JERATAN CINTA ISTRI YANG TERHINA

JERATAN CINTA ISTRI YANG TERHINA
KABUR DARI PENJARA


__ADS_3

"Tidak Monika sampai mati pun aku tidak akan pernah menceraikan kamu aku tidak mau!" Sekarang hidupku sudahlah hancur bahkan tidak ada satu orang pun yang mau mempercayaiku bahkan itu istriku sendiri sekarang apa yang harus aku lakukan apa aku benar-benar harus melepaskan Monika tidak itu tidak akan pernah terjadi.


Dengan terduduk dan membungkukkan tubuhnya bersender ditembok. Tatapan Rafa menjalar kesemua arah, tatapannya tak henti-hentinya ia alihkan pada arah yang lain untuk mencari cara gimana caranya agar ia bisa terbebas dari sel tahanan ini dengan cara melarikan diri.


"Aku harus secepatnya cari cara untuk melarikan diri tapi dengan cara apa?"


Sesaat pandangannya teralihkan pada satu batang korek api yang tergeletak dibawah tempat kerja salah petugas Polisi yang sedang bertugas.


Tak sadar akan korek apinya yang tergeletak dibawahnya. Tatapan Rafa kemudian berubah dengan senyuman sinisnya, tahu apa yang harus ia lakukan ia hanya berdiam diri sembari memperhatikan suasana yang nampak sibuk.


"Aku hanya perlu menunggu polisi itu pergi, barulah aku bisa menjalankan tugasku selanjutnya?"


Satu buah korek api yang tergeletak tanpa ada satu pun orang yang menyadarinya. Rafa dengan licik ia berusaha mengambilnya dengan sudah payah setelah para polisi yang masih terlihat sibuk dengan urusannya masing-masing.


Menggunakan kakinya sebagai benda untuk meraih korek itu. Akhirnya usaha yang ia lakukan akhirnya membuahkan hasil dan korek api berhasil ia dapatkan tepat ditangannya.


"Maaf Pak apa saya boleh ijin ke-kamar kecil saya sudah tidak tahan lagi," ucap Rafa pada salah satu penjaga.


"Baiklah," balas seseorang itu kemudian Polisi itu pun membukanya.


Berjalan dengan kedua tangannya yang masih terborgol, Rafa menatap suasana untuk memastikan keamanannya. Tepat sampai di-pintu kamar kecil, Polisi itu kemudian membuka borgol sementara dan membiarkannya masuk sendiri kedalam kamar kecil.


Polisi yang tidak tahu lantaran korek itu ia sembunyikan didalam lipatan baju dalamnya.


"Aku sudah berhasil mengatur rencana ini, sekarang gimana caranya aku menyalakan korek ini untuk membakar Kantor kepolisian ini?" batinnya kemudian ia mengeluarkan korek itu dan mencoba menyalakannya.


"Kebakaran... kebakaran.


Tak berselang lama teriakan seseorang yang mengatakan kata kebakaran seketika membangunkan semua orang yang mulai tertidur lelap.


Seketika suasana menjadi runyam dipenuhi dengan kepanikan semua orang berlari kesana kemari untuk memadamkan api.


"Astaga cepat keluarkan semua tahanan dari dalam sel tahanan ini cepat lepaskan mereka. Dan ingat kumpulkan mereka dihalaman cepat!"


"Baik Pak.


"Rencana berjalan sesuai rencana.


Melihat suasana yang terlihat sangat riuh. Sedangkan para Polisi yang membagi tugas antara memadamkan kobaran api yang mulai menyebar kemana-mana, beberapa polisi yang lain sibuk menjaga 50 tahanan dalam satu tempat sekaligus kesempatan ini akhirnya digunakan Rafa untuk mengatur rencana keduanya.


Melihat dua polisi yang sibuk mengatur napi yang lainnya, Rafa gunakan cara ini untuk menyelinap keluar dari kumpulan tahanan ini.

__ADS_1


Suasana yang terbilang agak gelap lantaran sinaran lampu yang mati membuat Rafa mempunyai kesempatan emas ini untuk bisa melarikan diri. Memundurkan diri beberapa langkah, kemudian ia berjalan perlahan-lahan dalam keadaan berjongkok tidak menyadarkan akan polisi yang sibuk mengamankan napi yang lainnya.


Pemadam kebakaran yang sudah datang telah menyurutkan rasa kepanikan para Polisi yang akhirnya tersadar jika salah satu tahanan telah kabur dari kumpulan ini.


"Tunggu kenapa tahanan cuma berjumlah 49 orang?" tanya salah satu Polisi dengan wajah terkejutnya.


"49 tapi tadi saya barusan saja menghitungnya berjumplah 50 orang pak.


"Baiklah cepat hitung kembali.


"Sial salah satu polisi telah melarikan diri, dia pasti tidak masih dekat dari sini cepat kita cari dia.


"Baik Pak.


Bergegas berlari, mencari dari berbagai arah para Polisi itu akhirnya menyisir semua jalanan yang biasa dilalui para pengendara.


Sedangkan Rafa yang mulai panik lantaran ia mendengar suara Polisi seketika membuatnya mati berdiri dipenuhi dengan rasa takutnya.


Salah satu Polisi itu melihat seorang laki-laki yang juga seseorang itu nampak panik setelah melihat balik dirinya.


"Itu dia tahanan itu hey jangan lari ...."


"Sial para Polisi itu sadar kalau aku kabur aku harus pergi sekarang," ucapnya segera ia pun mempercepat jalannya.


Dyar


Dyar


Beberapa tembakan mereka layangkan. Awalnya satu tembakan itu tidak berhasil mengenai dirinya, tapi tak lama kedua tembakan itu tepat mengenai kaki kiri Rafa yang seketika membuatnya meringis kesakitan.


Tak ingin tertangkap lagi, ia melihat arah kiri yang terdapat-lah sebuah jurang tapi kedalamannya tidak terlalu dalam. Menerjunkan diri kedalam itu, tubuhnya seketika tersungkur dan membuat tubuhnya bergelimpangan beberapa kali.


Polisi yang terkejut akan tindakannya, seketika mereka terdiam tak berkutik.


"Sial tahanan itu kabur, cepat carilah senter untuk menemukannya. Dan satu lagi hentikan perjalanan roda empat yang melintasi jalan raya dibawah saya karena ada kemungkinan tahanan itu akan selamat karena jurang ini tidak terlalu dalam. Jadi cepat laksanakan.


"Baik Tuan.


"Sial luka tembakan ini bisa-bisa akan membunuhku kalau aku tidak segera mendapatkan penangangan, tapi jika aku Ke-Rumah sakit aku akan tertangkap lagi jadi apa yang harus aku lakukan sekarang. Ingat Rafa kamu tidak bodoh masih ada jalan keluar dari permasalahan ini yang terpenting sekarang kamu harus lari, kamu harus lari.


Melanjutkan lagi perjalanannya. Dan kondisinya yang pincang, darah segar yang sedari tadi mengalir tiada henti membuat raut wajah Rafa terlihat pucat.

__ADS_1


Berjalan dengan menahan rasa sakit itu. Rafa akhirnya bisa berlega hati setelah arah yang ia lalui tepat disampai jalanan beraspal biar pun jalanan sangat sepi.


Disisi lain dari arah barat terdapat-lah mobil merah yang mulai berjalan kearahnya.


Tak berfikir kedua kali Rafa seketika menghadang mobil merah itu yang akhirnya mobil pun mengerem secara mendadak dan hampir membuatnya tertabrak lagi oleh mobil merah tersebut.


Chit...


Pemilik mobil yang merasa terkejut, ditambah lagi dengan adanya rasa panik lantaran pria itu menghampirinya dan mengetuk-ngetuk kaca mobil layaknya membutuhkan pertolongan.


"Buka pintunya saya mohon buka. Saya akan mengabulkan apa pun yang Anda minta tapi saya mohon buka!"


"Siapa pria itu kenapa dia seperti sedang membutuhkan pertolongan?" batin seseorang itu yang tak lain adalah Claudya.


"Baiklah cepat masuklah!" perintah Claudya yang kemudian Rafa pun memasuki mobilnya.


"Siapa anda kenapa anda senekat itu ingin bunuh diri?"


"Sudah cepat jalankan mobil kamu ayo cepat!"


"Kamu memerintahkan-ku?"


"Kamu tidak lihat kakiku terluka aku harus segera mendapatkan penangangan cepat jalankan!"


"Baiklah aku akan menjalankan mobil ini," ucapnya yang kemudian ia terkejut lantaran melihat baju yang dikenakan Pria itu bertuliskan tahanan.Seketika menghentikan laju kendaraannya.


"Apa yang kamu lakukan kenapa kamu malah berhenti lagi?"


"Ka ... Kamu seorang tahanan apa kamu baru aja melarikan diri?"


"Bukan saatnya aku untuk menjelaskan semuanya pada anda. Aku akan sangat berterima kasih pada anda, tapi saya mohon cepat jalankan kembali kendaraan ini saya mohon!"


"Baiklah saya akan menjalankan lagi laju kendaraan ini, tapi saya mohon jangan bunuh aku saya mohon!"


"Apa aku membawa senjata?"


"Tidak!"


"Bearti jika aku ingin membunuh-mu dengan cara apa aku bisa membunuhmu?"


"Baiklah aku paham kamu tidak perlu bicara lagi aku akan melajukan laju kendaraan ini.

__ADS_1


"Baiklah terima kasih.


BERSAMBUNG.


__ADS_2