
"Kemana kamu membawaku pergi, kamu gak lagi mencoba mengerjai ku kan?" tanyanya yang kemudian Putri memerintahkan Gibran untuk pergi setelah mengantarkan mereka.
"Kita sekarang sudah sampai ditempat yang dimana tempat ini adalah tempat favoritku dan termasuk ini juga tempat favorit kamu sendiri. Dan disini sangatlah indah dan udaranya juga sangat segar, pastinya kamu juga bisa merasakannya kan sekarang?"
"Iya, aku memang bisa merasakan udara disini, tapi sayangnya aku tidak bisa melihat seperti apa pemandangan indah yang kamu maksud. Dan aku tidak percaya kalau tempat ini seindah yang kamu katakan tadi, bagiku tempat ini sangatlah biasa sama halnya seperti tempat yang lainnya. Jadi sudahlah ayo kita pergi sekarang aku tidak betah disini jadi ayo kita pergi," ajaknya yang berniat akan pergi tapi Putri melarangnya.
"Apa kamu berkata seperti itu karena kamu tidak percaya dengan apa yang aku katakan barusan. Dan satu hal lagi disini dipenuhi dengan ribuan bunga mawar putih mau pun mawar merah dan mungkin sekarang nampaknya biasa lantaran bunga-bunga disini belum bermekaran secara serentak dan nanti tanggal 20 yang dimana jika dihitung 20 hari untuk melihat pemandangan indah itu jadi pertanyaan ku apa kamu bersedia menemaniku untuk datang lagi kesini?"
"Kenapa kamu sangatlah bodoh Putri, kamu kan sudah lihat kalau aku ini buta dan apa gunanya aku harus datang lagi ketempat ini jika pada kenyataannya aku tidak bisa melihat semua pemandangan ini. Dan mungkin jika aku akan hadir dan melihat semuanya mungkin itu hanyalah mimpi, mimpi yang tidak akan pernah terjadi.
"Terus jika pada kenyataannya mimpi itu beneran bakal terjadi. Dan kamu bisa mendapatkan pendonor kornea mata apa kamu beneran akan hadir ditempat ini untuk melihat semua ini?
"Jika aku beneran mendapatkan pendonor dan bisa melihat semuanya aku sendiri yang akan datang kesini. Tapi jika nanti kamu mengajakku untuk datang pada tanggal 20 maaf aku tidak bisa maaf!"
"Baiklah aku tidak akan memaksamu. Dan aku yakin cepat atau lambat ucapan ku bakalan terjadi dan aku sangat yakin jika suatu saat nanti kamu pasti bakal mendapatkan pendonor aku yakin itu,"
"Kenapa kamu sangat yakin dengan ucapan mu itu? Apa kamu seorang peramal?" mendengar ucapan Revan, Putri hanya tersenyum.
"Aku tidak tau lagi dengan cara apa aku bisa memberimu semangat karena jujur aku sendiri tidak yakin apa kamu mampu bisa melihat lagi,"batin Putri yang akhirnya terdiam dengan pandangannya yang secara diam-diam memandang Revan.
__ADS_1
"Putri. Kamu masih ada di sampingku kan? "tanya Revan yang kemudian membuat lamunan Putri tersadar.
"Iya aku masih ada disini, kamu tenang saja aku tidak akan pernah lagi meninggalkan kamu tapi sebelum itu ada sesuatu yang ingin aku tanyakan ke-kamu?"
"Apa yang ingin kamu tanyakan?"balas Revan.
"Apa kamu sangat ketakutan ketika merasakan rasa sakit yang tiba-tiba menyerang-mu secara memba*i buta?"
"Bagiku merasakan rasa sakit tidak lagi membuat ketakutan ku timbul dalam hati ini. Karena sejujurnya ketakutan ku yang sesungguhnya adalah aku takut jika tiba ajal ku nanti, aku belum mendapatkan pintu maaf darimu hal itulah yang membuatku semakin takut akan hukuman yang akan aku dapat di alam sana.
Akan tetapi sekarang aku cukup lega setelah mendapatkan pintu maaf darimu aku cukup sadar jika sekarang sudah tidak ada lagi ketakutan yang aku alami, jika suatu saat nanti tuhan menjemput ku, aku sudah siap karena dengan begitu aku tidak akan menaruh banyak luka termasuk tidak bisa lagi untuk melukai ku terima kasih Put, terima kasih karena kamu sudah banyak memberikan aku kesempatan terima kasih.
Sedangkan Putri yang mendengar akan curhatan Revan, yang bisa ia lakukan hanyalah mendekap tubuh Revan bahkan suara tidak bisa lagi ia ucapkan.
Keduanya yang terlihat masih nampak menikmati akan udara segar yang menyentuh kulit mereka. Keduanya masih terbawa suasana, posisi Revan yang tertidur dipangkuan Putri menambah aura keharmonisan mereka terlihat kembali akur.
Putri yang melihat Revan terdiam dalam tidurnya ia mencoba menanyakan sesuatu padanya.
"Apa kamu sudah tidur?"tanya Putri, tak lama Revan perlahan-lahan membuka matanya.
__ADS_1
"Aku tidak bisa tidur kenapa?"
"Kamu sudah mengungkapkan semuanya yang sudah kamu pendam selama ini, jadi sekarang giliran aku yang memberikan kamu pertanyaan, aku ingin kamu menjawabnya dengan jujur akan pertanyaan ini?"
"Kamu ingin bertanya apa?"
"Pertanyaan ku gak sulit aku hanya ingin tanya apa kamu bersedia untuk kita rujuk kembali? Aku ingin kita kembali seperti semula, aku ingin hubungan kita diakui sebagai pasangan Suami-istri lagi jadi kamu bersedia kalau kita rujuk lagi?"
Belum juga Revan membalas akan pertanyaan Putri barusan, tiba-tiba Revan melepaskan pelukannya secara langsung dengan lunglai dan tatapan kosong miliknya, Pria itu memegang kepalanya dengan erat setelah rasa sakit yang tiba-tiba menyerang dirinya.
Melihat Revan yang kesakitan tidak berdaya, Putri hanya mampu mendekap tubuh Revan dengan erat dan berteriak sekeras mungkin meminta pertolongan.
Rasa sakit yang tidak tahan akhirnya membuatnya pasrah dengan jatuh pingsan tepat berada di pelukan Putri.
"Revan bangun! Revan bangunlah jangan bikin aku panik Revan bangun!"
"Apa yang terjadi?"tanya Gibran setibanya ia dihadapan mereka.
"Revan tadi menjerit kesakitan cepat kita larikan dia ke-Rumah sakit!"
__ADS_1
"Baiklah,"balas Gibran yang langsung memasukkan Revan kedalam mobil.
BERSAMBUNG.