
"Gibran kenapa kamu senyum-senyum sendiri kamu gak lagi gila kan?"tanya Putri ketika mendapati Gibran yang senyum-senyum didepan layar laptopnya.
"Nyonya, tidak saya baik-baik saja kok nyonya hanya saja ada kejadian yang mungkin membuatku sangat lucu yang akhirnya sampai kepikiran sampai sekarang."balasnya nampak malu.
"Oh baiklah kalau gitu, oh iya Gibran kemaren Milli bilang padaku katanya dia seharian sama kamu lantaran kamu yang bilang kalau aku menyuruhmu untuk menjaganya apa itu benar?"tanya Putri spontan Gibran yang mendengar ia nampak bingung ingin bicara apa.
"Astaga gadis itu kenapa pakai acara bilang segala sih,"gumam pelan Gibran sembari menggaruk kepalanya.
"Gibran aku sedang berbicara denganmu katakanlah apa yang kamu maksud itu. Kamu kan tahu aku tidak pernah menyuruhmu sekali pun untuk menjaganya tapi kenapa Milli berkata katanya aku yang menyuruhmu untuk menjaga?"tanyanya lagi yang membuat Gibran nampak gagap.
"MMM maaf Nyonya saya akui saya salah karena mengambil kesempatan ini untuk dekat dengannya. Dan berbohong jika Nyonya lah yang menyuruhku maafkan saya!"ucapnya yang hanya mampu menundukkan kepalanya menahan rasa malu.
"Baiklah aku maafkan kamu tapi sekarang sebagai gantinya aku ingin tanya sama kamu apa kamu sudah mulai menyukainya?"tanya Putri dengan wajah malu Gibran kembali menatapnya.
"Nyonya kenapa bertanya seperti itu?"tanya balik Gibran.
"Kali ini aku bertanya sungguhan dan aku ingin kamu berkata jujur tentang isi hati kamu sendiri jadi katakanlah!"balasnya.
"Baiklah aku bakal jujur ia kalau aku mungkin mulai menyukai adik bar-bar nyonya itu, tapi aku bisa pastikan kalau aku bukan tipe laki-laki yang suka mencampakkan hati seorang Wanita dengan mudahnya, jika aku mencintainya aku akan mempertahankan apa yang semestinya harus aku dapatkan, jadi Nyonya mengijinkan saya kan untuk menjadi Adik ipar Nyonya saya akui derajat saya lebih rendah dari keluarga kalian tapi aku sungguh-sungguh sangat-sangat mencintainya Nyonya jadi Nyonya mengijinkan saya untuk mendekatinya kan?"
"Bagiku menerima seseorang untuk bisa menikah dan menjadi adik ipar ku itu sangatlah mudah. Karena diriku mau pun Mama tidak pernah melihat dari derajat seseorang itu, jika orang itu menyukai, menyayanginya dengan tulus tidak masalah jika Adikku harus menikah denganku, tapi?"
"Tapi apa Nyonya akan memberikan syarat berat kepadaku?"timpal Gibran.
"Aku tidak memberikanmu syarat, tapi aku hanya belum tahu apa Milli juga mencintaimu seperti perasaan kamu untuknya. Jadi jika hati kalian sama-sama berbeda apa mungkin hubungan rumah tangga bisa bertahan lama jika tanpa adanya rasa cinta dari keduanya?"
__ADS_1
"Jadi maksud Nyonya? Nyonya belum sepenuhnya memberikan dukungan kepadaku?"
"Soal perasaan aku mungkin belum tahu seperti apa perasaan Milli kepadamu saat ini, tapi jika kamu mengijinkan aku bisa membantu mu untuk mengetahui perasaan Milli yang sesungguhnya apa kamu bersedia?"timpal Putri dengan senyum lepasnya.
"Nyonya ingin membantuku?"tanya Gibran tidak percaya.
"Bisa dibilang seperti itu. Aku ingin membantu menemukan cinta sejati dari Adikku. Jika Milli memang sungguh-sungguh mencintai-mu tidak masalah jika kalian harus menempuh kehidupan yang baru,"timpalnya dengan tersenyum manis.
"Terima kasih Nyonya terima kasih!"balasnya dengan menundukkan kepalanya.
"Iya sama-sama."balasnya.
Pagi hari Milli yang bersiap-siap ke kampus, ia melihat Mamanya nampak fokus pada pemberitaan awak media.
"Mami lagi lihatin berita apa kok tegang gitu?"tanya Milli pada Mamanya yang nampak fokus pada acara tv.
"Astaga Mami ini, Milli kira apa? Kan selama ini sudah banyak buronan yang menjadi incaran Polisi. Dan Alhamdulillah kita tidak pernah bertemu dengannya kan?"
"Kamu tuh ya Mami itu sedang berbicara apa adanya kenapa kamu gak ada rasa cemasnya sih, oh iya sayang sebagai penjagaan karena entah kenapa sekarang Mama agak takut akan berita ini kamu bawa aja Mobil ke kampus ya?"
"Tidak usah Ma kan ada taksi mau pun angkutan umum Milli tidak papa kok dan Milli juga tidak takut sama sekali dengan berita seperti ini?"
"Sayang jangan pernah membantah dengan permintaan Mama ingat!"
"Baiklah Milli akan mengabulkan kan permintaan Mama,"balasnya dengan pasrah.
__ADS_1
"Baiklah ya sudah ini kuncinya sayang kamu berhati-hatilah."
"Iya Ma Milli akan berhati-hati kok Assalamualaikum."ucap Milli dengan mencium telapak tangannya.
"Walalaikum'salam."balas Mamanya yang perlahan Milli mulai pergi dari pandangannya.
"Mama ... Mama, Mama itu ada-ada aja ya pakai acara takut lagi kan gak semua buronan akan sangat menakutkan, memang jujur sih aku juga kalau berpapasan dengan buronan tidak tahu harus mengucap apa karena rasanya pasti bulu kuduk pada berdiri tapi ya sudahlah berdoa aja semoga hal yang tidak aku inginkan tidak akan Samapi terjadi Amin!"
Lagi santainya Milli berada dalam mobil tanpa ada rasa kepanikan yang ia rasakan. Dari jarak cukup dekat ia melihat seorang nenek-nenek sedang kesusahan untuk menyebrangi jalan, belum lagi bawaan yang dibawa sangat banyak membuatnya terlihat linglung membutuhkan bantuan.
"Astaga kasihan sekali nenek-nenek itu,"gumam Milli segera ia menghentikan laju kendaraannya ketika sampai didekat nenek-nenek itu.
"Astaga Nenek kenapa bisa sendirian seperti ini dimana keluarga nenek yang lainnya?"tanya Milli tapi Nenek itu tidak mengeluarkan suara dan hanya menggelengkan kepalanya sembari tangannya yang mengarah kearah barat.
"Nenek tidak bisa berbicara?"tanya Milli, nenek itu kemudian menganggukkan kepalanya.
"Baiklah Milli tau apa maksud nenek berperilaku seperti tadi. Dan tangan nenek yang mengarah kearah barat disana tempat tingal nenek?"tanya Milli yang lagi-lagi mendapatkan anggukan darinya.
"Baiklah ayo masuklah kedalam mobil aku akan mengantar Nenek jadi mari Milli bantu,"ucap Milli, berlalu Nenek itu hanya menundukkan menganggukkan kepalanya.
"Kasihan sekali nenek ini ia sudah cukup umur tapi tidak ada keluarga yang bisa membantunya. Apalagi dengan kondisi yang tidak bisa berbicara kenapa masih ada anak yang tega seperti ini pada Ibu kandungnya sendiri,"timpal Milli yang tidak bisa habis pikir dan sesekali ia menatapnya dengan tatapan memelas.
Tak lama dering ponsel mulai bergetar dengan keras yang akhirnya pandangannya mulai terfokuskan pada suara dering ponsel tersebut.
"Suara ponsel berbunyi siapa yang menelfon-ku?"ucap Milli segera mengambilnya, setelah ponsel yang berada digenggaman ia terkejut lantaran bukan ponsel dia yang ada dering ponselnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG.