
"Milli ini udah malam apa kamu tidak ingin pulang?"
"Iya sebentar lagi Kak Milli masih betah disini kok.
"Baiklah kalau gitu. Ya sudah aku ingin mandi jadi kamu gak masalah kan kalau aku tingal kamu sendiri dulu?"
"Iya gak papa kok kak."
"Ya sudah kalau gitu."
Berjalan memasuki kamar mandi sembari membawa handuknya. Milli yang melihat Putri sudah masuk kedalam ruangan mandi, ia segera pergi ke kamarnya untuk mencari sesuatu.
Melihat sisir yang berada diatas meja riasnya. Milli segera mengambil sempel rambut itu untuk ia gunakan sebagai sempel tes DNA akan siapa sebenarnya Putri.
"Maaf Kak aku harus secara diam-diam seperti ini. Aku melakukan semua ini karena aku sangat penasaran ada hubungan apa diantara kita karena jujur entah kenapa aku merasa sangat nyaman jika berada disamping Kak Putri. Jadi mungkin dengan cara inilah aku bisa tahu siapa sebenarnya kak Putri!"
Memasukkan Sempel itu dari dalam plastik bening, ia segera kembali keruang tamu sembari menikmati cemilan dan menonton acara tv.
Tak lama hadir Revan yang tiba-tiba datang tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.
"Kak Revan kenapa datang kesini?"
"Ini kan rumah istriku apa itu salah?"
"Astaga ditanya baik-baik juga," timpal Milli terlihat kesal.
"Dimana kak Putri?"tanya balik Revan.
"Apa kamu sedang bertanya padaku?"tanya balik Milli.
"Tidak. Aku bertanya pada Mak lampir ya jelas tanya sama kamulah kan hanya kamu yang ada disini!"
__ADS_1
"Dimana dia?"
"Mana aku tahu dia kan Istrimu kenapa kamu malah bertanya balik kepadaku?"
"Astaga ternyata aku salah bertanya pada seseorang," balas Revan sembari mengacak-acak rambutnya.
"Revan kamu kok malam-malam gini tiba-tiba datang kesini ada apa?"sahut Putri setibanya keluar dari kamar mandi.
"Ti ...tidak ada apa-apa kok Put, oh iya apa aku boleh menginap di sini?"
"Menginap?"
"Iya menginap?"
"Ehem ternyata ada yang kangen juga.
"Kangen siapa?"
"Siapa yang gak mau jujur?"
"Oke ... Oke aku ngerti apa maksud kamu. Baiklah aku akan pergi dan nikmatilah masa-masa romantis kalian ya dah."
Membiarkan mereka berduaan Milli segera pergi meninggalkan mereka. Sedangkan Putri mau pun Revan terlihat canggung, menatap satu sama lain tapi tak berangsur lama.
"Ya sudah karena ini udah malam silahkan istirahatlah," balas Putri kemudian ia masuk kedalam kamarnya. Revan yang melihatnya ia juga merasa rasa kecanggungan yang sama.
"Baiklah kamu istirahat dulu aku ingin mandi," balasnya segera ia pun masuk kedalam kamarnya.
Melihat Putri terduduk santai diatas ranjang sembari membawa buku. Revan yang melihatnya ia nampak bingung dari mana ia akan memulai awal pembicaraannya.
"Ma ...maaf Put aku ingin tidur bisakah kamu memberikan aku satu bantal?"
__ADS_1
"Baiklah ini," balas Putri dengan memberikan satu buah bantal beserta selimutnya.
Hendak akan pergi setelah mendapatkan bantal yang ia inginkan. Putri segera memangilnya yang akhirnya langkah Revan pun terhenti.
"Revan aku ingin bertanya padamu?"
"Bertanya soal apa?"
"Kita kan sudah menjadi sepasang Suami-istri jika kamu berniat ingin tidur di-satu ranjang denganku aku tidak masalah kok," balas Putri kemudian Revan pun membalasnya.
"Apa kamu serius tidak keberatan?"
"Iya aku tidak keberatan jadi silahkan tidurlah, jika kamu tidur di kursi yang ada badan kamu akan merasa sangat sakit lantaran kursi-ku bukanlah Sofa empuk yang biasa dijadikan tempat tidur," balas Putri lagi.
"Baiklah kalau itu keinginan kamu," balas Revan yang nampak bingung mau berkata apa lagi.
"Oh iya apa Nina sudah tahu kalau kamu tidur disini?" tanya Putri.
"Iya aku tadi sudah memberitahunya jadi kamu jangan cemaskan soal itu," balas Revan.
"Baiklah kalau gitu selamat malam dan tidurlah.
"Baiklah.
Tertidur dalam keadaan Putri yang memiringkan kepalanya membelakangi Revan, air matanya tiba-tiba terjatuh entah apa yang membuatnya bisa menitihkan air mata ini.
"Aku sudah memiliki seorang Suami tapi kenapa aku merasa bukanlah siapa-siapa. Aku sadar pernikahan ini hanya karena paksaan, tapi apa dalam hati Revan sama sekali tidak tersisihkan satu buliran nama aku didalam hatinya?" batin Putri secara perlahan ia pun mengusap air matanya.
Tak jauh berbeda dengan apa yang dialami Putri. Revan yang juga sama-sama membelakanginya nampak raut wajah sedihnya tidak bisa lagi ia bohongi. Biar pun ia terlihat tidak perduli mau pun perhatian kepadanya tapi apa yang ia lakukan saat ini sudah seperti ia berusaha melindunginya biar pun usahanya tidak terlihat oleh Putri.
"Maafkan aku Putri mungkin kamu berfikir aku adalah laki-laki bodoh yang hanya bisa memanfaatkan keadaan dalam kesempatan, tapi asal kamu tahu aku melakukan semua ini karena terpaksa aku tidak mungkin akan membiarkanmu berlarut-larut dalam kesedihan apalagi sekarang orang yang sangat kamu takuti sudah berhasil melarikan diri dari dalam sel tahanan sana," batin Revan yang akhirnya ia pun memejamkan keduanya matanya.
__ADS_1
BERSAMBUNG.