JERATAN CINTA ISTRI YANG TERHINA

JERATAN CINTA ISTRI YANG TERHINA
TERBALASKAN


__ADS_3

Melihat semua rahasianya telah terbongkar ditempat umum. Wajah Burhan yang diselimuti rasa ketakutan, ia melihat Papanya yang sudah tidak berdaya dan hanya menurut akan perintah Polisi yang siap memborgol kedua tangannya.


Burhan yang nampak panik tidak rela jika karirnya akan hancur seperti ini. Ia melakukan cara nekat dengan langsung mendorong para Wartawan mau pun Polisi yang sudah menyergapnya.


"Hey jangan kabur kamu!" teriak seseorang yang langsung meneriakinya. Burhan yang sadar ia segera berlari dan berjalan menuju kerumunan orang-orang diluar ruangan ini.


"Sial pelaku itu sengaja berlari kearah kerumunan itu, ini akan sangat menyulitkan bagi kita semua cepat kita bagi tugas masing-masing.


"Baik kapten."


Suara tembakan mereka layangkan keatas. Sedangkan beberapa pintu masuk mau pun keluar segera mereka tutup untuk mencegah pelaku berhasil melarikan diri.


Suasana yang tadinya nampak tenang dan sunyi, kini sekejap suasana itu pun berubah menjadi mencekam.


Orang-orang yang mendengar ada suara tembakan dan adanya para Polisi yang nampak mencari buronan mereka nampak ketakutan.


"Kalian semua jangan panik. Dan tiarap karena didalam sini ada pelaku kejahatan yang berniat ingin melarikan diri dari sini, jadi saya mohon kalian semua tiarap sekarang!"perintah Kapten Polisi berlalu, semua orang yang mematuhi peraturan pun sama-sama melakukan tiarap secara bersamaan.


Sedangkan Burhan yang nampak ketakutan ia hanya nampak mengikuti peraturan agar dirinya tak terdeteksi jika dirinya memang pelaku yang mereka cari.


"Sial apa yang harus aku lakukan sekarang jika aku berdiam diri aku akan tertangkap oleh mereka, tapi jika aku lari itu sama aja aku melarikan diri ke-meraka!"batinnya yang nampak sangat panik.


"Tidak. Aku tidak boleh kalah, aku harus kabur dari mereka. Aku masih mempunyai senjata pisau ini jadi aku bisa gunakan ini sebagai alat untuk mengancam balik mereka.

__ADS_1


Berlalu Burhan pelan-pelan ia mulai menghampiri anak kecil berumur 6 tahun. Pisau yang berada digenggaman nya ia layangkan keatas dan tinggal selangkah lagi pisau itu akan tertancap pada perut anak itu.


"Burhan apa yang kamu lakukan apa kamu udah gila. Apa kamu sudah gila karena berniat ingin membunuh anak itu. Apa kamu tidak kasihan dia masih kecil dia tidak tahu apa-apa lepaskan dia!"tegas Milli tapi Burhan nampak tak menghiraukannya.


"Jangan mendekat, jika selangkah aja kalian berani mendekatiku maka pisau tajam inilah yang akan melukai leher anak ini. Apa kamu mau melihatnya terluka? tidak kan?"


"Sekarang aku tidak tahu harus memulai darimana untuk mengatakan ini sama kamu, tapi aku mohon jangan lakukan itu, aku mohon buanglah pisau itu aku mohon jangan lukai dia aku mohon Burhan."


Mata tajam Burhan yang mengarah tajam kearah semua orang. Dengan adanya pisau yang masih berada di genggamannya membuat Burhan tak segan-segan ingin segera menancapkan pisau ini ke tubuh gadis ini.


Milli yang tidak tingal diam ia berusaha sekuat tenaga menggambil pisau itu dari genggaman Burhan.


Berada dari belakang Burhan, Milli mencoba meraih pisau itu dan ia akhirnya mendapatkannya. Anak kecil yang segera ditarik oleh Ibunya sedangkan Milli mau pun Burhan sama-sama adu banteng selama hampir beberapa menit mereka beradu akhirnya kemenangan berpihak pada Milli setelah ia berhasil merebut dan melemparkannya kearah yang agak jauh.


Akan tetapi nasib buruk terjadi pada Milli tanpa ia sadari terdapat satu buah pisau yang berada dalam saku Burhan berhasil ia layangkan tak main-main ia kembali menggores pisau lancip itu berbalik tepat ke lengan Milli.


Lengannya yang terluka membuat gaun putih yang dipakainya berubah menjadi merah darah.


"Anda lihat apa anda kira saya akan lemah begitu saja.


Satu langkah Burhan hendak melayangkan pisau itu tepat mengenai Milli. Tiba-tiba seseorang datang dan langsung memegang dengan erat gagang pisau yang dibawa pelaku.


Dan seseorang itu adalah Ayah dari korban yang sudah ia bunuh beberapa tahun yang lalu.

__ADS_1


"Anda sudah membunuh Putriku jadi rasakanlah ini!"


Belum juga perkataan yang akan diucapkan Burhan terucap satu tusukan terlepas dan tepat mengenai perut Burhan. Dar*h yang mengalir dengan deras membuat Ayah dari Korban yang melihatnya ia hanya melihat dengan tatapan yang kosong, tertawa sinis tidak ada langkah dari seseorang dari pria itu untuk bersimpati mau menolongnya yang terlihat sudah tidak berdaya dihadapannya.


Tubuh yang seketika hampir tersungkur, rasa sakit, perih yang tiba-tiba menyerangnya membuat pandangan Burhan menjadi kabur.


Rasa lemas semakin telah dirasa olehnya. Tubuhnya yang seketika merosot kebawah yang akhirnya membuatnya tak tahan lagi, dengan bersimbah banyak dar*h akhirnya tubuhnya pun jatuh tersungkur.


Mulut yang seperti terkunci. Dan tubuh yang tidak mampu ia gerakkan, sesaat kemudian entah apa yang ada dibenak Burhan saat ini.


"Apa yang kamu rasakan ini balasan karena dulu kamu sudah membunuh Putriku secara keji. Bahkan dalam kondisi mengandung anak kamu sendiri kamu tega membunuhnya jadi terimalah itu," ucapnya kemudian ia membelakanginya.


Rasa sakit yang tidak tertahan telah ia rasa, dengan berusaha ia mendekap dan terus mendekap tubuh yang seketika mati rasa bahkan tenaga yang sedari tadi ia keluarkan untuk bertahan. Pelan-pelan tubuhnya akhirnya merosot kebawah.


Kedua mata yang tadinya terbuka dengan lebar, kini dalam hitungan detik pejaman mata itu mulai kusut. Meringis kesakitan dilantai dengan banyak darah yang keluar hinga mengotori lantai ruangan ini.


"Jika dengan cara baik saya tidak mampu memenangkannya, maka biarlah cara kematian jalan pintas yang anda milih. Saya sudah membunuh Pria ini jadi sekarang giliran saya yang harus mempertanggung jawabkan perbuatan saya, saya siap mendekam didalam sel tahanan akibat semua perbuatan saya ini. Dan kamu Milli terima kasih atas bantuan kamu sudah dengan baik hati bersedia membantu saya mendapatkan keadilan untuk Putri saya terima kasih," ucapnya salah seorang Polisi pun datang dan mulai memborgol kedua tangannya.


"Jika jalan ini yang Bapak putuskan saya tidak bisa melakukan apa-apa. Saya sangat senang bisa membantu Bapak dan keluarga Bapak untuk mendapatkan keadilan." Timpal Milli dengan menggenggam tangan Pria itu seolah-olah ia mendukung apa yang dilakukan seorang Ayah pada penjahat yang sudah menghancurkan Putrinya.


Perlahan para Polisi menuntunnya dan membawanya kekantor polisi, sedangkan Pelaku yang sudah tidak bernyawa tak lama hadir Ambulans yang juga akan melarikannya ke-Rumah sakit.


"Aku tidak akan menyangka kasus ini akan menjadi seperti ini. Aku kira kedua pihak sama-sama akan menyerahkan diri ke-polisi atas kasus ini, tapi ... Tapi nyatanya semua berbeda dari dugaan-ku," ucap Milli dengan pandangannya yang terlihat kosong dan bersedih.

__ADS_1


"Lengan anda terluka jadi anda harus segera mendapatkan penanganan agar luka itu tidak terinfeksi dengan parah,"timpal Polisi yang memberikan kain untuk menahan darah yang keluar dengan deras. Milli yang mendapatkan ajakan ia hanya bisa menganggukkan kepalanya.


BERSAMBUNG.


__ADS_2