
"Revan darimana aja kamu kenapa kamu jam segini baru pulang apa kamu lupa selain dia aku juga masih sah menjadi Istrimu apa kamu sudah lupa itu?"
"Maafkan aku Nin jika sekarang aku sudah jarang pulang, tapi aku lakukan semua ini karena Putri sekarang baru aja masuk ke-rumah sakit akibat pendarahan yang ia alami. Apalagi adanya Rafa yang kabur dari dalam sel dan sampai sekarang belum ditemukan membuatku harus menjaga Putri dengan siaga maafkan aku."
"Maaf! Apa kamu pikir dengan kata maaf kamu bisa semudah itu mendapatkan maaf dariku dan bisa pergi begitu saja? Aku tahu saat ini nyawa Putri sedang dalam bahaya karena adanya banyaknya musuh yang mengintainya tapi apa kamu gak sadar siapa aku? Aku ini masih sah menjadi istrimu tapi apa yang kamu perbuat kamu lebih memperdulikan dia dari pada aku? Yang ada dipikiran kamu hanyalah Putri dan Putri apa kamu tidak sadar itu!"
"Nina aku tahu aku salah karena belum adil sama kalian berdua, tapi apa kamu lupa sejak sedari awal aku dan Putri menikah aku lebih memperdulikan kamu dari pada dia. Apa sekarang melihat Putri yang dalam bahaya aku hanya akan diam? Tidak Nin! Dia itu juga teman sekaligus Istriku jadi aku juga harus adil kepadanya. Disini aku akan menyuruh Mama untuk mendampingimu jadi kamu tidak perlu khawatir jika kamu kenapa-kenapa. Aku pulang hanya untuk mengambil baju jadi maaf jika aku harus pergi lagi maafkan aku!"
"Sekarang aku tahu pada awalnya kamu memang tidak pernah mencintaiku Rev? Sejak sedari awal kita menikah kamu hanya menganggap-ku sebagai teman dan itu tidak lebih mau pun kurang sedangkan Putri? Kamu sedari dulu sudah menganggapnya lebih dari seorang teman kan?"
__ADS_1
"Aku males berdebat jadi maaf aku harus pergi."
Tanpa memperdulikan Nina yang air matanya terjatuh dihadapannya. Revan tanpa ada rasa kasihan ia mengabaikannya dan pergi begitu saja tanpa mengucapkan se'ucap kata lagi.
"Sekarang aku juga sadar Rev jika tiba-tiba aku ma*i aku mungkin tidak akan mendapatkan air mata ketulusan dari kedua sudut mata kamu! Aku memang istrimu tapi kamu hanya memperlakukan aku tidak seperti seorang Istri yang butuh perlindungan. Bahkan jika aku mati! Kamu mungkin tidak akan merasakan kehilangan dan sekarang aku menyadari semua itu," ucapnya yang tanpa berkata lagi ia akhirnya masuk kedalam kamarnya.
"Rumah besar dan dengan adanya kemewahan yang aku dapatkan memang berhasil telah aku miliki. Tapi kenapa dengan cinta, keperdulian, ketulusan tidak pernah berpihak padaku. Aku memiliki seorang Suami tapi kenapa Suamiku lebih memperdulikan Wanita lain yang jelas-jelas ia sudah menjadi penghancur dari rumah tanggaku sendiri. Kenapa Put? Kenapa harus kamu sahabat terbaikku yang harus menghancurkan kebahagiaan yang sudah lama aku nantikan kenapa?"
Berada dalam kamar yang mewah nyatanya kamar ini tidak pernah menjadi saksi akan kebahagiannya. Jam yang sudah menunjukkan pukul 20:00 malam tapi tak ada satu pun orang yang menemaninya ia hanya hidup layaknya dalam kurungan kesendirian.
__ADS_1
Sedang dalam meratapi nasibnya tiba-tiba suara ketukan pintu telah terdengar dari luar. Mata Nina yang nampak berpaling dari suara itu ia kemudian menurunkan kakinya menuju kearah suara itu berasal.
Membuka pintu, tapi setelah berhasil terbuka ia tidak melihat akan seseorang yang menunjukkan raut wajahnya.
"Tadi ada seseorang yang mengetuk pintu tapi siapa? Siapa yang datang kenapa tidak ada orang disini?"
Baru juga juga Nina mau menutupnya kembali, sebuah pukulan hebat mengenai tubuhnya yang akhirnya tubuhnya seketika tersungkur.
Bruk
__ADS_1
BERSAMBUNG.