
"Monika sayang kenapa kamu sayang kenapa kondisi kamu jadi seperti ini, kenapa?"
Ucapnya yang baru saja terucap. Tak lama langkah seseorang mulai menghampirinya hinga membuatnya terkejut akan siapa seseorang yang memegang pundaknya saat ini.
"Rafa? Kamu kenapa bisa ada disini Nak, siapa yang sudah memberitahu-mu?" tanya Mamanya, tapi Rafa nampak panik.
"Ma gimana keadaan Monika sekarang? Gimana kondisinya apa dia terluka parah?" tanyanya dengan wajah penuh dengan kecemasan.
"Mama tidak tahu Raf, Mama baru aja datang kita tunggu Dokter keluar dulu barulah kita bisa tanya mengenai kondisi Monika saat ini.
Rafa mondar mandir di depan ruangan UGD, dia khawatir terjadi sesuatu dengan Monika dan juga calon buah hatinya. Tak lama seorang dokter wanita pun keluar dari dalam ruangan itu.
"Dokter, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Rafa berjalan kecil menuju arah dokter wanita itu.
"Maaf Pak, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun janin yang sedang dikandung oleh istri tuan tidak terselamatkan," ucapnya.
"Istri anda mengalami pendarahan yang cukup banyak. Beruntung beliau masih selamat karena menurut salah seorang yang membawa Istri Bapak ke-rumah sakit, dia korban tabrak lari semalam dan baru di temuannya sekitar 20 menit kemudian," timpalnya.
"Saya boleh masuk?" tanya Rafa.
"Silahkan, tapi jangan sampai mengganggu pasien ya pak."
Rafa bergegas masuk kedalam UGD, perasaannya hancur ketika melihat Monika terbaring lemah diatas brankar. Dengan posisi kepala diperban, tangan di infus, hingga harus memakai selang oksigen di hidungnya.
Kini hanya tinggal Monika dan Rafa di ruangan itu. Rafa benar-benar merasa pikirannya sudah dipenuhi dengan amarahnya yang seketika memuncak.
Rafa duduk dengan posisi tangannya memegang satu tangan Monika yang masih terbaring tidak sadarkan diri. Dia terus menerus meminta maaf, namun semuanya benar-benar sudah terlambat untuk di sesali.
Rafa melihat ada pergerakan dari tangan Monika, kemudian mata Monika yang sedang berusaha membukanya. Segera Rafa memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Monika.
__ADS_1
Tak lama seorang dokter menghampiri Rafa dan masuk kedalam ruangan itu. Kini Monika sudah membuka matanya, namun masih belum benar-benar sadar.
"Ibu Monika, bisa lihat saya?" tanya dokter itu perlahan, memastikan bahwa pasiennya baik-baik saja dan tidak ada masalah apapun yang mengkhawatirkan lagi setelah keguguran.
Monika mencoba untuk melihat sekitar, dia masih belum menjawab pertanyaan dokter tadi. Namun beberapa menit setelah itu Monika mulai mengeluarkan suara.
"Saya dimana?" tanya Monika dengan posisi menatap langit atap rumah sakit.
"Bu Amel ada di-Rumah sakit, kemaren anda menjadi korban tabrak lari. Tapi tenang saja ya, alhamdulillah saya sudah periksa tadi kondisinya semakin membaik." ucapnya, dokter itupun mencoba menjelaskan secara perlahan agar dirinya tidak syok.
"Kandungan saya gimana? Dia baik-baik aja kan?" tanya Monika, dengan posisi memegang perutnya itu.
Plakk!
Pertanyaan itu, seperti tamparan untuk Rafa. Sebentar lagi Monika akan mengatahui bahwa dia telah kehilangan janinnya.
Dokter pun mencoba untuk menjelaskan secara pelan-pelan.
"Jadi, bayi saya meninggal? Saya keguguran?" tanya Monika, suasananya mulai berbeda. Karena Monika berusaha untuk bangun dari posisi tidurnya.
"Dokter, kenapa dokter tidak selamatkan bayi saya?" Monika mencoba untuk protes. Amarahnya sudah memuncak.
"Bu Monika tenang dulu ya, semuanya mungkin sudah takdirnya. Berserah dan terus berdoa sama Allah." Dokter itu pun mencoba untuk memberi pendapat namun Monika menolaknya.
Monika menangis sejadi-jadinya. Dia sangat terpukul karena kehilangan calon buah hatinya itu, baru saja ia mengetahui bahwa dirinya sedang mengandung dan dengan cepat seperti kilat dia harus menerima kenyataan bahwa janinnya sudah tidak ada.
Sangat berat bagi seorang wanita bukan? Anak itu adalah sebuah anugrah, titipan yang harus kita jaga dengan baik, namun Amel merasa sudah gagal menjadi seorang calon ibu karena sudah membuat calon buah hatinya meninggal.
"Sayang, kamu yang tenang. Kamu gaboleh kaya gini pikirin juga kesehatan kamu sekarang karena itu yang terpenting," ucap Rafa, dia memeluk erat tubuh Monika yang masih menangis histeris.
__ADS_1
Monika menepis tangan Rafa, sehingga membuat Rafa kaget dengan apa yang Monika lakukan barusan.
"Ini semua gara-gara kamu! Aku kehilangan bayi aku karena kamu Raf!" Monika menunjukkan telunjuknya tepat di wajah Rafa.
Rafa yang melihat ia terdiam tanpa se'ucap kata. Monika terus menerus menyalahkan Rafa, mungkin karena efek syok mendengar pengakuan pahit dari dokter tadi. Sehingga membuat pikirannya kacau.
"Aku minta maaf Mon, aku menyesal." Rafa mencoba memegang tangan Monika lagi namun dengan secara Monika kembali menipisnya.
"Pergi kamu dari sini, aku gak mau melihat kamu ada disini cepat Pergi!" usir Monika.
"Rafa, sebaiknya kasi waktu buat Monika buat nenangin dirinya dulu ya. Mungkin dia butuh waktu buat sendiri," bujuk Mamanya.
"Baik Ma Rafa akan keluar," balas Rafa nampak pasrah.
Rafa dan Mamanya keluar dari ruangan itu. Monika mungkin benar dia membutuhkan waktu sendiri untuk menenangkan kembali pikirannya yang sekarang sedang tidak baik baik-baik saja.
Setelah cukup menangis, Monika tertidur dengan posisi memiringkan kepalanya, karena kelelahan menangis Monika akhirnya ketiduran.
Disatu sisi Rafa masih menunggu diluar. Dia tidak menyangka Monika akan mengusirnya seperti tadi.
"Suami ga berguna!"
Rafa melihat kearah suara itu. Dia kaget karena sumber suara itu berasal dari mulut Revan.
"Kamu? Apa yang kamu lakukan disini? Berani sekali kamu muncul dihadapan-ku seperti ini apa kamu ingin mati ditangan-ku?" ancam Rafa, selangkah Rafa ingin memukulnya, langkahnya terhenti setelah dua polisi yang langsung menarik dan memborgol kedua tangannya tanpa berkata apapun.
"Lepaskan aku! Lepaskan aku!" gertak Rafa tak tak dihiraukan kedua polisi tersebut.
"Bahkan dalam kondisi seperti ini kamu masih bisa berniat ingin menyingkirkan-ku. Apa kamu sadar Rafa? Monika jadi seperti ini dan kalian kehilangan calon buah hati kalian, semua ini karena keegoisan kalian sendiri. Sifat buruk dan perbuatan buruk yang selama ini kalian lakukan akan kembali pada asalnya. Dan tindakan kamu yang berencana ingin membunuh janin yang ada dikandungan Putri yang jelas-jelas itu adalah anak kandung kamu sendiri? Kamu sadar sendiri kan perbuatan kamu itu telah berbalik lagi menusuk-mu?"
__ADS_1
"Aku tidak terima dengan semua ini. Gara-gara kamu dan Putri aku kehilangan anakku dan juga kepercayaan Monika aku tidak terima. Lihat saja jika nanti aku bebas aku akan membalas semua perbuatan kalian, aku akan membalas kalian semua!" gertak Rafa, berlalu Polisi yang tidak ingin ada keributan mereka segera memaksa Rafa untuk pergi dari sini. Dengan menyeretnya secara paksa akhirnya mereka telah berhasil membawa Rafa masuk kembali masuk kedalam mobil polisi.
BERSAMBUNG.