
Merebahkan tubuhnya diatas ranjang, memejamkan perlahan kedua matanya tapi nyatanya apa yang telah ia usahakan tidak membuahkan hasil dan membuatnya kembali membuka keduanya kelopak matanya.
"Ah ini kenapa aku tidak bisa tertidur sih, ayo Milli tidurlah ayo ini udah malam jadi tidurlah ... Tidurlah! Apa yang kamu pikirkan ayo tidur!"
Membekap wajahnya sendiri mengunakan bantal tapi nyatanya ia tidak bisa kunjung tertidur.
Sangat berbeda dengan apa yang dirasakan Milli mau pun Putri yang sudah bisa merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya.
Disalah satu Rumah yang terbilang sangat mewah, seseorang baru saja datang, menginjakkan kakinya masuk kedalam rumah membuka penutup makanan tapi apa yang ia lihat hanyalah terdapat pemandangan yang sangat menyakitkan.
Iya biasanya makan malam yang sudah tertata rapi dengan adanya berbagai menu makanan kesukaannya. Kini apa yang ia lihat hanyalah pemandangan kosong yang akhirnya membuat diri Pria itu yang tak lain adalah Revan langsung menghampiri Mamanya yang terlihat bersantai diruang tengah menyaksikan sinetron kesukaannya.
"Ma di dapur kenapa tidak ada makanan sama sekali Mama tidak masak buat makan malam hari ini?"tanya Revan yang nampak kesal.
"Maaf sayang tadi Mama baru aja pulang dari arisan, rencana tadi Mama mau masak buat makan malam kita, tapi entah kenapa Mama merasa pegal-pegal jadi akhirnya Mama urungkan niat Mama untuk memasak. Didalam kulkas ada telor, Mie goreng juga masih tersisa jadi kamu gak masalah kan kalau harus membuatnya sendiri?"ucap Mamanya dengan entengnya.
"Mama, Revan tidak masalah jika Mama ingin ikut arisan dengan teman-teman Mama, tapi apa Mama tidak bisa memikirkan mana yang harus dilakukan dan mana yang harus ditinggalkan. Mama ini sudah cukup umur gak seharusnya Mama ikut bergabung dengan geng sosialita seperti orang-orang, kegiatan itu yang ada hanya akan membuat hidup Mama merasa kurang dengan apa yang Mama miliki jadi Revan mohon untuk kali ini berhentilah mengikuti geng tidak berguna dan tidak ada manfaatnya itu, Revan mohon Ma untuk kali ini Mama mengertilah pada Revan, Revan mohon."
"Sayang kamu itu kenapa sih. Apa hanya karena Mama tidak pernah masak buat kamu dan Mama yang hanya suka beli makanan siap makan apa karena hal ini kamu jadi marah sama Mama sampai-sampai menyuruh Mama untuk berhenti bersenang-senang seperti ini. Ini kebahagiaan Mama Revan, ini kebahagiaan Mama jadi Mama mohon jangan membuat Mama marah, Mama mohon!"
"Baiklah terserah Mama, Mama mau ngomong apa Revan capek dan Revan juga tidak nafsu untuk makan selamat malam." Tanpa berkata sepatah kata lagi pada Mamanya, Revan langsung masuk kedalam kamarnya dan langsung menguncinya dari dalam."
"Anak itu apa yang membuatnya jadi se-marah itu. Apa karena dia tidak punya Istri lagi dia jadi pelampiasan semua kekesalannya pada Mamanya sendiri. Ya kali aku harus merepotkan diri untuk masak ya enggaklah aku juga masih butuh kebahagiaan, aku harus mencarikan Istri baru buat Revan mungkin hanya itu cara satu-satunya bisa terbebas kena amarahnya ia aku harus mencarinya itu ide sangat bagus."
__ADS_1
"Rumah besar dan dengan adanya kemewahan yang aku dapatkan memang berhasil telah aku miliki. Tapi kenapa dengan cinta, keperdulian, ketulusan tidak pernah berpihak padaku.
Berada dalam kamar yang mewah nyatanya kamar ini tidak pernah menjadi saksi akan kebahagiannya. Jam yang sudah menunjukkan pukul 20:00 malam tapi tak ada satu pun orang yang menemaninya ia hanya hidup layaknya dalam kurungan kesendirian.
"Dulu disaat aku menikah dengan Nina aku menyadari Nina tidak pernah memperhatikan ku apalagi memasak buatku. Setelah aku menikah dengan Putri aku baru bisa mendapatkan perlakukan baik karena selain baik ia juga mampu memasak sendiri untuk ku, tapi kenapa sekarang semuanya berjalan dengan sangat cepat bahkan Mama ku sendiri tidak pernah memperdulikan ku apa aku pantas menyebutkan jika kehidupan ku tidak seindah apa yang aku harapkan. Apa aku pantas mengeluh kurang kasih sayang pada Mama ku yang jelas-jelas ia itu Mama kandung-ku sendiri biar pun selama ini aku sudah banyak berkorban untuknya?"
Mengambil sebotol obat kapsul yang ia taruh didalam nakasnya. Mengambil beberapa kapsul yang kemudian ia minum dengan beberapa cegukan air.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
Pagi yang cerah telah menampakkan sinarnya. Revan yang terlihat sibuk mengurus berkas-berkas yang dihadapannya ia nampak frustrasi dengan semua berkas ini. Tak lama ketukan pintu terdengar dari luar.
Tok
Tok
Tok
"Ada apa?"tanya Revan pada seseorang itu yang mulai menghadapnya.
"Apa kamu sudah menjalankan tugas yang saya perintahkan tadi?"tanya Revan pada seseorang itu.
"Sudah Tuan, saya sudah menjalankan perintah yang tuan perintahkan. Sekarang kedua orang itu sudah berada di Seoul dalam keadaan sehat tanpa keadaan apapun. Apa sekarang saya perlu menetap disana untuk menjaga keduanya?"
__ADS_1
"Tidak perlu kamu sudah menjalankan apa yang saya perintahkan jadi terima kasih. Anda sudah boleh pergi pergilah!"perintah Revan.
"Baik Tuan,"ucap seseorang itu yang kemudian ia pun mulai pergi dari pandangan Revan lagi.
"Syukurlah kalian sudah sampai disana jadi tidak ada alasan buat ku untuk mencemaskan kalian,"ucapnya kemudian ia melihat nama salah satu seseorang yang terlihat tertera pada layar ponselnya.
"Dokter Rusli untuk apa dia menelfon-ku? Oh iya sekarang kan tanggal 4 waktu ku untuk melakukan cek up kenapa kamu bisa sampai lupa seperti ini si Revan dasar ceroboh,"ucapnya kemudian ia mengangkatnya.
📞"Iya Dok maaf saya lupa kalau hari ini ada cek up yang harus rutin saya lakukan. Nanti setelah ini aku akan segera kesana terima kasih sudah mengingatkan saya,"timpal Revan pada seseorang yang belum mengatakan sepatah kata pun padanya.
📞"Baik Tuan kalau tuan sudah mengingatnya,"timpal seseorang itu dengan rasa leganya.
ucapnya yang kemudian ia yang hendak akan pergi tiba-tiba tubuhnya serasa sangat berat dan hampir saja Revan terjatuh lantaran tubuhnya tiba-tiba melemah.
Bahkan darah segar tiba-tiba keluar dari lubang hidungnya sesekali ia mengusapnya dengan tissue, tapi darah terus keluar hingga membutuhkan banyak tissue untuk ia gunakan.
"Hampir setiap hari aku mimisan, jadi sekarang sudah tidak ada waktu bagiku untuk bersenang-senang cepat atau lambat aku harus segera melakukan kemoterapi agar penyebarannya melambat,"ucap Revan yang kemudian ia melanjutkan lagi jalannya.
Akhirnya tidak membutuhkan waktu lama ia sampai di salah satu Rumah sakit, menemui salah satu Dokter spesialis, Revan menghadap Dokter itu dan bertanya akan sesuatu yang menimpa dirinya.
"Gimana Dok apa ada perubahan penyakit yang saya derita ini?"
BERSAMBUNG.
__ADS_1