JERATAN CINTA ISTRI YANG TERHINA

JERATAN CINTA ISTRI YANG TERHINA
AKANKAH PUTRI BAIK-BAIK SAJA


__ADS_3

"Beberapa kali aku bilang aku tidak mau. Apa kamu tidak mengerti juga. Kalau pun kamu berniat ingin mengugurkan janin ini untuk selama-lamanya aku rasa itu hanya mimpi kamu karena selama aku masih hidup aku tidak akan membiarkan siapapun orang berhasil mencelakai calon anakku termasuk itu dirimu sendiri ayah kandung dari anak yang aku kandung ini," gertak balik Putri yang tak ingin kalah darinya.


"Baiklah jadi kamu memaksaku untuk pakai cara lebih kasar dari ini Baiklah tidak masalah bagiku memaksamu untuk meminum ini sangatlah mudah," timpal Rafa dengan melirik kedua anak buahnya yang sudah berjaga dari belakangnya.


"Kalian cepat pegang dengan erat kedua tangan wanita ini. Jika dia tidak mau meminumnya biar aku sendiri yang memaksanya," perintah Rafa berlalu kedua anak buahnya pun mencengkram dengan erat kedua tangan Putri.


"Rafa apa kamu sudah sangat gila, ini anak kandung kamu sendiri kenapa kamu setega ini kamu menyingkirkannya dari dunia ini. Anak ini tidak tahu apa-apa, dia hanya korban bejat kamu tapi kenapa kamu malah setega ini mau membunuhnya dengan cara kasar seperti ini.


"Aku tidak perduli karena menurut-ku dia hanyalah anak Yanga tidak dianggap, jadi sebelum dia lahir aku harus menyingkirkannya. Jadi jika kamu tidak ingin aku sangat kasar sama kamu cepat buka mulut kamu ayo cepat!"


"Tidak. Sudah aku bilang aku tidak mau apa kamu tuli? Apa kamu tidak punya kuping!"


Plak ...


Satu tamparan tepat mengenai pipi kanan Putri yang hanya menyisakan luka memar merah dengan adanya darah yang keluar dari sudut bibirnya.


Berada dalam kandang harimau yang siap memangsanya dengan hidup-hidup, tatapan Putri tidak menunjukkan jika dia akan takut dan menyerahkan calon anak yang tidak bisa ini pada pria yang tak lain adalah ayah dari anak yang ia kandung sendiri.


"Apa itu cukup! Apa kamu masih ingin merasakan tamparan lagi yang kedua kalinya. Ingat Putri aku bukanlah Rafa yang manis jika posisiku dalam keadaan terpojok seperti ini. Dan apa kamu sadar jika aku merasa terancam aku tidak akan segan-segan membunuh seseorang yang berani menghalangiku termasuk ini kamu sendiri. Jadi cepat muka mulut kamu jika kamu tidak ingin aku akan lebih jahat dari ini cepat buka!"


"Sudah aku bilang aku tidak mau apa kamu masih belum paham juga. Apa kamu pikir dengan sejuta kali pun kamu menampar-ku aku akan mengalah dan menyerah dengan semua ini tidak, itu tidak akan pernah terjadi. Jika kamu ingin membunuh-ku silahkan, bunuh-lah aku jika itu akan membuat-mu merasa lebih lega asal jangan kamu pisahkan aku dengan darah daging-ku sendiri."Kedua tatapan yang saling bersahutan tak membuat Rafa berfikir kedua kali atas keputusan salah yang telah ia ambil.


"Kamu tidak perlu cemas Putri aku tidak perlu membunuhmu dengan susah payah karena apa kamu tahu dengan meminum pil ini kamu akan mati dengan sendirinya. Dan mungkin untuk permulaan rasa sakit yang tidak tertahan perlahan-lahan akan membawa-mu pada ajal yang sudah pasti siap menjemput-mu


Dengan keadaan kedua tangan yang sudah mendapatkan cengkraman erat dari kedua anak buahnya. Rafa dengan paksa ia mencoba memaksa Putri untuk membuka mulutnya secara lebar. Akan tetapi bukan Putri namanya jika dia tidak akan melakukan hal untuk menolongnya dirinya sendiri.


Kedua tangan Rafa yang berusaha membukanya, Putri gunakan kesempatan ini untuk mengigit-nya secara kasar dan akhirnya darah berhasil keluar dari tangan Rafa sendiri setelah Putri yang berhasil mengigit sudut jempol Rafa yang membuatnya meringis kesakitan.


Akan tetapi bukan Rafa namanya jika ia akan terdiam tanpa melakukan perlawanan yang lebih kasar yang akhirnya usahanya pun berhasil setelah ia memasukan 5 bulir pil tersebut tepat pada mulut Putri. Dan memaksanya untuk meminumnya beberapa cegukan air mineral yang dibawa Rafa.


Merasa lemas pada peperangan yang barusan ia hadapi yang akhirnya dia kalah setelah usahanya tak juga mendapatkan hasil yang sempurna.

__ADS_1


Wajah Putri nampak pucat, pandangannya mulai buram dan berkunang-kunang.


"Gawat ada mobil yang mulai mendekati mobil kita aku perhatikan sedari tadi ia berusaha mengejar kita bos," ucap anak buah Rafa yang melihat mobil hitam mulai mendekatinya.


"Rencana-ku sudah berhasil jadi tingal kamu yang merasakan efek luar biasa dari obat itu sayang. Maafkan Papa karena Papa tidak menginginkan-mu Babay," ucap Rafa yang akhirnya memaksa Putri untuk segera turun dari mobil, sedangkan Putri terlihat dari wajahnya tidak bereaksi menjawab ucapan yang barusan diucapkannya.


Berada dipinggir jalan dalam keadaan sedikit linglung, mobil yang ditumpangi Rafa akhirnya kembali melajukan laju kendaraannya lagi setelah sebuah mobil yang melajukan kendaraannya cukup cepat menuju kearahnya.


Setelah perginya Rafa, tibalah mobil yang tadinya sudah membuat Rafa dan timnya panas dingin.


Segera turun seseorang dari pemilik mobil itu pun menghampiri Putri yang keadaannya cukup membingungkan.


"Kak Putri kak Putri tidak apa-apa? Apa yang dilakukan mereka Kak apa?" pertanyaan Milli tak dihiraukan oleh Putri.


"Kak? Milli sedang berbicara dengan Kak Putri kenapa Kak Putri malah diam seperti ini, Kak jawab pertanyaan Milli jangan bikin Milli bingung!"


Belum juga Milli selesai mengucapkan katanya, ringisan sakit tiba-tiba menyerang Putri. Meringis kesakitan sejadi-jadinya membuat Milli yang berada dihadapannya menjadi takut.


"Kak Putri kenapa? Kak, Kakak kenapa?"


Mendengar teriakannya yang semakin menjadi beberapa orang menghampirinya setelah melihat seseorang wanita yang bersimpuh diaspal dan berada dalam pelukan wanita lain dalam keadaan darah segar bercucuran pada Wanita salah satunya.


"Astaga ada apa ini Mbk kenapa teman anda kesakitan seperti ini?"


"Maaf Pak bisa bantu saya untuk membawa Kakak-ku pergi ke-rumah sakit dia habis dicelakai seseorang," ucap Milli kemudian mendapatkan anggukan dari seseorang itu.


"Baik Mbk silahkan masuk kedalam mobil biar saya yang membantu menyetirnya," timpal laki-laki itu kemudian membopong tubuh Putri yang terlihat dari sangat lemas dan terus meringis tanpa henti.


"Aku mohon kak Putri harus kuat kak Putri harus kuat, Milli ada disamping Kak Putri jadi kak Putri harus kuat," ucap Milli yang tangisannya tak bisa berhenti melihat wanita disampingnya seperti mayat hidup yang terdiam tapi kedua matanya masih terbuka.


"Aku tidak tahu perasaan apa yang terjadi ini, tapi kenapa melihat Kak Putri meringis seperti ini kenapa hatiku rasanya sangat sakit. Bahkan luka yang barusan diberikan olehnya aku sama sekali tidak merasakan rasa sakit dari luka ini, perasaan apa ini?" batin Milli yang berusaha tetap tenang, beberapa kali Milli mengusap kepala Putri agar ia bisa merasa tenang.

__ADS_1


Ambulan dengan cepat telah sampai disalah satu Rumah sakit Citra Medika yang kebetulan lokasinya yang tak jauh dari tempat lokasi kejadian.


Monika yang berada diatas brankar Rumah sakit dengan cepatnya orang-orang pun mendorongnya, dan langsung memasukkannya keruang ICU lantaran kondisinya yang sudah sangat memperihatinkan, dan harus segera ditangani dengan segera.


"Saya mohon selamatkan dia Dok, saya mohon berapapun biayanya biar saya yang membayarnya asalkan dia harus selamat Dok.


"Anda tenanglah kami akan melakukan yang terbaik untuknya.


"Baik Dok.


"Kamu bodoh Milli kamu kurang cepat menolong kak Putri kamu sangat bodoh! Aku harus menelfon keluarganya kak Putri mungkin handphone ini aku bisa menghubunginya.


Menekan salah satu nomor yang tertera pada layar ponsel atas nama Revan ( Suami). Milli segera menghubunginya.


Sedangkan Revan sendiri yang baru aja pulang sampai dikediamannya. Handphonenya tiba-tiba berbunyi atas nama Putri.


"Putri? Untuk apa dia menelfon-ku? Dia tidak seperti biasanya meneleponku seperti ini apa dia ingin aku menjemputnya?"gumamnya pada dirinya sendiri.


"Iya Putri ada apa? Apa kamu sudah sampai di-rumah?" tanya Revan, tapi wajahnya nampak terkejut setelah balasan seseorang itu sangatlah berbeda dengan suara Putri.


"Ini siapa? Kenapa Hp Istriku bisa ada di kamu?"


"Maaf saya hanya ingin memberitahu jika Putri baru aja menggalami kecelakaan. Dan sekarang dia berada di-rumah sakit Citra Medika jadi cepat kemari-lah.


"Astaga Baiklah aku akan segera kesana sekarang!"


Tanpa menutup telfonnya, Revan berlari cukup tenaga masuk kedalam mobilnya. Dan menjalankan laju kendaraannya cukup tinggi.


Sedangkan Nina yang melihat Revan dipenuhi dengan rasa kepanikan mendengar kabar kecelakaan yang dialami Putri. Ia nampak tersenyum sinis, kemudian langkahnya ikut mengejar Revan.


MAAF YA KALAU UPDATENYA SEDIKIT-SEDIKIT LAGI TIDAK PUNYA KUOTA DITAMBAH LAGI BULAN DEPAN LAGI IKUT KEJAR KATA

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2