS_1
BERSAMBUNG.