
Seperti habis memenangkan undian bernilai sangat tinggi aku merasa apa yang barusan aku lakukan sangatlah menenangkan buatku
Aku merasa jika apa yang barusan aku lakukan sudah seperti mendapatkan kebahagiaan yang tidak bisa diartikan lagi.
Terduduk disalah satu taman sembari memperhatikan pemandangan yang sangat indah dari atas langit ini. Seseorang datang dan membuat Putri yang terlihat sangat bahagia ia pun mencoba menyembunyikan rasa bahagia itu hingga pada akhirnya rasa bahagianya tidak bisa lagi ia sembunyikan lagi.
"Nyonya? Apa saya boleh duduk disini?"ucap seseorang itu yang tak lain adalah Gibran.
"Silahkan duduklah, oh iya saya bukan lagi Istri tuan kamu jadi alangkah baiknya kamu panggil aku dengan sebutan nama saja aku rasa itu lebih baik," timpal Putri dengan lega.
"Apa nyonya serius?"tanyanya yang merasa tidak enak.
"Iya saya serius panggil aku dengan sebutan nama saja aku lebih baik," timpalnya.
"Saya memang tidak tahu apa isi hati kamu saat ini, tapi jujur menyadari perilaku tuan jujur saya sendiri juga sangat gak menyangka jika itu akan terjadi. Tapi melihat kamu senyum-senyum sendiri aku merasa kamu sangat bahagia dengan keputusan kamu ini?"
"Iya jujur saja entah apa yang membuatku sebahagia ini. Apalagi setelah melihat laki-laki itu menanda tangani surat itu langsung tepat dihadapan ku aku merasa rasa bahagia itu benar-benar sangat melegakan?"
"Apa aku boleh bertanya sesuatu kepadamu?"
"Tanya saja?"
"Apa kamu membencinya? Maksudnya membenci Revan?"
"Jujur bisa dibilang benci entahlah aku tidak tahu apa aku membencinya atau tidak! Tapi mendengar nama itu ingatanku selalu terbayang-bayang akan perbuatan apa yang telah ia lakukan padaku jadi soal benci jangan tanyakan lagi terus kamu? Apa kamu membenci Milli?"
"Kamu kenapa? Kenapa setelah membahas Milli kamu malah terdiam apa ada yang salah dengan pertanyaanku?"
"Apa aku boleh bertanya sesuatu pada kamu?"
"Tanya aja apa yang ingin kamu tanyakan?"
"Sebenarnya Milli itu aslinya seperti apa sih apa dia sungguh-sungguh wanita yang bisa dibilang berani menggoda seorang laki-laki? Atau bisa dibilang seorang Wanita yang dengan beraninya menodai seorang Laki-laki hanya mengunakan godaannya?"
"Maksud kamu? Kamu tuduh Milli pelakor?"
"Bukan! Bukan seperti itu maksudku apa dia itu wanita yang gitu-gitu jujur dulu pada saat ia mabuk disaat acara reuni dia hampir saja memperkosaku jadi ya jelas sebagai seorang laki-laki harga diriku jatuh dong?"
"Milli memperkosa mu bagaimana bisa?"tanya Putri dengan wajah terheran-nya.
"Kejadiannya terjadi begitu sangat cepat. Pada waktu itu disaat berlangsungnya acara reuni dia bertemu dengan mantannya yang kemudian mantannya itu memasukkan obat perangsang pada minuman Milli. Kebetulan aku yg melihatnya tak ingin tingal diam dong jadi aku dengan baik hati mau menolongnya tapi malahan selanjutnya aku yang jadi korban jadi parah kan adik kamu ini? Bahkan lebih dari seorang ******?"
__ADS_1
"Apa kamu mencintainya?"
"Mencintainya kenapa Nyonya malah memutar balikkan fakta?"
"Aku tanya apa kamu mencintainya?"
"Kalau dibilang cinta jelas tidaklah gila kali aku cinta sama Wanita sebar-bar itu gak mungkin!"
"Terus kenapa kamu mau menolongnya? Dan acara reuni itu kan khusus SMA Milli terus kenapa kamu bisa ada disana kalau kamu tidaklah membuntutinya secara diam-diam?"
"Cinta apa mungkin aku mencintainya aku rasa itu gak mungkin?"
"Pertanyaan-ku lagi apa kamu cemburu melihat Milli bersama Laki-laki lain?"
"Kalau dibilang cemburu kayaknya gak jujur sumpah!"
"Baiklah gak masalah jika kamu tidak ingin jujur, tapi aku ada tawaran untukmu?"
"Tawaran apa nyonya? Maksudnya Putri?"
"Ya mungkin tawaran ini sangatlah penting dan kamu harus memikirkannya dengan baik-baik apa kamu setuju?"
"Aku ada tawaran untukmu, besok aku akan pindah ke Seoul aku membutuhkan Sekretaris sekaligus supir pribadi untuk menjagaku jadi gimana apa kamu setuju dengan tawaran aku ini?"
"Terus gimana dengan Tuan? Aku gak mungkin mengecewakannya?"
"Soal Revan kamu kan bisa bilang kalau kamu ada hal penting, terserah kamu mau pakai alasan apa tapi yang jelas jika kamu mau aku bisa mengaji kamu dengan bayaran dobel apa kamu bersedia?"
"Baiklah berikan aku waktu sampai besok, setuju atau tidak aku akan langsung datang ketempat kamu, ngomong-ngomong kapan kamu akan berangkat?" timpal Gibran.
"Aku insyaallah berangkat pagi jadi jika kamu sudah siap dengan tawaran ku ini, aku mau kamu siap-siap datang ditempat mu. Dan soal keberangkatan aku kamu bisa kan merahasiakannya dari Revan?"
"Kamu tenang saja aku akan merahasiakan keberangkatan kamu dari Revan. Dan soal tawaran itu besok pagi aku akan memutuskannya, jika pukul 06:00 aku tidak kunjung sampai di tempatmu maka aku tidak tertarik dengan tawaran kamu ini tapi jika sebaliknya itu mungkin sudah jadi pilihanku!"
"Baiklah kalau gitu aku tunggu kedatangan kamu besok ya sudah aku akan pulang," ucapnya yang segera bangkit dari tempat duduk. Berniat ingin naik taksi Gibran terlebih dulu menawarkan diri untuk mengantarkan,Putri mengiyakannya dan tidak membutuhkan waktu lama mereka akhirnya tiba dikediamannya.
"Kak Putri kenapa bisa dianterin dia apa Kak Putri habis bertemu dengan Si Revan?"
"Iya aku memang habis bertemu dengannya tapi aku menemuinya untuk memintanya untuk menanda tangani surat perceraian kita,"ucap Putri dengan menundukkan lembaran itu pada Milli.
"Terus apa dia mau menanda tanganinya?"
__ADS_1
"Iya dia mau
"Syukurlah terus kamu kenapa ada disini sana pergi!"usir Milli pada Gibran.
"Kamu mengusirku?"
"Iya aku memang mengusir mu karena aku tidak mau di-rumah ini ada laki-laki mesum seperti mu jadi cepatlah pergi!"
"Baiklah tanpa kamu suruh aku juga akan pergi lagian siapa juga yang betah lama-lama disini apalagi bersama Wanita lampir sepertimu," timpal Gibran yang segera pergi meninggalkannya.
Mengemasi semua barang-barang dan merapikannya dalam koper besarnya. Pandangan Milli tak henti-hentinya memandang kearah Putri dengan tatapan sedihnya. Melihat adik kesayangannya terlihat sangat bersedih, Putri segera menghampiri dan memberikan pelukan hangat untuknya.
"Sayang kamu kenapa apa yang membuatmu bersedih bukankah kamu sudah merelakan kakak untuk pindah ke Seoul?"tanya Putri dengan pelukannya tidak kunjung terlepas.
"Milli sedih aja tidak akan lama Milli akan berpisah lagi dengan Kak Putri, kak Putri janji ya disana Kak Putri bakal kabarin aku dan selalu memberiku kabar?"
"Iya sayang kakak janji akan selalu memberiku kabar. Dan ingat janganlah bersedih apa kamu mengerti?"ucapnya dengan mencolek hidung Milli.
"Iya Kak Milli akan berusaha kuat menahan rasa kangen ini," ucapnya yang tak mau melepaskan pelukan keduanya.
Tak lama suara seseorang telah dengar membuyarkan keduanya.
"Maaf sudah waktunya untuk berangkat nyonya," timpal seseorang yang tak lain adalah Gibran.
Terkejut dengan siapa yang datang, pandangan Milli beralih menatap Putri yang kemudian ia menatap Gibran dengan tatapan tajamnya.
"Dia? Kenapa dia ada disini Kak?"tanya Milli dengan wajah terheran-nya.
"Maaf kemaren aku belum sempat menjelaskan semuanya pada kamu sayang. Sekarang aku sudah putuskan kalau aku ingin mengajak Gibran untuk pergi denganku menjadi sekretaris baruku disana jadi kamu gak masalah kan kalau aku mengajak musuh bebuyutan kamu ini?"
"Kak aku sama sekali tidak masalah jika dia ingin menjadi sekretaris Kak Putri, tapi apa harus dia orangnya kan Kakak bisa cari seorang Wanita yang mungkin bisa menjaga Kakak dari mata bahaya nanti?"
"Milli bagiku mengajak Gibran itu sudah cukup membantuku. Dia juga aku lihat cukup gagah jadi aku putuskan selain menjadi sekretaris aku juga ingin dia menjadi bodyguard ku jadi sudahlah jangan diributkan ini sudah jadi keputusan kakak paham!"
"Tapi Kak?"
"Milli tidak ada tapi-tapian, ini sudah pukul 05:00 pagi jadi tingal beberapa menit kita akan berangkat ke Seoul jadi kamu gak masalah kan kalau kamu mengantarkan kita ke bandara?"
"Baiklah kak aku akan mengantarkan kalian ke bandara. Dan kamu! Ingatlah aku akan selalu siaga tepat waktu jika kamu dengan beraninya menggoda Kakak ku apa kamu paham!"gertak Milli, Putri yang melihat ia langsung menyuruh Milli untuk membawa kopernya.
BERSAMBUNG.
__ADS_1