JERATAN CINTA ISTRI YANG TERHINA

JERATAN CINTA ISTRI YANG TERHINA
SALAH SANGKA


__ADS_3

Pagi yang cerah telah terlihat telah menampakkan sinarnya hinga menembus gorden jendela. Sedangkan Milli yang perlahan-lahan mulai menggerakkan badannya.


Membuka matanya secara perlahan sambil mengumpulkan nyawanya. Hampir saja dia berteriak saking kagetnya ia menyadari jika ia terbaring diatas ranjang dengan hanya balutan pakaian dalamnya.


Sedangkan Gibran yang sedari malam mengunci dari dalam ruangan kamar mandi, ia dikejutkan dengan teriakan Milli yang seketika mengejutkan dirinya dan akhirnya dengan sigap langsung bangkit dari tempat biasa ia melakukan ritual mandinya.


"Astaga siapa yang teriak-teriak sih gak lihat apa kalau lagi tidur juga!"kesalnya Gibran, ketika membuka mata ia terkejut lantaran dimana ia berada sekarang.


"Astaga apa tadi malam aku bermalam disini?"gumam Gibran pada dirinya sendiri, sedangkan Milli.


"Astaga apa yang barusan terjadi padaku tadi malam, bukankah tadi malam aku pergi ke pesta reuni sendirian. Tapi kenapa sekarang aku malah tidur di ranjang seperti ini? Rumah ini bukannya kos-kosannya kak Putri?"batin Milli yang terus-menerus memikirkan apa yang terjadi pada tadi malam.


"Ini ... Apa yang terjadi kenapa aku bisa hanya berpakaian dalam seperti ini!"gumamnya yang merasa heran, segera memunguti semua pakaiannya, Milli yang berniat ingin pergi ke-kamar mandi ia terkejut lantaran kamar mandi itu terkunci dari dalam.


"Ini pintu kenapa bisa terkunci dari dalam apa jangan-jangan ada seseorang didalam sini? Dan tadi malam apa yang sebenarnya terjadi?"


Mengetuk pintu dengan sangat keras hinga membuat Gibran yang tidak berani keluar sedari tadi pun berani untuk angkat bicara.


"Hay siapa didalam sana apa kamu seorang penjahat siapa kamu?"


"Milli dia sudah bangun syukurlah, tapi apa yang akan ia pikirkan mengenai diriku nanti?" gumamnya segera ia pun bangkit, sebelum ia membuka ia pun bertanya terlebih dulu apa Milli masih telanjang.


"Aku bilang siapa kamu cepat keluarlah!"


"Apa kamu sudah berpakaian wanita gila?"teriak Gibran dari dalam kamar mandi, sedangkan Milli yang belum sadar ia masih telanjang yang hanya mengenakan pakaian dalamnya.


"Gila apa yang kamu pikirkan Milli kenapa kamu tidak mengenakan pakaian kamu!"kesalnya yang terlebih dulu langsung memakai kembali pakaiannya.


"Keluarlah aku sudah mengenakan pakaianku!"balas Milli yang sudah berjaga-jaga diluar pintu. Ketika Gibran membuka pintu dan tepat dihadapan Milli, Milli akhirnya melayangkan satu tamparan yang tepat mengenai pipi kanannya.


"Kamu? Apa yang kamu lakukan kenapa bisa-bisanya kamu menamparku apa kamu sudah gila?"


"Aku gila? Harusnya aku yang bilang kalau kamu itu Laki-laki gila! Apa yang barusan kamu lakukan tadi malam apa kamu benar-benar menodai-ku ayo jawab?"


"Menodai-mu yang benar saja tidak aku tidak pernah melakukannya!"


"Terus kalau kamu tidak pernah menodai-ku kenapa aku bisa bertelanjang seperti tadi di-ranjang dan dikamar mandi yang ada kamu apa itu masuk akal kalau kamu tidak menodai-ku?"gertak balik Milli.


"Sekarang aku tanya jika aku menodai-mu apa kamu punya bukti? Atau gini apa kamu ada luka memar mau pun memerah pada wajah mau pun leher mau pun tubuh kamu tidak kan?"


"Dan ini? Apa kamu lihat ini?"ucap balik Gibran yang menunjukkan luka memerah pada leher sebelah kanan.

__ADS_1


"Leher kamu kenapa memerah siapa yang melakukannya?"tanya Milli dengan wajah penasarannya.


"Kamu masih bisa tanya apa kamu gak ingat dengan apa yang barusan kita lakukan tadi malam? Maksudnya apa yang barusan kamu lakukan padaku tadi malam?"


"Memangnya apa yang sudah kita lakukan? Maksudnya apa yang sudah aku lakukan tadi malam bersamamu aku gak mungkin jadi penyebab leher kamu memerah kan?"tanya Milli nampak malu dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Ingat, ingat sendiri apa yang barusan kamu lakukan padaku yang jelas aku tidak mau mengungkitnya lagi. Ini sudah jadi kasus pelecehan seksual terhadap seorang laki-laki apa kamu paham!"


"Tapi kamu gak akan bilang pada siapa-siapa kan? Pada Kak Putri mau pun Revan?"


"Jika aku mengatakan masalah ini pada mereka yang ada aku sendiri yang malu. Karena selama ini adanya itu laki-laki yang menodai oleh Wanita! Bukan Wanita yang menodai seorang laki-laki jadi percuma aku mengatakannya, jadi sudahlah kamu cepat pergi sekarang cepat!"


"Baiklah aku akan pergi.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


"Gibran kamu itu darimana aja sih kenapa sekarang kamu baru aja datang!"


"Maaf Tuan tadi dijalan agak mancet. Dan saya sendiri tadi malam juga kurang tidur alhasil aku kesiangan bangunnya sekali lagi maaf Tuan!"


"Baiklah jangan dibahas ayo kita pergi sekarang!"


Hendak akan pergi, pandangan Revan teralihkan pada depan mobilnya yang terlihat penyok.


"Ini? Ini kenapa bisa penyok seperti ini apa yang sudah kamu perbuat?"tanya Revan dengan tegas.


"Astaga tadi malam aku sempat menabrak mobil Pria bajingan itu astaga Gibran bodoh! Bodoh!"batinnya yang bingung ingin mengatakan apa.


"Gibran aku sedang bertanya padamu apa yang terjadi ini?"bentak Revan dengan jarinya yang menunjuk kearah mobil.


"Maaf Tuan kemaren sore disaat saya sudah mengantar tuan, dijalan saya tidak sengaja hampir ingin menabrak kucing manis yang sedang mengandung. Jadi daripada aku mengorbankan kucing manis sekaligus ada dedek bayinya lebih baik aku korban mobil ini saja, mobil ini kan bukan milikku jadi aku aman. Dan kemudian aku menubruk-kan mobil kepohon yang terdiam" jawab Gibran dengan langsung.


"Terus kalau udah kaya gini siapa yang akan ganti?"


"Ya yang ganti ya akulah Tuan, tapi uangnya pake uang tuan," balasnya dengan senyum nyengir.


"Astaga baru kali ini aku menghadapi Sekretaris gila seperti ini!"


"Ya sudah Tuan yuk mari jalan!"pinta Gibran, Revan yang hendak akan jalan ia melihat leher Gibran yang terdapat-lah santoplas.


"Gibran leher kamu terluka? Kenapa kamu kasih itu?"

__ADS_1


"Yah mata tuan ini kejam banget sih, tuan gak perlu khawatir aku baik-baik saja kok ini hanya luka dikit!"


"Aku belum selesai ngomong, cepat kamu buka?"


"Buka untuk apa?"


"Tidak ada penolakan ayo buka!"


"Tidak aku tidak mau!"ucap Gibran yang tanpa berkata lagi Revan langsung menariknya dan akhirnya apa yang tidak diinginkan Gibran pun dilihat oleh Revan.


"Gibran leher kamu kenapa memerah kamu? Kamu habis melakukan apa tadi malam?"


"Merah apa maksud Tuan aku tidak mengerti?"balas Gibran yang hendak akan pergi, tapi Revan menghalanginya.


"Jangan pernah pergi sebelum kamu jawab pertanyaan aku ini bekas luka apa itu? Gak mungkin ini luka akibat terkena setir mobil kan?"


"Sial ini gara-gara bekas ciuman yang Milli lakukan tadi malam dia benar-benar gadis gila bagaimana bisa ia melakukan hal menjijikkan seperti ini pada seorang laki-laki?"batin Gibran yang merasa frustrasi dan bingung ingin mengatakan apa.


"Kamu lagi memikirkan apa? Benar kan kalau tadi malam kamu baru aja melakukan sesuatu apa kamu melakukannya pada kekasihmu?"


"Tuan ini jangan ikut campur. Aku memang Sekretaris tuan tapi jika menyangkut soal hubungan lupakanlah aku tidak mau mengungkitnya lagi," balas Gibran mencoba mengalihkan pada pembicaraan lain.


"Hay aku belum selesai bicara sama kamu. Aku tidak masalah jika kamu melakukannya dengan kekasihmu, tapi kekasihmu ini sungguh-sungguh seorang Wanita kan?"


"Maksud Tuan? Tuan mau bilang kalau aku adalah laki-laki homo?"


"Aku tidak menuduh tapi aku hanya punya firasat, selama ini aku tidak melihat kamu senyum-senyum sendiri layaknya seseorang yang lagi kasmaran. Dan sekarang tiba-tiba terdapat bekas merah gak mungkin kan kalau kamu mempunyai seorang kekasih dalam waktu satu jam. Dan akhirnya malam harinya kamu mengajaknya melakukan hal menjijikkan itu jadi ya aku anggap bisa jadi kamu menyewa seorang wanita atau gak ya kamu melakukan hal yang aku maksud tadi?"


"Tuan ini memang lagi banyak masalah tapi seenggaknya tuan harus sadar dan ingat pada yang disaat jangan hanya karena masalah otak Tuan lagi ikut geser sampai-sampai punya pikiran seperti itu


"Baiklah kalau kamu tidak mau aku menuduh-mu cepat kasih tahu aku siapa yang melakukannya? Atau gini kamu tunjukkan foto kekasihmu itu biar aku gak berburuk sangka padamu ayo tunjukkan?"


"Mati aku kenapa masalahnya jadi serumit ini sih?"


"Kamu bisa gak menjelaskan semuanya atau gak kamu kasih aku foto seseorang itu kamu pasti malu kan jadi itu udah menunjukkan kan kalau kamu memang Laki-laki homo?"


"Baik kalau tuan tidak percaya Baiklah aku akan tunjukkan secara langsung siapa seseorang itu jadi besok datanglah langsung ke restoran karena Disana tuan akan tahu seperti apa wajah cantik dari Kekasihku itu apa tuan puas sekarang


"Aku belum merasa puas jika belum melihat langsung siapa wanita itu baiklah aku tunggu kedatangannya besok


"Baiklah!"

__ADS_1


"Satu masalah belum selesai kenapa sekarang ada masalah lagi sih soal!"kesal Gibran yang mengacak-acak rambutnya sendiri.


BERSAMBUNG.


__ADS_2