JERATAN CINTA ISTRI YANG TERHINA

JERATAN CINTA ISTRI YANG TERHINA
GAGAL BERCERAI


__ADS_3

Pagi yang cerah setelah memancarkan sinarnya. Disalah satu tempat Putri akhirnya mendatangi kantor Revan. Dan tidak membutuhkan waktu yang lama ia pun telah sampai di kantor tersebut.


"Maaf apa Tuan Revan sedang sibuk?" tanya Putri pada salah satu karyawan disana.


"Tuan Revan kebetulan tidak lagi sibuk dengan siapa? Dan apa anda sudah ada janji?" tanya Wanita itu nampak Putri bingung harus membalas apa.


"Saya kebetulan tidak ada janji dengan beliau, tapi saya sangat ingin bertemu jadi bolehkah saya menemuinya tidak akan lama cuma 10 menit kok," balas Putri tapi masih sama tidak dapat ijin dari Wanita itu.


"Sudahlah biarkan dia masuk saya kebetulan kenal dengan Wanita ini. Dan nanti biar saya yang beritahu Tuan Revan," balas seorang wanita yang tak lain adalah Claudya.


"Anda siapa? Dan bagaimana mungkin anda bisa kenal dengan saya?" tanya balik Putri.


"Tidak ada waktu untuk menjelaskannya jadi lebih baik cepat kita temui Revan langsung, dia ada di-ruangan kerjanya jadi mari saya antar."


"Baiklah terima kasih," balas Putri segera ia mengikuti langkah Claudya dari belakang.


"Silahkan masuklah Revan ada didalam, jadi saya permisi dulu.


"Baiklah sekali lagi terima kasih," balas Putri tapi tak mendapatkan balasan dari Wanita itu yang segera pergi meninggalkannya.


Sesampainya Putri tepat didepan ruangan kerja, terlebih dulu ia mengetuknya. Setelah mendapatkan perintah untuk masuk ia langsung membuka pintu, Ia melihat lelaki itu sedang duduk di-kursi kebesarannya. Pandangan Revan yang sedari tadi fokus menatap layar laptop, kini teralihkan pada pintu ruangan yang tiba-tiba terbuka. Dengan bersamaan hadirnya seseorang yang datang dan membuatnya terkejut begitu melihat siapa yang datang.

__ADS_1


"Putri!"


"Putri apa yang kamu lakukan disini?" tanyanya yang dengan nada halus.


"Aku datang kesini hanya untuk memberikan ini, cepat bacalah," ucapnya yang dengan bersamaan Putri pun memberikan beberapa lembar surat tepat dihadapannya.


Setelah Revan membaca dan mengeceknya, pandangnya pun seketika berubah. Dan sekejab ia pun bangkit dari tempat duduk bersemedinya tadi yang berlalu ia pun menghampirinya dengan penuh banyak pertanyaan dan pertanyaan yang ingin ia tanya.


"Surat perceraian sudah ada dihadapan kamu jadi cepat tanda tangani-lah surat ini," perintahnya tapi Revan nampak acuh melihat lembaran kertas putih tersebut.


"Revan kenapa kamu diam, jika kamu hanya diam kapan kita akan resmi berpisah. Ini sudah jadi keputusan kita sejak dulu jadi aku mohon tangani surat ini segera aku mohon!"


"Tapi maaf Put aku tidak bisa, aku tidak bisa melakukan semua ini.


"Aku tidak tahu apa yang membuatku berubah pikiran secepat ini. Dan memang dulu aku ingin sekali kita bercerai agar hubungan kita tidak ada lagi ke-salah pahaman yang terjadi, tapi setelah aku pikir-pikir aku tidak mau menjadi laki-laki egois yang sudah ikut menghancurkan kebahagiaan kamu termasuk membuatmu ikut terjerumus dalam lembah penderitaan ini. Menghindar dengan cara bercerai aku rasa cara itu tidak akan meringankan beban kamu mau pun penderitaan yang kamu alami selama ini. Kamu sahabatku bahkan kita sudah sering melakukan apa-apa bersama dari suka mau pun duka kita sudah menghadapi bersama apa setelah kita dewasa aku akan berdiam diri ikut menjerumuskan diri kamu kedalam lembah penderitaan ini? Tidak Putri aku tidak setega itu jadi mungkin dengan keputusan ini aku berharap aku bisa melindungi sebagai Istri mau pun sahabat kecilku jadi aku mohon jangan paksa aku untuk menceraikan-mu aku mohon!"


"Kamu bilang kamu tidak mau egois membiarkan-ku hidup dalam lembah penderitaan ini. Terus gimana dengan Nina, Mama dan Adik kamu? Mereka sudah sangat membenciku apa kamu mau melihat-ku menderita seperti ini terus?"


"Kamu tenang saja Put setelah aku pikir-pikir membiarkanmu tingal dalam satu rumah bersama Istri pertama dan Mertua aku tahu jika itu kesalahan terbesarku. Dan kamu tenang saja mulai sekarang aku sudah memikirkannya termasuk menyewakan tempat tingal baru untuk kamu tinggali.


"Apa maksud kamu Revan?"

__ADS_1


"Aku masih punya rumah yang mungkin tempat tingal itu kecil tidak sebesar tempat tingal yang aku tempati, tapi aku sadar kemewahan tak selamanya memberikan kebahagiaan jadi aku harap dengan tempat tingal baru itu kamu bisa hidup lebih tenang tanpa ada beban sekalipun, jadi ayo ikutlah dengan-ku.


Hanya membutuhkan waktu kurang dari 20 menit Putri dan juga Revan akhirnya sampai ditempat yang sedari tadi mereka tuju.


"Sekarang rumah ini sudah jadi tempat tingal kamu dan ini adalah Bibik Ijah dia adalah asisten rumah tangga yang aku sewa untuk membantu semua keperluan kamu.


"Terus gimana dengan Nina? Apa dia tidak akan marah jika dia tahu Suaminya diam-diam telah memberikan rumah untuk istri keduanya apa dia tidak akan tambah marah melihat semua ini?"


"Untuk Nina kamu tenang saja cepat atau lambat aku yakin dia pasti bisa mengerti, dia hanya perlu menenangkan pikirannya jadi kamu tidak boleh cemaskan itu yang perlu kamu cemaskan adalah dirimu sendiri kamu jangan sampai lalai karena sejujurnya musuh terbesarmu adalah Rafa?"


"Rafa? Kenapa jadi Rafa?"


"Aku rasa dia sengaja merahasiakan semua ini dari Monika karena dia ingin kehidupannya damai tanpa ada orang yang mengganggunya. Sedangkan kamu? Aku rasa kamu sekarang perlu berhati-hati jika sewaktu-waktu Rafa ada niatan jahat untuk menyingkirkan anak ini dari rahim kamu.


"Kamu tidak perlu cemaskan aku Rev aku bisa menjaga dan melindungi calon anakku. Lebih baik aku yang terluka daripada aku harus melihat seseorang berhasil melukai anakku tepat dihadapan-ku. Lebih baik aku yang mati daripada aku harus menyerahkan anak ini pada Pria yang tidak bertanggung jawab seperti dia.


"Baiklah aku sangat senang melihat semangat-mu seperti ini, ya sudah aku pergi kapan-kapan aku akan kunjungi kamu lagi tapi maaf sebagai seorang Suami aku tidak bisa memberikan nafkah batin untukmu.


"Kamu tidak perlu berkata seperti itu aku tahu seperti apa posisi-mu, jika aku berada di'pilihan sepertimu aku mungkin juga akan melakukan hal yang sama yang seperti kamu lakukan.


"Baiklah aku pergi dulu kabari aku kalau kamu butuh sesuatu biar aku suruh pak supir untuk segera mendatangi-mu.

__ADS_1


"Baiklah.


BERSAMBUNG.


__ADS_2