
"Ma aku sudah memasak makan malam untuk malam ini jadi makanlah, Revan mungkin pulanglah agak telat karena ada meeting jadi lebih baik kita makan duluan saja. Apalagi Mama kan punya penyakit lambung aku tidak mau Mama akan telat makannya jadi cepat makanlah!"pinta Putri pada Mama mertuanya yang sedari tadi enak bersantai didepan TV sembari menonton sinetron kesukaannya.
"Kamu itu hanya istri cadangan di-rumah ini jadi janganlah sok-sokan seakan-akan kamu ingin mengambil simpati dariku, apalagi berharap jika aku akan menyayangimu karena itu gak akan pernah terjadi paham. Oh iya gimana perasaan kamu ketika semua orang pada merendahkan mu kemaren kamu sudah puas?"
"Darimana Mama tahu kalau aku habis direndahkan oleh orang-orang apa Revan memberitahu Mama soal ini?"
"Untuk apa Revan memberitahu ku soal ini kalau jelas-jelas akulah orang dalang dibalik semua itu?"balas Mamanya dengan tersenyum sinis kearah Putri.
"Mama kenapa setega ini sama aku, jika Mama ingin menghukum ku Mama bisa berkata langsung tanpa harus menjatuhkan nama baikku dihadapan banyak orang. Mama sangatlah salah dengan tindakan Mama itu, Mama tanpa sengaja sudah membuat nama baikku hancur! Tapi kenapa setelah Mama melakukan semua itu Mama masih bisa bersikap santai seolah-olah tidak terjadi sesuatu apa sampai segitunya Mama membenciku sehingga dengan teganya menyuruh orang-orang untuk memprovokasi semua itu apa mau Mama sebenarnya?"
"Mau Mama itu sangatlah mudah. Mama mau kamu bercerai dengannya apa itu masih belumlah membuat mu sadar dengan permintaan Mama ini anak kampung!"
"Apa Mama sadar jika aku disuruh memilih aku juga tidak ingin menikah dengan Revan? Aku juga tidak ingin mempunyai mertua yang hanya memikirkan dirinya sendiri aku juga tidak mau mempunyai Mertua yang sangat cerewet yang hanya mampu memprovokasi keadaan untuk menjatuhkan nama baik dari menantunya sendiri, Mama sendiri juga seorang perempuan tapi kenapa Mama masih belum bisa membedakan mana yang baik dan mana yang benar?"
"Jadi kamu sudah berani berkata kasar kepadaku sampai-sampai mengataiku cerewet?"
"Aku bukannya sudah berani berkata kasar mau pun memojokkan Mama, tapi apa yang Mama lakukan sudah membuatku kehabisan kesabaran Ma, tapi memang itu kan faktanya?"
__ADS_1
"Kenapa kenapa kamu bisa berkata seperti itu Put pada Mama kandungku sendiri?"timpal Revan yang tanpa sengaja telah mendengar semua perkataan yang barusan diucapkan oleh Putri.
"Revan kamu sudah pulang. Aku .. aku ..."
"Selama ini aku menganggap kamu itu wanita yang pendiam bahkan berbeda dari yang lain karena mempunyai sifat yang berbeda dari Nina, tapi nyatanya dugaan-ku sangatlah salah kamu tidak jauh berbeda dari Nina, bahkan Nina aja tidak berani untuk mengatakan hal seperti itu pada Mama ku tapi kenapa kamu malah dengan gampangnya berkata seperti itu. Apa kamu sadar apa yang sudah kamu katakan itu sangatlah membuatku sakit Put?"
"Aku berkata seperti ini juga karena hal, aku tidak mungkin mengatakan hal yang tidak mungkin jika seseorang itu tidak menginjak- ginjak-ku secara terus menerus. Mama kamulah orang yang sudah menyuruh orang untuk memprovikasi waktu pesta itu apa aku salah jika aku marah karena ulah Mama kamu?"
"Tapi biar pun dia sudah melakukannya itu harusnya kamu gak seharusnya berkata seperti itu, dia itu Mamaku bahkan dia juga yang telah membesarkan sejak aku masih kecil waktu Papaku meningal, jadi mana ada seorang anak yang akan terima jika Mamanya diperlakukan seperti itu, Mama hanya mengatakan hak kasar tapi itu wajar karena dia sudah hampir tua harusnya kamu sadar Putri tentang hal ini?"
"Baiklah jika dalam hal ini aku yang salah tidak masalah karena setidaknya aku tahu sifat kamu seperti apa Revan. Selama ini aku mengira kamu juga bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah! Tapi nyatanya kamu masih belum bisa membedakannya. Dan pertanyaan-ku sekarang apa kamu sudah tahu jika Mama kamulah orang yang sudah memprovokasi seseorang untuk menghinaku pada waktu itu?"
"Kamu gak perlu menjelaskan semuanya, aku sudah tahu apa jawaban kamu, kamu terdiam seperti ini berarti sudah membuktikan jika dugaan-ku memanglah benar terima kasih Revan! Terima kamu karena perlahan-lahan kamu sudah menunjukkan seperti apa sifat asli kamu terima kasih!"
Tak mengatakan satu kalimat pun padanya. Putri yang sudah diselimuti rasa kecewa ia berlalu pergi tanpa mau menjelaskan apa yang menurutnya sudah sangat menyakiti hatinya.
"Berhasil akhirnya rencana-ku berjalan sesuai rencana untuk menjauhkan mereka," batin Mamanya yang bisa tersenyum puas.
__ADS_1
"Ya sudah Mama istirahatlah Revan masih ada tugas yang belum Revan selesaikan. Revan pulang karena entah kenapa perasaan Revan enak ya sudah Revan masih ada meeting dengan clayen jadi ada kemungkinan baru malam nanti Revan pulang Revan berangkat lagi ya," ucapnya.
"Baiklah sayang kamu berhati-hatilah!"
"Baik Ma," balas Revan segera ia pun kembali pergi tanpa melihat keadaan Putri yang memilih dikamar.
"Kayaknya aku masih butuh rencana baru lagi untuk memanaskan hati Revan, jadi sekarang lebih baik aku jalankan rencana ini lagi," batinnya ia pun masuk kedalam kamar Putri yang dimana Putri terlihat bersedih diatas ranjangnya.
"Hay anak kampung gak ada gunanya juga kamu menangis seperti ini. Revan sudah kembali lagi ke kantor jadi percuma kalau kamu hanya bisa menangis, oh iya berhubung aku baik kamu bisakah membuatkan ku bakso udang, rasanya dingin-dingin nanti sangat enak kalau menyantap bakso itu?"
"Mendingan kalau Mama mau aku bisa membelikannya," balasnya tanpa menoleh kearah mertuanya.
"Hay aku itu sedang menyuruhmu! Daripada kamu hanya bisa menangis kenapa kamu gak cari kerjaan buat masak aja ayo cepat masaklah!"
Tanpa mendengar kedua kalinya Putri segera bangkit dari ranjang, menuju ke dapur untuk membuatkan masakan apa yang barusan diminta mertuanya.
"Kita tinggal nunggu menit, maka akan ada sesuatu yang akan meledak nanti. Dan aku penasaran apa ya yang akan terjadi nanti, jika Revan tahu jika Mama kesayangannya akan terluka akibat dari kecerobohan Putri karena tidak tahu jika aku mempunyai alergi udang, apa lagi kalau melihat Revan yang terlihat sangat cemas seperti tadi, pasti dia tidak akan mudah untuk memaafkan Putri dengan mudah akibat masalah ini?" batin Mamanya dengan tersenyum sinis
__ADS_1
BERSAMBUNG