
"Kamu? Apa yang ingin kamu lakukan kenapa kamu tiba-tiba menemui-ku? Dan darimana kamu tahu kalau aku tingal di Apartemen ini?"
"Aku tidak ada waktu untuk membahas masalah yang lain lagi, yang ingin aku tanyakan sama kamu apa sebenarnya yang ingin kamu lakukan apa kamu belum cukup membuat kakak ku berlarut-larut dalam kesedihan? Apa kamu masih belum cukup membuatnya se'menderita ini apa kamu belum cukup menyakitinya?"
"Jadi tujuan kamu hanya itu? Kamu tiba-tiba mengedor pintu ini dengan sangat keras hanya untuk mempertanyakan masalah yang tidak penting ini?"
"Tidak penting kamu bilang? Kamu sudah bikin kakak ku menderita bahkan setiap harinya kamu masih bisa bilang itu tidak penting? Sebenarnya apa yang ada di isi hatimu ini sampai-sampai kamu mempunyai sifat yang sangat-sangat menjijikkan ini?"
"Sudahlah aku malas ribut apalagi mengungkit masalah mantan Istri yang tidak jelas itu. Dia sudah punya Gibran yang mungkin nanti akan menjadi Suaminya jadi sudahlah jangan kamu ributkan itu, atau jangan-jangan kamu memberontak seperti ini karena kamu baru sadar jika kamu mencintai Gibran dan sekarang ternyata dia diam-diam malah mempunyai hubungan dengan kakak kamu itu apa itu alasan yang sebenarnya yang membuatmu jadi semarah ini?"
Plak
"Berhentilah omong kosong karena apa yang kamu pikirkan sama sekali tidak benar. Dan anda?"
Belum juga Milli selesai berdebat dan terus memojokkan Revan akan masalah ini. Wajah Revan seketika berubah memucat, bahkan darah yang seketika mengalir dari hidungnya telah menyadarkan Milli untuk berhenti mengucapkan kata-kata kasar kepadanya.
Pandangannya mulai gelap, ia berusaha menatap kanan mau pun kiri tapi apa yang ia lihat hanyalah bayangan yang tidak cukup jelas dan hanya menyisakan pemandang buram.
Tubuhnya yang seketika hampir roboh, ia berusaha menahannya dengan memegang tembok rumahnya.
Tapi apa yang ia lakukan nyatanya belum sepenuhnya berhasil untuk menahan tubuhnya untuk tidak roboh.
Milli yang melihat darah segar keluar secara terus-menerus dari hidung Revan membuatnya langsung menghampirinya.
"Revan apa yang terjadi denganmu kenapa kamu malah mimisan sebanyak ini kamu kenapa?"
"Aku ingin sendiri jadi pergilah! Ayo pergi!"bentak Revan yang langsung mendorong Milli hinga terjatuh tersungkur. Revan yang berusaha ingin bangkit dari tempat duduknya berusaha apa ia melakukannya tindakannya itu sama sekali tidak membuahkan hasil.
Tiba-tiba mengerang sakit dengan sangat keras, Revan tak henti-hentinya menekan erat kepalanya untuk bisa menenangkan rasa sakitnya ini.
"Revan apa yang terjadi denganmu Revan!"
"Aku bilang pergi! Pergi!"
Berusaha Revan menyuruh Milli untuk pergi tapi tindakannya tak membuat Milli bangkit dari tempat dan pergi dari hadapan Revan. Ia malah semakin menunjukkan kecemasan akan kondisi Revan yang tambah semakin mengerang kesakitan sejadi-jadinya, bahkan wajah pucat yang ia hasilkan membuat Revan menjadi manusia tidak berdaya.
__ADS_1
Kejang-kejang secara tidak terkendali membuat Milli yang melihatnya dengan kedua matanya langsung hanya bisa menangis entah karena diselimuti rasa takut atau rasa kasihan nya.
Kedua matanya yang tiba-tiba tertutup, kedua tangannya yang berhenti melakukan pemberontakan, terdiam bagaikan mayat hidup akhirnya Membuat Mili berani untuk mendekatinya, tapi setelah Milli menghampirinya ia hanya bisa memandang Revan yang hanya sudah dalam kondisi pingsan tidak sadarkan diri.
"Revan bangunlah Revan bangun! Aku harus menelfon Ambulan sekarang!" Bergegas Milli menghubungi nomor darurat yang tercantum dalam ponselnya.
Tak membutuhkan waktu lama akhirnya Ambulan itu pun telah sampai disalah satu Rumah sakit khusus warga Indonesia yang menetap.
Setelah beberapa saat Dokter menanganinya, Dokter pun datang, Milli yang mengetahuinya dia pun langsung bertanya ke Dokter.
"Dokter gimana keadaan teman saya Dok, dia baik-baik saja kan dok, dia tidak kenapa-kenapa kan?"
"Kondisi Revan saat ini sudah sangat memprihatinkan penyakitnya sudah mulai menyebar kebagian yang lain, Jadi cara satu-satunya kita harus melakukan terapi karena dengan begitu kita bisa memperlambat proses penyebaran."
Milli yang mendengar tentang penyakit dia pun kebingungan dan tidak mengerti penyakit apa yang Dokter maksud barusan.
"Tunggu dok? Maksud Dokter apa saya tidak mengerti apa maksud dari omongan dokter barusan. Penyakit, jangan bilang kalau Revan sekarang mengidap penyakit ganas?"
"Jadi anda tidak tau soal penyakit yang diderita oleh Revan, baiklah saya akan jelaskan Revan saat ini sedang mengidap penyakit kanker otak dan sekarang sudah masuk ke stadium 2, dia sudah tidak bisa menunda-nunda lagi sekarang dia harus menjalani kemoterapi sekarang."
"Jadi sampai kapan dia akan bisa bertahan dengan penyakitnya ini Dok?"
"Soal itu saya juga tidak tahu, tapi sebagai seorang teman kamu harus menyemangatinya karena dengan dukungan pasti dia akan bisa melewati semua ini."
"Baik Dok terima kasih."
"Ya udah saya tinggal dulu.".
"Baik dok."
"Jadi ini alasan kenapa sikap Revan jadi berubah seperti ini ia melakukan semua ini karena ia tidak inggin Putri sampai tahu kondisimu saat ini, tapi kenapa kamu harus menyembunyikannya juga kenapa?" ucap Milli yang merasa tidak percaya dengan perkataan Dokter barusan.
Masuk kedalam salah satu ruangan yang terdapat seorang laki-laki yang masih terbaring. Milli segera menghampirinya, sedangkan seseorang itu nampak terkejut dengan siapa yang menghampirinya sekarang.
"Kamu ngapain ada disini?"
__ADS_1
"Tidak penting kenapa aku masih ada disini, kenapa kamu tidak pernah bilang soal penyakit kamu ini? Kenapa juga kamu harus menyembunyikannya dari kita semua kenapa..?"
"Apa maksud kamu aku tidak mengerti?"
"Jadi kamu masih tidak mau ngomong yang sejujurnya sama aku? Kamu masih mau menyembunyikan soal penyakit kamu ini? Apa perlu aku bertanya lagi pada Dokter?"
"Jadi kamu sudah mengetahui semuanya?"
"Iya aku sudah mengetahui semuanya, sekarang aku juga baru sadar kalau mungkin ini alasan yang membuat kamu jadi berubah jadi kasar kan sama Kak Putri. Karena kamu tidak inggin Kak Putri sampai mengetahui tentang penyakit kamu ini kan?"
"Sekarang kamu sudah tahu apa kamu ingin memberitahu Putri soal ini? Atau mungkin Putri juga tidak akan perduli dengan kondisiku lagi!"
"Aku bisa pahami itu seberapa marahnya Kak Putri terhadap dirimu, tapi aku rasa dia akan tambah lebih marah jika dia tahu dengan sendiri. Dan pertanyaan ku sekarang apa kamu akan terus merahasiakan semua ini dari Putri apa kamu akan terus menutupi kondisi kamu saat ini. Dia berhak tau semuanya Revan jika kamu tidak sanggup untuk memberi tahunya aku akan membantu kamu, aku akan memberitahu Kak Putri dan aku akan membawanya kesini sekarang juga."
Langkahnya yang akan pergi, sigap Revan langsung menghalanginya dan membuat langkahnya itu pun terhenti.
"Jangan! Aku minta sama kamu, kamu jangan pernah memberitahu soal ini kepadanya karena aku tidak inggin dia mengetahui kondisi ku saat ini aku mohon jangan beritahu dia aku mohon!"
"Tapi Kenapa Revan?"
"Karena aku tidak inggin dia sampai mengetahui penyakit ku ini, biar aku sendiri yang merasakan penderitaan ini asal dia jangan sampai ikut dalam penderitaan ini aku mohon jangan beritahu dia aku mohon!"
"Aku bener-bener bingung sama kamu aku tidak tau harus berkata apa lagi sama kamu, baiklah jika kamu tidak inggin dia sampai tau kondisi kamu sekarang tapi setidaknya mulai sekarang kamu mau kan melakukan kemoterapi dan ini semua demi dia, kamu harus yakin kalau kamu pasti bisa melewati semua ini dan aku akan slalu mendukung kamu jadi kamu tidak boleh pantang menyerah kamu harus semangat!"
"Kamu dengan semangat memberikan dukungan kamu kepadaku tapi aku rasa dukungan itu sama sekali tidak akan berarti. Atau mungkin aku juga akan lupa dengan kata-kata itu. Satu hal yang membuatku merahasiakan rahasia ini karena selain menderita dengan rasa sakit yang sewaktu-waktu bisa menyerang aku juga mampu lupa akan seseorang, jadi sebelum aku ma*i bisakah kamu mengabulkan permintaan aku!"
"Aku tidak meminta banyak permintaan darimu, tapi aku hanya minta satu permintaan tolong jangan kasih tahu Putri kalau aku tingal di apartemen yang sama tempat ia tingal saat ini kamu bersedia kan merahasiakan tempat tingal sekaligus penyakit ku ini?"
"Aku bisa merahasiakan dimana kamu tinggal saat ini, tapi jika penyakit yang kamu hadapi aku minta jangan paksa aku untuk menutupinya karena aku tidak sanggup jadi maaf aku tidak bisa merahasiakannya maafkan aku!"
"Ya sudah mendingan sekarang kamu istirahat saja, kamu masih butuh waktu untuk beristirahat. Ya sudah karena aku masih ada urusan aku tidak bisa berlama-lama disini aku pamit pulang ya?"
"Baiklah tapi kamu harus inggat perkataanku barusan, kamu jangan sampai memberitahu semua ini sama Putri."
"Baiklah kamu tenang saja aku tidak akan memberitahunya kamu tenang saja,"ucapnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG.